"Karena, kau menghabisi Ibunya."
Raja Duis menyeringai.
"Itu semua karena perintah mu! Aku masih kecil waktu itu."
"Well, semuanya sudah terlanjur, Vandemon. Ibumu, sudah meninggalkanmu. Kau, harus menerima kenyataan itu."
Alardo menggeram kesal.
"Aku, akan membawa Ibu kembali kemari," tantang Alardo.
"Dan, satu lagi—namaku, bukan Vandemon sekarang. Tapi, Alardo!"
Alardo kemudian berubah menjadi asap hitam. Lalu, melesat pergi melalui jendela. Meninggalkan Raja Duis yang berteriak marah.
"SOLOMON!"
Solomon datang secepat kilat.
"Iya, Tuanku, Raja Duis."
Solomon memberi hormat. Sedikit membungkukkan badan.
"Awasi gerak-gerik Vandemon. Jika, dia menemukan Aislee—segera habisi nyawanya."
"Keduanya?"
"Tidak. Hanya Aislee."
**
Alardo pergi ke dunia manusia. Berusaha mencari Ibunya. Pertama, dia pergi ke rumah Neneknya, yang dulu pernah di kunjungi dengan Raja Duis. Untuk merenggut nyawa Ibu Aislee.
Namun, rumah itu sudah rusak. Halaman depan rumah di penuhi dengan rumput panjang. Pintu-pintunya terlepas dari tempatnya. Kaca jendela pecah semua.
Alardo masuk ke dalam rumah. Berdiri, dengan mengedarkan pandangan. Kedua tangan di belakang punggung. Teringat, jeritan Sang Nenek ketika di hajar oleh Raja Duis. Terlebih, saat lehernya terpotong oleh pedang api, yang keluar dari tangan Alardo.
Alardo memejamkan mata singkat. Mendesah sangat panjang.
"Maafkan aku—aku sungguh tidak tahu, jika itu adalah Nenek," gumamnya.
Di detik selanjutnya, ada suara berderak. Seperti, kuku panjang yang di gesekkan pada kayu. Alardo segera mengernyitkan dahi. Dan, menajamkan indera pendengarannya.
Suara berderak itu semakin kencang terdengar. Dengan tempo semakin cepat. Alardo berbalik badan. Menatap tangga kayu, yang memutar ke atas.
Tiba-tiba, ada suara langkah kaki, yang terdengar perlahan—namun, tiap detiknya semakin cepat.
TAP. TAP. TAP. TAP.
Pyx mengerikan dengan gigi bergerigi, dan rambut keriting mengembang—terbang ke arah Alardo. Namun, gerakannya terhenti di udara. Karena, Alardo mengarahkan telapak nya ke depan. Mencekik leher Pyx tersebut.
Wajah Pyx itu sangat jelek. Hitam. Mulutnya penuh darah. Netra nya putih setitik. Alardo semakin mencengkeram lehernya. Sehingga, tubuh Pyx itu menggeliat tak karuan.
Hampir saja, Pyx itu menjadi debu. Jika saja, Alardo tak melihat kalung yang di kenakan nya.
Kerutan di dahi Alardo muncul. Dan,
"Nenek?"
"Ini benar, kau?"
"Ini aku—Alardo."
Cengkeraman Alardo melemah. Pun, dengan Pyx itu yang kini menjadi tenang. Berdiri di depan Alardo, yang sudah melepaskan cengkeramannya.
Pyx itu berubah wujud. Menjadi tidak menakutkan. Menjadi sosok Sang Nenek, yang tetap sama, saat Alardo bertemu untuk membantainya.
"Alardo?"
"Iya. Aku Alardo. Anak dari Aislee—Putrimu."
Sang Nenek tertegun.
"Kau, yang datang bersama Ayahmu dulu?"
Alardo mengangguk. Menurunkan pandangan.
"Maafkan aku. Jika saja, aku tahu kau adalah Nenekku—aku tak akan pernah melakukan itu."
"Jika kau tak melakukan itu padaku, maka, kau yang akan di habisi oleh Ayahmu. Itu adalah keputusan yang bagus, Alardo."
Sang Nenek tersenyum. Menatap Alardo lamat-lamat.
"Kau, sungguh mirip dengan Kakek mu."
Alardo menyunggingkan senyum.
"Ibu, juga berkata seperti itu."
"Maaf, jika aku keluar dengan tampang mengerikan tadi. Banyak sekali Pyx yang kemari, ingin mengambil alih tempat ini. Sebagai, tempat semayam mereka."
"Oh, tidak apa-apa. Kau, masih sangat cantik, sekali pun bermuka mengerikan tadi."
"Aku anggap itu pujian. Kau, mau teh?"
Alardo mengernyit.
"Teh? Di tempat seperti ini?"
Sang Nenek kembali tersenyum. Kali ini, senyumnya sedikit misterius. Di detik selanjutnya, ia menjentikkan jari. Rumah yang kotor dan sudah jelek— berubah menjadi bagus kembali. Tidak ada debu, tumbuhan menjalar, maupun pecahan piring dan gelas.
Alardo segera mengikuti Sang Nenek dari belakang. Pergi ke dapur. Alardo duduk di kursi meja makan. Menunggu Sang Nenek tengah membuat teh untuknya.
"Nek—Ehem—"
"Panggil saja, aku Beatrix."
"Oh, bolehkah aku memanggil namamu saja? Sepertinya, terdengar tidak sopan."
"Tidak apa-apa. Kau, juga merasa canggung saat memanggilku Nenek."
Beatrix menyajikan secangkir teh panas untuk Alardo.
"Minumlah. Kau, sudah melakukan perjalanan panjang."
Alardo mengangguk kikuk. Rasa bersalah masih menyelimuti dirinya. Ia meneguk teh panas, dengan segera.
"Pelan-pelan saja."
"Aku sudah terbiasa makan dan minum dengan cepat. Ayah, tidak suka aku terlalu lamban."
"Ck. Makhluk itu— selalu arogan, sombong, dan tidak tahu diri."
"Oh, maaf. Aku telah menjelek-jelek kan Ayahmu."
"Tidak apa-apa. Kata-katamu, semuanya benar."
"Jadi, bagaimana kabarmu? Kau, sudah tumbuh besar sekarang."
"Yeah. Dan, aku tak akan pernah tua."
"Kau, minum ramuan abadi?"
"Kau, juga tahu tentang itu?"
"Ya. Kakek mu pernah bercerita tentang itu. Tapi, untuk apa kau minum itu? Ingin hidup abadi, seperti Ayahmu?"
"Tidak juga."
"Lantas?"
"Aku ingin mencari Ibu."
Beatrix yang memiliki wajah mungil itu, mengernyit.
"Mencari Aislee? Dia pergi dari rumah?"
Alardo terdiam sejenak.
"Kau, tidak tahu? Apa—dia tak pernah kemari?"
"Dia kemari. Saat, kau dan Ayahmu selesai menghabisi nyawaku. Dia menangis. Memohon, agar di izinkan tinggal di sini bersamaku. Tapi, aku menolaknya. Aku menyuruhnya, untuk kembali. Karena, dia sudah meninggalkanmu."
"Dia pasti sangat benci padaku."
"Aislee, tidak seperti itu. Sekalipun, di pemarah—dia tak akan tega meninggalkanmu sendirian. Pasti ada alasan tersendiri, kenapa dia tak kembali ke Verden Morke."
"Apa, kau tahu di mana dia sekarang?"
"Satu-satunya tempat yang akan di kunjungi adalah rumah saudaraku di kota dekat Birmingham."
"Kau, masih hapal alamatnya?"
"Tentu. Dia ada di kota Warley. Tanya saja dengan orang di sekitar wanita bernama Meida—dukun terhebat di sana."
"Kau, akan berangkat sekarang?" tanya Beatrix.
"Ya. Aku tidak ingin membuang waktu. Aku, sangat rindu padanya."
"Titipkan salam ku padanya."
"Baiklah."
Alardo berdiri.
"Tapi, Beatrix—apa, Ibu yang membuatmu menjadi Pyx? Aku dengar, Pyx adalah roh penasaran, yang kebanyakan dia masih terbebani dengan masalah dunia."
"Tidak."
"Lantas?"
"Kau."
"Aku?"
"Ya. Aku ingin sekali bertemu dengan cucu pertamaku, yang tak pernah aku temui sebelumnya."
Alardo diam. Dua bola matanya membeku.
"Aku benar-benar sangat terpukul sekarang. Tapi, entah kenapa air mataku sulit untuk keluar," kata Alardo.
Beatrix tersenyum. Dan, berdiri.
"Suatu saat—air matamu akan keluar untuk seseorang yang sangat berharga bagimu."
Alardo mendesah singkat.
"Beatrix—boleh aku memelukmu?"
"Dengan senang hati, sayang."
Beatrix merentangkan tangan ke samping. Berjalan mendekati Alardo.
Alardo memeluk Beatrix, yang tingginya sedada Alardo.
"Maafkan aku, Nenek."
"Tidak apa-apa, Alardo. Kau, sudah mengambil keputusan yang tepat waktu itu. Aku tidak akan menyalahkan mu."
"Pelukanmu sangat hangat, untuk iblis yang dingin sepertimu."
Alardo melepaskan pelukannya.
"Setelah ini, kau akan reinkarnasi?"
"Mungkin. Beban ku sudah hilang karena mu."
"Bisakah kau tinggal di sini? Aku ingin terus melihatmu."
Beatrix berkaca-kaca. Mengangguk dengan suka cita.
"Aku akan tinggal di sini. Selama apa pun."
**
Alardo tiba di depan rumah Meida. Ia mendorong udara keluar melalui mulut. Berjalan mendekati pintu. Dan, mengetuknya.
"Bibi—kau, sudah datang?"
Alardo melebarkan mata, mendengar suara yang familiar di telinganya. Pintu terbuka. Keduanya saling bertukar pandang.
"Ibu.."
Aislee, yang wajahnya masih sama dengan dulu, saat meninggalkan kastil pun mengernyitkan dahi.
"A—Lardo?"
"Ya. Aku Alardo."
"Demi nama Tuhan! Kau, sudah dewasa sekarang. Ibu, sangat merindukanmu, Alardo."
Aislee memeluk Alardo dengan sangat erat. Menangis terharu.
"Sungguh, Ibu sangat-sangat merindukanmu, Alardo. Sekalipun, Ibu setiap hari melihatmu dari jauh. Tapi, rasa rindu itu semakin bertambah."
Alardo memegang kedua bahu Aislee. Di dorong pelan tubuh Aislee, agak menjauh darinya.
"Kau, datang ke kastil?"
"Setiap hari, Alardo."
"Lantas, kenapa kau tidak masuk ke dalam kastil?"
Aislee menundukkan kepala.
"Karena, Ayahmu akan menghabisi Ibu."
"Apa? Itu tidak mungkin. Meski, Ayah terlihat jahat—ia tak mungkin melenyapkan istrinya."
"Nyatanya, dia berani menduakan Ibu, Alardo."
"Well, semua yang di katakan Ibumu benar, Vandemon."
Raja Duis, tiba-tiba muncul dari arah belakang Alardo.
Alardo segera berbalik badan. Membiarkan Ibunya bersembunyi di balik punggung.
"Kau, mengikuti aku?"
"Mm.. Bisa di katakan seperti itu."
"Kau, benar-benar ingin menghabisi nyawa Ibu?"
"Sudah lama, Vandemon. Keinginan untuk menghabisinya, sudah lama ingin aku lakukan. Tapi, beruntungnya di keluar dari kastil. Aku tak perlu repot menyingkirkannya. Namun, sekarang berbeda."
"Bu, cepat lari dari sini—aku, akan melawannya," bisik Alardo
"Jangan, Alardo. Kekuatan Ayahmu—sungguh sangat kuat. Kau, tak akan bisa melawannya."
"Well, sangat mengharukan sekali pertemuan Ibu dan anak ini."
Raja Duis berjalan kesana kemari. Seperti harimau yang memperhatikan mangsanya.
"Kenapa kau membuntuti ku?!"
"Ah, tadinya aku memerintahkan Solomon. Tapi, karena aku sedang bosan—akhirnya, aku yang mengikuti mu."
"Kenapa?!" geram Alardo.
"Untuk bertemu istriku tercinta, tentunya. Bukan begitu? Aislee?"
"Kau, sungguh makhluk menjijikkan, Hevan!" kata Aislee.
"Oh, aku sangat tersanjung sekali. Terima kasih."
"Mmm.. ada kata-kata terakhir? Sebelum, aku menghabisi mu."
Aislee maju. Kini Alardo, yang berada di belakangnya.
"Silakan, kalau kau ingin membunuhku! Tapi, jangan pernah sentuh anakku dengan jari-jari kotor mu itu!"
"Oh, kau masih menganggapnya sebagai seorang anak, Aislee? Setelah, kau meninggalkannya berpuluh-puluh tahun?"
"Tutup mulutmu! Dan, lawan aku!"
"Baiklah, kalau itu mau mu."
Raja Duis melemparkan kilatan petir merah secara tiba-tiba. Namun, refleks Aislee sangat bagus. Ia dapat menangkisnya. Dan, berganti melemparkan kilatan petir biru pada Raja Duis, yang telat untuk menghindar. Sehingga, kilatan petir itu menyambar bahu kanannya. Ia mendesis kesakitan.
"Lemparan yang bagus, Aislee. Kau, banyak belajar rupanya."
"Aku, memang selalu berlatih di sini. Agar bisa menghabisi nyawa mu, Hevan!"
"Alardo, segera bersembunyi! Biar Ibu yang melawannya."
"Tapi-"
"Tolong, Alardo! Untuk kali ini saja! Turuti perkataan Ibu. Masuk ke dalam rumah ini. Dia tak akan bisa menembusnya."
Alardo mendesah berat. Dan, menuruti kata-kata Aislee. Masuk ke dalam rumah.
Aislee menatap marah pada Raja Duis. Dan, melemparkan kilatan biru secara bertubi-tubi pada Raja Duis. Namun, kali ini ia dapat menghindar.
"Wow.. pelan-pelan saja, Ratuku. Sebenci itu, kau padaku?"
"Aku bukan Ratu mu, kau Morten menjijikkan!"
Aislee terbang dengan teriakan kesal. Tapi, Raja Duis dengan santainya mengarahkan telapak tangan ke depan. Membuat Aislee tertahan di udara. Kemudian, ia menyeringai.
"Selamat jalan, Ratuku."
Raja Duis memutar tangannya ke samping, sehingga kepala Aislee juga turut memutar. Membuat retakan tulangnya terdengar keras. Alardo yang mengintip dari balik pintu, segera berlari. Melemparkan kilatan merah ke arah Raja Duis, yang kini terpelanting ke belakang. Tubuh Aislee jatuh menerjang tanah.
"Ibu!"
Alardo membalik tubuh Aislee. Meletakkan separuh tubuh Ibunya, pada pangkuan.
"Bu, sadarlah. Tolong, jangan tinggalkan aku sendiri."
Namun, Aislee tak merespon. Raja Duis berdiri. Berjalan mendekati keduanya.
"Sepertinya, dia sudah mati," katanya dengan santai.
"PERGI DARI SINI! ATAU, KALAU TIDAK AKU AKAN MEMBUNUHMU!" pekik Alardo.
"Kau, berani mengancam ku?"
"Bahkan, aku bisa menghancurkan kastil mu!"
"Oh, sungguh? Lakukan saja kalau begitu. Tidak masalah bagiku."
"CEPAT PERGI!"
"Well, kali ini aku akan mengampuni mu. Karena, aku sudah cukup puas dengan menghabisi nyawa makhluk campuran itu. Jangan pulang larut malam, Vandemon."
Raja Duis memutar tubuhnya, dan seketika menjadi kepulan asap hitam. Lantas, melesat pergi.
"Bu, sadarlah. Aku mohon."
Di detik selanjutnya, Aislee terbelalak. Dengan napas berat.
"Alardo.. dia.. sudah pergi?"
"Bu? Kau, masih hidup? Oh, syukurlah."
"Jangan.. peluk Ibu, Alardo. Rasanya.. sangat sakit."
Aislee bicara dengan nada yang sangat berat.
"Aku akan menyembuhkan mu, Bu."
"Tidak. Kau, harus menyimpan energi mu. Bisa saja, Hevan kembali lagi. Dan, menyerang mu."
"Tapi, aku tak bisa membiarkanmu mati, Bu!"
"Ibu, tidak akan mati. Sekarang.. carilah Bibi Meida. Mungkin, dia ada di hutan kematian."
**
Raja Duis sudah berada di kamarnya. Membuka baju. Hingga, otot tubuhnya terlihat. Dia mendekati cermin besar di sudut kamar. Melihat tanda seperti akar pohon, yang ada di dadanya.
"Vandemon.. Kau, cukup kuat rupanya."