** 6 . Menghapus jarak.

1127 Words
Part 6. Menghapus Jarak . Reyn tengah duduk di ruang kerjanya. Sesekali ia melihat keluar jendela melihat pemandangan dari sana. Kemudian, ia meraih ponsel. Harus segera menelefon Alluna, sebelum sang mama memprotesnya lagi. Dengan lincah Reyn, membuka layar ponsel. Mencari nomor Alluna, lalu segera menghubunginya. Panggilan telefon terhubung. “Halo, Reyn aku sudah menunggu telefonmu, jadi kapan kita akan bertemu?” tanya suara di seberang. “Malam ini jam tujuh!” jawab Reyn. “Baiklah kita bertemu di resto saja!” usul Alluna. “Baik!” “Sampai ketemu!” “Ok.” Reyn mengakhiri panggilan telefon. Kemudian, ia membuka surelnya. Ada beberapa informasi penting yang di kirim Faris termasuk mengenai pemilik kafe kopi dimana Clara bekerja. Kemudian, Reyn menyimpan nomor telefon pemilik kafe. Tidak sabar ingin menjalankan rencananya terhadap Clara. Jam menunjukkan pukul 18.20 WIB. Reyn memutuskan untuk mandi dan bersiap menemui Alluna. Ia mengirim pesan kepada sang mama sebelum akhirnya berlalu ke kamar mandi. **❤** Reyn datang terlebih dahulu. Ia memesan sebuah private room, agar bisa bicara lebih nyaman dengan Alluna. Sekitar sepuluh menit pria itu menunggu, masuklah seorang pelayan bersama Alluna yang berjalan di belakangnya. Setelah Alluna masuk, si pelayan keluar meninggalkan kedua tamunya. “Apa kabar, lama tidak bertemu?” sapa Alluna. Ia menyunggingkan senyum. Warna lipstik merah di bibirnya tak membuat pria di hadapannya tertarik. “Baik, bagaimana dengan kabarmu! Aku dengar namamu di kenal di Hollywood?” sahut Reyn. Menatap sekilas, lalu memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. “Hah, itu hanya sebuah pencapaian!” jawab Alluna. “Mamaku bilang, kita akan bertunangan dalam waktu satu bulan!” Gadis itu menghentikan ucapannya, melempar pandangan ke arah lain."Bagaimana pendapatmu tentang ini?" selidik Alluna. Menjadi menantu keluarga Hartanto, akan membuat karirnya di dalam negeri melambung, tetapi tidak berpengaruh apapun dengan kehidupan pribadinya. Karena Alluna tidak memiliki perasaan apapun terhadap Reyn. “Entahlah, yang jelas aku juga sudah menolaknya!” kata Reyn. Ia mengamati Alluna yang tengah menyalakan rokok. Benar-benar bukan wanita yang ia inginkan. “Kau mau juga?” tawar Alluna. “Maaf, aku tidak merokok!” balas Reyn. “Lantas, apa keputusanmu?” Reyn mengamati Alluna dengan saksama. Perempuan itu sangat berbeda jauh dengan beberapa tahun yang lalu. Lingkungan dan pergaulan memang selalu merubah seseorang. Nyatanya Alluna yang sekarang, jauh berbeda dengan Alluna yang dulu. Jika dulu dia baik, sopan, dan terlihat intelektual. Kini, tidak tampak seperti itu lagi. Pakaian yang ia kenakan terlalu berani. Di acara makan malam ini, baju yang di kenakan Alluna seperti model majalah dewasa. Dress di atas paha dengan kerah pita, yang tentu saja mengekspos bagian dadanya. Reyn menggelengkan kepala, dari sudut mana pun Alluna bukanlah tipenya. Dia tidak suka wanita yang merokok, dan fengan gaya hidup glamor. “Aku juga akan sepakat menolak! Aku punya seorang kekasih dan aku sangat mencintainya!” jawab Alluna. Ia kembali menyesap rokoknya, menelan, lalu membuang asapnya. Menikmati. “Baiklah, kita akan sepakat menolak, tapi aku meminta bantuanmu!” pinta Reyn. Setelah membaca mengenai profil Jason, ia mulai berpikir. Sepupunya itu bukan orang yang mudah dikalahkan. Setidaknya sampai rapat pemegang saham dilakukan, mereka harus bertunangan meski hanya sementara. “Katakan apa yang bisa aku lakukan. Untuk membantu sahabatku. Aku akan melakukannya!” Alluna membalas tatapan Reyn dengan ekspresi menggoda. “Berpura-puralah bertunangan denganku, sampai akhir tahun! Dengan begitu, aku akan memberikan salah satu villa ku di Bali! Bagaimana?” tawarnya. Harus membuat kesepakatan. Tidak ingin Jason menggantikan jabatan sang papa. “Apa itu tidak terlalu murah! Jika pertunangan kita di batalkan, yang dirugikan pihak perempuan. Aku tidak mau hanya mendapat satu bangunan vila!” protes Alluna. Merasa dirugikan, jika hanya diganti dengan sebuah bangunan vila dari penerus Hartanto Group. “Baiklah apa yang kau inginkan?” tanya Reyn. Ingin membuat suatu kesepakatan. “Dua resort di Bali, aku yakin keluargamu tidak keberatan memberikannya padaku!” ucap Alluna. “Bukankah itu rakus, jika pada akhirnya kau hanya mantan tunanganku!” Reyn menggelengkan kepala. Ternyata bagi Alluna Azalea, materi sangatlah penting. “Satu resort saja, dengan begitu orang tuaku tidak keberatan,” usul Reyn. “Baiklah! Jadi kita akan mainkan sandiwara ini!” tanya Alluna memastikan! “Tentu,” sahut Reyn. Kemudian, mereka mulai menikmati hidangan makan malam. “Kau sekarang lebih tampan,” puji Alluna. Siapa pun yang melihat Reyn saat remaja pasti tidak mengira di usianya saat ini yang menginjak 28 tahun. Pria itu semakin tampan dan menarik saja. “Nyatanya ketampananku juga tidak bisa membuatmu menyukaiku!” Reyn terkekeh. “Kamu mau menjadi yang nomor dua?” canda Alluna ia menaikkan alisnya. “Tidak, aku menghindari membaca judul berita aneh di media sosial.” Kali ini Reyn menahan tawanya. Mereka berdua mencicipi dessert berupa Chesscake. Ingin segera mengakhiri acara makan malam itu. “Kau akan mengantarku pulang ke apartemen kan?” tanya Alluna. Ia mengambil selembar tisu, menyeka bibirnya perlahan. “Kamu mau meninggalkan mobilmu di basemen?” tanya Reyn mengira jika Alluna datang ke resto dengan mobilnya sendiri. “Tidak, aku ke sini di antar seseorang!” jawab Alluna. “Baiklah aku akan mengantarmu!” ucap Reyn. Mereka pun keluar dari Resto. Masuk ke dalam lift. Kemudian, Reyn mengantar Alluna ke apartemennya. **❤** Clara tengah duduk melamun di kasir mini market tempatnya bekerja. Ia mengingat galih dan tiba-tiba rasa sedih menghinggapinya. Ya, pria yang sangat di kaguminya ini sekarang terlihat acuh. Separuh hatinya tidak nyaman, apalagi Clara masih berharap ingin menjadi kekasihnya suatu hari nanti. Gawai Clara berdering, ada panggilan telefon dari Reyn. “Halo, Tuan!” sapa Clara. “Kau dimana?” tanya Reyn. “Saya masih di mini market!” jawab Clara. “Mulai besok, setelah pulang dari Kafe, aku ingin kau bekerja di apartemenku! Kalau kau tidak mau kau harus mulai membayar hutangmu minggu ini!” titah Reyn. Suaranya terdengar mengintimidasi. “Tapi Tuan, aku butuh gajiku bekerja di sini!” bela Clara. Menahan emosi, berusaha untuk tidak mengumpat. “Ya sudah, aku ikut pilihanmu!” tegas Reyn segera mengakhiri panggilan telefon. Clara melihat ponselnya kesal. Ingin rasanya memaki pria yang baru saja menelefonnya. Dia terlalu semaunya sendiri. Kini giliran Clara yang menghubunginya. "Halo, apa!" jawab Reyn seolah sudah menduga jika Clara ingin menelefonnya. "Baiklah, Tuan, mulai besok sepulang dari kafe kopi aku akan bekerja di apartemen Anda, Tuan. Emmm ... apa pekerjaan yang bisa aku lakukan?" tanya Clara. "Bersihkan kamarku dan siapkan makan malam!" jelas Reyn. "Baiklah Tuan!" jawab Clara menurut. Panggilan telefon berakhir. Clara mendengus kesal karena sekali lagi ia terus menerus menuruti Reyn. Sementara di belahan kota Jakarta yang lain. Reyn menaruh ponselnya. Ia tersenyum puas. Pelan tapi pasti dia akan mendekati Clara, menghapus jarak di antara keduanya. Mendapatkan gadis itu kembali dengan cara yang berbeda, kali ini Clara yang akan memohon dan bertekuk lutut di hadapannya . . . . . To be Continue . **❤**
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD