bc

Hello, My Sayang

book_age16+
0
FOLLOW
1K
READ
HE
badgirl
heir/heiress
tragedy
bxg
mystery
loser
secrets
affair
widow/widower
actor
selfish
like
intro-logo
Blurb

Menikah karena cinta? Sudah biasa.

Menikah karena dijodohkan? Sering terjadi.

Bagaimana jika menikah demi menutupi gosip? Bagaimana jika menikah karena dijebak oleh pesona?

Hanza mengalaminya. Menikah dengan seorang Aktor karena jatuh cinta, juga demi target menikah. Namun, bagaimana jika pihak laki-laki melakukannya demi menyelamatkan karir serta masa depan orang lain? Hanza hanya berperan sebagai penolong.

Hari-hari diisi oleh rasa takut bertemu wartawan, takut dengan penggemar garis keras, serta penguntit-penguntit tak bertanggung jawab. Inilah kisah Hanza, wanita non selebriti yang menyelam di antara pertanyaan, "Sekarang kamu lagi akting atau nggak? Susah banget bedainnya."

chap-preview
Free preview
Bab 1 - Adakah harapan?
Setahun berlalu, tidak ada perubahan berarti di pernikahan mereka. Malah terasa semakin berjarak dan asing. Argan yang semakin sering lembur, entah karena pekerjaannya yang padat atau sengaja menghindari istrinya. Hanza sendiri sengaja tak menanyakannya pada Argan, karena sadar tidak ada gunanya, bahkan tak denial lagi seperti dulu-dulu bahwa pernikahan mereka tinggal menunggu waktu tepat untuk berakhir. Jarum jam menunjukkan angka dua belas saat deru mobil terdengar memasuki garasi. Hanza menatap pintu sekilas lalu kembali berkutat pada laptopnya. Tidak lama kemudian sosok Argan muncul. Raut terkejut sempat terpatri di wajahnya melihat Hanza masih terjaga. "Kenapa belum tidur?" tanyanya pelan seraya duduk di sofa belakang Hanza. "Belum ngantuk." Argan memajukan tubuhnya melihat apa yang tengah dikerjakan istrinya. Melihat tampilan kosong di Microsoft word, Argan kembali menarik diri dan mengusap wajahnya lelah. "Aku nggak menuntut kamu kerja, Za," katanya setenang mungkin. Dia sedang lelah dan malas berdebat. "Kamu pasti capek banget." Hanza memutar tubuh menghadap Argan, tak menimpali kalimat suaminya itu, sadar bahwa topik itu dapat memicu perdebatan, sedangkan saat ini ia pun malas membahasnya. "Istirahat gih." Jika biasanya Hanza selalu menawarkan makan malam, sekarang tak lagi. Lebih tepatnya tak ada gunanya, karena Argan akan selalu menjawab kenyang, udah makan, kemudian meminta maaf. Menyebalkan sih sejujurnya. Tapi apa, sih, yang Hanza harapkan? Terdengar helaan napas di belakang tengkuk Hanza. Dia kembali berkutat pada laptopnya meski otaknya terasa buntu. Sebelum Argan benar-benar beranjak, laki-laki itu masih sempat mengecup pipi Hanza beberapa detik, lalu meninggalkan istrinya yang selalu mematung setelahnya. * Sama seperti beberapa bulan terakhir ini, Hanza tak memiliki agenda berarti sejak pindah ke rumah ini, tepatnya rumah Argan yang dia bangun saat masih lajang. Meski begitu dia selalu bangun jam lima pagi kemudian menyiapkan sarapan dan semua kebutuhan Argan, kecuali pakaian. Meski nasib pernikahannya di ujung tanduk, tapi dia tetap berstatus istri, dan Hanza akan melakukan perannya sebaik mungkin. "Morning Za," sapa Argan. Rambutnya acak-acakan dan menyisakan jejak basah. Dia menuang air hangat, meneguknya setengah, lalu menghampiri Hanza. Kemudian kebiasaan itu terulang kembali. Sebuah pelukan singkat-Argan memeluk Hanza dari belakang karena Hanza sibuk memotong bawang- disusul kecupan di pipi Hanza, kemudian laki-laki itu meninggalkannya tanpa mendengar Hanza membalas sapaannya. Pukul enam pagi, semua masakan Hanza terhidang di atas meja. Dia melirik tangga, tak melihat tanda-tanda Argan akan muncul. Hanza berinisiatif menyusul suaminya ke kamar. "Argan," panggil Hanza. Membiarkan tangannya bertahan di kenop pintu tanpa memutarnya. "Bentar, Za. Kamu sarapan duluan, ya." Jeda beberapa detik. "Kalau mau masuk, masuk aja, Za. Nggak kekunci kok." Terdengar suara langkah buru-buru dari dalam. Hanza langsung mendorong pintu kemudian mendapati Argan yang sedang membongkar isi lemari. "Kamu ngapain?" tanya Hanza dengan alis berkerut. Terganggu melihat pakaian yang sudah dia susun kembali diacak oleh Argan. Argan menoleh sekilas, lalu menghampiri Hanza sambil menggaruk pelipisnya. "Kamu lihat dasi kotak-kotak aku ngga? Warna Dongker garis putih." Hanza melangkah, membuka laci, lalu menyodorkan dasi yang dicari. "Makasih." Argan tersenyum hingga lesung pipinya tercetak jelas. Argan langsung mematut diri di depan cermin, tak lepas dari pengamatan Hanza yang bersandar di meja seraya bersidekap d**a. Tatapan mereka sempat terkunci di cermin, sebelum Argan memutusnya lalu berbalik menatap Hanza sepenuhnya. "Aku mau bicara sesuatu, Ar," kata Hanza. "Aku masih punya waktu satu jam sebelum berangkat. Memangnya kamu mau ngomongin apa?" Argan maju beberapa langkah, menatap Hanza, lalu mengambil jam tangannya di atas meja. Hanza berdeham, memilih menjauh, tapi urung karena tangan Argan terlanjur terulur menyentuh sisi meja sehingga secara tidak langsung tubuhnya terperangkap. Satu alis laki-laki itu terangkat seolah mempertanyakan tindakan Hanza. "Kamu sadar kan sama posisi kita ini?" "Posisi yang normal bagi suami istri. Malah cenderung berjarak menurutku. Kenapa, sih, Za?" Ada nada jail terselip di ucapannya. Hanza hampir memutar bola mata. Kenapa suaminya ini selalu bertindak seolah tidak terjadi apa-apa, mengabaikan Hanza yang kerap uring-uringan di rumah memikirkan tindakannya yang kadang tak masuk akal. "Please, jangan lagi." Argan menggeleng pelan menyadari perubahan raut Hanza. "Aku memang mau bicarain itu." Hanza mendorong tubuh Argan menjauh, lalu menghela napas pelan. "Kamu nggak bisa menghindar terus-terusan, Ar." "Aku nggak menghindar." "Aku nggak mau debat sama kamu." "Good. Perdebatan ini nggak akan berlanjut lagi kalau kamu stop bahas topik itu," kata Argan tegas. Tak ada raut ramah di wajahnya. Hanza sadar kalau suaminya mulai terpancing emosi, begitu pun dengan dirinya, tak peduli sebaik apa pertahanan dalam diri Hanza. "Kita tetap bisa membahasnya tanpa perlu berdebat." "Mana bisa." Argan mendelik tak terima. "Hanza, kamu sadar nggak, sih, sama omongan kamu?" Argan menatap istrinya sangsi mendapati raut tenang. "Argan ...." Hanza kembali menghela napas berat, entah sudah berapa kali sejak menginjakkan kaki di kamar Argan pagi ini. "Kita harus membahasnya." "Kita masih punya banyak waktu," putus Argan. Meraih tasnya, kemudian melirik arlojinya. "Iya, andai kamu nggak terus-terusan menghindari aku." "Aku nggak menghindari kamu, Hanza," tegas Argan. "Apa namanya kalau bukan menghindari sedangkan kamu selalu pulang saat aku udah tidur, dan selalu memaksa diri kamu bekerja di hari libur." "Ya karena kerjaan aku memang sepadat itu kali, Za." Argan meraih ponselnya, mengetik beberapa saat di layar, lalu menatap Hanza. "Udah, ya, aku harus berangkat sekarang. Udah ada Tomi di bawah." "Aku berencana ngomongin ini ke Ibu." Argan memutar balik tubuhnya, tak jadi membuka pintu, memilih menghampiri Hanza dengan raut tak setuju. "Hanza, please. Kamu kenapa, sih? Perasaan semuanya baik-baik aja." "Ini yang nggak aku suka dari kamu, Ar. Selalu berusaha terlihat semuanya baik-baik aja, seolah nggak terjadi apa-apa, dan berperan sebagai orang yang tidak tau apa pun." Argan diam beberapa saat. "Aku cuma berusaha agar kamu nyaman di rumah ini." "Astaga Argan. Bahkan kepala aku mau pecah setiap kali ada wartawan mencet bell rumah ini. Aku bisa gila lama-lama kalau terus-terusan di sini." "Aku nggak pernah melarang kamu pulang ke rumah mama atau ke rumah ibu kamu, aku nggak pernah mengekang kamu kemana pun kamu pergi," balas Argan. Atensi di sekitar mereka mulai memanas. Senyum miring terulas di bibir Hanza. Argan mulai was-was dibuatnya. "Kalau gitu aku mau kita pisah rumah sementara waktu. Aku mau ke Bali." Benar saja. Seharusnya Argan sejak tadi tak berada di sini, meladeni semua omongan Hanza yang membuat kepalanya berdenyut. "No! Bukan gitu maksud aku." "Kamu lupa, ya, belum ada semenit kamu ngomong nggak mengekang aku. Jadi aku nggak butuh persetujuan kamu, kan? Secara nggak langsung kamu udah ngizinin aku." Dari semua yang ada di diri Hanza, tak menjadi permasalahan bagi Argan, kecuali tindakannya yang sulit ditebak. Hanza tipikal perempuan tenang dan lebih banyak menyimak, tapi akan merepotkan kalau sudah banyak bicara yang berujung pada perdebatan. Persis seperti sekarang.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.2K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.7K
bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.0K
bc

Pacar Pura-pura Bu Dokter

read
3.1K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.2K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.0K
bc

Silakan Menikah Lagi, Mas!

read
13.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook