Bagian 7

1105 Words
"Maaf, Anda diminta untuk keluar!" security meminta Deva dan Rendy untuk pergi dari pesta Agus dan Mila Dengan wajah memerah menahan malu dan marah, Rendy melangkah pergi diikuti oleh Deva. Setibanya didalam mobil miliki nya, Rendy memukul-mukul setir mobil miliknya. "Sial!!" Deva terlihat sedikit ketakutan melihat amarah Rendy, "Bagaimana bisa Mila menikah sama putra dari keluarga kusuma? Apa mungkin, Mila selingkuh waktu masih berhubungan denganku? Arrrggghhh!!" teriak Rendy kesekian kalinya "Udahlah yang! mungkin kamu memang udah dibodohi sama si Mila, bisa aja dia emang udah selingkuh dari kamu. cuman baru keliatan aja sekarang!" ucap Deva memanasi Rendy "Lagian gak masuk akal kan, Pernikahan Mila yang seharusnya sama kamu tiba-tiba dalam waktu sekejap bisa tergantikan langsung sama Agus? Apalagi kalau bukan karena sebelumnya mereka udah punya hubungan!" tambah Deva Ucapan dari Deva membuat Rendy pun berpikir, "Kamu bener, dasar kurang ajar!" Rendy terus memaki-maki Dilain sisi, Mila terlihat sangat bahagia dengan pernikahannya, Lelaki yang kini dihadapannya telah sah menjadi suaminya. Rasanya masih belum percaya, itulah yang dirasakan Mila. Meski begitu, ia tetap bersyukur karena ia dipertemukan dan disatukan dengan Agus. "Hey, kamu ngelamun?" ucapan Agus membuyarkan lamunan Mila "Eh? gak koq! Aku gak ngelamun!" "Oh ya? Trus kenapa kamu ngeliatin aku sampai gak ngedip gitu? aku tau koq, aku adalah pria tertampan di dunia, tapi jangan terlalu lama natapnya. pelet aku kuat lho! ntar kamu jadi susah lepas!" Agus pun tertawa Mila kemudian mencubit perut Agus, hingga membuat Agus kesakitan. "Aww! hey, sakit!" "Makanya, jangan ngeledekin mulu!!" "Iya.. iya.." Resepsi pernikahan pun berjalan lancar dan sukses, *** Keesokkan harinya, Mila tengah sarapan bersama dengan Kakek dan juga Agus, "Oya, kakek punya hadiah buat kalian berdua!" "Apa itu kek?" tanya Agus penasaran Kakek menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat berukuran sedang, "Ini.. apa?" Mila yang menerima amplop itu pun menatap penuh tanya pada kakek "Bukalah," Setelah mendapat lampu hijau dari kakek pun, Mila membuka amplop tersebut.. Perlahan, ia menarik secarik kertas dari dalam amplop tersebut. Mila membulatkan kedua matanya saat ia membaca surat, "I-ni kan?" Mila menatap ke arah kakek Agus yang merasa penasaran pun langsung mengambil kertas tersebut. Ia kemudian membaca isi kertas itu, "Bulan madu?" Agus menatap ke arah sang kakek Kakek pun tersenyum, "Iya, itu adalah tiket bulan madu kalian keliling eropa. Kakek sudah tidak sabar menunggu kehadiran seorang cicit." "Kek, apa ini gak terlalu cepat?" "Memangnya mau menunggu sampai kapan? Apa kamu tidak lihat, kakek sudah tua seperti ini?" "Iya kek, Tapi kan..." "Kakek tidak mau tau, kalian berangkatlah malam ini. kakek akan menggantikan kamu di kantor selama dua minggu, dan saat kamu pulang kakek ingin mendengar kabar gembira itu." Mila dan Agus pun hanya saling menatap bingung. *** "Aarrghhh!" terdengar suara amarah seorang perempuan di dalam sebuah kamar. "Deva, kamu kenapa?" tanya Rendy khawatir "Yang! kamu udah janji sama aku, kalau kamu mau bikin hidup Mila hancur! tapi, kenapa sekarang dia malah menikah sama pria itu?" ucap kesal Deva "Aku juga gak tau yang, lagian udahlah! aku kan udah jadi milik kamu seutuhnya, dan aku juga udah gak jadi nikah sama Mila. Apa semua itu masih kurang buat kamu?" "Masih kurang! Aku gak suka kalau Mila dapet yang jauh lebih baik dari aku!" "Maksud kamu? Aku gak cukup baik?" "Kamu gak cukup kaya dari Bos Agus!" "Kamu?" Rendy yang merasa kesal hampir menampar Deva, namun tangannya tertahan saat ia mengingat janin yang ada di perut Deva "Argh!" Rendy pun melangkah pergi 'Walau gimanapun, aku harus cari cara buat merebut Agus dari Mila! meskipun dengan mempertaruhkan semuanya.' batin Deva *** Rendy yang merasa kesal dengan sikap Deva pun memutuskan untuk pergi dari rumah, ia mengendarai mobilnya tanpa tujuan. Setelah hampir satu jam ia berkeliling kota, ia kemudian memutuskan untuk mampir ke sebuah club malam. Rendy mencari pelarian dengan meminum minuman keras, ia merasa kacau dengan ucapan yang keluar dari mulut Deva istrinya sendiri. Ditengah lamunannya, ia mulai teringat bagaimana dulu ia berbahagia dengan Mila. Mila yang selalu membantu dan menghormatinya, ia bahkan tidak pernah mendengar Mila mengatakan sesuatu yang tidak baik. "Mil, aku kangen kamu!" gumamnya satu gelas kecil kembali ia teguk dalam satu tegukan, Rendy mulai tertawa tidak jelas sehingga menarik perhatian orang sekitar "Siaall!! Kenapa dulu aku harus menuruti omongan Deva? kalau bukan karena anak yang sedang ia kandung, aku tidak akan pernah mau menuruti semua permintaannya!" Rendy terlihat frustasi, Tiba-tiba, seorang perempuan asing disana melihat Rendy dari kejauhan. Ia memperhatikan Rendy yang terlihat kacau, Ia kemudian mencoba untuk mendekati Rendy. "Hallo?" perempuan itu menyapa Rendy Rendy tidak menghiraukannya, ia masih asyik dengan minuman yang ada di tangannya. Perempuan itu kemudian memegang tangan Rendy, dan membuat Rendy melihat ke arahnya. "Siapa kamu?" tanya Rendy yang mulai mabuk Perempuan itu pun tersenyum, "Apa kamu butuh teman minum?" Rendy mendekatkan wajahnya, ia memperhatikan wajah perempuan itu. Perlahan kesadaran Rendy mulai menurun, ia membayangkan wajah perempuan yang ada di hadapannya seperti wajah Mila mantan tunangannya. "Mila?" Rendy mengusap lembut wajah perempuan itu Perempuan itu pun kembali tersenyum, Rendy pun memiringkan wajahnya, pandangannya terfokus pada bibir berwarna merah muda milik perempuan itu. Saat akan menyentuh bibir perempuan itu pun, Perempuan itu menghalangi dengan jari telunjuk nya. "Jangan disini, Aku punya tempat yang jauh lebih nyaman! Ayo, ikut aku!" perempuan itu pun menarik tangan Rendy menuju ke sebuah tempat. Setibanya di sebuah hotel bintang lima dengan kamar mewah yang mereka sewa, Rendy pun langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk itu. Sebuah tangan yang lentik perlahan menyentuh lembut tubuhnya, hingga membuat Rendy terpancing. Perempuan itu pun perlahan melepas satu persatu kancing baju Rendy, Lalu Rendy bangun dari tidurnya. Ia kemudian melahap bibir perempuan itu, hingga mereka kehabisan nafas. Tangan nakal Rendy pun bergerak mengusap setiap inchi tubuh wanita itu. Sore itu menjadi pergulatan panas, Rendy benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya. ia terlena dengan permainan perempuan itu. Hingga Rendy kelelahan dalam permainan itu. *** Dilain sisi, "Mas?" Mila memanggil Agus yang tengah asyik dengan gamenya "Hm?" jawab Agus tanpa menoleh "Kamu mau makan malam apa? nanti aku bikinin," "Apa aja, kamu masak apa aja nanti aku makan koq!" "Mas?" "Hm?" "Aku pengen ngomongin sesuatu," Agus pun menghentikan permainan gamenya, "Mau ngomongin apa?" ia menatap ke arah Mila Mila kemudian duduk di hadapan Agus, "S-soal bulan madu," "Kamu keberatan? biar aku nanti ngomong sama kakek buat batalin semua itu," "Sebenarnya, aku cuman gak enak sama kakek mas." "Gak enak kenapa?" "Mas, mas kan tau pernikahan kita ini..." Agus yang seolah tidak mau mendengar kelanjutannya pun langsung mengalihkan perhatiannya dan kembali bermain game. "Kalau kamu masih tetap mau bahas soal cara kita menikah, mas gak mau denger!" Mila memegang tangan Agus, "Tapi mas.." ucapannya terpotong saat Agus melihat ke arah Mila yang memegang tangannya. "M-maaf," Agus tersenyum, "Kenapa harus minta maaf?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD