** 3 . Pertemuan Disengaja.

1839 Words
Part 3. "Kamu mau ke mana?" tanya Nyonya Reyna. Reyn terlihat sangat rapi. Dengan setelan jas hitam, sepatu warna senada. Rambutnya yang pendek dan cepak terlihat rapi, di tata ke atas. Bau harum semerbak dari tubuhnya. "Aku ingin makan di luar, Ma," jawabnya asal. Ia membenarkan letak arloji, sementara bau wangi parfumnya merebak ke seluruh ruangan. Nyonya Reyna seolah tak mengenali anaknya lagi. Dulu saat masih remaja, Reyn cuek dengan penampilannya tetapi sekarang ia berubah drastis hanya ingin makan di luar saja ia mengenakan pakaian rapi dan sangat wangi. "Mama kira, ini hari pertamamu masuk kerja!" ucap wanita itu. Ada senyuman mengembang, Reyn memang selalu menggemaskan, tingkahnya selalu lucu, begitulah pandangan Nyonya Reyna mengenai putra semata wayangnya itu. Reyn memiliki seorang kakak perempuan, adiknya juga perempuan. Dia anak kedua dari tiga bersaudara dan satu-satu nya anak laki-laki. Pewaris utama seluruh harta kekayaan keluarga. "Tidak Ma, masih ada waktu tiga hari sebelum Papa mengumumkan semuanya, dan aku ingin menikmati hari bebasku sebelum mulai bekerja," jawab Reyn. Pandangan matanya selalu menatap arloji seolah tidak sabar bertemu dengan Clara, ya berjumpa dan membalas dendam adalah keinginannya saat ini. "Baiklah, selamat bersenang-senang," jawab wanita itu dan kembali sibuk dengan gawai di tangannya. Menjadi istri dari Wisnu Hartanto, wanita itu tak pernah mengkhawatirkan keuangannya. Sang suami selalu menyodorkan banyak uang untuknya. Reyn keluar rumah, diikuti Faris dan sekretarisnya. Ya! Pria itu akan mengikuti ke mana pun ia pergi. Faris duduk di belakang kemudi, sedangkan Reyn duduk di kursi belakang. Musik jazz mengalun dengan suara pelan. Mobil mulai berjalan keluar gerbang dengan kecepatan sedang. "Kita mau ke mana Tuan," tanya Faris. Tetap fokus mengemudikan mobil ferarri hitam favorit Reyn. "Ke sini," jawab Reyn, menunjukkan brosur Caffe kopi dengan tangan kanan. "Baik." Faris mulai menambah kecepatan mobilnya. Senyuman Reyn di spion depan membuatnya merasa antusias menemani bos barunya itu. Mobil terus berjalan membelah jalanan kota, hingga dua puluh menit kemudian sampailah mereka di caffe kopi tujuan, tempat di mana Clara bekerja. Faris turun terlebih dahulu, berjalan melingkar lalu membuka pintu untuk Tuan Reyn. Pria itu keluar dari mobil, melepas kaca mata hitamnya, menampakkan wajah tampannya. Kemudian mereka berjalan beriringan ke dalam kafe. "Cari tahu siapa pemilik kafe ini!" titah Reyn. terus berjalan, mengacuhkan pandangan orang-orang yang melihat ke arahnya. Di mana pun ia berada selalu menjadi pusat perhatian. Tubuhnya tinggi tegap dengan dengan kulit putih yang membungkus ototnya yang sempurna. Lengannya yang terlihat kekar porposional. Semua yang dikenakannya juga baju bermerk dengan harga mahal. "Baik Tuan," jawab Faris. Berjalan di sebelah Reyn membuat auranya lenyap. Namun, ia merasa bangga bisa menjadi sekretaris pribadi dari calon pria hebat di sampingnya itu. Reyn duduk, memilih meja di ujung yang bisa dengan jelas melihat dan mengamati pelayan yang bekerja di sana, ia hanya mencari Clara. Ya, gadis itu, semua rasa benci dan cintanya tercurah pada gadis itu. Reyn kali ini tidak akan berbuat banyak ia hanya menatapi Clara dari kejauhan. tak ada hal lain yang ingin ia lakukan kecuali memandanginya. Lima menit Reyn hanya duduk dan tidak melakukan apapun. "Apa kamu sudah menemukan siapa pemiliknya?" tanya Reyn. Ia mengalihkan kedua netranya pada ponsel yang baru berbunyi. Faris baru saja mengirim informasi kepadanya mengenai siapa pemilik Caffe kopi itu. Reyn dan Faris saling berpandangan dan tersenyum, menyembunyikan rencana rahasia mereka. Clara yang penasaran dan melihat Reyn masih duduk di tempatnya tanpa memesan apapun memutuskan untuk mendatangi pria itu. Gadis itu melangkah pelan, dan tegap. Daftar menu ada di tangan kanannya. Ia sangat percaya diri bahwa Reyn telah mengikutinya karena tidak percaya dengan kalau dia akan membayar hutang senilai dua milyar itu. Bukan hanya Reyn siapapun orangnya pasti tidak akan percaya. "Silakan di pesan, Tuan," tawar Clara ia mengulurka dua daftar menu, satu untuk Reyn, dan satunya lagi untuk pria yang sedari tadi duduk di sampingnya dengan raut wajah yang mecurigakan. Reyn membaca daftar menu, melihatnya dengan saksama. "Aku tidak akan memesan apapun, tidak tertarik, aku hanya memastikan kamu tidak akan kabur, dari hutangmu senilai dua milyar itu?" tegas Reyn dengan ekspresi sombong dan mengesalkan. "Baik, Tuan," jawab Clara. Ia mengambil buku menu itu kasar dengan hati merasa dongkol. Gadis itu berbalik, ingin kembali ke dapur. "Tunggu! Kau mau ke mana, duduklah di sini!" titah Reyn dengan suara berwibawa seperti biasanya. Clara menurut duduk di hadapan Reyn. Sejenak mengamatinya dengan saksama. Wajahnya tampan, kulitnya putih, hidung mancung, rahang yang tegas dengan bentuk muka yang nyaris sempurna, kedua matanya hitam seperti mutiara. Sekilas Clara mengingat seseorang melalui binar dari kedua manik matanya itu. "Mana?" Reyn, mengulurkan tangan meminta surat yang telah dibuat Faris. Di dalamnya terdapat surat perjanjian antara dirinya dan Clara, lebih tepatnya gadis itu tidak akan kabur sebelum melunasi hutangnya. "Tanda tangan di sini!" titah Reyn, menunjukkan surat bermaterai itu. "Surat apa ini?" tanya Clara dengan nad lembut, ragu dan takut. "Apa aku perlu mengejanya untukmu?" gertak Reyn. Menatap tajam ke arah Clara, ya gadis itu adalah perwujutan dari segala rasa benci dan rasa cinta Reyn. "Tidak!" Clara menggelengkan kepala dan meraih kertas itu dengan gesit. Mulai membacanya dari atas hingga ke bawah. "Kamu tidak akan mencoba kabur dariku kan?" tanya Reyn dengan kedua mata membulat, menguasai serta mengintimidasi lawan bicaranya. "Saya tidak berani kabur Tuan, saya akan mulai membayar hutang saya bulan depan Tuan," jawab Clara dengan pelan. Semua pelanggan Caffe mulai melihat ke arah meja mereka bukan karena tertarik dengan apa yang mereka bicarakan. Mereka semua penasaran dengan Reyn, wajahnya memang sangat tampan. Wajar jika menjadi pusat perhatian. "Baiklah!" Reyn mengisyaratkan pada Faris untuk segera pergi dari tempat itu. Pikirannya mulai berjalan lancar menyusun rencana untuk membuat drama dan sebuah sandiwara. Mencari tahu lebih banyak lagi mengenai gadis itu dan membuatnya lebih dekat lagi, hingga seluruh waktu yang di milik Clara sepenuhnya milik Reyn. Semua akan di lakukan Reyn, agar Clara membayar semua rasa malu dan luka di masa lalunya. Clara pantas membayar mahal, apa yang telah dilakukannya dulu. Gadis sombong yang dulunya bintang sekolah itu, kini bertekuk lutut, memohon ampunan, menurut dan tunduk kepada pria yang pernah dihina, dipermalukan dan di tolak cintanya, sepuluh tahun yang lalu. === Clara Nathania. Sejak lulus SMA hidupnya berubah drastis. Kedua orang tuanya meninggal karena bunuh diri akibat terjerat hutang. Hutang itu lumayan banyak sekitar delapan tahun yang lalu, senilai tiga ratus juta. Rumah dan semua harta di jual untuk melunasi semua hutang orang tuanya. Setelah semua barang berharga dijual, masih ada seratus juta lagi hutang orang tua Clara pada seorang rentenir. Kemudian, Clara mengubur dalam-dalam mimpinya untuk kuliah. Bukan hanya itu, Ia pun hidup dalam keterpurukan karena kehilangan kedua orang tuanya. Kerabat dari ayah dan ibunya, lepas tangan tidak ada yang mau membantunya hanya seorang tetangga yang bernama Galih yang merasa kasihan dan peduli padanya. Gadis itu bekerja keras untuk melunasi sisa hutang orang tuanya. Siang ia bekerja di Caffe kopi dan malamnya ia bekerja sift malam di toko swalayan. Saat hari libur ia bekerja part time mengantar pitzza. Malam ini Clara sedang merebah di kamar kost. Ia sudah menyewanya selama empat tahun. Di sebuah gang kumuh, dengan jalan setapak yang hanya bisa di lewati sepeda motor. Cukup nyaman, meski cat dindingnya sudah cukup tua kamar 3x4 itu menjasi saksi hidup perjuangannya. Gadis itu merubah posisi tidurnya. Terlentang memandangi langit-langit kamarnya yang suram. Pikirannya menjadi gelap, dua bulang lagi hutang seratus juta yang sudah di bayarnya selama delapan tahun akan lunas tetapi, karena kecerobohannya kini Ia berhutang lagi senilai 2 milyar. Bayangkan hutang 100 juta saja, Ia butuh waktu delapan tahun untuk melunasinya, bagaimana dengan hutang sebanyak 2 milyar, apa iya hidupnya hanya untuk membayar hutang? "Huft," desah gadis itu kesal. Apa yang harus aku lakukan. Untuk melunasi hutang aku hanya bisa istirahat selama enam jam sehari, dan waktu tidurku hanya empat jam. Apa iya aku harus bekerja terus sepanjang hari? Beberapa posisi tidur Ia coba, tetapi matanya tak kunjung terpejam juga. Clara sudah jarang sekali menangis, terlalu banyak kesedihan dalam hidupnya yang sudah dilalui dan membuatnya tegar seperti sekarang. Gadis itu meraih ponsel di tas kerjanya. Satu-satunya benda berharga yang dimilikinya. Ada beberapa nomor kontak teman-teman SMA nya. Namun, saat ia mengirim pesan mereka semua seolah tidak mengenal dan bahkan tidak ingin tahu mengenai kabar tentang dirinya. Saat SMA, hidupnya benar-benar mudah. Kedua orang tua sangat menyayanginya. Semua keinginan selalu di berikan, dimanja dan jarang sekali di marahi. Namun, semua itu sudah berubah. Kebahagian dan canda seolah berhenti. Hidup Clara begitu memprihatinkan dan seolah terbuang. Aku harus tidur, besok harus kerja!! Clara meringkuk di balik selimut. Memeluk tubuhnya sendiri. Begitulah setiap malam ia habiskan dalam kesunyian dan kesendirian. Pukul lima pagi, alarm berbunyi. Clara beranjak dari tidurnya. Mandi pagi kemudian bersiap berangkat ke tempat kerjanya. *** Clara menaiki sepeda motor. Benda itu adalah satu-satunya kendaraan yang dimilikinya, satu-satunya benda yang tidak ia jual, dan satu-satunya pemberian dari orang tuanya yang masih ada. Dulu, Clara tidak menyukai sepeda itu, bahkan merengek dibelikan mobil di ulang tahunnya yang ke-17. Ya! Benda yang dulu tidak berguna itu sekarang menjadi sangat penting dan berharga karena bisa ia gunakan semaksimal mungkin. Sesampainya di tempat kerja bersama Mita dan Anya, Clara membersihkan ruangan Caffe dan menyiapkan segala yang di perlukan. Ia dan Mita membersikan meja pengunjung. Dengan lap basah di tangannya. "Apa kamu bisa mencarikanku pekerjaan tambahan? Aku butuh uang lebih banyak!" tutur Clara sembari membersihkan terus menggerakkan tangannya membersihkan meja. "Apa kamu tidak mau istirahat? setelah pulang dari tempat ini, kamu masih harus bekerja cuci piring di kedai? Hari sabtu saat libur kamu juga bekerja mengantar pitzza, menurutku, porselen dua milyar itu bukan kesalahanmu kamu harus menegaskan pada pria sombong itu!" nasihat Mita, saat kejadian poselen Mita juga berada di sana, Ia menganggap kalau porselen itu sampai pecah bukanlah kesalahan Clara. Melainkan kesalahan sang pemilik. Tuan Muda Reyn, yang sangat tampan tapi juga sombong itu. "Sebentar!" Clara berhenti, mengingat kembali kejadian malam itu. Memang sangat aneh, pukul sebelas malam saat semua pekerjaan telah selesai kenapa Tuan Muda itu menyuruhnya melakukan pekerjaan yang tidak penting. Benar-benar aneh seperti sesuatu yang disengaja. "Bicaralah dengannya, aku tidak mau ketidakadilan menimpamu!" tegas Mita. Tidak tega dengan seluruh beban hidup Clara. "Hey, tunggu bukankah kau memiliki teman yang menjadi seorang pengacara? Siapa aku lupa namanya!" usul Mita, merasa sangat kasihan pada Clara. Bukan rahasia lagi jika selama ini temannya itu bekerja hanya untuk membayar hutang. Kadang untuk makan di akhir bulan Clara akan meminjam uang pada Anya atau Mita. Gajian hanya numpang lewat begitu saja. "Emm, yang kamu maksud Kak Galih?" Clara menebak apa yang di pikirkan Mita. Selama ini hanya Galihlah, satu-satunya pria yang ia sebut dan pernah ceritakan pada kedua temannya. Pria itu tetangga sekaligus teman yang baik. "Iya," jawab Mita tegas. Clara pun mengangguk pelan, pulang dari Caffe dan sebelum berangkat kerja ke tampat selanjutnya akan menemui Galih di rumahnya. Satu-satunya harapan agar bisa lepas dari jerat dua milyar. Hutang yang tak pernah ia sangka. "Aku yakin dia akan membantumu!" ujar Mita antusias. Profesi Galih sebagai pengacara membuat Mita semakin yakin, bantuan dari pria itu bisa menolong Clara. Untuk pertama kalinya Clara bisa bernafas dengan sedikit lega. Tidak! Tidak ingin di hidupnya yang singkat ini hanya digunakan untuk bekerja dan membayar hutang. === To Be Continue.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD