Ralina pov.
“Assalamualaikum bun” salam ku saat memasuki rumah. “Waalaikum salam” teriak bunda dari dapur.
“Eh udah pulang? kirain ibu kamu langsung kerumah Fina?”,aku megernyitkan dahi heran dan bingung akan erkataan bunda, “Kerumah Fina? ngapain?” Tanyaku.
“Kan kamu sendiri yang bilang kalau sekolah kamu ngadain pensi buat hari guru dan malam ini Finalnya” jelas bunda yang masih asik mengadon bahan bahan gorengan yang akan di jual keesokan harinya.
“Oh iyaya kok aku bisa lupa ya?” Ucapku sambil menepuk jidat, aku berlalu menuju kamarku dan bersiap siap untuk kerumah Fina, karena semua persiapan ku untuk acara pensi ada di rumah Fina.
Setelah selesai bersiap siap dan meminta ijin dari bunda,aku pergi ke rumah Fina. Kerumah Fina tidak membutuhkan waktu yang lama karena kami tinggal di satu komplek beda gang jadi aku cukup berjalan kaki melewati 2 gang nyebrang dikit dan sampai deh.
Tok tok tok
“Assalamualaikum” salamku, setelah hampir 3 kali mengucap salam seseorang membukakan pintu rumah Fina, dia adalah bi Denti pembantu di rumah Fina. “Fina nya ada bi?” Tanyaku setelah bi Denti mempersilahkan ku duduk dan menunggu di ruang tamu.
“Ada tunggu bentar ya mbak” ucap bi Denti, tak lama kemudian kulihat Fina menuruni anak tangga. “Eh Lina?kirain gua lu lupa, tadi gua mau ngasih tau eehh hp gua malah lowbat,baru aja gua mau nyamper lu ke rumah udah nyampe aja lu” ucapnya sambil cengengesan.
“Hehe iya tadi gua emang hampir lupa untung gua ada bunda yang ngingetin” ucapku. “Mending kita siap siap sekarang kalau lu ga mau telat”katanya
Kamipun bersiap siap hampir 30 menit lamanya, dan berhubung kami osis, tahun ini baju Final pensi kami di wajibkan bertema sporty tidak harus seragam tapi sporty lah pokoknya.
Setelah memilih milih baju Fina, ya aku memang meminjam baju Fina karena aku bukanlah anak yang terlalu memikirkan fashion dan aku juga berpikir belum saatnya aku shoping- shoping ga jelas, karena masih banyak kebutuhan hidup lainya yang lebih penting dari pada shoping, gak kayak Fina yang tiap harinya pasti ada aja yang dia beli, mau itu sepatu, tas apa ajalah pokoknya. Fina pun ga jauh beda dengan ku, kalau aku bajunya warna putih dia warna abu abu. Setelah selesai kami berdua langsung menuju sekolah diantar oleh supir pribadinya Fina
****
@ sekolahan
Jam sudah mennunjukan pukul 18.40 wib, dan acara di mulai pukul 19.00 wib. Setelah sampai di ruang aula utama kamipun lansung menuju ruang panitia/osis
Rapat sebelum acara inti belum di mulai, itu berarti kami berdua tidak telat kami pun menunggu para anggota osis lainya dalam ruangan tersebut. Akhirnya, satu persatu anggota memasuki ruangan dan yang pastinya kak Vano dan temen temennya pun ikut memasuki ruangan osis
Aku memilih duduk di sudut kanan ruangan, karena di sebelah sanalah aku rasa kak Vano dan temen temenya yang lainya ga kan bisa melihatku terutama kak Vano. Terdengar suara mic di ketuk dan aku mendengar suara dari mic tersebut
“Assalamualaikum wr.wb” salamnya yang aku yakini itu adalah kak Vano
kami yang berada di ruangan tersebut pun menjawab salamnya. Setelah itu dia pun menjelaskan apa saja yang harus kami lakukan, kamipun di bagi dalam beberapa kelompok satu kelompok terdiri dari 3 orang.
“Ok,kalau gitu gue bakal bagi kelompok dan satu kelompok terdiri dari 3 orang” jelasnya. “Biar cepet gue cuman milih ketuanya, dan ketua bisa milih 2 orang amggota,Kelompok 1 gue 2 indra 3 aji 4 geo 5 Vino 6 Reno 7 doni” ucap kak Vano, sedangkan aku langsung memilih Fina untuk menjadi partnerku, terserah siapapun ketuanya, tapi aku harap bukan kak Vano
Setelah kak Vano selesai membacakan siapa saja yang jadi ketua kelompok, Alfina langsung menariku beranjak dari tempat duduk ku dan mulai mencari ketua, “sumpah gua males banget fin,”
“Lina itu kak Reno” teriaknya exited
“Ya terus?” Jawabku malas
“Kita sekelompok dia aja gimana?” Masih dengan exitednya sendiri
“Gua mah terserah aja” dan gua masih males buat ngeladeni Fina
“Ih lu mah ga asik” kesalnya
“Lah, kan lu mau sama kak Reno ya udah iya, salah gua dimana coba?” Tanyaku
“Ya udah deh ayok ke tempat kak Reno” dia menarikku lagi
Sesampainya di tempat kak Reno, Alfina langsung meminta untuk bergabung dengan kelompoknya, tapi kak Reno hanya butuh satu orang saja
“Yah Lin, gimana dong?” Tanya Fina sedih
“Udahlah lu masuk aja, ntar gua dapet juga kok,” diapun tersenyum mendengar jawabanku “sekaLian lu kan mau pdkt sama doi” bisiku
“Ih lu, kan gua jadi malu, btw makasih ya” ucapnya sambil memelukku
“Udah gih sono” diapun berlalu pergi ke arah kak Reno tadi
Sekarang aku sendiri, ngapin coba capek capek nyari kelompok,ntar kalau ada yang kekurangan anggota gua tinggal masuk, ya ga?
“Lu udah dapet kelompok?” Tanya seseorang mengangetkan ku
“Belum kak” jawabku pada kak Bimo, ya dia kak Bimo temenya twins
Tiba tiba dia menarikku beranjak dari tempatku berdiri tadi
“Kita udah lengkap van” ujar kak Bimo pada kak Vano saat kak Amel minta gabung sama kelompoknya
“See, udah gua bilangkan kelompok gua tuh udah lengkap” ucap kak Vano,sambil menatap aku dan kk Bimo bergantian dan akhirnya kak Amel pun pergi dengan wajah cemberut
Wait, berarti aku satu kelompok sama kak Vano?
Astaga musibah apa lagi yang akan terjadi ini? Semoga ga terjadi apa apa
Amien. Setelah semua kelompok terbentuk dan di beri tugas masing masing acara pun di mulai, kelompokku ralat kelompok kak Vano bertugas di bagian layar atau tirai.
Awal acara berjalan sangat lancar, tapi pada pertengahan acara terjadi insiden, tepatnya karung berisi pasir yang di gunakan sebagai pemberat tirai jatuh hapir mengenaiku.
“RALIN AWAS...” teriakan kak Vano sukses membuatku menjerit, dan menutup mataku kuat kuat,
“aku yakin saat ini aku pasti sudah di surga, eh tapi kok banyak orang gitu ya? terus kepala aku juga ga sakit tuh? “ batinku
Aku membuka mataku perlahan, yang aku rasakan adalah b****g sampai pinggangku sakit dan sedangkan aku merasakan ada sebuah tangan di kepala balakangku
“Aw” ringisku dan betapa kagetnya aku saat ini aku berada di pelukan seorang KeVano ardiyansah, ketika itu juga aku langsung mendorong tubuhnya, dia pun terjatuh ke belakang karena dorongan ku itu”DASAR lu, udah di tolongin juga” berangnya, akupun langsung membantunya dari posisinya yang terduduk di lantai, tapi aku tidak kuat untuk menarik beban tubuhnya dan alhasil kini aku terjatuh di d**a bidangnya,mataku bertatapan cukup lama dengan matanya
“Lah ini kenapa gua jadi dag dig dug?” Batinku
“Vano?”
“Lina?”
Ucap mereka semua berbarengan akupun langsung beranjak dari posisi tak mengenakan itu dan menatap meraka semua malu, saking malunya mungkin pipiku udah kayak kepiting rebus.
“Gua bisa jelasin kok” tegas kak Vano sebelum mereka mengira yang ngak ngak, dan setelah dijelaskan semuanya, mereka (mungkin) mengerti dan kembali bertugas pada kelompok masing masing. Jam dinding sudah menunjukan pukul 21.47, itu berarti sudah hampir 1 jam yang lalu acara ditutup,tapi nih osis belum juga bubar, ku liat kak Vano masih memberikan ultimatumnya.
“Acara kita sekarang udah kelar dan sukses,gue selaku ketos mengucapkan terimakasih banyak kepada seluruh anggota osis yang membantu,sebelum kita pulang marilah berdoa demi keselamatan kita,menurut agama masing masing” berdo'a, mulai” pimpinnya. “Selesai” ujarnya setelah itu kami semua keluar ruangan tersebut dan pulang ke rumah masing masing,
Begitu juga denganku, aku meninggalkan sekolah dengan berjalan kaki, Alfina? sudah pulang duluan sama kak Reno,dan sepertinya dia berhasil mendekati kak Reno. Aku berjalan santai di trotoar menuju rumahku.
“Tin tin”
Kudengar seseorang membunyikan klakson mobil
tapi aku tidak menoleh, buat apa aku menoleh? Siapa tau bukan aku yang di klakson, ya nga?. Tapi aku mendengarnya lagi, aku masih ga menoleh dan klakson panjang darinyalah yang membuat aku menoleh lalu dia menurunkan kaca mobilnya setelah melihatku berhenti dan menoleh ke arah mobilnya
“Butuh tumpangan ga?” Tawarnya padaku, “Eh kak Vino? ga usah kak, rumah gua udah deket kok” tolakku sesopan mungkin
“Udah malam ga baik cewe jalan malem sendirian lagi”
“Tapi,-” belum selesai aku berbicara dia keluar dari mobil dan menarikku masuk kedalam mobilnya, kini aku duduk di sebelah kursi kemudi
“Duh kak gua ga enak loh sumpah, kan udah deket,” ucapku karena aku merasa tak enak hati. “Udah gapapa, lagian gua juga ada yang mau omongin sama lu” ucapnya
“Duh kak Vino mau ngomong apa ya? Jangan sampe tentang gua sama kak Vano” batinku. Selama di perjalanan tak ada yang di bicarakan sedikitpun, sampai akhirnya aku yanng angkat bicara untuk memecah suasana akward menurutku ini
“Kaka tadi mau ngomong apa ya?” Tanyaku
“Rumahlu dimana?” dia tidak menjawab pertanyaanku melainkan balik bertanya. “Di perempatan belok kanan, rumah cat kuning” jawabku dengan sedikit kesal karena pertanyaan ku ga di jawab
Tak lama kemudian kami sudah sampai di depan rumahku, akupun langsung keluar dari dalam mobilnya itu dan mengucapkan terimakasih. Lalu aku berjalan untuk memasuki rumahku tapi belum sampai aku membuka pagar, seseorang menahan tanganku siapa lagi kalau bukan kak Vino.
“Kenapa lagi kak?”
“Kan gua tadi bilang ada yang mau gua omongin sama lu” jelasnya
“Oooo, kk mau ngomong apa?”
Akupun menunggunya berbicara tapi dia gak juga ngomong, gedeg tau ga?. “Ehmmm” dehemku karena dia ga ngomong ngomong juga, sumpah ya nih orang, pengen gua tabok aja biar cepet ngomongnya
Diapun menggaruk tengkuknya
“Kak udah malam gua masuk ya kalau udah ga ada lagi yang di omongin” ucapku sedikit kesal, “Oh ya udah,maaf gua buang waktu lu” ucapnya lalu berjalan kearah mobilnya dan pergi meninggalkanku
Aneh
Akupun membuka pagar rumahku dan memasuki rumah. “Assalamualaikum,bunda? Lina pulang...” ucapku lalu aku memasuki rumah dan menghampiri bunda yang sedang duduk di ruang keluarga.