"Semua tamu sudah pulang, Tuan Reyn, saya akan pergi sekarang," ucap Faris. Sudah memastikan semua kembali pada semula. Perjamuan makan sudah selesai, tamu-tamu sudah pulang. Tuan Wisnu dan Nyonya Reyna sudah istirahat di kamar mereka. Hanya tinggal beberapa orang yang masih di ruang depan. Beberapa pelayan dan sebagian orang katering.
"Sebentar," cegah Reyn.
Ia melihat tiruan guci atau porselen yang berada di kamarnya. Ya porselen itu hanya tiruan dari guci asli yang berada di ruang tamu. Kemiripannya hampir sembilan puluh persen.
"Masih adakah yang harus aku lakukan, Tuan?" tanya Faris. Hati pertama kerjanya dengan Reyn, tidak mungkin ia memberikan kesan buruk. Terlebih, saat ini ia sudah di tugaskan Tuan Wisnu untuk mengajarinya mengenai perusahaan dan menjadi penerus.
"Suruh orang, bawa guci ini, tukarlah dengan yang ada di ruang tamu," titahnya. Reyn mengalihkan pandangan ke pergelangan tangan, melihat jam dindingnya yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
"Baik Tuan," sahut Faris.
Ia melakukan panggilan telefon, memerintahkan seorang pelayan naik ke lantai dua.
Dua menit kemudian seorang wanita berusia 29 tahun, naik ke lantai atas. Dia adalah kepala para pembantu di rumah. Mengatur dan mengawasi para pekerja, agar semua berjalan lancar dan teratur.
"Farah, bawa guci ini untuk menukar guci yang berada di bawah," suruh Faris. Farah sendiri adalah adik kandung Faris yang usianya hanya selisih satu tahun.
"Iya," jawabnya. Kemudian, bersama dua orang lainnya ia menukar guci itu sesuai yang di perintahkan.
Setelah selesai Faris, kembali masuk ke dalam kamar Reyn.
"Tuan, saya sudah menukarnya, selamat beristirahat," pamit Faris.
Ia pergi dari ruang kamar Tuan Reyn, setelah memastikan pria itu menganggukkan kepala memberi izin. Hari ini cukup melelahkan untuk dirinya, tetapi juga semangat baru bagi dirinya yang sudah mengabdi bekerja di rumah ini selama lima tahun.
Reyn, tersenyum nakal. Otak jailnya berpikir untuk mengerjai Clara. Guci asli sudah di amankan dia segera turun ke lantai bawah. Antusias sekali kakinya berpijak menuruni tangga.
"Tuan, apa yang bisa saya bantu?" tanya Farah yabg sedang mengawasi para pelayan yang masih mengatur dan menata ruang tamu. Membersihkan, merapikan seperti semula.
"Aku ingin wanita yang itu, membersihkan guci ini!" pintanya. Jari telunjuknya mengarah pada Clara yang sedang merapikan stand minuman, terlihat juga dua orang petugas katering lain yang sedang bersama dan membantunya.
"Tuan, itu bukan pelayan di rumah ini, itu. petugas katering!" protes Farah. Menyipitkan mata mendengarkan perintah Tuan Reyn, penghuni baru di kediaman rumah Pak Wisnu.
"Memangnya kenapa, aku ingin wanita itu yang membersihkan guci ini!" tegasnya tak dapat diganggu gugat.
"Baik, Tuan," sahutnya memberi hormat. Berjalan menghampiri wanita yang mengurus katering minuman.
Sesampainya di samping wanita yang di tunjuk Tuan Reyn, Farah berpikir sejenak.
"Mbak, bisakah Anda membantu saya?" kata Farah, ragu sekali ingin memerintah. Wanita itu bukan bagian dari pelayan rumah yang bisa ia perintah dan suruh, seenaknya.
"Apa yang bisa, saya bantu, Mbak," jawab Clara ramah. Kedua tangannya sibuk merapikan gelas, memisahkan yang kotor dan yang masih bersih.
"Tolong, bersihkan guci yang berada di samping tangga itu, Tuan muda kami, ingin Anda yang membersihkannya!" pintanya. Farah menggigit bibir bawah, tidak yakin wanita muda itu mau melakukan perintahnya.
"Emm," Clara berpikir sejenak. Melihat wajah wanita di hadapannya yang ketakutan dirinya dapat menebak jika Tuan muda yang sedang berdiri di ujung tangga itu, yang memerintahkan hal itu padanya. "Baik, saya akan membersihkannya," jawab Clara tanpa pikir panjang.
Kemudian, Clara berjalan menuju tangga, dengan kain lap yang ada di dalam celemeknya ia membersihkan guci dengan gambar bunga abstrak di bagian depannya. Ia mulai, membersih bagian atas dan turun ke bawah.
"Dengan apa kamu membersihkannya?" bentak Reyn. Membuat para pelayan dan petugas katering terperangah melihat ke arah nya. Kelopak mata Reyn menyipit, melirik tajam gadis yang sedang berlutut sambil mengusap halus guci tiruan itu.
"Ini," jawab Clara memperlihatkan kain lap miliknya. Tentu saja bekas membersihkan stand minuman.
"Apa?" ucap Reyn sembari menarik tangan Clara, yang membuat gadis itu berdiri dan secara tidak sengaja menjatuhkan benda antik itu di lantai.
Pyaaarrrr
Suara guci itu, membuat orang yang berada di ruang tamu menoleh ke arah Clara.
"Kamu! Kamu tahu harga porselen itu!" bentak Reyn, marah. Namun, hatinya merasa puas, rencananya berhasil. Clara masuk dalam perangkapnya.
"Maaf Tuan, saya tidak sengaja, maaf Tuan," ucap Clara, berlutut di hadapan Reyn sangat ketakutan. "Saya akan menggantinya Tuan," katanya tak berpikir panjang mengira benda itu sama dengan guci biasa yang sering di lihatnya.
"Benarkah, kamu ingin menggantinya?" tanya Reyn. Gadis itu semakin masuk dalam perangkapnya.
"Iya, Tuan saya akan membeli guci yang mirip dengan guci yang saya pecahkan?" tantang Reyn, ia memicingkan mata melihat Clara yang gemetar karena ketakutan.
"Kamu tahu, guci itu hanya ada satu di dunia ini, dan harganya dua miliyar, aku tifak mau tahu pokoknya kamu harus menggantinya!" tegas Reyn. Pandangan matanya tajam, dan dalam. Rencananya berhasil.
"Apa? Dua milyar?" Clara memastikan.
Bola matanya membulat, tidak menyangka ia baru saja melakukan hal yang paling ceroboh dalam hidupnya.
Mampus, dua milyar dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak itu Clara! Apa lagi ini! Haruskah seumur hidup kamu menghabiskannya untuk membayar hutang. Kontrakan belum di bayar, masih hutang almarhum papa yang harus di bayar tiap bulan, di tambah lagi dua miliyar.
Clara menelan ludah pelan. Semangat hidupnya berkurang, tinggal tiga bulan lgi ia bisa melinasi hutang almarhum papanya, kini ada hutang baru yang harus ia lunasi. Dua miliyar, berapa lama dia harus bekerja di caffe kopi hingga terkumpul uang dua miliyar.
Reyn mengarahkan pandangan ke jam tangannya, sudah hampir jam sembilan malam. Ia memutuskan untuk mengakhiri pertemuannya dengan Clara sekarang juga.
"Besok aku akan ke tempat kerjamu, kita akan membicarakan tentang porselen dua miliyar ini besok, aku harus pergi beristirahat sekarang!" kata Reyn dengan bangga. Ia segera berjalan menaiki tangga, meninggalkan ruang tamu dengan perasaan yang amat puas. Clara harus membayar mahal untuk kejadian sepuluh tahu yang lalu, yang sangat membekas di hatinya.
"Iya, Tuan," lirih Clara, seluruh tubuhnya benar-benar merasa lemas. Kedua temannya berlari ke arah gadis itu. Menuntun Clara untuk bangkit, sedangkan beberapa orang pelayan memunguti pecahan guci yang berserakan di lantai.
"Mati aku!" gumam Clara lirih. Sementara Anya dan Mita, ikut menunduk seolah merasakan masalah yang sedang di hadapi sahabatnya itu.
To be Continue.