Part 11
Sekitar pukul delapan pagi Clara mengetuk pintu kamar Reyn. Ia berdiri, menunggu pria itu membuka pintu untuknya.
Pintu kamar terbuka. Pandangan mereka saling bertemu. Anehnya Reyn masih merasakan debaran yang sama seperti sepuluh tahun yang lalu.
“Tuan, saya harus berangkat kerja di kafe!” pamit Clara. Ia kembali menunduk, sama halnya dengan Reyn. Jantung Clara juga berdebar. Hanya saja dengan alasan berbeda. Clara sangat takut pada pria itu.
“Jam berapa kau pulang kerja?” tanya Reyn.
Dari jam setengah sembilan, lalu saya pulang setengah lima sore,” jawab Clara.
“Baiklah, sore nanti aku akan menjemputmu! Awas saja kau berani kabur!” ancam Reyn.
“Tentu saja tidak!” ucap Clara menurut.
Reyn menganggukkan kepala. Memberi izin bagi Clara untuk pergi bekerja.
**❤**
Sampai di basemen, Clara baru sadar ia tak membawa uang sama sekali untuk naik ojek online menuju kafe tempat kerjanya.
Ia berpikir sejenak sebelum akhirnya meminta Anya untuk menjemputnya.
“Halo!” sapa Anya dari seberang telefon yang memang sudah mau berangkat kerja.
“Bisa jemput aku?” pinta Clara.
“Di mana?” tanya perempuan itu.
“Di depan apartemen Pacific Place Residence!” jawab Clara.
“Kenapa kamu bis di situ!” Anya bertanya-tanya.
“Aku akan menceritakannya nanti!” balasnya.
“Baiklah, tunggu lima menit lagi aku akan segera tiba!” ucap Anya.
“Aku tunggu!” jawab Clara antusias.
Clara menunggu Anya datang. Yang ia rasakan saat ini benar-benar tak karuan. Harus bekerja membayar hutang di rumah Reyn dan menjadi saksi di kasus meninggalnya Alluna. Kedua hal itu benar-benar membuatnya tidak nyaman.
Lima menit berlalu, Anya menghampirinya. Sepeda motor gadis itu, berhenti tepat di depan Clara.
“Ni pakai!” titah Clara memberikan helm pada temannya.
Clara menerima, lalu mengenakan pelindung kepala. Kemudian, membonceng Anya.
Kendaraan roda dua itu pun mulai membelah jalanan kota yang cukup ramai di hari minggu ini.
“Kau kenapa bisa di sana!” selidik Anya penasaran.
“Sekarang, aku bekerja dengan Tuan Reyn!” jawab Clara.
“Kenapa kamu mau?” protes Anya.
“Demi hutangku padanya!” sahut Clara tak berdaya.
“Hutang dua milyar itu?” tegasnya.
“Iya.”
Mereka berdua kembali diam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Tak sampai dua puluh menit tibalah mereka di kafe kopi tempat keduanya bekerja.
**❤**
Faris sudah tiba di apartemen Reyn. Mereka berdua tengah berada di ruang kerja.
Setelah terdiam cukup lama, Faris beranjak dari duduk dan mengikuti Reyn yang tengah berdiri melihat keluar kaca.
“Tuan, apa benar Anda di panggil pihak polisi terkait kematian calon tuangan Anda?” tanya Faris. Ini bisa menjadi heboh. Karena saat seseorang dipanggil menjadi saksi, kadang orang sudah menuduh bahwa dialah pelakunya.
“Iya, benar!” jawab Reyn singkat.
“Apa Anda khawatir karena acara besok senin di tunda?” selidik Faris. Ia mengamati raut wajah Tuan Muda itu dengan saksama.
“Tidak, aku lebih khawatir dengan Clara!” ujarnya.
‘Clara lagi Clara lagi,,’ batin Faris tidak suka.
“Ada apa dengan Clara Tuan!” Nada suara Faris lebih keras.
“Pengantar pizza yang menemukan Alluna dalam keadaan tidak bernyawa adalah Clara!” jelasnya. Terlihat jelas wajah cemasnya.
“Tuan, itu bukan tanggung jawab Anda, apa Anda tidak mengkhawatirkan diri Anda sendiri karena Anda orang terakhir yang bertemu dengan Alluna sebelum dia meninggal?” jelas Faris. Ia sudah bosan mendengar nama Clara dan Clara lagi. Tuan Reyn, sepertinya sudah cinta mati pada gadis itu.
“Dari mana kamu tahu aku orang terakhir yang bertemu Alluna, kau terlalu cepat mengambil kesimpulan Faris!” bela Reyn. Ia melihat keluar sebentar, melihat langit biru siang ini. Kemudian, ia duduk di kursinya.
“Semalam aku sudah meminta seseorang untuk memeriksa CCTV, dan apa yang saya dapat benar-benar menyudutkan Anda Tuan,” Faris mulai memberi penekanan pada nada suaranya. Agar Reyn tahu jika dirinya dicurigai polisi.
“Apa yang kamu dapatkan!” tanya sang Tuan Muda mulai penasaran.
“Apa saat Anda berada di sana ada sesuatu yang aneh?” selidik Faris.
“Tidak, tidak ada memangnya kenapa?” Reyn memegangi pelipis mengingat kejadian malam itu. “Emm aku ingat, saat aku tiba di lantai dasar tiba-tiba listrik mati sekitar sepuluh detik, menurutku itu cukup aneh! Tak biasanya terjadi pemadaman!” ujar Reyn mengangguk. "Terlebih di apartemen mewah milik Alluna."
“Ingatan Anda ternyata sangat baik Tuan, jadi setelah listrik padam, semua kembali seperti semula kecuali CCTV mati hingga esok pagi,” Faris menghentikan ucapannya. “Itu artinya Anda adalah orang yang terekam kamera yang terakhir kali bertemu dengan Alluna!” imbuhnya. Menatap lurus ke netra lawan bicarnya dengan tajam.
Reyn berpikir sejenak. “Bukan aku pelakunya! Hah Aku rasa ada yang menjebakku! Aku tidak yakin jika Alluna bunuh diri! Malam itu ia tidak terlihat sedang depresi, bahkan dia mengutarakan beberapa rencananya, dan dia juga memiliki seorang kekasih!” jelas Reyn. Ekspresi Alluna dan kebahgiaannya malam itu masih teringat jelas di benak Reyn.
“Apa Anda tahu siapa kekasihnya?!” Jujur saja, dengan adanya hal ini membuat tambahan pekerjaan bagi Faris. Nyonya Reyna dan Tuan Wisnu menyerahkan semua tanggung jawabnya pada dirinya.
“Tidak, aku tidak tanya dan dia tidak bercerita! Dan aku rasa polisi tidak mungkin menuduhku sebagai pelaku karena aku tidak melakukan hal itu!” tegas pria itu sekali lagi. "Aku benar-benar tidak membunuh Alluna! Aku tidak memiliki motif apapun! Aku baru bertemu dengannya hari itu!" cerca Reyn memberi penjelasan.
Ting.
Tong.
Terdengar suara ketukan pintu.
“Aku akan membukanya, mungkin Nyonya Reyna atau Pak Wisnu yang datang!” ujar Faris. Ia berlalu menuju pintu, di ikuti Reyn yang berjalan di belakangnya.
Reyn duduk di ruang tengah, sementara Faris membuka pintu.
Pintu terbuka. Bukan Nyonya Reyna atau Pak Wisnu yang ada di depannya. Melainkan Jason tengah berdiri di sana.
“Silakan masuk!” ucap Faris membuka pintu lebar. Aneh, karena sepupu dari Tuan mudanya, bisa mengetahui alamat apartemen ini.
“Apa kabar Tuan Muda?” sapa Jason sembari melangkah menghampiri Reyn.
“Untuk apa kamu ke sini?” tanya Reyn. Dari kecil ia memang tidak pernah suka dengan sepupu tertuanya itu. Selain sok akrab, sejak kecil dan remaja Jason sudah tampan paripurna. Sementara dirinya pernah mengala masa remaja yang buruk karena fisiknya yang gendut.
“Untuk menyambutmu, bukankah besok kamu akan menjadi ketua direksi, ini sangat mengagumkan bukan, papamu itu sungguh berkuasa anak laki-laki yang tidak tahu apa-apa saja bisa dijadikan ketua direksi! Aku sampai bingung dia itu berkuasa atau rakus dengan kekuasaan!” Ada senyum mengejek di kalimat terakhirnya.
“Diamlah! Aku benar-benar tidak suka mendengarmu berbicara!” elak Reyn. Memberikan isyarat pada Faris untuk menjauh.
“Baik, aku tidak akan lama-lama. Kita sama-sama memilik waktu tiga bulan sebelum rapat pemegang saham, asal kamu tahu saja! Aku akan mengambil lagi apa yang seharusnya menjadi milikku! Paham!” gertaknya. Kedua manik matanya menatap Reyn dengan tajam. Tidak akan rela jika Reyn mendapatkan yang dia inginkan, tidak semudah itu.
“Lakukan yang kamu inginkan, tapi papaku tidak akan semudah itu menyerahkan padamu! Jangan menghalu, apa yang tidak ditakdirkan untukmu tidak akan pernah menjadi milikmu!” jawab Reyn. Satu sudut bibirnya naik. Mengintimidasi lawan bicaranya.
“Baik kita lihat nanti, siapa pemenangnya!” sahut Jason tanpa rasa takut. Hanya satu misinya. Mendapatkan Hartanto Grup, yang harusnya berada dalam genggaman tangannya. Reyn Hartanto dan Wisnu Hartanto tidak berhak sama sekali.
To be Continue .