Tangisan itu membelah kesunyian lautan. Aku mendekap bayi itu, hangat, berat, dan nyata. Kulitnya terasa kayak beludru, aromanya campuran antara bedak bayi dan ozon yang terbakar. Di dunia yang runtuh menjadi fragmen ini, bayi ini adalah satu-satunya kekuatan yang mampu menahan kewarasanku agar aku nggak hanyut ke dalam kehampaan. Pria yang menggendongku, pria dengan wajah Andre namun tatapan nakalnya adalah Julian, mendarat dengan ringan di atas permukaan yang tampak kayak cermin hitam. Di bawah kaki kami, ribuan baris perintah pemrograman mengalir kayak sungai lava biru. "Lihatlah, Anita," bisiknya tepat di telingaku. "Ini adalah cintamu yang paling murni. Cinta yang begitu besar hingga kamu harus memecah dirimu menjadi tiga pria hanya untuk bisa merasakannya tanpa menjadi gila." "S

