Ralina pov.
Air mataku sudah tak bisa aku bendung lagi,aku menangkupkan kedua tanganku menutupi wajahku yang menangis. Aku hanya takut bunda tau akan hal ini, aku takut kalau beasiswaku di cabut dan aku di d.o.dari sekolah, banyak sekali ketakutanku setelah kak Vano memperlihatkan foto itu padaku.
Sekarang aku percaya sama perkataan kak Vano di hotel seminggu yang lalu bahwa kita dijebak, karena di foto itu aku dan kak Vano tidur, dan itu artinya kami tidak berdua melainkan ada orang lain yang memotret kami dan pasti orang itu jugalah yang ngejebak kami.
“Kaka dapat ini di mana?”
“Jangan bilang semua orang udah tau?”
Ucapku sambil menangis sesenggukan, dia memajamkan matanya sebentar
“Gua dapet ini dari Vino, dan Vino dapet ini di mading” ucapnya hati-hati, aku meatapnya dengan rasa tak percaya “Dimading? yaAllah tega banget sih tu orang, apa pernah aku nyakitin orang sampai tu orang kayak gini sama aku? “ pikirku di tengah tengah tangisku.
Kembali aku tertunduk dan menangis,aku merasakan sebuah tangan kokoh memegang ke dua pundakku. “Hei, lu ga sendiri dalam masalah ini,maaf selama seminggu ini gua masih belum bisa nemuin orang yang ngejebak kita” ucapnya lembut dan membuatku mendongakan kepalaku, meghadapnya yang masih dalam posisi ke dua tanganya memegang pundakku.
“Tapi kak siapa yang tega ngelakuin ini?” tanyaku sesenggukan. “Gua juga belum tau” ucapnya yang kini melepaskan tanganya dari pundakku dan membalikan badannya dan kini dia membelakangiku sambil memasukan kedua tanganya ke kantong celananya.
“Apa lu pernah punya musuh sebelumnya?” Tanyanya tanpa berbalik badan dan menghadapku. “Ga pernah, dan gua juga ngerasa ga pernah nyakitin siapapun” jawabku
Aku dengar dia menghembuskan nafas kasar, dan kembali berbalik badan menghadapku, jangan tanya apa yang sedang aku lakukan aku ini gadis cengeng dan penakut, jadi kini aku sedang menangisi nasibku
Kring...
Kring...
“Sekarang kita kekelas masing masing ok?” Tanyanya padaku yang aku balas dengan anggukan kecil. “Lu ga usah khawatir, selagi pihak sekolah ga ada yang tau kita masih dalam posisi aman,ntar kalau seandainya temen temen lu udah ada yang ngeliat atau udah tau lah pokoknya, lu cuman harus diem ga usah di ladenin, ngerti? Percaya sama gua ya?” Aku hanya menganggkuk dan menyetujui penjelasanya itu.
Lalu kami pergi dari taman belakang sekolah itu menuju kelas masing masing, kelas kami berlawanan arah karena aku jurusan IPA sedangkan kak Vano IPS. Kami berpisah di koridor utama,aku belok ke kanan sedangkan kak Vano belok ke kiri.
Aurthor pov.
Ralina tidak langsung menuju kelasnya, malainkan dia memilih pergi ke toilet untuk mencuci mukanya yang sedikit sembab karena habis menangis “gua harap mereka ga kan pernah tau.” batinya
Sedangkan KeVano juga tidak langsung menuju kelasnya, kali ini dia benar benar ingin menerkam orang yang menjebaknya. Setelah berpisah dengan Lina tadi dia langsung ke gedung A dimana gedung ini digunakan untuk semua kegiatan sekolah di luar jam pelajaran, setelah itu dia pergi keruangan osis.
“BRAKKK” KeVano membuka pintu ruangan dengan tidak santai, napasnya kini sangat tidak teratur,
“Wooeee santai dong boss” ucap gerald selaku wakil ketos 2,
“Anak mading mana?” Tanyanya dengan emosi tertahan, “Lu ga inget kalau ini tu-” belum selesai Gerald menjelaskan udah di potong oleh Vano.
“GUA NANYA ANAK MADING MANA?!” kini Vano berteriak, ia menatap nyalang pada Gerald.
“Di kelaslah bego, udah tau ini jam pelajaran” jawab Gerald sedikit kesal karena Vano yang berteriak tadi, “Tolong panggillin semua anak mading ke sini, cepet! Gue enggak peduli mereka lagi kelas” perintah Vano yang di balas dengan gumaman oleh gerald
Dalam beberapa menit semua anak mading sudah berkumpul di ruangan tersebut
“Ada apaan sih Van, sampai lu manggil kita kita? gua sampai di marahin pak Yondra tau” ucap Putri teman sekelasnya Vano dan Vino
“Ok, gua cuman mau tanya siapa petugas mading minggu ini?” Tanya Vano tegas. “Van, kayaknya lu kurang istirahat deh” kini Rendy yang angkat bicara dan itu membuat Vano mengernyitkan dahi.
“Maksudnya?” Tanyanya bingung. “Lu ga inget, petugas mading itu bakal nuker berita atau apapun itu yang ada di mading setiap hari sabtu, sedangkan sekarang hari senin” jelas Putri
Vano cengo seketika
“Jadi lu manggil kita semua cuman buat nanya ini doang,?” Kini Rizal anggota mading paling junior diantara mereka yang mengeluarkan suaranya. “Kalau ga ada lagi kita bubar ya Van, dan mending lu juga masuk kelas” ujar Putri dan semua anggota osis yang di panggil tadipun meninggalkan ruangan dan Vano yang masih dengan perasaan bingung,
Akhirnya Vano-pun meninggalkan ruangan dan gedung ekskul tersebut dan pergi menuju ke dalam kelasnya. Di lain tempat Ralina juga kembali memasuki ruang kelasnya meskipun dengan perasaan yang sangat kacau.
“Assalamualaikum” salamnya sambil memutar handle pintu dan benar saja dugaannya guru biologinya sudah masuk dan kini tengah berdiri di depan kelas untuk menjelaskan pelajarannya.
“Waalaikum salam, masuk” jawab bu Tina, Ralina besyukur karena bu Tina memang bukan termasuk guru killer di sekolah bahkan dia termasuk guru yang di sukai anak-anak sekolah ini.
“Maaf saya telat bu, tadi saya habis dari toilet” alibi Lina pada bu tina, semoga saja dia percaya karena saat ini Ralina anastaya sangat takut kalau beliau akan bertanya “lalu kenapa matamu itu merah dan sembab nak?” Kan bisa mampus kalau di tanyain kayak gitu.
“Iya tadi Alfina sudah memberitahu ibu, kamu boleh duduk” Ralina sedikit kaget plus bersyukur karena Alfina, sahabatnya, menyelamatkanya. Dan mungkin inilah salah satu sebab dia gak pernah bisa ngomong ke Fina “kamu tuh temen atau bukan sih?” Karena dia selalu punya cara buat ngelepasin aku dari masalah itu.
Linapun duduk di sabelah Fina dan mengikuti pelajaran hari ini dengan lancar, dia juga sangat bersyukur karena tidak ada teman temannya yang bertanya atau menyinggung atau apapun yang berhubungan dengan foto yang di perlihatkan oleh kak Vano siang tadi.
Kring...
Kring...
Kring...
Semua murid di kelasnya meninggalkan kelas ini satu persatu, Ralina sendiri juga belum selesai merapihkan buku dan memasukannya ke dalam tas, tapi dia melihat Fina sudah rapi dan langsung pergi tanpa menunggunya?
Lah, kenapa ni anak?? Tadi juga pas gua balik dari toilet, eh ralat,balik ketemu kak Vano dia juga ga banyak ngomong, apa dia marah gara-gara gua tinggalin gitu aja di koridor?? Batin Lina menerka nerka, setelah semua bukunya rapih, Ralina langsung keluar kelas dan mengejar Fina dan berniat meminta maaf padanya.
“FINAA” teriaknya sepanjang koridor tapi Fina tidak menoleh sedikitpun, Ralina memepercepat larinya dan dapet ucapnya setelah menggenggam tangan Alfina. “Lu kok ninggaLin gua sih nyong??” Ucap Lina masih menggandeng tangan Fina.
Lalu Fina menghempaskan tangan Lina dengan kasar, Ralina sangat kaget dengan tindakanya ini. Seumur umur Ralina berteman dengan Alfina, meskipun dia marah dia tidak akan seperti ini paling dia cuman ngambek.
“Lepasin gua” ucapnya datar tanpa menatap Ralina, “Lu marah ya sama gua?? Maap deh kalau lu marah lagian juga tadi bukan gua yang ninggaLin lu di koridor, ono noh si twins sombong pan yang narik narik gua, kan lu juga tau, maafin ra-”
“Jelasin ke gua tentang foto itu” potong Fina
Degh......
Jelasin? Fina tau tentang foto itu?? Tapi kenapa anak anak yang lain pada ga ada yang ngebahas bahkan nyinggung tuh masalah, bukanya gua mau rahasia ini ke bongkar tapi Fina tau kok yang lain enggak gitu loh
“Foto apaan?” Tanya Ralina pura pura ga tau apa yang di maksud oleh Fina
“LU PIKIR GUA KEMANA SETELAH LU DI TARIK SAMA VANO HUH?” GUA NGELIAT SEMUANYA TERMASUK TU FOTO, JADI TOLONG jelasin ke gua sekarang” ucap Fina yang kini berlinangan air mata, Ralina sendiri sudah terduduk lemas di tempat duduk yang ada didepan setiap kelas.
“Gu-gu-gua” ucap Lina gugup, kini Ralina benar benar kehabisan akal untuk menjawab pertanyaan sahabatnya itu. “Jawab Ralina” ucap Fina dengan kedua tangan berada di bahu Lina dan mengguncang tubuhnya.
Ralina pun sudah tidak bisa menahan air matanya untuk keluar,untungnya jam pulang sekolah sudah dari tadi, jadi sekolah sudah sepi. “Ma-a-fin gua fin” hanya itu yang dapat Lina ucapkan saat ini.
“Jadi foto yang gua liat bener itu elo?” Ucap Fina tak percaya dan seolah Lina menjawab kalau tu foto editan
“Maafin gua,” lirih Lina, “Ok gua bakal jelasin” Lina mendongak dan menyuruh Fina duduk di sampingnya, lalu menceritakan semuanya, Lina tau dia telah menjadi orang yang munafik karena mengingkari janjinya pada Vano untuk tidak bercerita ke siapapun, tapi dia juga ga bisa bohong sama Fina yang bernotabane sahabatnya sendiri.
“Jadi, foto itu asli?” Tanya Fina yang aku balas dengan anggukan
“Iya, tapi gua sama kak Vano yakin kalau kami berdua di jebak” ucap Lina dan di balas dengan anggukan oleh Fina
“Gua percaya kok sama lu, gua janji bakal bantu lo sama kak Vano cari siapa yang ngejebak lu, tapi lain kali kalau lu dapet masalah kek gini cerita jangan di pendam sendiri ngerti?” Ceramahnya tapi itu membuat Lina semakin menyayangi sahabatnya itu
“Oh iya, lu ga kan cerita ke bunda kan?” Tanya Lina yang masih memeluk Fina
“Ga kok, tapi yang gua pikirin kalau bunda tau gimana ya?” Ujar Fina dan melepas pelukan mereka. “Ga tau deh, kalau gua cerita sejujurnya sama bunda mungkin bunda juga bakal ngerti kali ya?” Ucap Lina
“Semoga aja” lalu Fina dan Ralina berdiri dan mulai meninggalkan pekarangan sekolah menuju kekediaman masing masing.