Chapter 9

1018 Words
Setiap hari, Alder terus mengunjungi Key. Saat tak ada orang di dalam kamar—ia selalu duduk di samping ranjang Key. Menatapnya. Mendesah panjang. "Kenapa kau belum juga kembali, Key? Dimana kau sebenarnya?" Alder berlutut. Menggenggam tangan Key. Membenamkan kepalanya pada ranjang. "Kau, harus kembali, Key. Aku tak bisa melihatmu begini." Di detik selanjutnya, Alder mengangkat kepalanya. Dan, terkejut. Karena, melihat Meida ada di seberang ranjang. Menatapnya dengan dingin. Alder segera berdiri. Lantas, melangkah mundur. "Kau, tinggal di dekat sini?" tanya Meida tanpa basa-basi. "Ah, iya." "Kau, sangat dengan cucuku rupanya." "Hanya aku teman laki-lakinya." "Kau, juga yang datang ke rumah sakit, kan? Yang menyusul di kamar mandi." Alder mengangguk. "Sejak kapan, kau mengikuti Key?" "Sejak Key mengalami kecelakaan ketika malam itu." Meida terdiam sejenak. "Kau—pria yang menyelamatkan Key waktu itu? Dari keluarga Balder?" Alder tersenyum. "Kau, masih ingat rupanya." "Astaga. Dan, sampai sekarang kau masih melindunginya?" "Aku.. suka berada di dekat Key. Entahlah. Aku merasa nyaman saja." "Nek," panggil Dena, yang berdiri di depan pintu. Meida segera menengok padanya. "Oh, ada apa Dena?" "Kau bicara dengan siapa? Apa—ada pyx di sini?" "Iya. Ada Pyx di sini." ** 2 Tahun Yang Lalu Key baru saja siuman. Mengernyitkan mata, karena silaunya lampu penerangan di ruang perawatan. "Kau sudah sadar? Syukurlah!" kata Alder, yang berdiri di sebelah kiri ranjang. "Siapa kau?" "Aku? Aku adalah malaikat penolong mu." Alder tersenyum. "Malaikat penolongku?" "Yap. Aku yang mendorongmu agar tak tertabrak oleh kendaraan itu." "Ah, begitu." "Ah? Begitu?" "Lantas, aku harus mengatakan apa?" "Te-ri-ma ka-sih. Itu yang harus kau ucapkan!" "Terima kasih." Alder mendengus. "Kau, memang gadis yang unik. DEG! Jantung Alder tiba-tiba terasa sakit. Ia meringis. Mencengkeram bajunya. "Kau, baik-baik saja?" "Sepertinya, aku harus pergi." Alder keluar dari ruang perawatan Key. Berjalan sempoyongan. Masuk ke dalam ruang perawatan lain, yang satu lorong dengan Key. Melihat seorang dokter tengah menempelkan alat kejut jantung pada d**a seseorang yang berbaring di sana. Sementara, seorang wanita dan pria menangis. Saling berpelukan. Agak jauh dari ranjang. Alder yang masih merasakan sakit itu, perlahan mendekati ranjang. "Jangan mati. Ini bukan saatnya. Aku mohon," gumamnya. Tubuh seseorang di ranjang itu terus terangkat. Setiap dokter menempelkan alat kejut jantung. Hingga, terdengar bunyi, BIP Yang sangat panjang. Monitor pendeteksi detak jantung, menunjukkan garis lurus. "Sudah tak terselamatkan lagi, Dok. Kau, harus mengumumkan waktu kematiannya," kata salah satu perawat. "Pada hari Senin, tanggal 23 Februari 2020. Pukul 07.45—pasien bernama Akando Balder telah meninggal dunia." Alder yang melihat tubuhnya sudah tak bergerak, membeku. Air matanya jatuh begitu saja. Sedangkan, kedua orang tuanya menghampiri Alder. Memeluk jasad anaknya. "Tidak. Tidak mungkin. Aku tidak mungkin mati secepat ini." Dengan kedua kaki yang masih gemetar, Alder berjalan keluar. "Ini semua gara-gara gadis itu! Karena, aku menyelamatkannya. Aku jadi seperti ini!" "Aku akan mengajaknya ke alam ini!" Dengan perasaan marah membabi buta—Alder kembali pergi ke ruangan Key. Berhenti di depan ruangan, saat melihat Meida ada di dalam ruangan. "Kenapa seperti ini lagi, Key? Ini sudah yang ke sekian kalinya, kau begini!" "Gadis itu memang merepotkan! Ini bukan kali pertamanya mengalami kecelakaan?! Aku menyesal sudah menyelamatkannya!" kata Alder. "Maafkan aku, Nek. Ada makhluk aneh yang mengejar ku. Aku sangat takut." "Lalu, apa kau tak takut selalu dekat dengan kematian? Huh? Sudah berapa kali, kau hampir mati?" "Lebih baik, aku mati saja, Nek. Aku ingin berkumpul dengan Ayah dan Ibu. Aku rindu mereka." Rasa marah yang sebelumnya menggebu-gebu dalam diri Alder, berangsur menghilang. Berganti rasa iba. Mendesah sangat panjang. Dan, berjalan pergi. ** "Dia mau mengganggu Nona Key?" "Oh tidak. Dia baik." Sejak 2 tahun yang lalu, Alder telah menjadi Pyx : Roh gentayangan. Meida dan Alder berjalan-jalan di halaman rumah. "Jiwa Key terjebak di dunia iblis," kata Meida. "Lantas, apa kita tidak bisa mengembalikannya?" "Satu-satunya cara adalah dengan masuk ke dunia itu. Dan, menyeretnya pulang. Tapi, manusia tak bisa masuk ke sana." "Kenapa?" "Karena, manusia adalah makhluk bernyawa. Jika, masuk ke dalam sana—manusia akan mati." Alder menghentikan langkahnya. Pun, dengan Meida. "Jadi, hanya yang tak bernyawa bisa masuk ke dalam sana." "Iya." "Aku bisa masuk ke sana. Aku seorang Pyx. Aku bisa menyelamatkan Key." "Tapi, terlalu berbahaya." "Kenapa?" "Jika, roh mu di hancurkan oleh Raja iblis—maka, kau tak akan ada lagi di sini. Kau, akan lenyap." "Bukan masalah bagiku. Lagipula, aku tidak terlihat oleh orang lain." "Tapi, Key bisa melihatmu. Katamu, kau satu-satunya teman Key. Apa nantinya dia tak akan sedih?" "Key, tidak memiliki perasaan itu, kan? Kau, harusnya tahu." "Ya. Memang, setelah kejadian waktu kecil itu—Berbagai macam emosi Key, menghilang. Dia menjadi orang yang dingin. Tak pernah merasakan sakit. Meski, di tusuk oleh pisau." "Karena itu, beritahu caranya. Bagaimana, aku dapat masuk ke dunia iblis?" Meida mendesah panjang kemudian. ** Pukul 23.45. Meida, Dena, Aland—serta Alder berada di pasar tradisional. Usai menggambar sebuah tanduk, Meida meletakkan lilin di sekelilingnya. Lalu, menyalakan lilin itu. "Nek, sebenarnya ritual apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Dena. "Aku akan mengirimkan seseorang ke dunia iblis." "Apa?" "Aku akan membuka pintu menuju dunia iblis." "Tapi, siapa yang mau melakukan itu?" "Seseorang yang sangat dekat dengan Key. Seseorang yang selalu menolong Key. Seseorang yang tak terlihat dengan kedua mata normal mu, Dena." "Tapi, aku bisa melihatnya," sahut Aland. Meida mengernyitkan dahi. Menatap Aland. "Kau, bisa melihatnya?" Aland mengangguk. "Pria tampan, yang ada di dalam lingkaran itu, bukan?" tunjuk nya. "Ya. Kau benar. Oh, kedua matamu sangat indah dan istimewa, Nak," kata Meida. Kemudian berbalik menghadap Alder. "Kau, sudah siap?" tanya Meida. Alder mengangguk. "Dena, mana ayam hitamnya?" Dena berjongkok. Membuka kurungan besi. Dan, mengambil ayam hitam. Di berikan nya pada Meida. Meida yang memegang kepalanya. Menyayat lehernya. Dan, meneteskan darah pada gambar tanduk, yang di buatnya tadi. Darah itu seolah berjalan. Mengalir, memenuhi lekuk pada gambar tanduk. O porta tenebrarum ( Wahai pintu kegelapan ) Maledicta umbra. Et omnes reges. ( Bayangan terkutuk. Dan, semua rajanya ) Aperi mundi ianuam daemonis. Nigra dabo tibi anima mea ( Bukalah pintu dari dunia iblis. Aku akan memberikan jiwa hitam padamu) APERI IANUAM!!! ( Buka pintunya!!!) Angin berhembus kencang. Gambar tanduk itu menyala merah. Alder menjerit kesakitan. Rohnya seolah tercabik-cabik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD