"Sayang, kam-….” Ucapan Cathrine terhenti karena Andrew langsung memotongnya, “Jangan ngomong apa-apa, Cath. Lo bener-bener bikin kecewa hari ini.”
Andrew menatap Cathrine dingin. Tatapan yang tidak pernah Cathrine bayangkan, karena biasanya Andrew menatapnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Tapi semua itu seakan sirna dan berganti dengan tatapan yang sangat menusuk,
Semua yang ada disana bingung karena kedua ketua mereka saling kenal. Dan yang saat ini merka tau, kedua orang itu adalah sepasang kekasih. Mereka semua terdiam dan tidak tau harus berbuat apa. Jadi mereka memilih diam dan hanya menonton kedua orang dengan ekspresi yang sangat berbeda. Andrew dengan tatapan dinginnya, sedangkan Cathrine dengan wajah yang saat ini seakan menahan tangis.
“Jadi semua ini perbuatan lo, lo yang udah bikin temen-temen gue masuk rumah sakit? Gue bener-bener gak nyangka, Cath.” Cathrine hampir menangis karena biasanya semarah apapun Andrew, ia tidak pernah berbicara lo-gue padanya. Tapi saat ini Andrew seperti orang yang tidak dikenalnya lagi.
Cathrine mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Andrew, tapi pria di depannya menepisnya. Sungguh Cathrine sangat ingin menangis sekarang, tapi masih ditahannya walaupun tubuhnya sudah bergetar.
“Mulai sekarang lo jangan pernah munculin wajah lo di hadapan gue lagi. Gue bener-bener udah muak sama lo. Gimana bisa orang yang gue sayang tuh ngelakuin semua itu ke temen-temen gue, orang-orang yang selama ini selalu dukung gue?”
Tes
Air mata Cathrine yang sedari ia tahan akhirnya jatuh juga. Ia benar-benar tidak bisa berjauhan dengan Andrew, Cathrine sangat menyayangi Andrew. Andrew adalah orang yang membuatnya lupa akan kesepiannya sebelum ia membuat geng Red Monster. Merubahnya dari yang sebelumnya selalu menutup dirinya menjadi ceria berkat kehadirannya yang selalu membuat Cathrine tertawa dan membuat keksongan yang ada di dirinya terisi.
Andrew selalu ada saat Cathrine sedih dengan kepergian orangtuanya yang jarang menemuinya. Cathrine kecil yang butuh kasih sayang itu selalu disemangati oleh Andrew hingga Cathrine bisa tersenyum lagi sampai sekarang. Semua itu berkat Andrew. Cathrine bisa menerima dan memaklumi jika kedua orangtuanya meninggalkannya untuk bekerja juga semua karna Andrew. Andrew juga mengalami hal yang sama, jadi bisa dibilang mereka saling menguatkan satu sama lain.
“Aku minta maaf Drew, aku bakal tanggung jawab sampai semua temen-temen kamu sembuh. Tapi jangan pergi dari aku. Aku mohon sama kamu. Kamu itu semangat aku, kamu yang udah bikin aku bangkit dari kesedihan aku. Maafin aku.” Ucap Cathrine lirih sambil menundukkan kepalanya.
Seakan tidak goyah, Andrew tetap pada pendiriannya dan tetap diam. “Lo gak perlu nangis di depan gue. Air mata lo itu gak akan bikin temen-temen gue langsung sembuh besok pagi. Jadi simpen aja tangisan lo dan jangan pernah temuin gue lagi.”
Andrew pergi dari tempat itu diikuti oleh anak-anak Dark Blue yang lain. Sebenarnya anggota Dark Blue cukup terkejut dan tidak tega dengan Cathrine yang menangis disana. Tapi mereka juga tidak terima dengan teman-teman mereka yang masuk rumah sakit karena ulah Cathrine.
“Drew, lo bener-bener gak apa-apa ninggalin cewek itu? Dia nangis loh Drew, dan itu cewek lo sendiri.” Ucap salah satu teman Andrew.
“Tapi cewek itu juga yang udah bikin anak-anak lain masuk rumah sakit bahkan sampe ada yang keadaannya kritis. Gue gak bisa nerima itu.” Jelas Andrew yang hanya diangguki oleh temannya itu.
Cathrine yang lemas saat ditinggal oleh Andrew akhirnya tubuhnya akhirnya lutuh kebawah. Samuel yang ada di sebelahnya sontak menahan tubuh Cathrine.
“Sam, dia ninggalin gue Sam. Gue harus gimana? Gue harus apa biar dia balik lagi ke gue? Dia yang selama ini buat gue semangat, Sam. Kasih tau gue, gue harus apa Sam?” ucap Cathrine dengan tatapan kosong dan air mata yang tetap mengalir.
Samuel yang tidak tau cara menghibur orang yang sedang patah hati hanya diam dan menyenderkan kepala Cathrine di pundaknya serta tangannya yang mengusap-usap punggung Cathrine seakan memberi sedikit kekuatan. Anggota yang lain juga tidak tega melihat Cathrine yang biasanya ceria menjadi terpuruk seperti ini.
“Guys, kalian semua balik dulu. Biar gue, Roy, sama Sam yang nemenin Cathrine disini dulu,” titah Alvin sebagai wakil ketua dari Red Monster. Alvin memasang ekspresi yang tidak ingin dibantah, jadi mau tidak mau mereka pergi walaupun dengan setengah hati.
“Kabarin kita kalo ada apa-apa.” Alvin hanya mengangguk sebagai jawabannya.
Alvin dan Roy berjongkok mensejajarkan tubuh mereka dengan Cathrine. Alvin menarik Cathrine ke dekapannya. Jujur sebenarnya ia tidak tega melihat Cathrine seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi? Ia tidak bisa menghajar Andrew karena ini tidak bisa dikatakan sebagai salah orang itu walaupun sudah membuat Cathrine seperti ini.
"Cath, udah dong jangan nangis. Gue gak bisa liat lo kaya gini sumpah.” Roy hampir frustasi karena ia menyayangi Cathrine seperti adiknya sendiri.
“Roy, kasih tau gue, gue harus apa biar dia maafin gue?” bukannya berhenti menangis, ia malah semakin terisak.
Tiga orang yang ada di depannya benar-benar tidak tau harus berbuat apa dengan keadaan Cathrine saat ini. Mereka tidak pernah melihat Cathrine yang rapuh seperti ini, dan mereka tidak pernah berharap Cathrine yang seperti ini.
“Besok lo bicarain lagi ya? Sekarang lo tenang dulu aja. Kalo dia tetep gak mau dengerin, kita bantu buat jelasin gimana? Mau kan? Gue gak tega liat lo kaya gini, Cath.” Alvin mencoba membujuk Cathrine dan sepertinya berhasil karena Cthrine sedikit lebih tenang. Ketiga orang itu bersyukur.