Part 9
Cuaca malam ini sangat cerah. Gelapnya malam dihiasi bintang gemintang. Ya begitulah, waktu dan semesta terus saja berjalan. Tidak pernah menunggu meski seseorang tengah berhenti dan tertatih sendirian.
Kenangan malam itu kembali terlintas di benak Clara. Ketika, ia baru saja pulang. Rumahnya dalam keadaan berantakan. Clara yang merasa aneh menerobos masuk dan melihat banyak darah di lantai.
Clara remaja terus mengikuti, hingga tiba di kamar orang tuanya. Sang ibu sudah meninggal dengan bersimbah darah, sementara ayahnya tergantung di langit-langit kamar.
Sejak saat itu hidupnya mulai berubah. Beberapa kenangan dalam ingatannya hilang. Termasuk kejadian hari itu. Di saat Reyn mengutarakan cinta, lalu dia menolak.
“Kau yakin akan berhenti bekerja di sini?” tanya Dion. Pria berusia 25 tahun yang menjadi rekan kerja Clara tidak mengetahui banyak hal. Yang ia tahu, Clara membutuhkan banyak uang. Hanya itu saja.
“Iya, aku rasa aku harus berhenti bekerja di sini!” ujar Clara. Ia menunduk, merasa sangat lelah. Hari ini.
“Apa kamu tidak perlu uang lagi?” selidik Dion. Mengamati Clara dengan saksama. Dua tahun menjadi rekan kerja. Baik Clara ataupun Dion tak mengetahui banyak, satu sama lain.
Jam di dinding menunjukkan pukul 21.40 WIB. Sudah tidak ada pengunjung lagi, sehingga mereka bisa bebas mengobrol.
“Bukannya aku tidak butuh uang! Aku bahkan sangat membutuhkan banyak uang!” jawab Clara. Mendengus panjang mengurangi beban di dadanya.
“Lantas kau akan bekerja di mana?” Dion terus bertanya, mungkin mulai saat ini dia akan jarang sekali melihat dan bertemu dengan Clara.
“Ada seorang Tuan Muda yang menginginkan aku bekerja di rumahnya,” jawab Clara asal.
“Apa itu, Tuan Muda yang kamu maksud?” tanya Dion memastikan menunjuk sebuah mobil yang terparkir di seberang jalan. Cahaya lampu yang remang membantunya melihat sosok pria yang sedari tadi mengawasi mereka dari kaca mobil yang dibiarkan terbuka.
Pandangan Reyn dan Clara bertemu. “Iya, aku punya banyak hutang padanya. Aku bekerja seumur hidup saja belum tentu bisa melunasi hutang-hutangku padanya!” jawabnya. Kedua manik mata sang gadis masih mengamati Reyn.
“Emm...,” Dion mengangguk. “Temui dia, pulanglah lebih cepat hari ini! Aku akan menutup toko sendiri,” pinta Dion.
“Tidak!” tolak Clara.
“Jangan menolak, biarkan aku melakukan sesuatu untukmu, lagi pula ini tidak seberapa!” kata Dion meyakinkan.
Clara melihat jam, masih ada waktu lima belas menit. Namun, akhirnya ia memilih untuk menuruti ucapan Dion.
Clara mulai mengemasi barang miliknya. Ponsel, charger, dan beberapa alat tulis ia masukkan ke dalam tas.
“Dion, terima kasih ya! Maaf jika aku sering melakukan kesalahan!” ujar Clara mengulurkan tangan untuk berjabat.
“Iya, Ra! Baik-baik ya Ra!” balas Dion.
Clara mengangguk, lalu melangkah keluar dari mini market.
Ia menghampiri Reyn yang sudah menunggunya.
“Tuan sudah lama Anda menunggu?” tanya Clara.
“Masuklah! Bukankah hari ini seharusnya kau sudah berada di rumahku?” protes pria itu.
“Maaf Tuan, ini tanggal 30 aku harus bekerja sampai akhir bulan jika ingin mendapat gaji penuh tanpa potongan,” sahut Clara.
“Oh.” Reyn mengangguk paham. “Cepat naik!” titahnya.
“Tapi Tuan, aku harus pulang ke kos!” ucap Clara.
“Tidak, ikutlah denganku sekarang!” titah Reyn. Tidak ingin mendapat penolakan.
“Bagaimana dengan motorku!”
“Besok aku akan mengurusnya! Cepatlah naik, ini sudah malam!” desak pria itu.
Clara berjalan melingkar, duduk di samping Reyn. Kemudian, pria itu mulai menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.
Sebenarnya, Reyn ingin sekali mencerca Clara dengan pertanyaan mengenai apa yang terjadi. Namun, melihat keadaan Clara yang pucat, Reyn mengurungkan niatnya.
Sepanjang perjalanan mereka berdua sama-sama bungkam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
Hingga mobil berhenti di area parkir apartemen.
Tanpa bicara, Reyn keluar dari mobil, refleks Clara mengikutinya.
Pintu lift terbuka. Reyn menggandeng tangan Clara, memintanya untuk masuk. Tidak ada penolakan, Clara ikut masuk ke dalam.
Memangnya mau kabur ke mana lagi. Tidak ada tempat yang aman.
Sementara Reyn hanya berpikir, dengan membawa Clara ke dalam apartemennya, gerak-gerik gadis itu akan terbaca. Mungkin juga akan membuatnya mengetahui lebih banyak mengenai kematian Alluna.
Pintu lift terbuka. Reyn berjalan memimpin, sementara keheningan terjadi di antara keduanya.
Rasa lelah membuat Clara terus menundukkan kepala. Bahkan, hampir saja ia menabrak tubuh kekar Reyn yang berdiri di depannya.
Pintu apartemen terbuka. Clara mengekor, masuk ke dalam apartemen Reyn.
“Tuan,” lirih Clara ragu.
“Ya!” jawab Reyn.
“Bolehkah aku bekerja mulai besok?” tanya Clara. Melihat ruang tamu dan ruang tengah yang berantakan, Clara beringsut. Hari ini sangat melelahkan.
“Tentu! Tidurlah, aku bukan pria kejam yang akan membuatmu bekerja selarut ini. Reyn melirik ke arloji di pergelangan tangan kirinya yang sudah menunjukkan pukul 22.35 WIB.
Kruk.
Kruk.
Kruk.
Bunyi perut Clara terdengar nyaring, membuat gadis itu menghentikan langkah seraya memegangi perutnya.
“Kau lapar?” tanya Reyn menyipitkan mata dengan pandangan penuh tanya.
Clara hanya menggigit bibirnya. Jika seluruh tubuhnya bisa protes, mungkin mereka akan mengeluh banyak hal karena pola hidup Clara yang berantakan. Perut lapar, kepala pusing, wajah pucat, badan lelah, dan sangat mengantuk.
“Sebagai kepedulian antar manusia aku akan memasak mi kuah untukmu! Duduklah!” titah Reyn gemas.
Pria itu melangkah ke dapur. Menggelengkan kepalanya pelan. Clara yang sekarang berbeda dengan Clara sepuluh tahun yang lalu.
Dulu dia cantik, pintar, menawan, bicaranya memesona. Namun, sekarang sangat berbeda. Pesonanya memudar berganti menjadi Clara yang lemah dan kacau. Reyn mulai ragu benarkah dia Clara yang sepuluh tahun lalu menolak cintanya?
“Sebenarnya kau kenapa?” gumam Reyn sembari menyelakan kompor untuk mendidihkan air.
Reyn memasukkan mi instan. Menunggu hingga matang, menyajikannya di mangkuk. Tak lupa memberikan kuah dan taburan bawang goreng.
Kemudian, ia membawa semangkuk mi ke hadapan Clara.
“Makanlah!” titah Reyn.
Clara bukan segera mengambil mangkuk dan memakan mi yang di masak Reyn. Dia hanya diam.
Detik berikutnya.
Clara sudah tidak bisa menahan lagi air matanya yang sudah merebak.
Hikz.
Hikz.
Hikz.
Ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Hari ini sangat berat. Teramat sangat berat baginya.
“Sebagai kepedulian antar manusia, aku akan meminjamkan bahuku. Menangislah, sepuasnya!” Tangan Reyn terulur mendekap Clara membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya.
To be Continue.
To be Continue..
Hallo gaes,
Ini karya orisinal Dreams dejavu yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.