** 5 . Langkah awal.

1950 Words
Part 5. Di kediaman Wisnu Hartanto. Pagi hari di ruang makan. Ada Reyn, Nyonya Reyna, dan Pak Wisnu. “Reyn kamu sudah siapkan untuk hari senin, Papa sudah mengumumkan pada semua staf kalau, papa akan mengenalkanmu sebagai ketua direksi yang baru!” ucap Pak Wisnu. “Tentu Pa, atur saja semuanya!” jawab Reyn. “Kamu juga tidak lupa kan? Sore nanti ada jadwal bertemu dengan Alluna?” tanya Nyonya Reyna. “Ma untuk apa aku bertemu dengan Alluna? Aku tidak mau!” tolak Reyn. “Tidak bisa, artikel mengenai kamu dan Alluna yang akan bertunangan akan segera di rilis, sebaiknya kamu menurut agar bisa menguatkan posisimu di perusahaan!” pendapat sang mama. Ya, dengan menikahi Allura yang notabene seorang aktris dan orang tuanya mempunya perusahaan yang bergerak di bidang Fashion. Bisa membuat Reyn mendapatkan suara terbanyak di rapat pemegang saham tahun ini. “Ma! Bertunangan sudah pasti menikah kan? Reyn belum siap Ma!” jawab Reyn. “Jangan bercanda Reyn! Kamu harus menikahi wanita yang tepat agar posisi tertinggi tidak diambil oleh Jason atau anggota keluarga yang lain!” jelas Nyonya Reyna. “Jason tidak berhak atas Hartanto Group, Ma!” bantah Reyn. “Kamu salah! Jika Papa Jason masih hidup, beliaulah yang seharusnya menjadi Managing Dircector, bukan papamu. Bukan tidak mungkin di rapat pemegang saham akhir tahun nanti, para anggota direksi juga akan menunjuk Jason. Apalagi, dia sudah menjabat menjadi kepala di cabang Hartanto Group. Bukan tidak mungkin mereka memilih Jason karena di anggap lebih kompeten dibandingkanmu!” jelas Nyonya Reyna. “Kamu pulang bukan untuk bermain-main Reyn!” tegasnya. “Iya, Ma, bagaimana aku akan bekerja dengan serius kalau mama dan papa menyuruhku bertunangan dalam waktu satu bulan! Aku belum siap Ma! Dan untuk pertemuanku dengan Alluna aku akan datang malam nanti, mama kirim saja nomor Alluna aku akan menghubunginya nanti!” jelas Reyn. Dia melepas sendok dan garpu. Sudah tidak berselera makan. “Reyn,” panggil sang papa. “Ya, Pa!” jawab Reyn. Ia sudah beranjak, lalu menunda karena Pak Wisnu memanggilnya. “Ini demi kamu Reyn, bukan demi papa dan mama, kamu harus mulai serius!” Pak Wisnu menasihati. “Aku tidak harus menikah dan bertunangan secepat ini Pa! Lagi pula aku juga memiliki kemampuan untuk menjadi penerus papa!” jawab Reyn percaya diri. “Ma, Pa, aku ada urusan!” pamit Reyn. Menunduk hormat kemudian berlalu begitu saja. “Pa, bagaimana kalau dewan direksi memilih Jason Pa?” tanya Nyonya Reyna cemas. “Mama tidak perlu khawatir, aku masih memiliki orang-orang yang setia yang selalu berada di pihakku!” jawab Pak Wisnu. “Jadi, Reyn bisa mengalahkan Jason!” tanya Nyonya Reyna. “Menurut Papa bisa! Semoga saja!” sahutnya dan kembali mengunyah makanan yang terasa hambar. **❤** Faris sudah datang dan menunggu Reyn. Menyiapkan mobil sepagi ini. “Antarkan aku ke kafe kopi!” titah Reyn. “Tuan aku akan mengantar Anda ke apartemen, ada beberapa hal yang harus di pelajari sebelum hari senin. Ini mengenai orang-orang yang tidak suka dengan kehadiran Anda di perusahaan!” tegas Faris. Sesuai keinginan Wisnu Hartanto. “Tidak! Hari ini aku masih libur!” jawab Reyn. “Tuan, tolonglah mengerti pekerjaan saya, saya di gaji untuk menjadi sekretaris Anda! Bukan hanya menjadi sopir yang akan mengantarkan Anda ke kafe kopi bertemu cinta pertama Anda itu!” Faris merasa kesal. Dini hari tadi, Pak Wisnu menelefon dan memarahinya karena Reyn, masih belum mengeti apa-apa juga. Reyn menatap sekilas. Wajah Faris tipikal pria baik-baik. Membuatnya merasa tidak tega. “Baiklah! Kita ke apartemen sekarang! Sore nanti aku mau bertemu Clara dan malamnya bertemu Alluna!” jelas Reyn. “Baik Tuan!” Mesin mobil menyala. Faris mulai mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali melihat Reyn, di kursi belakang. Kadang pria yang sangat ia hormati itu bertingkah seperti anak kecil. Ya, kedua orang tuanya terlalu memanjakannya dan tidak pernah bertindak tegas. Ingin rasanya Faris mengumpat, tetapi itu juga tidak mungkin karena hal itu pula yang membuat gajinya naik drastis bulan ini. Di sisi lain ia juga merasa sangat bersyukur karena ada makhluk seperti Reyn Hartanto. Mobil membelok ke sebuah bangunan bertingkat yang merupakan jajaran apartemen kelas satu di ibu kota. Kemudian, berhenti di basemen. Tanpa berkata-kata Faris turun dari mobil. Lantas, ia berjalan melingkar membuka pintu untuk Reyn. “Tuan, kita sudah sampai!” ucap Faris. Reyn keluar dari mobil, lalu berjalan lebih dulu. Pikirannya memikirkan Clara. Dengan apa ia berangkat kerja pagi ini. Pintu lift terbuka. Reyn dan Faris masuk. Pintu tertutup, detik berikutnya alat transportasi dalam gedung itu mengantar mereka ke lantai tertinggi. “Tuan Maaf, apa Anda marah?” tanya Faris. Tuan Muda Reyn, hanya diam. Ia berdiri dengan tangan di saku celana. Menjaga jarak dengan ekspresi dingin tanpa senyuman. “Tidak, aku hanya ....,” Reyn berhenti berucap. Ting. Pintu lift terbuka. Faris berjalan lebih dulu, memimpin Reyn berjalan menuju unit. Kemudian, Faris masuk ke ruang kantor Reyn. “Jadi, Tuan Reyn. Mulai hari senin Anda juga harus pulang ke sini,” kata Faris. “Dan mulai sekarang Anda harus mulai menyukai ruangan ini yang akan menjadi ruang kerja Anda,” imbuhnya. Tangan Faris terulur membuka pintu. Ruangan itu luas. Ada satu meja utama. Yang menjadikan ruang sangat nyaman adalah kaca-kaca dengan tirai terbuka. Dari sana terlihat pemandangan kota dari satu gedung bertingkat. Reyn duduk sementara Faris mulai menghidupkan layar LCD. “Tuan saya akan memulai,” ucap Faris. Di layar tampak foto beberapa orang, yang merupakan petinggi perusahaan. “Siapa yang paling harus aku ingat!” tegas Reyn mengingat puluhan orang itu bisa saja dia lakukan. Hanya saja untuk kali ini ia sedang tidak bisa konsentrasi. Pikirannya tertuju pada Clara. “Jason! Anda mengingat sepupu Anda yang bernama Jason?” tanya Faris. Layar LCD menampakkan potret Jason. Sepupu tertua dari Reyn Hartanto. Semasa kecil pria itu tinggal di Singapura. “Kedatangan Jason tiga tahun yang lalu ke Indonesia, bertujuan untuk merebut jabatan Managing Director di rapat pemegang saham tahun ini Tuan!” jelas Faris. “Lantas apa yang harus saya khawatirkan, sudah jelas jabatan itu di pegang papa saat ini, siapa lagi kalau bukan aku yang akan mewarisinya!” jawab Reyn bangga. Bukan hanya sang mama, tapi Faris mulai menyebut nama itu. Sehebat apa dia sebenarnya. “Dari yang saya tahu, dia bekerja sama dengan para mafia di negeri ini, bukan hal yang tidak mungkin dia menggunakan cara kotor untuk mendapatkan posisi itu,” jelas Faris. “Aku tidak takut, dari segi mana pun, papa lebih berkuasa dari Jason!” bantah Reyn. “Dan meski ini hanya kabar burung saya dengar Jason juga dekat dengan calon tunangan Anda!” ucap Faris. Reyn menggelengkan kepala. Bahkan ia belum pernah bertemu Alluna sejak tujuh tahun yang lalu, tetapi akhir-akhir ini semua orang selalu menyebutnya sebagai calon tunangan. “Baik aku paham, untuk materi hari senin aku akan memahaminya sendiri, kau boleh keluar sekarang!” titahnya. “Maaf tidak bisa Tuan, mulai sekarang aku sudah diperintah Tuan Wisnu agar selalu menemani Anda sepanjang hari kecuali saat jam kerjaku sudah selesai!” jelas Faris. Reyn menghela nafas panjang. Kemudian, ia mulai menuruti kata-kata Faris. Menyimak semua penjelasannya. Memahami lebih banyak tentang Hartanto Group. Jam dua belas siang Reyn menelefon Clara. Sore nanti, sebelum ketemu Alluna ia ingin menemui gadis itu terlebih dahulu. Panggillan terhubung. “Halo,” sapa Clara di seberang telefon. “Halo, sore nanti jam empat aku datang ke kafe! Kita harus bicara!” pinta Reyn. “Baik Tuan!” jawab Clara. Reyn mendengar suara seorang pria dari seberang telefon. Ia sangat penasaran, tetapi ia menahan diri untuk tidak bertanya saat ini juga. “Kamu masih di kafe?” tanya Reyn lagi. “Iya saya masih di kafe, tapi saya tidak bisa menemui Anda sekarang Tuan!” jawab Clara. “Jam berapa biasanya istirahat?” tanya Reyn lagi. “Ini saya sedang istirahat, tapi saya tidak bisa menemui Anda karena saya bertemu dengan rekan saya,” jawab Clara. “Oh ....,” pria itu masih mencoba menahan diri untuk tidak mencari tahu. “Jangan lupa payungnya nanti di bawa!” titah Reyn menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya. “Baik,” sahut Clara. Panggilan telefon berakhir. Di tutup begitu saja oleh Reyn. “Tuan mau ke mana?” tanya Faris saat Reyn bergerak menuju pintu. “Aku ingin ke taman!” jawab Reyn melangkah cepat keluar ruangan. “Saya akan mengantar Anda Tuan!” Faris bergerak cepat. Reyn ternyata belum paham mengenai posisinya, dia masih suka bermain-main tanpa ada keseriusan sama sekali. **❤** Di kafe kopi tempat Clara bekerja, siang hari belum terlalu ramai pengunjung. “Aku temui Mas Galih dulu ya!” pinta Clara pada Anya dan Mita. “Ok!” jawab keduanya seraya mengangkat kedua ibu jari. Clara merapikan rambutnya seraya bergerak keluar, menemui Galih yang sudah menunggu. Galih yang merupakan seorang pengacara di sebuah firma hukum. Siang itu datang menemui Clara, kebetulan kantor tempat ia bekerja tidak terlalu jauh. Di sudut ruangan galih duduk, menunggu Clara sembari menatap layar ponselnya. “Mas Galih, apa kabar?” tanya Clara. Ia mengambil duduk di hadapan pria itu. “Kabarku baik Clara, bagaimana dengan kabarmu?” tanya pria itu. “Kabarku juga baik,” sahut Clara. Malu-malu di mencuri pandang ke arah pria itu. Sudah lama ia mengagumi galih. Entah sejak kapan, setiap bertemu seperti ini detak jantungnya bertalu-talu tidak karuan. “Aku tidak bisa berlama-lama Clara, kau tahu kan aku sedang sibuk?” ungkap Galih. “Jadi, apa yang bisa aku bantu!” tegasnya. “Aku di jebak Mas, dijebak untuk melunasi hutang sebanyak dua milyar!” jelas Clara. Ponsel smart milik Galih berdengung sebuah panggilan. Pria itu bergerak agak menjauh. Clara menghela nafas dan menunggu. Bukan Galih yang berubah, tapi keadaan yang memaksa mereka untuk berubah. Tak sampai dua menit Galih kembali mendekat. “Clara, maaf aku harus segera pergi, kita bicarakan ini lain kali saja ya?” pamit Galih. Ia mengambil tas kerjanya dan berlalu begitu saja sebelum Clara menjawab. Gadis itu mengangguk kecewa karena sekarang ia menyadari satu hal, ia sudah tidak sepenting dulu lagi bagi Galih. **❤** Sore harinya Reyn sudah menunggu Clara di area parkir kafe. Ketika Clara keluar dari tempat kerjanya, Reyn segera menghampiri dan membawanya masuk ke dalam mobil. “Siap yang kau temui siang tadi!” tanya Reyn. “Mas Galih!” jawab Clara. “Dia pacarmu?” selidiknya. “Bukan, Tuan!” jawab Clara. “Sekarang kau jangan panggil aku Tuan, panggil aku Mas!” pinta Reyn. Clara diam sesaat menoleh ke arah pria yang duduk di sampingnya. “Baik Tu.... Eh Mas!” jawab Clara terbata. “Untuk apa kau menemuinya?” tanya Reyn lagi. Faris yang berada di belakang kemudi hanya diam, sesekali ia melihat ke arah Clara dan Reyn bergantian. Clara tidak spesial secara fisik, ia mulai keheranan apa yang membuat si Tuan Muda, terlalu amat sangat tertarik pada gadis itu. “Emm... ini mengenai hutang dua milyar saya Tu... eh Mas!” sahut Clara setelah berpikir cukup lama. “Baiklah mulai sekarang hutang itu aku anggap lunas, tapi kau harus bekerja padaku!” titah Reyn. “Kerja apa?” “Biar ku pikirkan dulu, sekarang kau boleh keluar dari mobilku dan jangan temui dia lagi!” suruh Reyn mengusir Clara secara halus. “Baik Tuan.” “Jangan panggil Tuan! Panggil aku Mas!” ucap Reyn mengingatkan. “Baik Mas! Saya akan mengambil payungnya!” ucap Clara, keluar dari mobil. “Kau kembalikan lain kali saja!” jawab Reyn. Clara mengangguk, lalu menutup pintu mobil. “Ayo kita pulang, aku harus bersiap untuk menemui Alluna!” titah Reyn. “Baik Tuan,” sahut Faris segera menyalakan mobil dan akan mengantar Reyn untuk pulang. “Ke apartemen saja!” titahnya lagi. Faris mengangguk pelan. To be Continue. Tinggalkan komentarnya ya...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD