Part 12.
Sore itu sebelum pulang ke apartemen Reyn, Clara memutuskan untuk pergi menemui Galih di tempat kerjanya.
Clara menghentikan sepeda motor di area parkir. Lantas bergerak menuju pintu depan.
Firma hukum tempat Galih bekerja cukup terkenal. Tak heran jika Galih selalu sibuk dan menghabiskan waktu menangani kasus dari para klien yang mempercayakan masalah hukum padanya.
“Bisa bertemu dengan Pak Galih?” tanya Clara ia sengaja tidak memberitahu perihal kedatangannya.
“Apa Anda sudah membuat janji?” tanya wanita itu.
“Belum!” Clara menggigit bibirnya takut salah.
Ia mengira ini akan menjadi sesuatu yang sia-sia. Namun, kedatangan Galih yang tiba-tiba benar-benar menyelamatkan Clara.
“Clara?” panggil Galih seraya berjalan menghampirinya.
“Mas Galih, aku mau minta tolong!” ucap Clara to the point.
“Minta tolong apa Ra?” tanya Galih menuntun gadis itu seraya keluar dan menjauh dari resepsionis.
Kini mereka berada di lobi.
“Aku di jebak seorang pria untuk bekerja dan mengabdi selama tiga tahun padanya. Setelah aku pikir rasanya aku tidak mau menerima tawarannya itu!” ungkap Clara.
“Lantas apa yang harus aku lakukan?” tanya Galih. “Membantumu, apa yang harus aku lakukan untuk membantumu!” tanya Galih.
“Temani aku menemui Tuan Reyn, dan katakan kalau Kak Galih ingin membawaku pergi!” pinta Clara. Hanya itu yang bisa ia lakukan agar terlepas dari jerat Reyn.
“Sekarang?” tanya Galih memastikan.
Clara mengangguk yakin.
“Baiklah kita ke sana sekarang Clara!” ucap pria yang berprofesi sebagai pengacara itu. Ia beranjak dari duduk, lalu menuntun Clara menuju ke mobilnya.
Galih membuka pintu untuk Clara, berjalan mengitari mobil. Duduk di belakang kemudi, dan Clara duduk di sampingnya.
Tangan Galih terulur, menyalakan mobil dan mulai menjalankannya keluar area parkir.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang. Clara mulai membuka pembicaraan.
“Mas Galih!” panggilnya. Sembunyi-sembunyi ia menatap pria yang duduk di sampingnya.
“Iya,” sahut pria itu tanpa menoleh, karena fokus mengemudikan kendaraannya.
“Mas Galih mau melakukan apa saja kan, untuk membantuku lepas dari Tuan Reyn?!” ucap Clara ragu. Meski tidak tampak terlalu jelas Reyn, tidak sebaik dan seperhatian dulu.
“Tentu Clara, memangnya kenapa kamu tidak suka bekerja dengan Tuan Reyn itu, aku rasa dia baik!” ungkap Galih mengutarakan pendapatnya.
“Ini bukan masalah baik atau tidak! Tapi ini semua karena aku merasa dia memiliki tujuan!” ujar gadis itu melihat keluar kaca dan mengingat kembali semua kejadian, dari awa mula bertemu dengan Reyn.
“Tujuan?” Kali ini Galih mengamati Clara, kedua manik matanya menyipit melihat gadis yang duduk di sampingnya. “Tujuan apa maksudmu?” Pria itu menggelengkan kepala tidak yakin. Clara memang sudah berubah, beberapa ingatannya memang sudah hilang. Namun, dia masih orang yang sama. Feeling dan intuisinya tajam.
“Tadi pagi aku melihat foto di ponselnya Reyn, dan dia memilik fotoku ketikan SMA!” ujarnya.
“Clara kau tidak berhalusinasi kan?” Galih memastikan.
“Tidak!” tegasnya.
Namun, Galih memilih untuk menahan diri agar tidak berdebat dengan Clara. Ia memilih fokus mengemudikan kendaraan roda empatnya berhenti di sebuah area parkir gedung apartemen.
Mereka berdua turun dari mobil. Tak sampai lima menit, mereka sudah berada di depan pintu apartemen Reyn.
Clara menekan bel.
Ia menunggu dengan was-was.
“Lihat wajahmu pucat sekali apa kamu belum makan?” tanya Galih. Mengamati Clara dari ujung kepala, berhenti di wajahnya.
“Aku sudah makan!” jawab Clara. Ia hanya merasa takut karena Reyn pasti akan marah. Sudah pasti.
Pintu terbuka.
Tampak Reyn terlihat berdiri di ambang pintu dan menatap Clara dengan pandangan tidak suka.
“Dari mana saja kamu! Clara!” teriaknya meraih tangan gadis itu untuk masuk. Tidak peduli dengan pria yang berdiri di sebelahnya.
“Lepaskan!” bantah Clara! “Aku tidak mau masuk! Aku tidak mau bekerja padamu!” tolaknya.
Meski menunduk Clara berusaha keras agar tidak masuk ke dalam.
“Lepaskan Clara!” pinta Galih.
Reyn menoleh ke sumber suara. Melepaskan pergelangan tangan dari kuasanya. Kemudian, menatap pria yang ada di samping Clara.
“Siapa kamu?” tanya Reyn. Kedua manik mata tertuju pada pria itu.
“Kenalkan aku Galih,” ucapnya. “Aku ke sini ingin memberitahumu agar kamu melepaskan Clara dan tidak mengikutinya lagi apalagi memaksanya untuk tinggal di sini!” jelas pria itu tanpa rasa takut.
“Tidak, tidak bisa Clara harus tetap tinggal di sini! Dia pekerjaku mulai kemarin!” kekeh Reyn. Ia mengatupkan bibir, memperlihatkan dagunya yang mengeras.
“Benarkah begitu?” tanya Galih.
“Tapi aku tidak mau bekerja di sini!” Clara menggelengkan kepala.
“Apa gaji dariku tidak meyakinkan?” tanya Reyn. Meraih tangan Clara, menuntun untuk menghadapnya.
“Tidak, aku hanya tidak ingin berada di sekitarmu!” jawab Clara tidak memanggil Reyn dengan sebutan Tuan lagi.
“Tuan Reyn yang terhormat, Clara ini pacar saya! Saya benar-benar tidak bisa berpikir jernih ketika dia berada satu rumah di malam hari dengan pria lain!” dalih Galih. Ia tidak yakin rencana ini berhasil atau tidak. Namun, ia sangat yakin ekspresi wajah Reyn berubah ketika mendengar pernyataannya.
“Apa benar Clara ini pacarmu?” tantang Reyn. Mendengar bahwa Clara sudah memiliki pacar hatinya terasa terbakar. Dia menyalahkan Faris karena tidak memberikan informasi yang akurat.
“Iya, saya dan Clara sudah pacaran hampir satu tahun!” jawab Galih dengan raut wajah meyakinkan.
“Apa buktinya? Kapan kalian mau menikah? Apa kalian sudah berencana untuk bertunangan?” cerca Reyn. Hati yang sudah terlanjur panas membuatnya berapi-api.
Galih berpikir sejenak sebelum menjawab.
“Yang jelas kami sudah pacaran!” tegasnya.
“Mulai hari ini kalian putus!” Reyn meraih tangan Clara menariknya masuk ke dalam dan menutup pintu begitu saja.
Galih pergi dari sana. Reyn Hartanto mungkin pria yang baru dua kali ia temui. Namun, ia sudah hafal nama itu sejak lama. Pewaris Hartanto Group.
“Kenapa dia terlihat sangat berambisi dengan Clara!” gumamnya seraya berjalan menuju lift.
Sementara itu, Clara sudah masuk ke dalam apartemen Reyn.
“Apa kalian berpacaran?” tanya Reyn.
Clara diam dengan terus menundukkan kepala.
“Ayo jawab! Apa kalian berpacaran!” desaknya.
Reyn memperhatikan Clara. Gadis itu masih dian dan menggigit bibir bawahnya ketakutan. Jujur saja, Reyn tidak berhak marah! Namun, rasa cinta sepuluh tahun lalu yang belum padam juga, menyulut api cemburu di dalam hatinya.
“Jangan diam saja! Apa kalian berpacaran!” gertak pria itu dengan teriakan.
Sementara Clara beringsut. Memejamkan mata dan mengatupkan bibirnya.
Tanpa berpikir panjang Reyn mendorong tubuh Clara ke pintu, dan mendaratkan ciuman di bibir sang gadis.
Lama dan dalam. Awalnya ada perlawanan, dan akhirnya sudah tidak ada penolakan lagi. Clara memberikan ciuman pertamanya pada Reyn. Reyn Hartanto, pria yang pernah ia tolak mentah-mentah sepuluh tahun yabg lalu.
To be Continue.