Cairan nutrisi biru itu tumpah ruah, membasahi lantai laboratorium yang dingin dan berdebu. Paru-paru yang selama bertahun-tahun hanya menghirup oksigen sintetis kini dipaksa bekerja secara mekanis, menghisap udara nyata yang terasa seperti racun. Aku terbatuk hebat, cairan kental keluar dari tenggorokanku sementara tubuhku merosot dari tabung yang retak. "Jangan bergerak terlalu cepat, Anita! Atrofi ototmu sudah mencapai delapan puluh persen," suara Thomas Vulture terdengar datar, tanpa empati sedikit pun. Aku menengadah, mencoba memfokuskan pandangan. Thomas berdiri di sana, sosok yang selama ini menjadi dasar dari semua personaku tentang cinta, kini tampak seperti malaikat maut. Dia nggak lagi menyerupai Aan yang hangat atau Andre yang gagah. Dia adalah seorang pria yang terobsesi den

