"Jadi, Pyx itu adalah roh?" tanya Key.
"Lebih tepatnya, roh gentayangan," jawab Alardo.
"Kenapa?"
"Memang, sejak dulu namanya begitu."
"Maksudku, kenapa gentayangan?"
"Ah, itu kau tanya saja pada temanmu."
Alder hanya menunduk. Tak berani menatap mata Key. Mengambil makanan ringan berwarna hitam. Bulat. Memasukkannya ke dalam mulut. Lalu, mengunyahnya. Melebarkan mata kemudian.
"Wow, ini lezat sekali. Teksturnya keras. Tapi, lumer di mulut Ada rasa asam, manis. Apa ini?"
"Loka. Kau, menyukainya?" tanya Belle.
"Loka?" Alder mengulangi kata-kata Belle.
"Yap."
"Ah, jadi ini yang namanya Loka. Kau, punya banyak?"
"Tentu."
"Sungguh? Bisa kau berikan padaku sekantung jerami penuh?"
"Apapun untukmu, tampan. Kau, juga mau tahu cara pembuatannya?"
Alder mengangguk dengan mata berbinar.
"Kau, membuat Loka di rumah ini?"
"Oh, tidak. Kami memproduksinya di peternakan naga. Kau, ingin ke sana sekarang?"
"Ya. Lebih cepat lebih baik. Hehe."
Sejenak Alder melirik Key, yang terus menatapnya.
"Kalian mau ikut?" tanya Belle, pada Alardo dan Key.
"Apa ini waktu yang tepat untuk bersenang-senang, Alder?" tanya Key.
"Key.. kau, bisa memarahiku nanti. Loka ini jauh lebih penting."
"Kau, baru pertama kali kemari tapi, sudah tahu tentang Loka," ucap Alardo.
"Ada cerita untuk itu. Nanti, kau juga akan tahu."
"Oh, Tuanku. Maaf, aku sampai lupa tidak menawari mu makanan. Kau, juga ingin Loka? Dulu, kau suka sekali dengan permen Loka."
"Iya. Setidaknya, sebelum aku tahu pembuatannya," kata Alardo.
"Memang, kenapa pembuatannya?" tanya Alder.
"Nanti, juga kau tahu sendiri. Jadi, kita pergi sekarang?"
"Oh, Tuanku juga ingin ikut?"
"Aku ingin berjalan-jalan sejenak. Tamuku ini belum tentu dapat kemari lagi," jelas Alardo. Melirik Key.
"Di samping itu, sudah lama aku tak naik sapu terbang."
"SAPU TERBANG?" pekik Alder.
"Wow, itu keren sekali," lanjutnya.
Mereka berempat keluar dari rumah. Belle memberikan sapu terbang kepada Alardo.
"Tuanku, masih hapal mantera nya?"
"Tentu saja."
"Kalau begitu, saya akan terbang bersama si tampan terlebih dulu."
Gagang sapu yang panjang dan meliuk, segera di posisikan di tengah kedua kaki Belle. Sementara, Alder ada di belakangnya.
"Tampan—kau siap?"
"Apa ini akan melesat kencang?"
"Lebih baik, kau memeluk pinggangku."
"Supernatet ( Terbang)" kata Belle.
Sapu segera melayang rendah. Alder terkejut akan itu. Meremas baju Belle.
"SUW! ( Melesat!)" pekik Belle.
Sapu itu bergerak maju dengan cepat dan kencang. Membuat tubuh Alder terhentak ke belakang. Dan, berakhir dengan memeluk Belle.
"Pelan-pelan saja!" teriak Alder, sembari memejamkan mata.
"Nikmati saja! Jangan takut!"
Alder pun sayup-sayup membuka matanya. Masih dengan perasaan takut. Namun, di detik selanjutnya— matanya terbuka lebar. Melihat pemandangan yang indah di desa penyihir. Bulan yang bulat sempurna, terlihat sangat dekat. Seolah Alder dapat menggapainya.
"Supernatet," kata Alardo.
Alardo sedikit kaku saat berada di atas sapu. Membuat keseimbangan mereka tidak stabil.
"Kau, yakin sudah pernah menunggangi ini?" tanya Key.
"Ini karena ada kau saja. Kau, cukup berat."
"Apa aku tinggal di rumah Belle saja?"
"Tidak usah. Pegangan yang kuat. Kita akan mulai terbang."
"Tapi, aku tak ingin terlalu cepat."
"Baiklah. Sesuai permintaanmu."
"Nola ( Pelan)" bisik Alardo pada sapu.
Sapu terbang mereka terbang dengan santai. Key menengok ke kanan dan kiri. Melihat pohon-pohon ramping, yang sangat tinggi. Ada di belakang rumah para penyihir. Sesekali, ada sapu terbang lain dengan penumpangnya, yang mendahului mereka. Atap-atap rumah yang berlumut pun terlihat.
Naga-naga kecil dengan tuannya bermain di lapangan. Bintang-bintang yang gemerlap di langit, membuat mata Key berbinar.
"Kenapa desa dengan pemandangan indah seperti ini, tak bisa terlihat sepanjang waktu," kata Key.
"Karena, sesuatu yang indah memang sulit terlihat oleh mata. Keburukan yang terkadang di tutupi, justru terlihat jelas. Seakan tertulis di dahi kita. Bukankah, itu selalu ada di kamus permasalahan hidup?"
"Yeah, kau benar. Sebaik apapun kita—jika, melakukan hal yang buruk satu kali saja.. Maka—manusia akan menatap jijik pada kita."
"Pengalamanmu, eh?" tanya Alardo.
Key menyunggingkan senyum.
"Sepanjang aku hidup."
"Jangan khawatir. Ada aku sekarang. Aku tidak akan membiarkan siapapun memandang rendah dirimu. Aku jamin itu."
"Terima kasih. Itu sedikit menghibur."
Sepersekian menit kemudian, mereka tiba di peternakan naga—yang, hampir mirip dengan peternakan kuda. Atau pun, sapi.
"Kenapa kalian lama sekali?!" cetus Alder, begitu Alardo dan Key turun dari sapu terbang.
"Key tak ingin melaju kencang," jelas Alardo.
"Jadi—sapu ini bisa terbang dengan perlahan?" tanya Alder, sambil melebarkan matanya.
"Tentu saja."
Alder mengatupkan giginya. Melirik Belle, yang tersenyum lebar. Menunjukkan sederet gigi putihnya.
"Mmm.. Tuanku, apa Nona Key ini hanya sekadar temanmu?"
Belle mencoba mengalihkan topik.
"Kenapa memang?"
"Kalian terlihat sangat cocok sebagai sepasang kekasih."
Alardo tersenyum tersipu. Key tetap dengan ekspresinya. Dingin. Sedangkan, Alder memasang wajah kesal. Berjalan mendekati Key. Dan, menariknya.
"Jangan pernah berpikir untuk hubungan yang lebih jauh!" tegas Alder, pada Alardo.
Kemudian, mengajak Key masuk ke dalam.
Mereka segera di sambut dengan lorong panjang dan gelap. Yang di sisi kanan dan kirinya, terdapat sebuah pintu besi hitam. Saling berjajar.
"Di mana naga nya?" tanya Alder.
"Di balik pintu ini," jawab Belle.
Alder menghentikan langkahnya. Menengok pada Belle, yang berjalan di belakangnya.
"Naga yang kau maksud sama dengan naga yang aku pikirkan, bukan? Memiliki leher panjang. Dengan dua sayap. Dan, setinggi raksasa?"
Belle menjawab dengan anggukan.
"Tapi, pintu ini tingginya sama denganku. Pasti, ruangannya juga sangat sempit. Lalu, bagaimana cara membukanya? Tidak ada gagang, di pintu ini."
Belle mendengus. Merasa konyol, dengan kalimat Alder. Ia mendekat ke arah pintu.
"Patentibus ( Buka)"
KLEK!
Pintu terbuka dengan sendirinya. Terdorong masuk. Belle melirik Alder. Menaikkan dua alisnya berulang.
"Ayo masuk."
Setelah masuk ke dalam, Alder di buat bingung lagi oleh ruangan yang sepanjang mata memandang, hanya hitam dan gelap.
"Kau, sedang bercanda, ya?"
"Tunggu sebentar."
"GENIVA! ( API!)"
Muncul api di ujung obor yang menempel di sepanjang tembok.
"Wow.. aku suka sihir," kata Alder.
"Jadi, kau mau tinggal di sini bersamaku?"
"Tidak. Terima kasih. Aku hanya ingin melihat naga. Dan, mendapatkan Loka."
Belle mendesah kecewa.
"Ikuti aku."
Belle memimpin jalan.
Lorong pendek di lewati oleh mereka. Dan, kembali bertemu dengan pintu. Belle kembali mengucapkan Patentibus, untuk membuka pintu.
Cahaya terang segera menyorot mereka. Membuat Key, Alder dan Alardo membuang muka. Mengernyitkan mata. Kemudian, berjalan keluar.
Mereka tiba di sebuah padang rumput yang sangat luas. Dengan langit yang sangat cerah. Dan, para naga sedang terbang di atasnya. Sebagian lagi, tengah berbaris. Menunggu giliran mereka untuk di ambil salah satu bagian dari dirinya—untuk membuat Loka.