Cathrine datang ke sekolah sambil menundukkan kepalanya. Merasa tidak semangat karena kejadian kemarin. Hampir saja ia menabrak dinding kareja jalannya selalu menunduk. Bahkan Cathrine sudah beberapa kali menabrak para siswa. Tapi tetap tidak dihiraukannya, lebih tepatnya ia tidak sadar sudah menabrak orang lain.
Ingin sekali Cathrine bolos sekolah, tapi ia ingin bertemu dengan Andrew hari ini dan ingin menjelaskan semuanya. Entah apa yang mau dijelaskannya lagi karena sudah terbukti dirinya dan teman-teman gengnya yang membuat Dark Blue sampai masuk rumah sakit.
“Aihh penyesalan kenapa selalu dating terakhir sih?” rutuknya dengan lesu. Entah dirinya menyesal membentuk geng Red Monster atau menyesal telah menghajar geng yang ternyata milik kekasihnya sendiri. Ah sudahlah semakin dipikirkan semakin pula membuatnya sakit kepala.
Cathrine berjalan lemas ke kelasnya. Disana sudah ada Gaby yang tengah membeca novel yang baru dibelinya kemarin. Entah siapa yang mengijinkannya membawa novel saat di sekolah, jika ketahuan maka pasti akan disita. Tapi percuma jika disita karena Gaby akan pergi sendiri ke ruang OSIS untuk mengambil kembali novelnya.
Bruk
Cathrine mendudukkan dirinya di sebelah Gaby, teman sebangkunya. Ia melipat tangannya lalu menenggelamkan kepalanya disana. Gaby tentu saja heran dengan kelakuan sahabatnya yang satu itu. Karena tidak biasanya seorang Cathrine itu diam, itu benar-benar tidak mungkin. Kecuali jika dirinya sedang ada masalah.
“Lo kenapa, Cath?” tanya Gaby yang hanya dijawab dengan gelengan kepala sebagai balasnnya.
Gaby memutar bola matanya malas, ia sangat tau jika sahabatnya ini sedang ada masalah, “Lo kalo mau bohong mending belajar dulu deh. Tampang kaya lo tuh mana bisa dibilang gapapa.”
“Tapi gue beneran gapapa kok, Gab. Lo gak usah khawatir gitu.” Cathrine tetap berdalih dengan memasang senyuman palsu tentunya. Tapi tetap tidak bisa menyembunyikan semua dari Gaby.
Gaby menarik Cathrine hingga menghadapnya, “Lo kenal gue berapa lama? Lo gak bisa nutupin apapun dari gue.”
Cathrine menghela nafasnya, dirinya memang tidak bisa menutupi apapun dari Gaby. Gaby pasti akan sadar dengan sendirinya karena bisa dibilang Gaby itu orang yang paling peka diantara ereka semua. Dan Gaby juga orang yang bisa dipercayanya sejak dulu.
Jadilah Cathrine menceritakan semuanya pada Gaby, karena ia juga butuh sandaran. Memang jika bercerita pada orang lain itu belum tentu bisa membantu masalah yang dihadapi. Tapi setidaknya jika bercerita dapat mengurangi beban yang ada di hatinya walaupun hanya sedikit.
Gaby menjadi pendengar yang sangat baik, ia tidak memotong atau menyanggah cerita Cathrine. Walaupun Gaby terkejut dan cukup takjub dengan perkataan Cathrine, tapi tetap saja Gaby menunggu Cathrine hingga selesai bercerita. Setelah bercerita, barulah Gaby mulai berbicara.
“Jadi intinya tuh lo sama Andrew salah satu ketua geng yang cukup terkenal sama ditakutin. Terus kalian berdua gak sengaja bentrok tanpa tau masing-masing dari kalian. Dan lo ngehajar temen-temennya dia sampe masuk rumah sakit, gitu?” Gaby menangkap apa yang diceritakan oleh Cathrine.
Cathrine mengangguk tanda daya, “Iya, dan sekarang Andrew kaya gak terima gitu kalo gue udah bikin temen-temennya kaya gitu.”
“Ya jelas lah, coba dibalik, temen-temen lo yang dihajar sama gengnya Andrew. Sekalipun Andrew itu pacar lo, emang lo bakal terima gitu aja?”
Jleb
Kali ini Cathrine mengerti dengan Tindakan Andrew. Karena dirinya juga sama, tidak akan terima jika teman-temannya terluka. Bahkan saat bertarungpun, Cathrine sesekali masih mengecek apa teman-temannya baik-baik saja. Jika ada yang kesulitan, Cathrine pasti akan membantu mereka sekalipun ia masih melawan musuhnya.
Cathrine menghela nafasnya, “Jadi gue harus gimana, Gab? Gue gak bisa gini terus sama Andrew. Gue sayang banget sama dia, lo tau itu kan.”
Jelas Gaby sangat tau jika Cathrine itu sangat bucin, alias budah cinta oleh Andrew. Dan begitupun sebaliknya, Andrew terlihat sangat menyayangi Cathrine serta memanjakan temannya yang satu ini. Tapi sayangnya kali ini masalah Cathrine ini bisa dibilang juga cukup serius.
“Kalo gini ceritanya, lo harus omongin dulu sama Andrew. Lo bujuk dia, dia tuh sayang banget sama lo. Kayaknya kalo lo baik-baikin si Andrew, dia bakalan luluh terus baik sama lo lagi.” Ini adalah saran yang bisa diberikan Gaby.
“Gue juga sebenernya juga udah ada rencana buat ngomong sama Andrew gimanapun caranya, Cuma gue takut kalo Andrew makin marah ke gue.”
Gaby menepuk pundak Cathrine, “Kalo gak lo coba sekarang, lo gak bakal tau kan? Dia makin marah atau enggak, itu urusan belakangan. Seenggaknya lo udah berusaha buat minta maaf dan jelasin semuanya. Kalo dia beneran sayang sama lo, dia pasti bakal maafin lo. Yah, walaupun gak langsung dimaafin karna dia juga butuh waktu buat nerima ini semua.”
Cathrine manganggukan kepalanya. Sepertinya nanti saat jam istirahat Cathrine mencoba mencari Andrew dan berbicara dengannya. Entah nanti sikap Andrew akan seperti apa. Tapi benar apa yang dikatakan oleh Gaby, kita tidak akan tau apa yang terjadi kedepannya jika kita mau mencobanya. Dan setidaknya dirinya sudah berusaha untuk memperbaikinya.