Mendengar pertanyaan Mila membuat Agus terdiam sejenak,
"Kamu pernah dengar, pepatah yang mengatakan 'cinta pada pandangan pertama'?"
"Ha? Aku.. gak terlalu percaya, karena menurutku untuk jatuh cinta diperlukan proses. sedangkan saat pertama bertemu, bisa saja itu hanya kekaguman sementara bukan cinta."
Agus tersenyum tipis,
"Kalau aku, aku percaya dengan adanya 'Cinta pada pandangan pertama', "
"Kenapa?"
"Karena sekarang, aku sedang mengalami nya." Agus menatap dalam Mila
Mila terdiam sejenak, ia pun bergegas menyadarkan dirinya.
"Oh, emm.. sudah semakin dingin, Aku akan kembali ke kamar." Mila merasa gugup setelah mendengar kata-kata Agus. Ia kemudian melangkah pergi diikuti oleh Agus
***
Di kamar,
Drettt dreett
Ponsel milik Agus bergetar, ia kemudian bergegas mengangkat telepon yang rupanya dari kakek kusuma.
In Call
"Hallo, Bagaimana kabar kamu dan istri kamu di Paris?"
"Baik kek, Agus sama Mila baik-baik aja."
"Apa kamu sudah menggunakan obat yang kakek berikan?"
Agus pun merasa gugup,
"I-itu.. itu... A-ku..."
"Kenapa? apa masih belum? Ya ampun!! kamu ini bagaimana, masa seperti itu saja tidak bisa! Apa kamu ingin menunggu kakek mu ini tutup usia dulu baru kamu akan melakukannya!"
Agus menghela nafas kasar,
"Kek! Kakek jangan bicara sembarangan, Agus masih belum siap untuk itu!"
"Apa? belum siap? Kenapa kamu bilang begitu? Apa jangan-jangan kamu bohong sama kakek soal pernikahan kamu?"
'Aduh gawat! kenapa ngomong gitu?' batin Agus
"E-enggak kek! maksud agus, Agus kayaknya gak perlu obat dari kakek, agus punya stamina yang oke koq,"
"Ya sudah! pokoknya, kamu pulang kesini, calon cicit kakek harus sudah berada di perut cucu menantu kakek!"
Tut tut tut
Telepon pun ditutup sepihak,
Agus hanya bisa menghela nafas kasar,
Mila membawakan secangkir teh hangat untuk Agus, ia melihat Agus yang tengah menatap keluar jendela.
"Apa ada masalah?" tanya Mila seraya menyodorkan cangkir teh
Agus pun meraihnya seraya menjawab, "enggak koq,"
Mila menatap ke arah luar dan melipat kedua tangan nya,
"Apa kamu baru bicara sama kakek?" tanya Mila tanpa menatap ke arah Agus
"Hm," Agus mengangguk
"Kakek bilang apa?"
Agus menatap Mila,
"Kakek, ingin punya cicit." ucap Agus sedikit ragu
Mila menatap Agus,
"T-tapi, kamu gak usah khawatir. Aku akan mencari cara untuk memenuhi keinginan kakek, mungkin dengan.. mengadopsi."
"Mas, kakek itu pengen cicit dari kamu. bukan dari orang lain."
Agus pun terdiam,
"Terus gimana?" gumamnya yang terdengar oleh Mila
"Emm, Kamu.. mau melakukannya?"
ucapan dari Mila sontak membuat Agus terkejut, ia tidak menyangka jika Mila akan bicara seperti itu.
"K-kamu, serius?"
Mila pun tertunduk seraya mengangguk pelan,
Agus memegang tangan Mila lembut, ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan Mila,
tangannya pun berpindah mengusap lembut pipi Mila, ia menatap dalam Mila.
"Apa kamu, sudah siap?"
Mila kemudian tersenyum dan mengangguk pelan.
Agus memiringkan kepalanya, seraya mendekatkan bibirnya.
Kemudian....
"Mas?" panggilan Mila membuyarkan lamunan Agus, ia mengerjap seketika.
"O-oh, iya? kenapa Mil?"
"Mas kenapa diem aja?"
"Ah, Maaf! Tadi mas lagi banyak pikiran, kenapa Mil?"
"Gapapa, tadi aku cuman tanya Mas habis nelepon siapa?"
"O-oh itu, tadi kakek nelepon nanyain kabar kita,"
Mila mengangguk anggukkan kepalanya,
"Ya udah, kalau gitu Mila mau ke bawah dulu ya?"
Agus mengangguk paham,
***
Mila yang tengah berjalan di lorong hotel menuju lift, tanpa sengaja berpapasan dengan seorang perempuan yang tak asing lagi untuknya,
"Hallo? kita ketemu lagi, wahh.. benar-benar gak bisa dipercaya. dunia emang sempit, kita dipertemukan lagi di tempat ini." ucap sinis Deva
Mila tidak mau menanggapi, ia lebih memilih untuk terus melangkah. sedangkan Deva terlihat kesal dengan sikap dingin Mila
"Dasar kurang ajar! lihat saja nanti, aku akan membuat suami kamu berpaling dari kamu! dan bertekuk lutut di kaki aku!" gumamnya.
dering ponsel pun berbunyi,
Deva mengambil ponselnya yang berada di tas yang ia jinjing,
"Rendy?"
Deva yang merasa terganggu pun memutuskan untuk tidak mengangkat telepon Rendy, ia kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya.
Dilain sisi,
"Sial! direject lagi! Ni cewek maunya apa sih? dia tiba-tiba gak ada, ngilang gitu aja!"
"Kenapa sih Ren? dari tadi ibu denger kamu marah-marah terus,"
"Bu! Ibu gak ngerti! Deva tiba-tiba aja ngilang tanpa kabar, apa ibu tau Deva kemana?"
"Ibu gak tau,"
Rendy menghela nafas kasar, ia kemudian menghubungi seseorang untuk mencari Deva.
***
Hari terakhir di Paris Mila dan Agus pun mulai merapikan barang bawaannya,
"Gak kerasa udah seminggu aja kita disini," ucap Mila seraya tersenyum manis
"Hm," Agus mengangguk
"Oya, gimana kalau hari ini kita pergi keliling Paris lagi?" ajak Mila
"Boleh,"
Mereka berdua pun bergegas pergi, menikmati suasana yang menyenangkan di Paris,
Mila terlihat bahagia, ia bahkan berkali-kali berucap syukur karena dipertemukan dengan pria sebaik Agus.
"Aku ke toilet dulu ya," Mila sedikit berlari kecil
setelah kepergian Mila, seseorang pun datang menghampiri Agus.
"Kamu memang pantas mendapatkan penghargaan sebagai aktor terbaik tahun ini karena berhasil menipu seorang gadis serapih itu," ucap seseorang yang tiba-tiba sudah berada disampingnya
Agus menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya,
"Ada apa kamu kesini?"
"Sekedar mengingatkan, waktumu tidak banyak! tidak perlu bertele-tele lagi."
"Kamu tenang aja, Aku tau apa yang aku lakukan! kamu hanya tinggal duduk menyaksikan bagian terbaiknya malam ini."
"Aku akan menantikannya,"
"Mas!" panggil Mila dari kejauhan seraya melambaikan tangannya
Agus pun tersenyum membalas lambaian tangannya,
orang itu pun mengenakan kembali kacamata miliknya dan melangkah begitu saja tanpa menoleh sedikitpun.
Mila menghampiri,
"Ayo!" Agus mengulurkan tangannya yang disambut oleh Mila
Mereka pun mengobrol sepanjang perjalanan tentang semua hal,
***
Dilain sisi,
Rendy baru saja tiba di bandara internasional Roissy Paris, ia langsung berangkat saat tau Deva pergi ke Paris untuk menemui Mila.
Berkali-kali Rendy kembali menghubungi Deva, namun berkali-kali pula teleponnya ditolak.
Rendy pun bergegas pergi ke hotel tempat Deva menginap,
Sesampainya di hotel tersebut, tanpa sengaja Rendy bertemu dengan Mila yang hendak menuju ke kamarnya menggunakan lift.
"Kamu?" ucap Mila terkejut
Rendy pun masuk kedalam lift,
"Mila?" panggil Rendy seraya menatap ke arahnya
Mila terdiam tidak menjawab,
Rendy kemudian menarik tangan Mila hingga Mila hampir terjatuh, namun dengan sigap Rendy menangkapnya.
Pandangan mereka pun bertemu, untuk beberapa detik mereka hanya saling menatap. hingga Mila tersadar dan membenarkan posisinya
"Lain kali bersikap sopan lah sedikit! Aku sudah menikah, kamu pun juga begitu!" ucap Mila yang terlihat kesal dengan perlakuan Rendy barusan
"Mila, Apa kamu cinta sama dia?"
Degg
Pertanyaan Rendy membuatnya merasa tidak nyaman,
"Itu bukan urusan kamu!"
Rendy tiba-tiba memeluknya dari belakang, Mila pun berusaha untuk memberontak.
"Kamu pasti tau kan, semua yang aku lakukan di masa lalu bukan benar-benar aku melakukan dengan sengaja. Dan kamu pasti bisa merasakan, setulus apa aku sama kamu."
Mila terus berusaha untuk melepas pelukan Rendy,
"Jangan gila kamu! itu cuman masa lalu yang gak berguna! le-pas!!"