Alder meringkuk. Menggeram dalam diam. Kemudian, menggeliat. Mendongak. Otot lehernya menegang. Dua bola matanya memerah.
Di detik selanjutnya, ia menghembuskan napas panjang. Tubuhnya mulai melemas. Kali ini, napasnya putus-putus.
"Sial. Sakit sekali."
Udara malam terasa lebih dingin dari sebelumnya. Tidak ada derikan hewan malam. Bahkan, burung gagak pun tak terdengar kepakan sayapnya. Sunyi senyap. Sangat berbeda dari sebelumnya. Alder berdiri. Mengedarkan pandangan. Meida, Dena dan Aland tidak terlihat di mana pun.
"Apa aku sudah masuk ke dalam dunia iblis?" gumamnya.
"Lalu, kemana aku harus pergi mencari Key?" lanjutnya.
"Jika kau bingung—bertanyalah pada pohon. Dia akan membantumu."
Kata-kata Meida sebelumnya, membuat dia mendengus tak percaya.
"Aku percaya Pyx itu ada. Karena, aku adalah salah satunya. Aku juga percaya iblis itu ada. Karena, aku sekarang ada di dalamnya. Tapi, bertanya pada pohon? Itu sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa, pohon bisa bicara kepada kita?"
Alder tertawa kencang. Keluar dari lingkaran lilin, yang sudah padam.
"Aku akan mengikuti kemana kakiku melangkah saja."
**
Alder memilih masuk ke dalam hutan. Karena, di perkotaan sangat sepi. Tidak ada siapapun.
Verden Morke memang hampir sama dengan dunia manusia. Hanya saja, banyak tempat tak masuk akal di tempat ini. Sebagian, Morten banyak yang memilih hidup di perkotaan. Hidup layaknya manusia. Menghindari pertempuran.
Sebagian juga, banyak yang menjadi pengikut setia Raja Duis. Setia untuk menjadi prajuritnya. Pun, seperti kaum kurcaci, yang membangun desanya sendiri. Karena, dirasa lebih aman. Juga, kaum Gumul, yang memilih tinggal di dalam hutan. Pasalnya, para Morten kecil suka menjadikan mereka bola sepak.
"Haaah, di mana-mana gelap. Tidak ada tanda-tanda Key ada di sini. Tidak ada petunjuk."
Alder menggaruk-garuk kepalanya. Satu tangan lainnya, berkacak pinggang. Alder melirik pohon di sampingnya.
"Hei, ayolah Alder. Tidak mungkin, sebuah pohon dapat bicara," katanya.
Kemudian, menggigit bibir bawahnya. Masih menatap pohon besar itu. Mendesah singkat.
"Apa sebaiknya aku coba saja? Ah, aku seperti orang tidak waras!"
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
Pohon yang di lihatnya, tiba-tiba saja memiliki mulut, yang lebar. Juga, sederet gigi, yang semuanya adalah taring. Alder pun berjengit kaget.
"Ka-kau, benar-benar bisa bicara?"
"Kau, baru pertama kalinya kemari?"
"I-iya."
"Pantas saja."
"Lalu, apa yang ingin kau tanyakan?" lanjut pohon itu.
Alder berdeham.
"Apa—di sekitar sini kau pernah melihat seorang gadis? Dia sangat cantik."
"Bisa kau jelaskan secara spesifik? Banyak, gadis cantik yang keluar masuk hutan ini."
"Mmm.. tunggu sebentar."
Alder mengetukkan kaki kanannya berulang ke tanah. Tanda, ia tengah berpikir. Tak lama kemudian, ia menjentikkan jari.
"Ah, dia manusia."
"Manusia? Hmm.. Aku ragu, dia masih hidup jika ada di sini."
"Lebih tepatnya, hanya jiwanya saja yang di sini."
"Tapi, ada syaratnya."
"Apa syaratnya?"
"Kalau kau berhasil menemukan gadis itu, karena petunjukku—maka, kau harus memberiku Loka."
Alder mengernyitkan dahi.
"Loka? Apa itu?"
"Permen hitam, yang terbuat dari bagian tubuh naga. Berikan aku Loka, sekarung jerami penuh."
"Apa? Dari mana aku akan mendapatkan hal itu?"
"Jadi, kau tak ingin bantuan ku?"
Alder mendesis.
"Baiklah, kalau begitu. Jangan bangunkan aku lagi."
"Okay. Okay. Baiklah, aku setuju. Jadi, di mana Key—maksudku temanku itu?"
"Tunggu sebentar."
"Animam humanam hic quaere. (Carilah jiwa manusia di sini)"
Pohon itu berbisik pada pohon di sebelahnya. Lalu, di sampaikan pada pohon ketiga. Begitu seterusnya.
Beberapa menit kemudian, pohon kedua berbisik,
"Est in Gumul casa. In periculo est."
"Hmm.. Carilah sebuah pondok kaum Gumul. Gadis itu, ada di sana."
"Pondok Gumul? Di mana itu?"
"Berjalanlah ke arah barat. Kau, akan menemukannya."
"Baiklah. Terima kasih."
"Jangan lupa. Saat kau, lewat kembali di sini—berikan Loka-ku. Jika tidak—kau yang akan aku mangsa."
Alder mengedip cepat. Menelan ludah gugup.
"Oh, baiklah."
Alder kemudian berbalik badan. Membelakangi pohon itu. Dan, berjalan.
"Aku sarankan kau untuk berlari."
Alder menghentikan langkah. Menengok pada pohon itu.
"Memangnya, kenapa?"
"Gadis itu—dalam bahaya."
Alder terbelalak.
"Kenapa kau baru bilang sekarang?!"
Alder kemudian berlari. Sekencang mungkin.
**
"Alder?"
Key terkejut. Melihat temannya di dunia manusia, ada di sini. Alder menengok pada Key.
"Hai, Key. Sudah lama tak jumpa denganku, eh?"
"Bagaimana kau bisa di sini?"
"Nanti saja, aku jelaskan. Aku harus membasmi para iblis ini, kan?"
"Morten."
"Huh?"
"Mereka kaum Morten."
"Ah.. sama saja, Key."
Salah satu Morten melayang ke arah Alder. Melemparkan kilatan petir merah, namun, dapat dihindari oleh Alder. Dan, menyambar jendela, di sebelah Key.
"Oh, hampir saja."
Morten itu berhadapan dengan Alder sekarang.
"Sebagai informasi saja. Aku sangat pandai berkelahi," kata Alder.
Morten itu meraung. Alder memukul pipinya berulang kali. Menendangnya, hingga Morten berambut pirang itu jatuh ke belakang. Tapi, dengan cepat ia berdiri.
"Sial! Bagaimana cara membunuh makhluk ini?!"
"Patahkan lehernya! Lalu, lemparkan padaku," cetus Alardo. Sembari mendemokan-nya.
"Oh, mengerikan," gumam Alardo.
Morten itu kembali berlari mendekati Alder, yang segera mencekik leher Morten itu. Menatapnya sejenak. Kemudian, mendesis.
"Ini sangat MENGERIKAAAN!"
Alder menutup matanya. Lalu, mematahkan leher Morten itu. Dan, menariknya ke atas. Dengan pekikan panjang. Juga, sekuat tenaga. Darah biru segera menciprat ke wajah Alder.
Dan, seperti perintah Alardo—ia melemparkan kepala Morten itu pada Alardo.
Kepalanya terbakar habis. Bersamaan dengan tubuhnya, juga ikut terbakar.
Itu adalah Morten terakhir yang tersisa. Sementara, Solomon melarikan diri. Alder menghela napas lega. Mengusap darah dari wajahnya. Kemudian, mengendusnya.
"Baunya seperti kaus kaki basah, yang tidak di cuci berbulan-bulan."
"Key, kau baik-baik saja? Tidak terluka?" tanya Alardo, yang segera mendekatinya.
"Minggir."
Alder menyingkirkan Alardo ke samping. Lalu, menyentuh kedua bahu Key.
"Kau, baik-baik saja, kan?" tanya Alder.
Key hanya mengangguk. Alardo mendorong Alder. Menjauhkannya dari Key.
"Siapa kau? Beraninya, kau mendekati dia."
"Harusnya, aku yang bertanya padamu. Siapa kau? Dan, kenapa kau ada di sini bersama Key?"
Alardo mengernyitkan dahi.
"Kau—mengenal Key?"
"Tentu saja. Aku malaikat penolongnya."
Alardo mendengus. Kemudian, terdiam.
"Ah, kau yang bernama Alder?"
"Key, bercerita tentangku?"
"Ah, jadi benar."
"Tunggu sebentar. Sepertinya, kau harus menjelaskan padaku. Bagaimana, kau bisa datang kemari? Ini bukan dunia kita, Alder."
"Nenekmu yang mengirim ku ke sini."
"Apa? Kenapa Nenek mengirim mu?"
"Jangan marah padanya. Aku yang mendesaknya."
"Tapi, Alder—tempat ini berbahaya."
"Yeah. Aku tahu. Tapi, aku tak bisa membiarkanmu terjebak di sini selamanya, Key."
"Tidak, Alder. Justru, kau yang dalam bahaya. Kau seorang manusia. Kau, tidak bisa datang kemari."
"Manusia? Siapa? Pria ini?" tunjuk Alardo pada Alder.
Key menatap Alardo. Dan, mengangguk. Alardo menyunggingkan senyum.
"Pria ini adalah Pyx."
"Pyx? Apa itu?"
"Pyx adalah-"
"AHA!" pekik Alder. Membuat kalimat Alardo terputus. Tak dapat di selesaikan.
"Lebih baik, kita pergi sekarang. Takutnya, makhluk-makhluk jelek itu kembali bersama pasukannya."
"Makhluk-makhluk jelek itu adalah kaum ku. Aku adalah salah satu dari mereka. Apa menurutmu wajahku jelek, Key?"
"Tidak. Kau tampan."
"Kau, juga iblis?" tanya Alder.
"Morten."
Alder kemudian mengernyitkan dahi.
"Tunggu sebentar—sepertinya, aku pernah melihatmu."
"Aku rasa, kita tidak pernah bertemu."
Alder diam sejenak. Berpikir. Lalu, melebarkan mata.
"Bukankah, kau yang datang di rumah sakit waktu itu? Yang membuat waktu terhenti?"
Alardo membusungkan d**a.
"Ya. Itu adalah salah satu keahlian ku. Dan, aku juga-"
"Key, dia sangat berbahaya. Kau, jangan terlalu dekat dengannya. Ayo kita pergi. Nenekmu sudah menunggu "
Alder segera menarik tangan Key. Lantas, berjalan pergi.
**
Ketiganya berjalan menyusuri hutan. Entah pukul berapa saat ini. Tapi, yang pasti sudah sangat malam. Alardo berjalan di belakang Key dan Alder. Dengan memicingkan mata, menatap keduanya. Kedua tangan di belakang punggung.
"Dia—pangeran kegelapan, kan?" tanya Alder, dengan suara rendah.
"Iya."
"Bagaimana kau bisa ada bersamanya? Tidakkah dia berbahaya?"
"Kau, tak lihat tadi dia menghabisi para Morten?"
"Bisa saja, itu hanya akting saja. Nanti, kalau kau tertidur—kau, akan di makannya."
"Kau, tak lihat punggungku ada bekas luka?"
Alder kemudian menarik lehernya. Melirik punggung Key, yang terbuka. Ada segores luka yang masih merah.
"Astaga! Dia yang melakukannya padamu?"
"Tidak. Morten yang ada di pondok tadi, menyerang Alardo saat di langit. Tapi, anehnya—tubuhku juga ikut terluka."
"Bagaimana bisa?"
"Mungkin, karena aku dan dia saling terhubung."
"Cih, omong kosong."
"Sungguh. Saat pertama kali, aku melihatnya—air mataku tiba-tiba menetes. Pun, dengan dia."
"Air matamu?"
Key mengangguk. Alder pun menghentikan langkahnya. Membuat langkah Key juga berhenti.
"Sejak kapan kau bisa menangis?"
"Aku tidak menangis. Air mata itu—keluar secara tiba-tiba, ketika bertemu dengannya."
Alder mendesah singkat. Menengok pada Alardo.
"Kenapa kalian berhenti? Apa pria sok sempurna itu, tak tahu jalan?"
Alder mendengus. Sembari memutar bola matanya dengan cepat.
"Aku sudah hapal jalan ini, hanya dengan sekali lewat."
Alardo menyeringai.
"Benarkah? Lalu, apa setelah ini kau akan ingat?"
Kening Alder berkerut.
"Apa yang kau rencanakan?"
"Tidak ada."
"Lalu, kenapa kata-katamu seolah mengancam ku?!"
Telunjuk kanan Alardo mengarah ke langit.
"Bulan purnama."
Alder dan Key mendongak. Melihat bulan yang besar, serta bulat sempurna. Cahayanya cukup terang.
"Apa maksudmu?"
Di detik selanjutnya, asap putih tebal muncul, entah darimana. Membuat Alder dan Key terbatuk. Mengipaskan tangannya.
"Asap apa ini? Apa ada kebakaran?" tanya Alder.
Alardo tersenyum.
"Sudah waktunya," kata Alardo.
"Waktunya apa?" tanya Key.
Belum sempat Alardo menjawab—asap putih tebal semakin meninggi. Menghilangkan pandangan mereka.
"KEY! KEY! DI MANA KAU?"
"ALDER! AKU DI SINI."
"KEY!"
"AL-"
Kalimat Key terhenti. Asap tebal itu berangsur menghilang. Hutan yang sebelumnya menghilang. Kini menjadi pemukiman. Dengan jalanan yang bukan lagi tanah. Tapi, batu semen persegi.
"Tempat apa ini?" gumam Key.
Alder yang baru saja menajamkan matanya, bergegas ke arah Key.
"Kau, tidak apa-apa?" tanya Alder.
Key menjawab dengan anggukan.
"Alder.. tempat ini?"
"Entahlah. Aku juga tidak tahu."
"Ini adalah desa penyihir. Yang terlihat hanya saat bulan purnama saja," jawab Alardo, datang dari arah depan mereka.
"Desa penyihir? Seperti Harry Potter?" tanya Alder.
"Siapa itu Harry Potter? Apa penyihir terkenal?" tanya Key.
"Iya. Siapa itu? Penyihir yang kau kenal?"
Alder mendengus dengan ejekan.
"Dalam hal ini, kalian sama."
"Cepat jelaskan, siapa dia?" tanya Alardo kembali.
"Serial film tentang penyihir. Itu sangat terkenal di dunia manusia."
"Ah, aku kira dia temanmu," tanya Key.
"Tapi, apa mereka tidak berbahaya?" tanya Alder.
"Tidak. Mereka cukup baik. Dan, ada satu hal yang mereka suka."
"Apa itu?"
"Tuanku, Pangeran Vandemon."
Seorang penyihir wanita yang sangat cantik. Dengan hidung mancung, sedikit bengkok di bagian ujung, menyapa dari arah belakang Key dan Alder.
"Sudah aku bilang, panggil aku Alardo saja."
"Mana mungkin, aku berani memanggilmu seperti itu, Tuanku."
"Ngomong-ngomong, ada apa kau kemari, Tuanku?"
"Ah, aku tak sengaja masuk ke desamu, saat melintasi hutan."
"Ah, seperti itu? Lalu, dengan siapa kau kemari? Siapa gadis itu? Dan—pria yang sangat tampan itu?"
Penyihir bernama Belle itu mengedip manja pada Alder, yang tersenyum takut. Bersembunyi di belakang Key.
"Sekalipun dia cantik, tapi tetap saja mengerikan bagiku," bisik Alder pada Key.
Key hanya mendengus.
"Ah, mereka teman-temanku. Perkenalkan, gadis itu bernama Key. Dan, pria itu-"
"Siapa namamu pria tampan?"
Belle tiba-tiba saja sudah berada di sebelah Alder. Mencubit pipi Alder dengan lembut. Alder menciut. Takut pada Belle.
"Dia Akando Balder. Panggil saja Alder," sahut Key.
"Ah, nama yang bagus sekali. Kau, mau menginap di tempatku?"
Alder menggeleng dengan cepat.
"Belle? Belle?"
"Ah, maafkan aku, Tuanku. Aku terpesona dengan ketampanan temanmu."
"Bisakah, kami istirahat di tempatmu? Temanku yang satunya butuh pakaian."
"Oh, tentu saja. Mari ikuti aku."
Belle menarik paksa tangan Alder. Dan, mengajaknya berjalan bersama. Sekalipun, Alder menolak. Tapi, ia tak sanggup melepaskan lingkaran tangan Belle di lengannya.
"Para penyihir di sini rata-rata seorang perempuan. Dan, mereka sangat menyukai pria seperti Alder," jelas Alardo. Berdiri di samping Key.
"Banyak sekali kejutan di sini," kata Key.
"Ah, ngomong-ngomong kekuatanku sudah pulih. Aku akan menyembuhkan lukamu."
Key mengangguk. Alardo segera berdiri di belakang Key. Mendekatkan telapak nya pada luka Key.
Key mendesis kesakitan.
"Sudah selesai."
"Terasa sedikit panas. Terima kasih."
"Sama-sama."
"Apa tidak membekas? Nenekku akan marah jika tahu."
"Tenang saja. Tidak ada bekas sama sekali."
**
Rumah-rumah penyihir di desa ini, sangat minimalis. Dan, semua bangunannya sama. Tanaman yang menjalar memenuhi tembok Belle.
Belle sudah memberikan satu pakaiannya pada Key. Pakaian khas Inggris di zaman dulu. Blouse putih untuk bagian dalam, lengan panjang sedikit mengembang. Dengan bagian pergelangan yang kecil. Di luarnya, di beri sebuah rok jumpsuit, tanpa lengan. Panjang sampai mata kaki. Mengembang di bagian bawah. Berwarna hitam. Dan, bermotif bunga.
Belle juga mendandani rambut Key. Dengan di gulung menjadi satu. Dan, di beri poni pendek.
Mata Alardo membeku. Berbinar, saat melihat Key turun dari tangga kayu, yang tak begitu panjang.
"Cantik, kan?" tanya Belle, dengan mempamerkan Key.
Alardo hanya tersenyum. Sementara Alder, sudah merasa risih. Karena, penyihir lain ikut datang ke rumah Belle. Menghimpitnya di kursi. Dan, menjejalkan kue parkin yang terbuat dari tepung, oatmeal, treacle hitam, dan lemak babi. Teksturnya keras. Hingga, kerap kali Alder tersedak. Dan, di paksa meminum rum anggur merah.
Key duduk di samping Alardo.
"Hei, kalian! Pergi dan cari laki-laki sendiri! Dia milikku!" pekik Belle. Dengan warna rambut, yang berubah merah ketika marah.
Membuat penyihir yang lain menunduk kecewa. Lalu, pergi. Belle kemudian tersenyum. Dan, duduk di sebelah Alder.
"Kau, sudah mencicipi kue parkin ini?" tanya Belle.
"Sudah! Sudah! Aku sudah kenyang, jangan di beri lagi."
Belle yang semula mengambil potongan kue parkin pun, meletakkannya kembali.
"Tapi, selain tampan—kau juga sangat istimewa rupanya."
Alder mendengus.
"Tidak ada yang istimewa dariku."
"Tapi, bisakah kau duduk sedikit menjauh? Aku gerah."
"Oh, tentu saja."
Belle bergeser sedikit ke samping. Hanya sedikit.
"Tapi, memang kau sangat istimewa sekali. Kau—bukan iblis. Juga, bukan manusia."
"Apa maksudmu dia bukan manusia?" tanya Key.
Belle menengok pada Key, yang ada di belakangnya.
"Kau, tak tahu? Dia adalah roh."
Key membeku kemudian.