Mila menundukkan pandangannya, pipinya pun memerah saat Agus menatapnya dengan senyuman.
"A-aku pergi dulu," Mila melangkah pergi
Agus hanya tersenyum menatap kepergian sang istri,
Malam hari pun tiba,
Mila bersama Agus sudah berada di bandara diantar oleh kakek kusuma,
"Hati-hati disana, jaga istrimu baik-baik!" kakek pun membisikkan sesuatu pada Agus
"Kakek memasukkan beberapa jenis obat ke dalam tasmu, untuk membantumu berjuang nanti. Ingat! jangan beri kendor, kamu harus terus tancap gas!" bisik kakek
ucapan sang kakek membuat Agus merasa kikuk dan salah tingkah,
Kakek menepuk-nepuk bahu Agus seraya melemparkan senyuman penuh makna.
Mereka berdua pun berpamitan.
***
Di dalam pesawat,
Mila begitu takjub melihat betapa mewahnya pesawat yang ia tumpangi,
"Pesawat ini bagus sekali,"
"Tentu aja, Aku yang memesankannya khusus untuk bepergian jarak jauh,"
"A-apa? m-maksud kamu, pesawat ini punya kamu?"
Agus mengangguk mengiyakan,
"Hah?" Mila terkejut hingga ia menutup mulutnya yang terbuka
"Kenapa?"
Mila menggelengkan kepalanya, ia kemudian bergegas duduk dan langsung mengenakan sabuk pengaman.
***
Beberapa jam kemudian mereka tiba di Paris,
"I-ini, kita beneran di Paris?" tanya Mila yang masih melihat ke arah sekitar
Agus kemudian menarik tangan Mila,
"Ayo!"
Mereka pun bergegas menuju hotel tempat mereka menginap,
Setibanya di hotel,
"Permisi Tuan Muda, kamar anda sudah kami siapkan. silahkan!" Seorang pria dengan stelan jas berwarna hitam telah menunggu kedatangan mereka di lobby hotel
Agus dan Mila pun mengikuti langkah pria paruh baya itu.
"Silahkan Tuan, Nona."
Agus dan Mila pun melangkah masuk,
"Jika ada yang Anda butuhkan, jangan ragu untuk memanggil saya. Saya permisi Tuan, Nona!" ucap Manajer hotel itu seraya melangkah pergi.
Mila benar-benar dibuat takjub melihat kamar hotel yang luas dan mewah, ia tidak pernah menginap di hotel semewah ini.
"Kamarnya sangat bagus!" Mila tersenyum seraya melangkah melihat-lihat sekitar.
Hingga pandangannya tertuju pada sebuah kasur berukuran besar, dengan taburan bunga diatasnya, dan hiasan handuk dengan bentuk angsa
"I-ni, maksudnya apa?" gumamnya
"Kakek benar-benar mempersiapkan semuanya dengan matang," batin Agus saat ia melihat taburan bunga di mana-mana.
"Mas?"
"Hm?"
"Apa tidak ada kamar lain?"
"Sepertinya gak ada, kenapa?"
"Emm, kita kan gak mungkin tidur disini kan?"
Agus langsung membanting tubuhnya ke atas kasur,
"Ah, nyamannya!"
Mila yang merasa tidak enak pun, ia memutuskan untuk tidur diatas sofa di dekat tempat tidur.
Namun, belum sempat ia melangkah. Langkahnya tertahan oleh ucapan dari Agus,
"Tidur disini aja, aku gak akan melakukan apapun sama kamu."
Mila berbalik dan menatap ke arahnya,
"Apa, Mas bisa menjamin?"
"Daripada kamu tidur dibawah atau di sofa, akan jauh lebih baik jika tidur di tempat tidur. Disini, cuacanya berbeda sama di indo. Jadi kalau kamu tidur di bawah atau di sofa, kami bisa sakit."
Mila terdiam sejenak,
"T-tapi Kan..." ucapan Mila terpotong saat ia melihat Agus sudah tertidur
setelah beberapa saat berpikir, Mila pun memutuskan untuk tidur di tempat tidur. ia membuat batasan menggunakan bantal. ia kemudian mencari sesuatu untuk bisa ia gunakan sebagai senjata.
"Pokoknya, aku harus waspada! walau bagaimana pun dia laki-laki," Mila memegang sebuah pentungan yang ia bawa dari rumah.
***
Keesokkan harinya,
"Aahh nyamannya, hangat dan wanginya aku suka," batin Mila dengan mata yang masih tertutup
Beberapa detik kemudian, Mila menyadari sesuatu,
"Tunggu? Hangat dan Wangi?" kedua bola mata Mila pun terbuka, ia melihat wajah yang begitu dengannya.
Wajah yang terlihat damai dan menyenangkan untuk dipandang, Tiba-tiba sebuah tangan kekar semakin erat melingkar di pinggangnya, membuat wajah Mila kini berada sangat dekat dengan wajah Agus.
"Dia, tampan. Aku baru menyadarinya," batinnya
Mila yang mulai terhipnotis oleh wajah Agus pun, reflek ia mencium Agus lembut.
Tiba-tiba, Mata Agus pun terbuka hingga membuat Mila terkejut. Ia segera melepas ciumannya dan mendorong tubuh Agus, hingga membuat Agus terjatuh dari tempat tidurnya,
Bluggg
"Aww!!" Agus meringis kesakitan
"Eh, maaf maaf!" Mila langsung berlari ke dalam kamar mandi dan menguncinya.
Mila merasakan debaran jantungnya yang tidak beraturan, ditambah dengan nafasnya yang tersekat-sekat.
"Aku kenapa?" gumamnya seraya memegang dadanya yang terasa perih
Dilain sisi,
Agus tersenyum senang, saat ia mengingat Mila menciumnya. Rupanya, Agus hanya berpura-pura tertidur.
***
Beberapa saat kemudian, Mila baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah. Mila sama sekali tidak menyadari jika ada Agus yang tengah duduk santai diatas tempat tidur tengah memperhatikannya yang hanya mengenakan handuk.
Saat tengah asyik mengeringkan rambutnya, Mila membalikkan tubuhnya, dan tanpa sengaja ia baru menyadari keberadaan Agus yang menatap ke arahnya,
Refleks, Mila kembali berlari ke arah kamar mandi. Namun, ia tersandung kakinya sendiri hingga menyebabkannya terjatuh cukup keras.
"Awww!" ringis Mila
Agus pun dengan sigap langsung menggendong nya dan membaringkan nya diatas tempat tidur, tanpa sengaja handuk yang dikenakan Mila pun terlepas ikatannya, hingga menampakkan tubuhnya yang polos.
Mila pun panik, ia dengan terburu-buru menutupi tubuhnya dengan selimut.
Agus langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain,
"Apa kamu melihat semuanya?" tanya Mila yang bersembunyi didalam selimut
"Gak! Aku gak lihat apa-apa,"
Agus pun berdiri dengan pandangan yang masih melihat ke arah lain,
"A-aku tunggu kamu diluar, bentar lagi kita mau makan siang." Agus bergegas pergi dari sana.
Sementara itu, Mila mengacak-acak rambut miliknya
"Dasar bodoh! kenapa gak lihat-lihat dulu?" rutuknya pada dirinya sendiri.
***
Dilain sisi,
Rendy terlihat melamun, Deva yang penasaran pun menghampiri
"Kamu kenapa?" tanya Deva langsung
"Gapapa!"
"Kamu tau, hari ini Mila sama cucu pak kusuma itu lagi honeymoon di Paris?"
"Hah? Aku gak tau,"
Deva menyeruput secangkir teh yang ada ditangannya,
"Trus, kapan?"
Rendy mengernyitkan dahinya, ia tidak mengerti arah pembicaraan Deva,
"Apanya?"
Deva menatap kesal Rendy,
"Kapan kita honeymoon ke luar negeri? perasaan dari sejak menikah, kamu belum pernah tuh ngajak aku keluar negeri."
"Dev, kamu kan tau, kita harus berhemat karena harus menabung buat kamu nanti lahiran, belum lagi untuk beli perlengkapan bayi dan lain-lain. udahlah, gak usah keluar negeri!"
"Ck, harusnya dulu aku biarin aja kamu nikah sama Mila. biar aku bisa dapetin Agus!"
Rendy merasa tersinggung dengan ucapan Deva,
"Apa maksud kamu? kamu nyesel nikah sama aku?"
"Iya! Aku nyesel nikah sama cowok kere kayak kamu!!"
Plakk
Rendy yang kehilangan kesabaran pun melayangkan satu tamparan yang tepat mengenai pipi mulus Deva
"Aww!" ringis Deva
Ia menatap tajam Rendy seraya langsung melangkah pergi,
"Aargghh!!!" ucap kesal Rendy
Ia melemparkan barang-barang yang ada disekitarnya,
***
Deva mengendarai mobilnya tanpa tujuan, ia merasa harga dirinya benar-benar sudah dilukai oleh Rendy,
"liat aja nanti, aku pasti akan menang! Agus harus bertekuk lutut sama aku! dan Rendy akan aku buang seperti sampah! Arggghhh!!" teriaknya di dalam mobil.