Part 10.
Pagi hari tengah berolahraga di ruang fitnes yang berada di ruang paling ujung. Untuk hari ini ia memberi sedikit kelonggaran bagi Clara.
Reyn menghentikan aktivitasnya. Ia melangkah keluar dari ruang fitnes bersamaan dengan Clara yang keluar dari kamarnya.
“Buatkan sarapan! Mulai hari ini kau bekerja padaku! Atau ...,” Reyn menghentikan ucapannya menahan diri untuk tidak mengancam gadis itu.
“Baik Tuan, aku akan ke bawah untuk membeli bahan makanan!” jawab Clara. Tidak berani membantah. Kadang ia merasa Reyn begitu perhatian, tetapi kadang ia merasa Reyn amat sangat membencinya. Pagi ini, sang Tuan Muda sepertinya dalam mood yang buruk karena terlihat membencinya.
“Tidak perlu, buatkan aku s**u hangat tanpa gula dan kupas beberapa buah yang ada di kulkas, kamu juga siapkan makanan untukmu sendiri!” jelasnya.
“Baik Tuan!” jawab Clara.
“Jangan lupa antarkan ke kamarku!” imbuhnya.
“Iya, Tuan!”
Reyn melangkah menuju kamarnya sementara Clara berjalan menuju dapur.
Ruang dapur di apartemen, tidak terlalu luas, menjadi satu dengan meja makan.
Clara mengambil gelas, membuat s**u tanpa gula sesuai pesanan Reyn. Kemudian ia mengupas mangga dan apel, menaruhnya di piring yang berbeda.
Tanpa berpikir panjang Clara segera membawa nampan berisi buah dan s**u ke kamar Reyn.
“Tuan!” panggil Clara seraya mengetuk pintu.
Tidak ada sahutan. Kemudian, gadis itu membuka pintu.
Cklek.
Tampak Reyn tengah memegangi pintu dan berdiri sangat dekat dengan Clara.
“Masuklah!” titah Reyn. Membuka pintu kamar lebar-lebar mempersilakan Clara untuk masuk ke dalam.
Gadis itu melangkahkan kaku, menerobos masuk. Menundukkan kepala agar tidak melihat Reyn yang masih bertelanjang d**a dengan handuk putih yang melilit pinggangnya.
Tangan Clara terulur meletakkan nampan di atas nakas. Dengan menundukkan kepala dan menjaga pandangan dengan kedua tangan di dua sisi wajahnya Clara berniat keluar dari kamar Reyn.
“Kau mau ke mana?” tanya Reyn dengan suara kerasnya. “Mulai hari ini kau sudah bekerja di rumahku, rapikan kamarku dan bawa makan pagiku ke ruang tengah, kita akan bicara di sana!” jelas pria itu. Mengamati Clara yang terlihat ketakutan.
“Baik Tuan!” jawab Clara menurut.
“Kau tidak lupa kan! Dua milyar itu harus kamu bayar!” ucap Reyn mengingatkan.
“Tentu Tuan, saya tidak lupa!” jawab Clara.
Sementara Reyn pergi kw set lemari baju, Clara mulai merapikan kamar tidur Reyn.
Ranjang, dan selimut yang di dominaasi warna putih, ia rapikan. Kemudian, ia menyapu ruang kamar. Tak lupa membuka semua tirai kamar.
Sejenak ia melihat pemandangan pagi hari dari jendela kamar Reyn. Sebelum akhirnya ia memutuskan untuk keluar kamar seraya membawa nampan berisi buah dan segelas s**u menuju meja makan.
Tak berapa lama Reyn menghampiri Clara di dapur. Ia duduk dan menunggu Clara yang sedang mencuci gelas kotor.
“Duduklah!” titah Reyn.
Clara menoleh kemudian menghampirinya. Duduk di samping pria itu.
“Jadi mulai sekarang kau bekerja denganku, siang kau boleh bekerja di kafe oagi dan malamnya kau bekerja di sini!” jelas Reyn.
“Baik Tuan!”
“Untuk kontraknya besok saja!” tegas Reyn.
“Baik Tuan!”
Reyn mendengus nafas kesal. Ada yang aneh dengan Clara dia selalu menurut saja.
“Clara!” panggil Reyn.
“Dari mana Tuan tahu nama saya!?!” tanya gadis itu.
“Tentu saja aku tahu namamu! Sebentar, apa kau benar-benar lupa denganku?” tanya Reyn lagi memastikan. Ia menuntun wajah Clara untuk melihat wajahnya dari dekat.
“Tidak Tuan, saya tidak lupa Anda Tuan Reyn!” sahutnya seraya melemparkan senyum.
“Namaku Reyn Hartanto!” jelas Reyn berharap Clara mengingat kejadian buruk sepuluh tahun silam.
“Iya Tuan Reyn!” tegas Clara.
“Kamu Clara Nathania yang sekolah di SMA Bhakti Karya kan?” desak Reyn. Ia mulai terganggu dengan Clara yang tidak mengingat dan mengenalinya lagi. Rasanya sia-sia balas dendam, tetapi Clara tidak mengingat perbuatan yang telah ia lakukan.
“Iya Tuan, Anda tahu dari mana?” Clara menggelengkan kepala keheranan.
Tangan Reyn bergerak mengambil ponsel. Kemudian, ia membuka galeri foto. Ia berhenti menggeser layar ponsel ketika melihat potret siswa-siswi kelas XII IPA 2 berada di depan sekolah.
“Apa kau mengingat foto ini?” Reyn menunjukkan foto itu pada Clara.
Clara mengamati foto itu. “Ini saya dan teman-teman saya!” ucapnya seraya tersenyum.
“Apa kamu mengingat anak ini?” tanya Reyn. Menunjuk siswa gendut yang berdiri di sebelah kanan Clara. Yang merupakan dirinya semasa
Kedua manik mata Clara mengamati siswa yang ditunjuk Reyn. Menajamkan penglihatannya beberapa kali.
“Dia teman sekelas saya!” jawab Clara. Begitu yang dia ingat.
“Apa kau tahu namanya?” selidik Reyn. Ia berusaha menahan diri untuk tidak marah.
“Tidak!” Clara menggelengkan kepala.
“Dari mana kamu tahu itu teman sekelasmu?” tanya Reyn seraya menelan ludah yang teramat getir. Ia mengira dengan mengetahui nama aslinya dan foto masa SMA-nya Clara akan mengingat! Nyatanya tidak sama sekali dan hal itu membuatnya sangat kesal.
Kepala Reyn tertunduk berpikir sejenak. Rencana menjebak Clara berasa sia-sia karena gadis itu tak mengingat perbuatan yang telah ia lakukan.
“Saya ingat saat itu saya dan teman-teman sekelas baru saja pulang dari kegiatan wisata, dan kami berfoto di depan sekolah!” jelas Clara. Ekspresinya sangat tenang seolah tidak melakukan kesalahan apa pun.
Reyn mengangguk pelan. Demi menjaga emosi dan kewarasan karena ingin segera pergi ke kantor polisi Reyn beranjak dari duduknya.
“Tuan!” panggil Clara.
Langkah kaki Reyn terhenti. Ia menoleh dengan harapan Clara mengingat kejadian yang teramat sangat melukai harga dirinya. Dengan begitu ia masih bersemangat untuk melanjutkan rencananya.
“Ada apa?” jawab Reyn penuh harap.
“Apa selama bekerja di sini aku mendapatkan gaji?” tanya Clara.
Reyn menelan ludah. Amat getir di ujung tenggorokannya. Ia tidak yakin lagi gadis di hadapannya adalah Clara Nathania yang dulu pernah menolak cintanya.
“Tentu aku akan memberikanmu uang!” jawab Reyn. Sangat ragu dan mulai berubah pikiran.
Pria itu bergerak ke kamar. Ia sudah menahan diri untuk tidak menelefon Faris di hari minggu. Namun, ia tidak bisa dan tetap menelefon sang sekretaris meski hari ini hari liburnya.
Ibu jari Reyn bergerak lincah menggeser layat ponsel. Menggeser ikon warna hijau untuk melakukan panggilan telefon.
“Halo, selamat pagi, Tuan!” sapa Faris antusias.
“Apa dia benar Clara Nathania yang aku cari? Ah benar dia Clara yang aku cari!” ungkap Reyn mengingat saat Clara menunjuk potretnya tadi.
“Bagaimana Tuan?” tanya Faris tidak paham.
“Cari tahu semua tentang Clara sepuluh tahun silam!” titah Reyn.
“Baik Tuan!” sahut Faris.
Pria itu mengakhiri panggilan telefon. Menahan diri untuk tidak emosi.
To be Continue
**❤**