Pada sebuah restoran yang menyajikan makanan Prancis, terdapat Paul yang telah duduk dengan memakai kacamata hitam. Sejumlah pengawal juga tampak berjaga di depan pintu dan mengawasi dari kejauhan.
Untuk menikmati waktu menunggunya Paul memutuskan menghisap sebatang rokok sambil meminum segelas vodka. Ia membenarkan kacamata hitam yang bertengger di atas hidung mancungnya. Tepat setelah itu pintu terbuka dan seorang wanita yang memakai pakaian brand ternama mulai dari sunglass dengan merek Gucci, denim wrap merek Chanel, sepatu boots merek Jimmy Choo serta tas tangan merek Louis Vuitton.
Wanita itu tanpa sungkan langsung menggeser kursi keluar dari kolom meja dan duduk di depan Paul, lalu membuka kacamata hitam yang dipakainya.
Paul tersenyum tipis sekilas melihat bagaimana santainya wanita itu duduk di hadapannya kini. Ia menjatuhkan rokok yang dihisapnya ke lantai, lalu menginjaknya untuk mematikan apinya. Tanpa melepas kacamata hitamnya, ia mengulurkan tangannya bahkan dirinya masih duduk.
"Senang bertemu denganmu, aku Paul Venomicia."
Wanita itu menerima uluran tangan Paul tanpa malu-malu, lalu duduk di hadapan pria itu. "Alicia Reemes."
Namun sebelum keduanya memulai obrolan, suara pintu terbuka kembali terdengar. Alicia berbalik sebentar dan melihat kedatangan wanita lainnya. Ia menyeringai kemudian kembali menghadap ke depan.
Tidak seperti Alicia yang berpenampilan menawan dengan kesan glamor. Wanita kedua yang datang hanya memakai mini dress dengan high heels dan tas selempang kecil. Namun semua barang yang dikenakan wanita tersebut juga termasuk branded ternama.
"Silakan duduk," ujar Paul berdiri mempersilakan wanita kedua tersebut.
Wajah wanita kedua tampak sedikit terkejut sekaligus bingung dengan situasi yang dialaminya kini. Bahkan tangan Paul yang telah terulur hanya ia tatap beberapa detik sebelum menyalaminya.
"Aku Paul."
"Aku Rosalyn. Bisa dipanggil Rosa."
Rosalyn kemudian duduk di sebelah Alicia. Kedua wanita tersebut saling melirik sekilas, lalu Paul hanya tersenyum tipis dan kembali duduk.
"Aku tidak mengerti dengan situasi ini," ujar Alicia menatap lekat Paul saat ini.
Akhirnya Paul melepas kacamata hitam yang dipakainya. Namun bukannya memandang Alicia yang berbicara padanya, ia terlebih dahulu melihat ke arah Rosalyn yang masih tampak kebingungan.
"Kalian pasti sudah datang atas undangan kencan buta bukan?" ujar Paul mulai menatap Alicia.
Perempuan itu mengangguk. "Tentu saja. Ayahku memintaku untuk menemui salah anak dari Red Venom, sehingga aku yang harusnya sibuk rapat untuk peluncuran produk terbaru bulan depan, harus mengosongkan setidaknya dua jam waktuku." Ia lalu menoleh menatap Rosa. "Namun aku tidak tahu ada wanita lain."
Kening Rosa berkerut lalu melirik Alicia seolah dirinya salah tempat. "Memang benar, aku awalnya tidak datang ke restoran ini. Tetapi setelah sampai di restoran sebelumnya, orang yang mengaku sebagai Marco, suruhan pihak Red Venom memintaku datang kemari."
Paul tertawa pelan. "Nona-nona jangan salah paham. Aku lah yang mengatur supaya kalian berdua disatukan pada restoran ini."
Alicia mendengus kasar. "Ini keterlaluan. Mana ada kencan seperti ini. Apakah kita sedang threesome?"
Mata Rosa membola mendengar kata frontal yang keluar dari bibir Alicia. Sedangkan mata Paul telah memicing melihat reaksi Rosa yang terkejut.
"Jadi pada awalnya kau akan menemui kami bergantian?" tanya Rosa kembali memfokuskan matanya kepada Paul.
Paul mengangguk singkat. "Daripada membuang waktu, lebih baik aku mempersingkat tentang kencan mana yang cocok."
Alicia mendengus, lalu tersenyum tipis. "Baiklah. Aku sebenarnya tidak nyaman dengan situasi seperti ini seolah dijadikan pilihan atau cadangan. Tetapi kurasa soal terpilih yang terdengar lebih cocok akan menarik," ujarnya dengan percaya diri.
Rosa terdiam sejenak, lalu berdiri. "Aku mundur dari kencan ini." Baru saja ia akan berbalik badan, namun suara tawa terdengar.
"Kau sama sekali tidak punya daya saing untuk sekadar bersenang-senang?" ujar Alicia membuat Rosa berhenti dan menatapnya lekat. "Maksudku, kau pikir tujuan dari kencan buta ini hanya semata-mata mendapatkan calon suami idaman?"
"Lalu apa tujuanmu menyetujui rencana kencan buta yang bisa berujung hingga ke pernikahan?" tanya Paul membuat pandangan Alicia teralihkan kepada pria tersebut.
"Bisnis? Sejujurnya aku telah memiliki kekasih saat ini. Prospek bergabung dengan Red Venom tentu sangat menggiurkan untuk perusahaan yang kudirikan bergerak pada bidang produk kecantikan, apalagi kudengar Elena Venomicia juga mengembangkan sesuatu yang besar pada bidang tersebut," balas Alicia mengutarakan maksud dan tujuannya, tidak lepas dari bisnis.
Paul tersenyum tipis. "Kau akan memutuskan kekasihmu jika kuajak berkencan hari ini?"
Alicia mengangguk tanpa ragu. "Lagipula kekasihku hanya bekerja sebagai model. Aku menjalani hubungan dengannya sebatas menyalurkan hasrat oleh tubuhnya yang atletis."
Paul beralih menatap Rosa yang masih berdiri. "Kau ingin mengutarakan pikiranmu tentang tujuanmu menghadiri kencan buta hari ini?"
Rosa tersenyum miring. "Kuharap kencan kalian lancar. Selamat siang." Tanpa menunggu balasan ia berjalan keluar dari restoran. Memilih menolak mengatakan maksud dan tujuannya.
Alicia yang bersandar kini bergerak mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Bagaimana jika dimulai dengan makan siang?"
Bahu Paul terangkat lalu mengangguk. Ia kemudian memanggil pelayan untuk meminta buku menu yang kini dibacanya, begitupula dengan Alicia.
"Aku ingin escargot dan bouillabaisse, dengan sebotol anggur putih," ujar Alicia menyebutkan pesanan makanannya.
Paul yang masih melihat buku menu hanya tersenyum kecil bisa menebak bagaimana sosok Alicia berdasarkan pesanan makanannya. Menunjukkan bahwa Alicia tanpa ragu dan canggung menyebut nama makanan dengan fasih, berarti wanita itu senang bepergian.
"Aku ingin foie gras dengan anggur merah," ujar Paul dengan pesanan makanan yang cukup sederhana.
Setelah pelayan pergi, Paul mulai menatap lekat sosok Alicia. "Jadi apa yang bisa kau tawarkan kepada Red Venom jika kencan ini berhasil?"
Alicia mengangkat telapak tangannya. "Salah satunya adalah yang berada di hadapanmu. Sejujurnya kau tidak akan perlu repot mengajarkan dan mendisiplinkan istrimu nanti," katanya masih dengan nada penuh percaya diri. "Tahu cara berbisnis, acara seputar ekonomi dan bisnis sudah menjadi rutinitas, bagaimana bersikap di depan publik dan … rekan memuaskan di atas tempat tidur."
"Jika kukatakan pernikahan tanpa cinta, apa aku akan menerimanya?" tanya Paul membuat kening Alicia berkerut.
"Without s*x?"
Kedatangan pelayan yang membawa dua botol anggur dengan jenis berbeda menginterupsi pembicaraan Paul dan Alicia. Pelayan tersebut juga membuka penutup botol.
"Jika aku menginginkan wanita memuaskanku, aku hanya perlu menyewa wanita penghibur terbaik di kota ini," balas Paul setelah pelayan berjalan pergi. Ia lalu menuangkan anggur putih pada gelas yang berada di depan Alicia.
Alicia menyeringai. "Tidak masalah, aku telah mencoba berbagai macam hubungan dengan pria. Mulai dari mencintai tanpa memandang latar belakang, hingga tidur dengan pria tanpa cinta," katanya lalu mulai meminum anggur putih tersebut.
Paul tersenyum tipis. Kali ini ia menuangkan anggur merah ke dalam gelasnya dan meminumnya dalam satu kali teguk. Ia lalu bangkit berdiri, membuat wajah Alicia tampak terkejut.
"Maaf, tapi sepertinya menjalin hubungan denganmu tampak membosankan. Aku telah berkencan buta sebelumnya dengan wanita yang memenangkan penghargaan sebagai pebisnis wanita terbaik tahun ini dan … pikirannya tentang cara berbisnis tentu tidak diragukan lagi," kata Paul berhenti sejenak melihat pelayan datang membawa tiga jenis hidangan khas Prancis. ''Aku butuh wanita yang berbeda.''
"Nikmatilah makan siang ini. Kuharap kau bisa menemukan pria yang cocok denganmu," lanjut Paul lalu kembali memakai kacamata hitam miliknya dan berjalan keluar restoran.
Alicia mendengus tidak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya. "Bahkan ini jauh lebih buruk daripada wanita tadi," gumamnya merasa sedikit kesal dengan perlakuan Paul. Namun ia bisa mengerti dengan kekuasaan dan pengaruh Red Venom tersebut. Bahkan jika ia sebagai anggota keluarga Red Venom sekalipun mungkin akan bersikap seperti itu juga.
♤♤♤
Elena menghela napasnya. "Kau gagal keduanya bukan?" katanya menatap Paul. Ia sengaja mendatangi apartemen pria itu setelah mendengar dari bawahannya yang mengawasi jalannya kencan buta dua arah tersebut.
Paul melihat Elena masih berdiri sambil melipat tangan. Ia berjalan melewatinya menuju lemari pendingin untuk mengambil air minum. "Wanita bernama Alicia tampak seperti yang pernah sekali dua kali aku kencani. Memikirkan bagaimana mengembangkan usaha mereka melalui Red Venom. Tidak salah, namun tidak ada yang bisa kita dapatkan secara sepadan."
Elena berdecak lidah. "Kau pasti telah menyelidikinya dengan baik. Bagaimana dengan wanita yang satunya?"
Perlahan Paul berbalik badan dan bersandar pada pintu lemari pendingin. "Dia pergi setelah mengetahui bahwa ternyata bukan dirinya sendiri yang akan kutemui."
Elena menyungging senyum tipis. "Aku tidak pernah bertemu dengan Alicia, namun kenal baik dengan Ayahnya. Tetapi untuk Rosa, aku pernah melihatnya. Tidak hanya sekali dua kali, meski kami tidak bicara satu sama lain."
Alis Paul terangkat. Ia mendekati kakak perempuannya itu dan berdiri di hadapannya. "Kau bertemu di sebuah acara?"
Elena menggeleng pelan. "Restoran Welts. Dekat dari sini kupikir." Ia memegang kedua bahu Paul. "Cobalah datang malam ini ke sana. Kurasa dia sudah berada di restoran tersebut."
"Bagaimana kau bisa yakin?" tanya Paul mengernyitkan dahi.
Elena tidak menjawab. Sebaliknya ia memilih berjalan menuju pintu, namun berbalik badan sebentar. "Aku melihat Rosa sebelum aku tahu bahwa dia adalah adik dari Matthew Carosta."
"Aku pergi, jadwal penerbanganku dua jam lagi," lanjut Elena kemudian benar-benar menghilang dari balik pintu apartemen Paul. Wanita itu pun sebenarnya terpaksa menunda keberangkatannya ke Inggris setelah mendengar kencan buta Paul yang belum berhasil.
Paul terdiam sejenak, bahkan setelah beberapa menit Elena telah meninggalkan apartemennya. Ia sesungguhnya masih bisa mengingat dengan jelas wajah Rosalyn yang ditemuinya siang tadi.
Setelah berpikir beberapa saat, Paul menghubungi Marco untuk mengantarnya ke Restoran Welts yang dimaksud oleh Elena. Ia datang ke tempat itu bukan semata penasaran akan sosok Rosa, tetapi ingin membahas hal lain yang sebenarnya ingin ia lakukan siang tadi. Hanya saja tidak etis jika mengusir atau menyuruh Alicia pergi. Namun ia tidak menyangka bahwa Rosa lah yang mengambil langkah mundur terlebih dahulu.
Marco menjemput Paul dengan memakai Lamborghini Veneno. Matanya sedikit menyipit melihat Paul membawa tas kecil, namun ia tidak bertanya lebih lanjut dan memilih mengemudikan super car tersebut menuju Restoran Welts.
Paul keluar dari mobil, meninggalkan tas yang dibawanya tadi. Ia melangkah masuk ke dalam restoran yang tidak begitu ramai. Kesan pertamanya adalah biasa saja, ia tidak melihat hal istimewa pada restoran tersebut. Kecuali alunan suara piano yang pas dengan penerangan lampu yang cenderung redup, sehingga memberi kesan syahdu sekaligus tenang.
Mata Paul beralih memperhatikan pelayan yang menurutnya juga tidak menampilkan kesan elegan seperti restoran yang tadi siang didatanginya. Ia melihat Marco berjalan ke arahnya.
"Ayo kita duduk dulu," ujar Paul memilih meja yang berada dekat dengan pintu masuk. Ia masih tidak mengerti yang ucapan Elena bahwa Rosa akan datang ke restoran ini. Seolah kakak perempuannya itu adalah seorang peramal.
"Cari tahu pemilik restoran ini," ucap Paul nyaris berbisik kepada Marco. Membuat pria di sebelahnya itu segera bangkit menuju bagian kasir untuk terlebih dahulu mencari General Manager Restoran Welts.
Sementara itu Paul mengedarkan pandangannya ke pengunjung lain, seolah berharap salah satunya mungkin Rosa. Namun yang dilihatnya hanyalah tiga pasangan lain atau pria paruh baya yang duduk sendirian.
Alunan ketukan piano dengan musik last carnival mulai terdengar. Paul yang pada awalnya hanya sibuk mencari sosok seorang wanita mulai hanyut dalam musik instrumental versi piano yang memberi kesan sedih sekaligus pahit manis.
Semakin Paul memasang telinganya, ia semakin sadar bahwa itu bukanlah nada-nada yang mengalun dari speaker pemutar musik. Tetapi sebuah pertunjukkan langsung, begitu matanya menyelidik lebih jauh, kini ia bisa melihat seseorang sedang bermain piano pada sudut restoran. Posisi piano yang miring membuatnya hanya bisa memandang sang pianis dari bagian samping juga.
Mata Paul menyipit menyadari sang pianis ternyata seorang wanita, hanya saja memakai sebuah topeng. Ia bisa melihat bagaimana kedua jemari tangan wanita itu tampak lihai menekan tuts piano.
Dan sebuah senyuman simpul mengembang pada bibir Paul. Sepertinya pria tersebut telah menemukan apa yang dicarinya.
♡♡♡