Bagian 11

1018 Words
pintu lift pun terbuka, bertepatan dengan tangan Rendy yang sudah terlepas dari pinggang Mila, "Kalian?" ucap Agus yang terkejut melihat Rendy berada dalam satu lift bersama sang istri Mila bergegas menghampiri, "Kamu jangan salah paham, kita cuman gak sengaja ketemu." Rendy terdiam, ia menundukkan pandangannya "O-oh gitu ya, ya udah ayo," Agus menggandeng tangan Mila pergi dari sana Rendy hanya terdiam melihat mereka pergi begitu saja. *** "Lagian kamu ngapain sih pake nyusul segala?" teriakan Deva yang merasa kesal dengan kehadiran Rendy terdengar hingga keluar kamar. "Aku ini suami kamu Deva! Aku heran, kenapa kamu jadi berubah kayak gini? padahal dulu, kamu yang mendekati aku duluan. sampai-sampai pernikahanku sama Mila berantakan!" "Heh Dengar ya! itu sebelum aku tau, kalau yang aku rebut dari tangan Mila itu bukanlah berlian! Tapi tempat sampah!" Plakk "Jaga mulut kamu!" Rendy sangat kesal dengan ucapan Deva yang menurutnya sudah keterlaluan Deva memegangi pipinya yang terasa perih, "Aku benar-benar salah, malah memungut sampah tidak berguna! Aku ingin kita bercerai!" Rendy mencengkram kuat rahang Deva, "Dengar! Jika bukan karena ibu dan bayi yang ada dalam kandungan kamu, aku gak akan pernah sudi nikah sama kamu!" Rendy melepas kasar cengkraman tangannya, ia kemudian melangkah pergi dari kamar Deva. "Aarghhhhh!!" Deva mengacak-acak rambutnya karena kesal *** Rendy berjalan tanpa tujuan, hingga langkahnya terhenti didepan sebuah Club yang merupakan fasilitas dari hotel. Rendy pun mengayunkan langkahnya masuk kedalam club tersebut, ia memesan beberapa botol minuman. Rendy yang tengah meneguk minumannya pun dihampiri oleh seseorang yang sudah tidak asing untuknya, "Apa kau sedang ada masalah? sampai-sampai kau minum?" tanya Agus seraya duduk disampingnya "Ini bukan urusanmu," jawab Rendy dengan tatapan datarnya Agus tertawa kecil, "Lucu sekali melihatmu seperti ini, sangat disayangkan!" Tanpa memperdulikan Agus, Rendy kembali mengambil satu gelas minuman. Agus pun berdiri dan menepuk bahu Rendy, "Ya sudah, aku pergi! selamat bersenang-senang!" Agus pun melenggang pergi begitu saja, Beberapa menit kemudian, Rendy mulai mabuk berat. pandangannya pun mulai kabur, Ia kemudian memutuskan untuk kembali ke hotel, namun tubuhnya sudah tidak mampu untuk menopang dirinya hingga ia terjatuh tidak sadarkan diri. "Rendy?" Mila tanpa sengaja melihat Rendy yang hampir terjatuh menabrak dirinya Ia menggoyangkan tubuh Rendy, namun tidak ada jawaban "Aduh, bagaimana ini?" Mila panik "Pelayan! tolong!" Mila mencoba mencari bantuan, Beberapa orang pun menghampiri, "Ada apa Nona?" "Tolong baringkan dia diatas sofa sana, aku akan minta bantuan supaya dia bisa ke kamarnya," "Baik Nona!" Mereka pun membantu Mila membaringkan Rendy diatas sofa. Mila pun mencoba untuk menghubungi Agus, namun ponselnya tidak aktif. Mila kemudian menggunakan ponsel Rendy untuk menghubungi Deva, "Duh, ponselnya dikunci." Mila teringat masa lalu saat mereka masih bersama, kunci ponsel mereka sama, yaitu tanggal mereka jadian. "Tapi, apa mungkin?" pikirnya "Tapi, aku juga gak mungkin ninggalin dia sendirian disini." Mila masih bergelut dengan dirinya sendiri. Mila pun memutuskan untuk mencoba menggunakan password yang lama, "Ah, berhasil!" Mila mengukir senyuman, namun senyuman itu berubah sendu "Kamu masih pake password nya," gumam Mila ia terdiam sesaat, kemudian kembali membuka ponselnya. Namun saat akan digunakan ponsel Rendy pun tiba-tiba mati, "Yaaa.. mati.." Mila semakin panik Tanpa ia sadari sebuah tangan mendekap nya dari belakang dengan menggunakan kain yang sudah dibubuhi obat tidur, dalam sekejap ia kehilangan kesadarannya. *** Sinar matahari menembus kedua mata Mila, ia pun terusik dan membuka kedua matanya perlahan. "Apa yang udah terjadi?" gumamnya Mila pun membalikkan tubuhnya, seketika ia langsung syok saat ia melihat sosok seorang pria yang tertidur nyenyak disampingnya. Mila pun baru menyadari jika ia tidak memakai sehelai benang pun kain yang menempel di tubuhnya. "G-gak!" Mila menggelengkan kepalanya cepat, "Ini gak mungkin!" Mila pun memunguti pakaiannya yang tersebar didalam ruangan, dan berlari menuju kamar mandi. ia segera memakai kembali pakaiannya, ia memandangi dirinya di cermin dengan tatapan jijik, Airmatanya pun lolos membasahi pipinya "Apa yang terjadi semalam? gak mungkin! ini gak mungkin! gaakkk!!!" teriak Mila histeris yang berhasil membangunkan Rendy yang tertidur pulas. "Ada apa ini? Aku sama sekali tidak ingat apa yang udah terjadi ya?" Rendy duduk seraya memegangi kepalanya yang terasa pusing "Aduh, pusing sekali." Ceklek, Mila keluar dari kamar mandi, dengan airmata yang terus mengalir. Rendy terkejut dengan adanya Mila yang keluar dari kamar mandi. "M-mila? Kenapa kamu ada disini?" tanya Rendy heran Mila menatap Rendy penuh kebencian dengan airmata yang terus menetes, "Apa kamu udah puas? Kamu udah puas hancurin hidup aku?!" teriak Mila "A-apa maksud kamu?" Rendy baru menyadari dirinya yang ternyata tidak mengenakan apapun, "Apa yang terjadi, kenapa aku..." ucapannya terpotong "Jangan pura-pura! Apa sebenarnya yang kamu pengen? Kamu udah hancurin semuanya, dan sekarang kehormatan aku yang harusnya jadi milik suamiku udah kamu ambil!" tangisnya semakin pecah "Mila, aku sama sekali gak ingat! Aku merasa gak melakukan apapun!" Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan seseorang, "Jadi benar, kamu sama Rendy memang masih ngejalin hubungan. seharian aku nyari kamu, nyatanya kamu malah lagi bersenang-senang sama dia, " Agus tersenyum tipis dengan kedua mata Agus berkaca-kaca menahan tangis, ia terlihat kecewa dengan pemandangan yang ada didepannya. Mila meraih tangan Agus, "Dengar dulu mas! Aku benar-benar gak tau kenapa aku ada disini, aku dijebak mas!" Mila menangis tersedu-sedu Agus pun melepas kasar tangan Mila, "Terserah, kamu mau ngapain sama dia! Aku udah gak peduli sama kamu! Aku kecewa sama kamu!" Agus pun melangkah pergi dari sana. "Mas!!" panggil Mila Mila pun mengikuti langkah Agus, "Apa sebenarnya yang terjadi, aku gak merasa melakukan apapun sama Mila." Rendy bergelut didalam dirinya. *** Mila mencoba untuk membujuk Agus, namun Agus yang sudah terlanjur kecewa tidak mau mendengarkan penjelasan Mila. "Aku pulang sekarang, kalau kamu masih mau disini, terserah!" Agus melanjutkan langkahnya seraya menarik koper miliknya. Mila hanya bisa terus menangis, ia terus menyalahkan dirinya yang begitu bodoh. *** Setibanya di rumah, Kakek menyambut mereka dengan tawa bahagia, "Waahh, selamat datang kesayangan ku." Kakek memeluk Agus dan Mila "Hallo kek, Apa kabar?" Agus bersikap seperti biasa, ia tidak ingin melihat kakeknya merasakan sakit dengan apa yang terjadi di Paris. "Kabarku luar biasa! Apa kalian menikmati bulan madunya?" Mila hanya mengangguk perlahan seraya tersenyum tipis, "Kakek, aku pamit mau istirahat." ucap Mila meminta izin "Ah iya iya, tentu saja!" Mila pun melangkah pergi "Sebenarnya, apa ada yang terjadi?" tanya kakek dengan raut wajah serius
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD