"Key? Kau—mendorong Ibumu?" tanya Stuart, dengan napas tersengal.
"KEY! UCAPKAN SESUATU! JANGAN HANYA DIAM!"
"Mori.."
Stuart mengernyitkan dahi.
"Apa katamu?"
Key menggeram.
"MORIIIIII!"
Dari belakang tubuh Key, ada sosok hitam yang sangat tinggi. Membuat Stuart terbelalak.
"Dalam nama Tuhan! Makhluk apa itu?!"
"MOOOOORIIIIIIII!"
Tubuh Stuart terpental ke samping. Jatuh menghantam lantai. Darah merembes dari kepalanya.
Key melihat dari lantai atas. Masih dengan mata putihnya.
**
"Yeah. Kata Nenekku mereka di bunuh oleh makhluk jahat, yang ada di kamar sudut."
"Kamar mana?"
"Dari depan kamarku, belok ke kiri. Ada sebuah pintu, di sudut yang tergembok."
Alardo kini menatap pintu yang terlihat sunyi di dalamnya. Dengan gembok, yang sedikit berkarat. Menandakan jika gembok itu sudah sangat lama bersama pintu.
"Kau, merindukannya?" tanya Meida, tiba-tiba ada di belakang Alardo.
Alardo menengok. Kemudian, berbalik. Dengan kedua tangan tetap berada di belakang punggung. Menatap Meida tanpa bicara sedikit pun.
"Ada yang ingin kau tanyakan? Sorot matamu, terlihat penasaran tentang sesuatu," kata Meida.
"Soal orang tua Key.."
"Apa—dia yang membunuhnya?"
Meida mendesah berat. Lalu, mengangguk. Membuat Alardo menelan ludah berat.
"Aku yakin, dia tak berniat melakukan itu. Dia sudah lama terkurung— jadi, mungkin keluarga Key terlihat sebagai ancaman baginya."
"Tapi, tetap saja—aku merasa sangat bersalah pada Key."
"Karena itu, cepat kembali ke duniamu. Cegah siapa pun yang akan memburu Key."
"Aku juga ingin cepat kembali. Tapi, separuh kekuatanku menghilang. Aku tak bisa membuka pintu duniaku."
"Aku bisa membantumu untuk kembali."
Alardo diam sesaat. Masih menatap Meida.
"Jangan bilang.."
"Aku ingin tinggal di sini untuk beberapa saat. Lagipula, jika aku kembali ke duniaku— Raja Duis akan segera menghabisi ku. Dan, jika aku lenyap—Maka, Key juga akan kehilangan nyawa."
Meida terkejut dengan kalimat terakhir Alardo.
"Apa maksud perkataan mu itu?"
Alardo mendesah singkat.
"Aku dan Key saling berhubungan."
"Berhubungan?"
"Saat ada di duniaku, kami sempat di kejar oleh para pengikut Raja Duis. Lalu, punggungku terkena serangan dari mereka. Yang anehnya, Key mendapat luka yang sama."
"Apa, bukan kebetulan Key juga terkena serangan itu?"
"Awalnya, aku juga berpikir seperti itu. Tapi, setelah aku mencoba menyayat tanganku—tangan Key juga terluka."
Meida terkesiap.
"Karena itu, biarkan aku di sini dulu. Setidaknya, sampai kekuatanku pulih sepenuhnya."
**
"Jadi, kau benar-benar Pangeran kegelapan?" tanya Dena, saat berhadapan dengan Alardo.
"Kau—punya tanduk atau ekor?" tambah Aland.
"Kau pikir aku kerbau?"
Aland terkekeh.
"Aku kira, Pangeran kegelapan tidak akan setampan ini," cetus Dena.
"Ah, masih tampan aku," sahut Alder, yang tentu saja Dena tak mendengarnya.
Namun, Aland menahan tawa, mendengarnya. Alardo melirik sinis. Bersandar pada punggung sofa. Melipat tangan di d**a. Menumpukan kaki kanan pada kaki kiri.
"Hei, kau—siapa namamu?" tanya Alardo pada Aland.
"Oh, aku Aland."
"Hei, Aland. Menurutmu lebih tampan siapa? Aku—apa Pyx sombong itu?"
Alardo menunjuk Alder dengan dagunya. Alder duduk di sofa seberang Alardo. Aland bergantian melihat keduanya.
"Mmm.. Aku rasa—masih lebih tampan aku."
Alder nyengir. Sedangkan, Alardo menggelengkan kepala.
"Pyx siapa yang kalian maksud?" tanya Dena.
"Teman Nona Key. Yang katanya, dia pernah membantu Nona Key saat mengalami kecelakaan."
"Ah, Putra dari keluarga Balder?"
"Yap. Itu nama marga ku."
"Sepertinya, iya," kata Aland.
"Kalau dia, memang sangat tampan. Aku pernah melihatnya satu kali. Saat dia masih hidup. Mengendarai mobil sport merah dengan kap terbuka."
"Hei, Key," panggil Alardo pada Key, yang baru saja menginjak bordes tangga bawah.
"Apa?"
"Kemari."
Key berjalan santai mendekati mereka.
"Jawab jujur, dari ketiga laki-laki ini—siapa yang paling tampan?"
Alder tertawa.
"Kau, tidak mau kalah rupanya."
"Diam."
"Key, cepat jawab—oh, jangan. Pikirkan dulu, dengan baik-baik," lanjut Alardo.
Key memanyunkan bibir. Sembari menatap ketiga laki-laki itu, secara bergantian, yang menatap Key dengan wajah harap-harap cemas.
"Menurutku—semuanya tampan."
Alder dan Aland mendesah kesal. Sedangkan, Alardo mendengus.
"Jawaban apa itu?" cetus Alardo.
"Memang, kalian semua tampan menurutku. Kenapa? Ada yang salah?"
"Haha. Tidak, kau benar sekali, kawan," kata Alder. Berdiri..Dan, memeluk bahu Key.
"Tapi, di pikir-pikir kalian bertiga cocok menjadi saudara. Wajah kalian agak mirip. Dan, nama kalian—huruf depannya juga sama."
Alder berdecak kesal.
"Aku tidak suka di samakan dengan Morten itu."
"Key, aku juga tidak suka jika mirip dengan Pyx bodoh itu."
Alder mengatupkan giginya, dengan marah.
"Aku, baik-baik saja. Tidak ada ruginya bagiku," kata Aland.
"Sudah. Kita hentikan saja permainan siapa paling tampan ini. Sekarang ini, ada hal yang lebih penting," kata Dena.
"Hal penting apa?" tanya Key.
"Untuk beberapa waktu ke depan, Pangeran ke-"
"Panggil saja aku Alardo."
"Ah, iya. Pange—maksudku, Alardo akan tinggal bersama kita."
"Lalu, apa masalahnya?" tanya Aland.
"Kau, masih bertanya? Lihat dirinya sekarang."
Aland menatap Alardo. Dari ujung kepala. Hingga ujung kaki.
"Semua tampak normal. Kecuali, bajunya. Siapa yang masih memakai pakaian tradisional sehari-hari?" cetus Alder.
"Ah, kau benar. Bajunya," kata Aland.
"Ada apa dengan pakaianku? Ini model terbaru."
"Yeah, berpuluh-puluh tahun yang lalu, kawan," jelas Aland.
"Kita harus membuat penampilan Alardo berubah. Dia harus berbaur dengan para manusia."
"Jadi, apa hal pertama yang harus kita lakukan?" tanya Key.
"Membeli baju. Dan, potong rambut."
Alardo melebarkan mata.
"Potong rambut?! Aku tidak akan melakukan itu!"
"Kau, mungkin akan lebih tampan jika rambutmu pendek," kata Key.
Alardo yang semula emosi, kini agak mereda.
"Benarkah?"
Key mengangguk. Alardo berdeham.
"Baiklah, semua ini demi kebaikan bersama. Aku akan memotong rambutku. Biasanya, Beatrix yang merapikan rambutku. Apa, aku perlu memanggilnya?"
"Kita akan pergi salon," jawab Dena.
"Salon? Apa itu?"
"Tempat merapikan rambut untuk manusia," jawab Key.
**
Mereka berlima, sudah tiba di salon. Alardo di paksa duduk di kursi akrilik berpunggung, di depan kaca. Sementara, si wanita pemilik salon, dengan model rambut pendek blonde, menatapnya dengan mengunyah permen karet.
"Apa ada karnaval di sekitar sini? Kenapa pakaianmu kuno sekali."
"Karnaval? Apa seperti perayaan?"
"Yeah. Semacam itu. Orang-orang memakai kostum. Sepertimu."
"Lebih baik, segera potong rambutnya. Jangan terlalu banyak bicara dengannya," kata Dena.
"Terkadang, dia sensitif," bisik Dena.
Wanita pemilik salon mengangguk mengerti. Dan, segera melakukan pekerjaannya.
Membungkus sebagian tubuh Alardo dengan kain penutup badan. Atau yang biasa di sebut Kep. Berwarna hitam. Membasahi rambut Alardo, dengan alat semprot. Lantas, segera memainkan guntingnya.
Sekitar 20 menit kemudian,
"Wow, kau sangat tampan sekali jika berambut pendek," kata wanita pemilik salon.
Alardo pun juga tercengang saat melihat dirinya di cermin. Key, yang semula duduk, kini menghampiri Alardo. Dan, juga melihatnya melalui cermin.
"Sudah, aku bilang, kan? Kau, pasti sangat tampan dengan rambut pendek."
Alardo tersenyum kecil.
Selanjutnya, mereka beralih ke toko pakaian. Aland dan Alder terus berlarian dari satu titik ke titik yang lain. Dena masih sibuk memilih beberapa pakaian yang cocok untuk Alardo. Sementara, Key hanya duduk diam. Dengan Alardo, berdiri di sampingnya.
"Kenapa kau tak memilihkan baju untukku?" tanya Alardo.
"Ini baru pertama kalinya."
"Huh?"
"Ini baru pertama kalinya, aku pergi ke toko pakaian."
Alardo terdiam kemudian. Tak lama setelah itu, Dena mendekati Alardo, dengan membawa beberapa pakaian.
"Coba ini semua," kata Dena.
"Baiklah."
Alardo melepas kancingnya, sehingga, Dena terbelalak.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Aku harus melepas bajuku, untuk mencoba baju yang kau bawa."
"Tidak di sini! Ada kamar pas di ujung sana! Ayo, aku antar!"
"Hah! Bisa gila aku nanti!"
Key mengikuti mereka. Begitu pun Aland dan Alder. Menunggu Alardo, yang masih berada di kamar pas.
Di detik selanjutnya, ia keluar dengan celana jeans biru gelap. Kaus hitam, yang di padukan dengan jas kasual tanpa kancing, berwarna putih.
"Pakaiannya sungguh aneh," kata Alardo.
"Tidak. Ini cocok sekali untukmu," kata Dena.
"Aku rasa tidak."
"Tampan."
Satu kata dari Key, sudah sangat meyakinkan Alardo, jika akan mengambil pakaian itu. Selanjutnya, ia mencoba pakaian yang lain. Kaus putih, yang di pasangkan dengan jaket jeans. Juga, celana hitam.
"Waaaah, Keren," kata Dena.
Key hanya menunjukkan jempolnya. Kemudian, Alardo menyetujui. Dan, kembali masuk ke dalam kamar pas, untuk mencoba pakaian lainnya.
"Ah, seandainya aku bisa membeli pakaian-pakaian ini," gumam Aland.
"Kau, mau? Ambil saja. Aku yang bayar," kata Key.
Aland melebarkan mata.
"Sungguh?"
Key meyakinkan dengan anggukan. Membuat Aland melompat kegirangan, dan mulai memilih baju.
"Wah, temanku baik hati sekali. Lalu, bagaimana denganku? Kau, tidak membelikan ku? Huh?"
"Kau, pasti sudah bosan masuk ke dalam toko pakaian begini semasa hidupmu."
Pramuniaga toko membeku saat melihat Key, seolah-olah bicara sendiri. Membuat Dena yang mengetahui itu, terkekeh kikuk. Mendekati Key.
"Nona Key, ada-ada saja. Kau, belajar akting lagi? Jangan bicara sendiri, orang-orang menganggap mu aneh nanti."
"Dia memang duka berakting," jelas Dena, menatap pramuniaga.
"Aku tidak bicara sendiri. Aku bicara dengan Alder. Kau, juga tahu, kan Alder itu siapa?"
Dena lebih mendekat pada Key.
"Iya, aku tahu. Tapi, tak semua orang bisa melihat Alder. Bahkan, aku juga tak bisa melihatnya. Jadi, Nona diam saja dulu, ya?"
"Tapi-"
"Nona.."
"Baiklah."
Setelah perdebatan kecil itu, Alardo kembali keluar dengan setelan barunya. Tetap dengan kaus putihnya. Celana ripped jeans. Mantel cokelat. Dan, syal biru dongker panjang, melingkar di lehernya.
Kali ini, Key tidak berkomentar. Namun, mata berbinar nya sudah menjawab semuanya.
**
Alardo memakai setelan yang terakhir di cobanya. Aland memakai kaus putih, dengan jas kasual abu-abu mengkilap. Juga, celana jenas hitam.
Mereka berjalan di trotoar.
"Kemana lagi kita sekarang?" tanya Key pada Dena.
"Makan tentu saja. Aku sudah lapar."
"Makan apa?"
"Pizza."
Key terbelalak.
"Roti tipis dengan berbagai macam toping itu? Yang sering muncul di iklan?"
"Yap. Nona, ingin sekali mencobanya, kan?"
"Sungguh? Kita akan beli itu?"
"Iya, Nona."
Kegirangan yang sulit di ekspresikan oleh Key, mampu membuat Alardo dan Alder tersenyum melihatnya.
Kedai Pizza tak jauh dari toko pakaian. Saat Dena membuka pintu, aroma gurih yang khas menyeruak hebat. Menabrak hidung tiga laki-laki dan satu gadis yang kini memejamkan mata, mencoba untuk menikmati aromanya.
"Kalian sedang apa? Ayo, cepat masuk."
**
Setelah 25 menit menunggu, pesanan mereka tiba. Pizza mozarela. Dan, Pizza peperoni. Juga, tak lupa sup jamur untuk masing-masing.
Aland yang tak sabar, segera mengambil sepotong pizza mozarela. Sensasi dari keju yang memanjang, saat di tarik oleh Aland—membuat Alardo dan Key tercengang.
"Keren sekali," kata keduanya secara bersamaan.
"Nona, juga cepat makan."
Key mengangguk seperti anak kecil. Lalu, mengambil sepotong pizza peperoni. Dan, lagi tercengang dengan rasanya.
"Dena—ini enak sekali. Aku ingin makan ini setiap hari."
"Haha. Tidak boleh setiap hari, Nona. Makanan cepat saji, tidak baik untuk kesehatanmu. Satu bulan sekali saja, kita kemari."
Key hanya dapat memanyunkan bibirnya. Sementara Alardo mencoba sup jamurnya, dengan sendok bebek dari melamin. Setelah satu seruputan, Alardo seolah membeku.
"Ini lebih enak daripada sup kentang buatan Harry," katanya.
"Yeah. Itu memang enak. Aku sering makan di sini semasa hidup," kata Alder, yang duduk di sebelah Aland, di depan Alardo.
"Lalu, kau tak makan?"
"Huh? Aku?" sahut Aland.
"Bukan, kau. Tapi, sebelah mu."
"Kau lupa? Aku hanya seorang Pyx. Tak mungkin, aku bisa makan."
"Tempo hari, di tempat Belle—kau, dengan lahap menyantap Loka, kan?"
"Haish, jangan mengingatkan ku pada hal buruk begitu."
Alardo menyunggingkan senyum, dengan tidak ramah. Namun, di detik selanjutnya—Alder tiba-tiba berdiri. Melihat ke arah pintu masuk, yang berada di belakang Key dan Alardo.
"Ibu.. Ayah.."