Chapter 16

1041 Words
Pintu kedai terdorong masuk. Sepasang suami istri paruh baya berjalan masuk ke dalam. Sang suami tinggi besar. Mengenakan mantel hitam panjang. Rambut bergaya ala pompadour. Sementara, sang istri membiarkan rambut bob nya tergerai. Bagian bawah melengkung ke dalam. Agak bervolume. Guratan di sudut mata, serta mimik wajah yang tak bahagia terlihat jelas. Alder terbelalak saat melihat pasangan suami istri itu. Segera berdiri. Dan, "Ibu.. Ayah.." katanya. Key dan Alardo segera menengok. Namun, ekspresi terkejut—juga di tunjukkan oleh Alardo, saat melihat wajah wanita itu. "Ibu?" gumamnya. ** Rambut Alardo sudah panjang sejak kecil. Memang, itu ciri khas keluarga Raja Duis. Entah karena suka rambut panjang—atau, memang ada kekuatan yang tersembunyi pada rambutnya—tidak ada yang tahu. Seperti halnya anak kecil yang lain, Alardo suka sekali berlarian di rumput halaman istananya. Sang Ibu selalu setia menemani dirinya. Wanita dengan rambut bob, yang bagian bawahnya melengkung, agak bervolume itu, terus tersenyum melihat tingkah aktif Alardo. "Alardo.. kemari," panggil Aislee. Alardo tiba-tiba merubah mimik wajahnya. Menjadi kesal. Dan, mendesah singkat. "Bu.. kenapa kau selalu memanggilku dengan nama itu? Aku tidak suka!" Aislee tersenyum. "Kenapa? Itu nama yang bagus. Cocok untukmu." "Aku benci, bu! Teman-temanku semua mengejek! Kalau, nama itu terlalu kelihatan lemah untukku." Aislee berjongkok, di depan Alardo. Mengusap keringat di dahi Alardo. "Nama itu—adalah nama Kakek mu. Dan, wajahmu sangat mirip dengannya. Karena itu, Ibu memanggilmu dengan nama itu. Agar, rindu Ibu terobati." "Memang, Kakek ke mana?" "Sudah aku habisi nyawanya!" celetuk Raja Duis, yang baru saja datang. Seketika Aislee berdiri. Menatapnya dengan marah. "Karena benar, Vandemon. Nama Alardo itu adalah nama yang lemah. Buruk. Pengkhianat. Menjijikkan." "Hevan! Dia adalah Ayahku!" "Oh, lagi. Yeah, aku tahu dia Ayahmu. Tapi, dia membahayakan kaum Morten. Dan, Verden Morke ini!" "Memang, apa yang di lakukan Kakek?" "Jangan ceritakan, Hevan!" "Hmm.. dia membantu manusia. Dia suka dengan manusia. Dia jatuh cinta dengan manusia." "Ough.. sangat menjijikkan!" sahut Alardo. "CUKUP! ALARDO, CEPAT MASUK KE DALAM KAMARMU!" "Tapi, Bu.." "CEPAT!" "Hei, jangan membentak anakku! Vandemon, berlarian lah di sebelah sana. Setelah ini, aku akan mengajakmu ke tempat yang sangat aku sukai." "Benarkah? Di mana itu?" "Nanti, kau juga akan tahu sendiri." "ALARDO! DENGARKAN KATA-KATA IBU!" "NAMAKU, VANDEMON! VANDEMOOOOON!" Alardo kemudian berlari menjauh. Lantas, kembali bermain. "Hevan! Kau, sudah keterlaluan sekali! Bagaimana pun, dia adalah Ayahku!" "Yeah, aku tahu. Tapi, aku sangat benci dengan laki-laki yang kau sebut Ayah itu!" "Bagaimana bisa, dia menikah dengan seorang Immora! Kau, tahu apa itu Immora? Apa buruknya untuk Verden Morke?" "Ibuku, tidak akan melakukan apapun pada Morten, atau pun Verden Morke!" "Apa, kau bisa menjaminnya? Lalu, bagaimana dengan Morten yang lenyap kemarin? Bukankah, itu perbuatan Ibumu?" "Karena Morten itu menyerang terlebih dahulu!" "Itu hanya alasannya saja!" "Tidak! Ibuku, tidak pernah berbohong!" "Ah, inilah alasanku menduakan mu! Kau, terlalu membangkang! Tak percaya dengan kata-kata suamimu." Aislee mendengus. "Sejak awal, kau memang tidak mencintaiku, Hevan. Hanya karena, kekuatanku melebihi mu—serta, berkatku kau dapat merebut tahta kerajaan ini. Jika tidak karena aku—kau, mungkin tak menjadi Raja sampai sekarang." Raja Duis mengatupkan giginya. Kepalanya sedikit bergetar. Menahan amarah. "VANDEMOOON!" pekiknya, sehingga burung-burung gagak yang bertengger di pohon sekitar, terbang semburat ke berbagai arah. Alardo segera berlari mendekati Raja Duis. "Kita berangkat sekarang?" tanya Alardo. "Ya! Pegang tanganku." Raja Duis mengulurkan tangannya, dengan tetap menatap geram pada Istrinya. "Kau, akan menyesali semuanya, Aislee!" Raja Duis berubah menjadi asap hitam. Dan, melesat pergi setelah itu. ** Langit hitam mulai menyapa. Aislee berada di dalam kastil— di kamarnya. Duduk di tepi ranjang, dengan wajah murung. Di detik selanjutnya, Alardo masuk ke dalam, dengan berlari riang. "Ibu! Aku dan Ayah membawakan hadiah untukmu!" Aislee tersenyum manis. Mengusap rambut sang anak. "Kau, bersenang-senang dengan Ayahmu?" "Iya. Aku dan Ayah pergi ke dunia manusia. Dan, kami membawakan hadiah untukmu." "Hadiah apa?" "Ada di luar kamar, Bu." Alardo menggandeng tangan Aislee, yang kemudian membuat Aislee mengerutkan keningnya. Tangan Alardo basah, sedikit pekat. Dan, berbau amis. Aislee, mengusap tangan Alardo, dengan tangan kirinya. Dan, terkejut karena itu adalah noda darah. Saat di luar kamar, Alardo melepaskan genggamannya—lalu, menenteng sebuah kepala manusia dengan rambut putih, yang sudah kusut. "Ini hadiah mu." Alardo tersenyum bangga. Dengan Raja Duis, yang berdiri di belakangnya. "Kau, suka hadiah mu, sayang?" tanya Raja Duis. Aislee tercekat. Membeku saat melihat kepala, yang di bawa oleh Alardo. Napasnya mulai memburu. Bibirnya pucat. "IBU!" pekiknya. Lantas, mendekati Alardo. Lalu, memeluk kepala itu. "IBU! IBU, KENAPA KAU MENJADI SEPERTI INI?!" Aislee meraung dalam tangisan. Sementara, senyum Alardo menghilang. Terkejut, dengan ekspresi sang Ibu, yang tidak suka dengan hadiahnya. "Kejutan! Bagaimana? Kau, suka dengan hadiah mu? Vande—ah, Alardo sendiri yang memotong kepalanya. Sebagai bentuk penghormatan pada dirimu!" Aislee tak menjawab apa pun. Dia terus menangis dengan depresi. Bersimpuh di lantai. Alardo berjalan mundur. "Ayah, sepertinya Ibu tak suka dengan hadiahnya." "Tidak. Dia sangat bahagia. Sampai, menangis seperti itu. Cepat masuk kamar. Dan, segera basuh dirimu." Alardo pergi dengan desahan berat. ** Alardo sudah beranjak dewasa. Dia meminum ramuan abadi, dari dunia penyihir. Di mana, usianya akan terhenti. Dan, akan tetap awet muda. Ada alasan dia meminum itu. Karena, dia ingin mencari Ibunya, yang sudah pergi meninggalkannya, sejak adegan dia membawa kepala, semasa kecil. Alardo tahu, jika Ibunya mungkin bersembunyi di dunia manusia. Tapi, karena penjagaan ketat, yang di lakukan oleh Ayahnya—dia tak bisa pergi ke sana. Namun, kini ia cukup dewasa untuk—setidaknya, melakukan pembelotan kepada Raja Duis. Alardo tengah bersiap-siap, untuk pergi. Mengikat rambut emasnya. "Kau, mau pergi kemana?" tanya Raja Duis, yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Alardo. "Ketuk pintu dulu, sebelum masuk." "Ini adalah kastil ku. Aku berhak masuk ke manapun tanpa permisi." "Tapi, ini kamarku. Kau, tak berhak keluar masuk seenaknya." Raja Duis mendengus. "Kau, semakin terlihat seperti Ibumu. Ke mana Vandemon kecilku, yang penurut dulu?" "Sudah lenyap." "Oh, begitu? Lalu, sekarang kau akan mencari Ibumu? Itu alasanmu, meminum ramuan abadi?" "Katamu, Ibu akan suka dengan hadiahku! Tapi, ternyata dia pergi meninggalkanku sejak itu!" "Well, karena Ibumu tidak pernah berterima kasih atas pemberian dariku." "Tidak. Ibu tidak seperti itu. Aku yakin, kau yang berbuat salah." "Kepala itu—sebenarnya milik siapa?! Apa betul, itu adalah Nenekku?" "Ya. Memang. Itu adalah Nenekmu. Dan, semua karena mu. Ibumu, pergi dari sini—adalah kau penyebabnya, Vandemon."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD