Part 4
Malam itu suasana sepi. Clara menjalankan pekerjaan di mini market berdua saja dengan rekannya.
Ia meraih ponsel dan berniat menelefon Galih.
Galih dan Clara melewati masa kecil bersama. Ia tahu betul bagaimana kehidupan gadis itu. Hanya saja, Clara adalah seorang gadis keras kepala yang tidak mungkin menerima bantuan darinya berupa materi. Namun, Ia selalu siap membantu Clara kapan pun gadis itu membutuhkannya.
Sudah lama Clara, memendam rasa dengan Galih. Rasa cintanya itu, membuat ia sungkan menerima bantuan dari Galih. Pria itu bukan hanya memiliki fisik yang sempurna dia juga sangat baik dan tidak pernah bertindak kasar. Menasihati, selalu sabar sehingga tanpa di sadari Clara mulai mengagumi dan berharap mendapatkan balasan cinta dari Galih.
Tanpa di sadari Galih menjadi pria idaman yang Clara inginkan. Hanya saja Clara selalu mengingatkan dirinya sendiri agar tahu diri. Galih seorang pengacara, dan dia hannyalah seorang tanpa pekerjaan yang keren. Bahkan di umurnya yang hampir 27 tahun. Hidupnya masih suram. Tidak ada titik terang di masa depannya.
Clara : [ Mas Galih. Besok siang, di jam istirahat aku akan datang ke tempat kerjamu. Ada yang ingin aku ceritakan, sepertinya aku butuh bantuanmu ]
Galih : [ Baik, aku akan menunggumu. Ada tempat makan enak sepertinya aku juga kan mengajakmu ke sana, sampai ketemu besok ]
Clara : [ Siap, tunggu aku ]
Galih : [ Siap ]
Clara menutup ponselnya. Ia kembali bersemangat. Galih memang selalu memberikan aura positif, semoga kali ini pria tampan itu bisa membantunya menghadapi apa yang sedang menjadi beban pikirannya. Seperti malaikat pelindung, Galih memang selalu datang di saat yang tepat. Ketika gadis itu sedang membutuhkannya, dan kehadirannya selalu memberi warna dan harapan baru. Dari warna hitam pekat, menjadi pelangi seperti hati Clara yang selalu berwarna ketika berada di dekat Galih.
"Sampai ketemu besok, Mas," gumam Clara pelan sambil tersenyum sendiri.
“Ra! Aku cek gudang ya! Tadi ada barang baru yang datang!” pamit Dion.
“Iya!” sahut Clara.
Suasana sangat sepi. Jam delapan malam biasanya masih banyak yang datang, tapi tidak dengan malam ini. Sudah sekitar satu jam tidak ada pengunjung.
Clara menoleh melihat ke jalan. Hawa dingin menyeruak dari pintu yang terbuka. Udara bertiup kencang.
Sebuah mobil berhenti. Kemudian, keluar seorang wanita dari sana. Parasnya sangat cantik, menawan. Alluna Azalea, model cantik tinggi semampai berjalan ke arahnya.
Clara langsung mengenal sosok wanita itu, karena baru-baru ini berita tentang Alluna Azalea, yang berhasil membintangi film di Hollywood sempat trending di berbagai media online.
Dengan takjub Clara mengamati wanita itu, tetapi dia tidak berani menyapa. Bahkan ketika wanita itu sudah berada di hadapannya.
“Berapa ini?” tanya perempuan cantik di hadapannya. Sebungkus rokok, dan sebuah pengaman bagi pria.
Alluna memberikan dua lembar lima puluh ribuan tanpa minta kembalian. Kemudian, wanita itu keluar dari mini market.
Mengobati rasa penasaran karena sang model membeli alat pengaman untuk pria, Clara melihat ke arah mobil. Ingin tahu siapa pria di dalam sana. Lebih tepatnya Clara penasaran siapa kekasih rahasia sang model.
Tidak banyak yang Clara lihat, kekasih dari Alluna, seperti bukan dari kalangan artis. Tidak tampan, yang Clara ingat hanya ada tato di bagian lehernya.
Ponsel Clara berdering. Ada panggilan dari Reyn.
“Halo!” Clara segera menerima telefon.
“Halo, besok kita bertemu sekitar jam makan siang! Aku akan ke kafe tempatmu bekerja!” ucap Reyn.
“Untuk apa Tuan, apa Anda tidak percaya kalau saya akan mulai membayar hutang saya?” tanya Clara.
“Jangan membantah! Atau ... !” Reyn menghentikan ucapannya.
“Tidak Tuan, mana mungkin saya berani membantah!” balas Clara cepat.
“Kau di mana sekarang?” tanya Reyn penasaran.
“Aku sedang bekerja!” jawabnya.
“Kau masih bekerja? Kau punya berapa pekerjaan memangnya?” tanya Reyn pura-pura tidak tahu.
“Siang aku bekerja di kafe dan malam aku bekerja di mini market!” jawab Clara jujur.
“Di sini hujan, apa di tempatmu juga hujan?” Reyn tiba-tiba memikirkan Clara. Merasa kasihan tapi tidak tahu harus berbuat apa!
“Sebentar lagi akan hujan!” jawab Clara. Angin bertiup sangat kencang.
“Kau pulang jam berapa?” Rasa penasaran Reyn belum berakhir.
“Jam sepuluh?” jawab gadis itu.
“Jauh tidak?” tanya Reyn.
“Hanya tiga menit dengan sepeda motor!” jawab Clara. Mulai terganggu dengan Reyn yang selalu menanyainya.
“Bagaimana kalau hujan!?!” Reyn ternyata sangat peduli.
“Ada jas hujan!” jawab gadis itu kesal.
Klik.
Tanpa kata-kata Reyn mengakhiri panggilan telefon begitu saja. Semaunya sendiri.
“Huftt dasar!” Clara mendengus kesal seraya menutup layar ponselnya.
**❤**
Sepuluh tahun, itu waktu yang sangat lama hanya untuk memikirkan satu nama seorang gadis.
Reyn menutup layar ponselnya. Mencoba memejamkan mata. Tidak peduli lagi dengan Clara. Bodoh amat dia kehujanan. Acuh saja kalau dia sakit.
Tangannya menarik selimut, kemudian ia bersembunyi di sana. Berharap kekhawatirannya pada Clara akan segera lenyap dan musnah. Namun, usahanya gagal. Ia menendang selimut sembarang dan keluar dari kamarnya.
Tidak lupa meraih kunci mobil dan hoodienya. Dugaannya salah, ia mengira sepuluh tahun adalah waktu yang cukup. Nyatanya di masih saja peduli.
Langkah Reyn semakin cepat. Menuruni tangga menuju lantai dasar. Suasana rumah sudah sepi, hanya ada kedua orang tuanya dan seorang pelayan yang berada di ruang tengah.
“Kamu mau ke mana?” tanya sang papa, Wisnu Hartanto.
“Keluar sebentar, Pa!” jawab Reyn. Berhenti sejenak, untuk menjawab pertanyaan dari papanya.
“Ini hujan Reyn, Faris juga sudah pulang!” protes Nyonya Reyna.
“Aku bukan anak kecil lagi Ma, dan sudah lama aku tidak bertemu dengan temanku!” dalih Reyn.
“Tunggu!” cegah mamanya lagi.
“Kamu tidak lupa kan? Besok ada jadwal bertemu Alluna?” tanya sang mama memastikan.
Reyn menatap seolah tidak paham.
“Kalau kalian saling suka, mama dan Tante Sesil akan mengumumkan pertunangan kalian bulan depan!” ucapnya.
Alih-alih mengiyakan atau menanggapi pernyataan sang mama, Reyn berlalu meninggalkan ruang tengah. Berlari kecil menuju garasi.
Pria itu duduk di belakang kemudi. Menjalankan mobilnya, menuju sebuah mini market. Tempat Clara bekerja malam ini.
Hujan deras mengguyur, jalanan tampak sepi. Terus mengemudi sembari melihat layar ponsel pintarnya. Mengikuti petunjuk arah.
Jam sembilan lebih lima menit Reyn, tiba di area parkir mini market tempat Clara bekerja.
Dari tempatnya duduk. Terlihat gadis itu tengah duduk tertunduk. Sesekali menegakkan kepala dan menguap.
Reyn terus menunggu sampai jam sepuluh tepat. Mini market di tutup dan bersama rekannya Clara keluar dari mini market.
Tanpa berpikir panjang, Reyn turun dari mobil dan menarik tangan Clara.
Clara tidak bisa menolak, dia yang mengantuk dan sangat lelah masuk ke dalam mobil Reyn.
“Tunggu! Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Reyn. Clara memeluk tubuhnya sendiri yang merasa kedinginan.
“Diamlah! Jangan banyak bertanya! Aku akan mengantarmu pulang!” paksa Reyn.
“Tidak, aku pulang sendiri aku tidak bisa meninggalkan sepeda motorku!” Clara berusaha membuka pintu.
“Jangan Khawatir!” Reyn menyalakan mesin mobilnya. Kemudian, mulai menjalankan kendaraan roda empatnya menuju ke tempat kos, gadis yang tengah duduk di sebelahnya itu.
“Tapi!” Manik mata Clara memandang keluar kaca. Melihat sepeda motor tuanya yang kehujanan. Entah bagaimana ia akan berangkat kerja besok pagi.
Reyn menyalakan mobil, lalu menjalankannya dengan kecepatan sedang.
Tak sampai lima menit Reyn menghentikan mobilnya di depan sebuah gang.
Hujan masih sangat deras. Sementara mobil milik Reyn tidak bisa masuk, karena jalan menuju rumah kos Clara hanya bisa dilewati sepeda motor saja.
“Aku akan turun sendiri! Tuan Reyn bisa pulang sekarang!” ucap Clara.
Reyn meraih tangan Clara, lalu memberikan sebuah payung. Warna ungu dengan motif boneka beruang.
“Besok pagi aku akan mengambil payung ini kembali! Awas saja kalau kau merusaknya! Bukan hanya guci yang harus kamu ganti tapi juga payung ini!” ucap Reyn tanpa melihat Clara.
Gadis itu menggigit bibir. Tuan muda di hadapannya sangat perhitungan. Bahkan pada benda seperti payung yang bisa di dapat di pasar tradisional saja dia mengingat harga, dan meminta Clara menggantinya.
“Ya, Tuan!” Clara keluar dari mobil. Reyn terus mengamati gadis itu menyalakan lampu mobil untuk memberi cahaya pada Clara yang tengah berjalan di derasnya hujan.
Reyn segera menjalankan mobilnya pulang ke rumah setelah Clara tidak terlihat lagi.
Hujan yang sangat deras membuat baju Clara tetap basah meski memakai payung. Angin yang bertiup membuat air hujan mengenai bagian lengan atasan baju yang ia kenakan.
Sampai di teras tempat kosnya, Clara segera masuk. Tak lupa membawa payung milik Tuan Reyn. Jika payung itu hilang, Clara sudah tidak tahu lagi dengan cara apa membayarnya.
Clara menyambar handuk, dan segera masuk ke kamar mandi. Ingin segera mandi. Dalam waktu lima belas menit gadis itu sudah selesai melakukan ritual mandinya.
Kemudian, Clara segera mengganti baju. Tidak ada pilihan, hanya dua piyama yang ia punya.
Bugh!
Clara merebahkan tubuhnya di atas kasur. Memandangi dinding seraya mendengarkan suara air hujan yang masih turun deras. Tidak ada yang indah dengan hari-harinya.
“Hah!” desahnya.
Beban di dadanya terasa berat dan tidak berujung kepada siapa Clara akan mengadukannya.
Rasa lelah dan kantuk membuatnya terlelap. Clara tertidur dan bertemu dengan pria misterius di masa lalunya.
.
.
.
.
To be Continue .