"Hei, Eldora!"
Panggil Belle pada penyihir seusianya, yang tengah menjaga barisan para naga.
Eldora menengok. Warna rambutnya lucu. Hanya pirang di bagian poni. Selebihnya, hitam. Ikal. Panjang sepunggung.
Eldora melambaikan tangan pada Belle, yang berjalan mendekatinya.
"Ouh, siapa pria tampan di belakangmu itu?" tanya Eldora, menatap Alder dengan genit.
"Ah, dia calon suamiku."
"Dalam mimpimu saja,", sahut Alder.
"Haha. Kau, di tolak Belle. Aku masih ada kesempatan."
"Tidak dalam kehidupanmu juga."
Eldora yang sebelumnya tersenyum, kini mengerucutkan bibirnya.
"Jadi, ada apa kau kemari dengan para tamu mu?"
Eldora memperhatikan satu persatu 3 orang tersebut.
"Oh! Tuanku, Pangeran Van—Alardo. Maafkan aku, tidak mengetahui kehadiranmu di sini."
"Seperti biasa, Eldora. Kau, selalu lamban," kata Alardo.
"Jadi, ada urusan apa kau kemari, Tuanku?"
"Oh, aku hanya mengantarkan pria ini saja."
Alardo menunjuk Alder.
"Dia ingin tahu proses pembuatan Loka. Dan, berikan dia Loka sekantung jerami penuh. Ambil saja, dari bagian ku."
"Dua kantung jerami penuh pun akan aku berikan padanya. Juga, hatiku."
"Loka saja sudah cukup," kata Alder.
"Tapi, maaf—apa aku bisa menyela dulu? Aku ingin bicara dengan Alder," sahut Key.
"Oh, kita tidak punya banyak waktu, Key. Lain kali saja."
"Waktuku sangat banyak," cetus Alardo.
"Aku juga," tambah Belle.
"Aku setiap hari bekerja dengan santai," jelas Eldora.
"Oh, kalian sungguh sangat menjengkelkan."
Key segera menarik tangan Alder. Mengajaknya menjauh. Sementara Eldora terus menatap keduanya. Sembari mendekat pada Belle.
"Siapa gadis sok cantik, yang memang cantik itu?" tanya Eldora, berbisik.
"Kekasih Tuan Alardo," jawab Belle, yang juga ikut berbisik.
"Lalu, ada hubungan apa dengan si tampan?"
"Entahlah. Aku juga sangat penasaran."
"Mereka hanya teman. Kalian jangan khawatir."
"Oh, kau mendengar percakapan kami?" tanya Eldora.
"Kalian berbisik, tapi cukup kencang di telingaku."
"Justru, Tuanku yang sepertinya khawatir," singgung Belle, yang melihat Alardo terus menatap Key dan Alder.
**
"Key.. kita sudah cukup jauh dari mereka."
Key menghentikan langkah. Melepaskan tangan Alder. Menatap sahabatnya dengan lamat-lamat.
"Tidak mungkin," kata Key.
"Apanya?"
"Kau—belum mati, kan? Huh?"
Alder terdiam. Mendesah lirih.
"Katakan padaku, jika itu tidak benar."
"Key.."
"Apa karena ku? Karena menolongku waktu itu?"
"Key.. tenang dulu."
"Jadi, benar. Karena aku."
"Key.. memang, aku sudah mati, karena kecelakaan itu. Tapi, itu semua karena kau. Semuanya sudah takdir, Key."
"Tidak. Seandainya saja, kau tak menolongku waktu itu—kau, tidak akan mati."
"Key, jangan pernah berpikiran seperti itu. Memang, aku sempat menyesal waktu menolong mu dulu. Tapi, sekarang tidak lagi. Kau, tahu kenapa?"
"Pada akhirnya, semua mati karena aku. Memang, benar—aku adalah pembawa sial. Maafkan aku, Alder."
Key menundukkan kepala.
"Hatiku.. rasanya sesak. Napas ku menggebu. Bibirku bergetar. Kepalaku terasa sakit juga. Ada apa denganku?" gumam Key.
Alder memegang kedua pundak Key.
"Key.. buang rasa bersalah mu. Aku tidak apa-apa. Sungguh."
"Tapi, bagaimana dengan orang tuamu? Bagaimana dengan kehidupanmu? Apa, kau tidak memiliki cita-cita?"
"Semua sudah berlalu, Key. Sungguh, aku baik-baik saja."
Key menatap Alder dengan sorot mata iba. Matanya berkaca-kaca. Hingga, setetes air mata keluar dari mata kanannya. Alder mengernyitkan dahi.
"Key? Kau menangis? Bagaimana bisa?"
"Entahlah. Rasanya, aku ingin berteriak. Dan, mengeluarkan semua air mata yang terbendung di pelupuk."
"Ini sungguh keajaiban, Key. Kau, yang bertahun-tahun tidak memiliki perasaan apa pun—sekarang, bisa menangis karena iba."
"Begini kah rasanya? Begini kah rasanya sedih itu? Kenapa sangat menyakitkan."
Bahu Key berguncang. Ia mulai terisak. Alder melangkah maju. Menutup jarak di antara keduanya. Lantas, Alder memeluk Key. Menepuk lembut punggung Key.
"Menangis lah yang kencang, Key. Tidak apa-apa. Luapkan saja, apapun rasa yang ada di d**a mu."
Key mengangkat kedua tangannya. Memeluk pinggang Alder. Dan, menangis sejadi-jadinya. Sedangkan, Alardo membuang muka. Tak lagi menatap keduanya.
"Kau, cemburu, Tuanku?"
"Jika rasa sakit di dadaku ini karena melihat mereka—berarti, memang aku cemburu."
**
Solomon baru saja tiba di gua Morke. Seketika, bersujud di hadapan Raja Duis, yang tengah duduk di singgasananya.
"Maafkan aku, Raja Duis yang agung. Kami di kalahkan oleh Pangeran Vandemon."
Dua bola mata Raja Duis menjadi merah. Menatap tajam ke arah Solomon, yang tubuhnya terangkat. Kepalanya sedikit mendongak. Ia kesulitan bernapas. Raja Duis mencekiknya, tanpa menyentuh.
"30 Morten, kalah dengan 1 Morten saja? Apa itu masuk akal?"
"Ta-di.. Ke-ti-ka, di de-sa kurcaci—pa-ra pe-ngi-kut-nya da-tang. Ju-ga, ada Pyx yang mem-ban-tu-nya."
"Pyx? Membantu Morten? Itu suatu hal yang mustahil."
Raja Duis menggerakkan kepalanya ke samping kanan dengan singkat dan cepat. Sehingga, tubuh Solomon menabrak dinding. Dan, jatuh ke bawah. Dengan lemas.
"Di mana mereka sekarang?"
"Terakhir.. ada di pondok Gumul."
**
Alder melepaskan pelukannya. Mengusap air mata Key.
"Jangan menangis, Key. Itu hanya membuatku sakit."
"Kau, juga jangan pernah berbohong padaku lagi."
Alder terkekeh.
"Iya. Maaf."
"Sekarang, bagaimana? d**a mu masih terasa sesak? Bukan hati yang merasa sesak. Tapi, dada."
"Ah, begitu. Sudah tidak. Ada seperti perasaan lega. Kau, tahu? seperti kita menahan buang air kecil. Kemudian, di keluarkan di kamar mandi."
Alder tertawa. "Perumpamaan mu menjijikkan sekali, Key."
"Apa, dramanya sudah selesai? Bulan purnama segera berakhir. Jadi, kita harus segera keluar dari sini. Kecuali, jika kalian ingin di sini sampai bulan purnama muncul kembali," kata Alardo. Berdiri di samping keduanya. Entah kapan datangnya.
"Tempat ini memang indah. Tapi, aku ingin segera pulang. Aku merindukan nenekku."
"Maka, cepat kita pergi. Dan, usap air matamu. Aku benci melihatnya."
Alder hanya diam. Menatap Alardo.
**
"Di tempat inilah pembuatan Loka yang sangat kau sukai itu," kata Belle.
Menunjukkan naga yang berada di kandang bersekat. Seperti kandang kuda. Namun, dua kali lipat lebih besar.
"Lalu, apa kalian akan membunuh naga-naga itu?"
"Hah? Membunuhnya? Untuk apa?"
"Untuk membuat Loka itu. Memangnya, terbuat dari apa? Kulitnya? Daging? Atau, hanya tetesan darahnya?"
Belle tertawa mendengarnya.
"Odette! Kau, sudah selesai mengambilnya?"
"Ya!"
"Cepat bawa kemari."
Odette—penyihir masih berusia remaja, dengan rambut di kepang dua—mendorong ranjang rotan, yang penuh dengan kotoran naga berwarna hitam.
"Letakkan di sini dulu," kata Belle.
"s**t! Bau sekali!" kata Alder. Mengerutkan hidung. Berjalan mundur.
"Ini."
"Huh?"
"Ini."
"Apanya?"
"Bahan baku utama Loka."
Alder melebarkan mata. Terkejut bukan main.
"Alder.. kau, baru saja menikmati kotoran naga," cetus Key.
Alder menjerit dengan keputus asa an. Berlari menjauh. Memasukkan jarinya ke dalam mulut. Berusaha untuk mengeluarkan semua Loka yang sudah di cerna oleh perutnya.