3. Flower Dance

2131 Words
Pandangan Paul seolah membeku kala melihat jemari wanita bertopeng tersebut kembali menari-nari di atas tuts piano.  "Aku telah bertanya kepada general manager, katanya Restoran Welts ini dimiliki oleh Carosta Company," kata Marco kembali duduk di sebelah Paul. Paul menoleh menara pria itu sekilas. "Aku membawa uang tunai di mobil. Bagikan kepada pengunjung lain secara diam-diam agar meninggalkan restoran ini segera." Marco kini mengerti apa isi tas yang dibawa oleh Paul ke mobil tadi. Ia hanya mengangguk singkat, lalu segera menjalankan perintah tersebut. Tidak butuh waktu lama, ia segera menuju meja pengunjung yang lain dengan membawa uang tunai dollar yang jumlahnya cukup besar dan tentunya membuat pengunjung tersebut beranjak keluar dari restoran tanpa berpikir panjang. Restoran yang telah kosong ditambah Marco juga memberi uang kepada seluruh pegawai restoran agar menuju bagian belakang restoran, yaitu dapur dan tidak muncul dulu. Paul segera bangkit dari tempat duduknya, bersamaan dengan itu suara piano juga berakhir. Sang pianis ikut bangkit lalu berbalik badan, namun tubuhnya tersentak kaget melihat Paul yang berdiri di hadapannya kini. "Siapa anda?" tanya sang pianis tanpa membuka topengnya. Paul tersenyum menyeringai. "Jangan bermain-main denganku. Aku tahu bahwa kau adalah Rosa." Sang pianis tidak bergeming. "Maaf, kau salah. Aku Maria." Ia kemudian beranjak, berniat untuk keluar dari restoran. Namun tangannya ditahan oleh Paul membuatnya menoleh. "Aku ingin bicara denganmu. Suaramu masih kukenali dengan jelas, Rosa." Paul menatap manik mata wanita yang diyakininya sebagai Rosa. Anehnya ia melihat berbagai emosi di sana, mulai dari rasa gugup, sendu hingga takut. Wanita itu menyentak tangannya, sehingga terlepas dari cengkraman Paul. "Jika kau ingin bermain-main, silakan mencari wanita lain," ujarnya kembali berjalan. "Aku membatalkan kencan dengan Alicia dan memilihmu!" seru Paul membuat langkah wanita itu terhenti. Ia kembali berjalan mendekati sang pianis. "Jadi kuharap kita bisa bicara kembali." Suara bel pintu kembali terdengar. Paul mengalihkan pandangannya ke sumber suara dan melihat seorang laki-laki berjas dengan tubuh tegak sedang berjalan ke arahnya. "Nona, sudah waktunya." Wanita itu menegak salivanya. Ia menoleh sejenak menatap Paul. "Aku harus pergi. Ini sudah hampir tengah malam. Datanglah kembali besok," ujarnya lalu berjalan pergi diikuti pria yang diduga oleh Paul sebagai pengawal, sopir atau bawahan wanita itu. "Apa dia Cinderella yang harus pulang sebelum pukul dua belas malam?" gumam Paul merasa sedikit kesal, karena ditinggal begitu saja. Padahal ia sudah meluangkan waktu dan tenaganya untuk datang ke restoran tersebut. Tanpa mau membuang waktunya kembali, Paul segera beranjak keluar dari Restoran Welts. Namun ia tidak langsung pulang ke apartemen begitu saja, lebih memilih singgah di salah satu kelab malam eksklusif yang ada di Kota New York. Paul yang tidak sempat makan malam di Restoran Welts memutuskan menyewa salah satu ruangan VIP di kelab dan memesan makanan di sana. Ia hanya ditemani oleh Marco untuk mengisi perutnya. Sedangkan Marco telah meminta dua pengawal untuk berjaga di luar ruangan. "Jadi pemilik restoran itu adalah Matthew Carosta?" tanya Paul setelah meneguk koktail setelah menikmati hidangan seafood.  Marco menyeka mulutnya dengan serbet yang tersedia setelah selesai makan juga. "Ya, katanya restoran tersebut telah ada sejak lama dan melakukan beberapa kali renovasi." Paul menyimak dengan saksama. Ia lalu bersandar untuk merilekskan otot punggungnya. "Ada yang kau dapatkah tentang sang pianis?"  Senyum mengembang pada bibir Marco membuat Paul memicingkan mata. "Awalnya general manager menolak mengungkap identitasnya. Tetapi setelah aku memberinya $25.000, akhirnya dia mengungkapkan bahwa sang pianis adalah adik dari Matthew itu sendiri dengan memakai nama Maria." Paul tersenyum tipis. Ternyata perkataan wanita itu kepadanya yang berkata bahwa namanya adalah Maria, tidak salah.  "Untuk apa dia selalu datang seolah bekerja sebagai pianis di sana? Lagipula dia adik pemilik restoran?" tanya Paul kini menuangkan vodka ke dalam gelas. "Sebelum itu, aku melakukan beberapa penyelidikan terlebih dahulu terhadap Carosta Company dan menemukan bahwa nama Carosta merupakan ayah dari Matthew yang telah meninggal dunia. Dia awalnya dikenal sebagai seorang mafia yang keturunan Amerika- Meksiko yang memperdagangkan narkoba dalam jumlah besar."  Penjelasan Marco membuat Paul mengernyitkan dahinya. "Jadi sekarang Matthew yang menjalankan bisnis narkoba tersebut?" Marco menggeleng pelan. "Tidak, justru dia menentang bisnis tersebut sejak mengetahuinya. Seperti anak kartel narkoba lainnya, mereka awalnya hidup normal di Negara Bagian California, tepatnya di Kota Los Angeles, jauh dari apa yang Carosta jalankan." Ia mengambil napas sejenak sebelum melanjutkan. "Setelah Carosta meninggal dunia. Seluruh bisnis narkoba dihentikan oleh Matthew dan mengalihkannya ke bisnis lain, salah satunya petrokimia." "Berarti Matthew cukup hebat dalam berbisnis?" tanya Paul menjadi penasaran atas sosok Matthew. Ia juga memikirkan bahwa Los Angeles cukup dekat dengan perbatasan antara Negara Amerika Serikat dengan Meksiko, di mana lokasi ibu kandungnya terbunuh. Marco mengangguk tanpa ragu. "Ya, tetapi bayang-bayang sosok ayahnya sebagai mafia sampai sekarang cukup berpengaruh." "Apa maksudmu?" "Aku mengorek informasi kepada salah satu mantan pelayan yang bekerja di mansion milik Matthew dan dia mengatakan bahwa adik perempuan pria itu pernah diculik ketika masih remaja oleh kartel narkoba lainnya," jawab Marco menjelaskan. "Jadi itu alasan identitas Rosa tidak terlalu terpublikasikan?" tanya Paul beralih kepada wanita yang hampir dikencaninya itu. Marco mengangkat bahu tidak yakin. "Bisa jadi, tetapi satu hal lagi yang kudengar bahwa Matthew sangat protektif terhadap Rosa. Dia bahkan menyetujui kencan buta tersebut setelah mencari tahu tentang latar belakang Red Venom." Paul merenggut sejenak. "Apa Matthew sesayang itu kepada adiknya yang bahkan telah menjadi wanita dewasa, sehingga harus mencari tahu pria yang akan dikencani oleh Rosa?" Ia sedikit tidak menyukai sifat Matthew berdasarkan penuturan Marco, karena apabila ternyata Matthew tidak menyetujuinya, artinya dirinya tidak cukup baik untuk Rosa di mata pria itu? Puas berada di dalam ruangan sambil menikmati sajian makan malam membuat Paul beranjak keluar untuk benar-benar merasakan suasana kelab malam yang penuh ingar-bingar. Ia yang berada di lantai dua bisa melihat penari striptis meliuk-liuk tubuhnya dengan erotis sambul berpegangan pada sebuah tiang panjang. Belum lagi lantai dansa yang dipenuhi oleh orang-orang yang menari seperti orang kerasukan dengan musik EDM yang menghentak. Suara musik yang keras membuat Paul tidak menyadari kedatangan seorang wanita yang memakai sepatu hak tinggi. "Coba lihat siapa yang datang ke sini," ujar wanita tersebut menyentuh bahu Paul. Pria tersebut bereaksi dengan mengangkat tangannya agar Marco tidak maju mencegat wanita tersebut. Sebaliknya Paul mengubah posisinya menghadap wanita yang memakai baju dengan belahan d**a yang rendah, bahkan kedua bukit wanita itu sudah kelihatan bagian pinggirnya. "Kau mengenalku?" tanya Paul dengan nada datar. Alis wanita itu terangkat, lalu tertawa pelan. "Tentu saja, aku pernah melihatmu di majalah. Kau pebisnis yang sukses dan … seksi," bisik wanita itu mendekatkan wajahnya hendak mencium Paul. Namun Paul memalingkan wajahnya. "Kau sendiri siapa? Aku tidak mengenalmu," ujarnya memperhatikan wajah wanita yang bisa dikatakannya cukup cantik. "Aku? Aku adalah Leah, wanita penghibur nomor satu di kelab ini. Tidak mungkin aku bisa bebas berkeliaran di lantai ini jika bukan yang terbaik," balas Leah dengan wajah penuh percaya diri. "Lalu kau datang ingin menghiburku?" tanya Paul menyeringai. Leah mengangguk singkat. "Untuk pemanasan, aku bisa memuaskanmu cukup dengan bibir dan lidahku. Sebelum kau bisa memutuskan apakah lanjut ke tahap selanjutnya atau tidak," katanya lalu menjilat bibirnya sendiri. Paul berdecak lidah. "Baiklah, aku akan memberimu tiga puluh ribu dollar jika bisa memuaskannya dalam waktu lima menit," balasnya menunjuk Marco. Leah awalnya terkejut merasa bahwa dirinya sudah berhasil memikat Paul. Namun ia tidak memungkiri tawaran uang senilai $30.000 yang bahkan mungkin baru ia bisa dapatkan apabila bekerja melayani klien hingga pagi dan ini hanya butuh lima menit. Akhirnya kepala Leah mengangguk pelan. Ia pun langsung menuju ke arah Marco dan menarik pria tersebut menuju ke sebuah ruangan. Marco sendiri awalnya terkejut, karena tidak mendengar percakapan tawaran antara Paul dan Leah. Namun ketika dirinya mendapat kode dari gestur Paul, ia hanya mengikuti wanita itu seperti domba yang digiring menuju tempat eksekusi.  Selepas Leah yang pergi membawa Marco, membuat Paul kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelab. Namun entah mengapa pikirannya terngiang-ngiang oleh suara piano yang dimainkan di Restoran Welts. Terlebih lagi ia mengingat tentang Rosa yang memakai topeng dan menggunakan nama samaran. "Maria," gumam Paul menyerukan nama samaran Rosa. ♤♤♤ "Kau yakin dia akan datang?" tanya Marco yang duduk di kursi depan--samping sopir. Sedangkan Paul yang duduk di belakang. "Ya, jika dia tidak mau bertemu denganku, maka dia tidak perlu berjanji segala." "Oh ya, Leah benar-benar mampu membuatmu berada di puncak hanya dalam waktu lima menit?" tanya Paul teringat akan kejadian di kelab malam. Ia sendiri keluar dari kelab menuju mobil setelah dua menit Leah membawa Paul pergi. Uang senilai $30.000 dititipkannya kepada pengawal untuk menunggu Leah dan Marco selesai, lalu memberikannya kepada wanita itu. Marco mendengus pelan. "Sayangnya benar. Dia memang ahlinya. Namun aku menginginkan sentuhan dari wanita lain." Paul melirik Marco sekilas, namun dari kaca spion ia bisa melihat raut wajah sedikit suram pada pria tersebut. Membuatnya tidak bertanya lebih lanjut tentang siapa wanita yang dimaksud oleh Marco. Paul berangkat menuju Restoran Welts satu jam lebih cepat dari biasanya. Ia juga lebih memiliki memakai mobil berjenis sedan dibanding mobil sport seperti sebelumnya. Begitu sampai di sana, restoran masih terlihat masih sepi. Pandangan Paul langsung menuju piano berada dan dilihatnya seorang wanita bertopeng telah duduk di sana. Ia berjalan perlahan mendekati wanita itu, lalu menepuk punggungnya. Wanita itu berbalik dan menyodorkan secarik kertas kepada Paul. Tentu saja pria itu bingung sejenak, namun tetap menerima kertas tersebut. Paul melihat ke arah kertas yang terdapat tulisan seperti sebuah alamat. Ia kembali melirik wanita di depannya yang mulai bermain piano. Namun ketika beralih ke bagian tangan wanita itu, ia menyadari bahwa wanita di dekatnya ini berbeda dari yang kemarin. Artinya, wanita tersebut bukanlah Rosa. Segera Paul berbalik badan dan berjalan keluar dari restoran. "Kau antar aku ke sini," ujarnya memberi kertas bertuliskan alamat kepada Marco. Akhirnya Marco menyetir sendiri, menemani Paul yang telah duduk di sebelahnya. Dengan bantuan petunjuk GPS. Mereka berdua sampai di sebuah restoran apung di atas Sungai Hudson. Namun tampak restoran tersebut sepi, bahkan tidak ada pengunjung sama sekali. Kecuali seorang wanita yang bermain piano yang terdapat pada sebuah rumah panggung kecil yang berada di atas sungai. Paul berjalan melewati jembatan menuju rumah panggung tersebut. Seiring langkah kakinya suara piano semakin terdengar. Alunan nada dari lagu flower dance membuat mata pria itu terpaku pada aksi Rosa yang memakai gaun merah sambil menekan tuts piano dengan seluruh jarinya. Rosa pun tampak tidak bergeming dengan kedatangan Paul. Ia terus melanjutkan permainannya, hingga lagu selesai.  "Bukankah permainanmu ini lebih baik kau tunjukkan di sebuah panggung besar," ujar Paul secara tidak langsung memuji cara bermain piano Rosa. Wanita itu berdiri, lalu berbalik badan. Berjalan mendekati Paul. "Kau benar-benar datang," balasnya menatap lekat mata Paul. Untuk sesaat Paul memperhatikan seluruh fitur wajah Rosa yang berada begitu dekat dengannya. Mulai dari mata yang bulat, hidung mancung hingga bibir penuh yang tampak ranum. Tidak lupa bagaimana kulit Rosa yang putih sangat kontras dengan gaun merah yang dipakainya sekarang. Seolah wanita itu benar-benar menjelma menjadi sekuntum bunga mawar merah malam ini. Rosa mengajak Paul berpindah ke bagian restoran yang terdapat kursi dan meja. Setelah memesan makan malam, mereka duduk saling berhadapan. "Jadi apa alasanmu datang ke sini, tidak mungkin semata hanya untuk mengajakku berkencan bukan?" tanya Rosa tanpa berbasa-basi. Paul tersenyum tipis. "Kau sendiri? Bukankah kau datang hari itu, karena berharap akan menemukan calon suami yang cocok. Kudengar Matthew mempertimbangkan kencan buta itu secara cermat." Raut wajah Rosa menegang ketika mendengar nama Matthew dan Paul jelas bisa melihat hal tersebut. "Kau bahkan memakai pengganti untuk penampilanmu di Restoran Welts," lanjut Paul memperhatikan gaun merah yang dipakai oleh Rosa, mirip dengan yang dipakai pianis wanita di Restoran Welts tadi. Rosa berusaha tetap tersenyum. Ia tidak menyangka bahwa siasatnya cepat diketahui oleh pria yang berada di depannya itu. "Baiklah. Benar aku mengikuti kencan ini untuk mendapatkan suami. Tapi bukankah kau lebih memilih wanita yang satunya?" Paul mencondong badannya ke depan untuk bisa menatap lebih jelas Rosa. "Aku menolaknya untuk bertemu denganmu." "Kenapa? Wanita satunya jauh lebih cocok denganmu. Aku bukan pebisnis, bahkan tidak pernah mengikuti acara bertema ekonomi dan bisnis." "Karena aku ingin bicara tentang suatu hal." Alis Rosa terangkat. Ia jelas belum pernah bertemu dan kenal dengan Paul sebelumnya. Lalu untuk apa pria itu datang untuk bicara dengannya?  "Apa itu?" tanya Rosa ikut penasaran. "Enam bulan yang lalu apa yang sedang kau lakukan di Mexicali yang berada di perbatasan Amerika-Meksiko?" Pertanyaan Paul membuat Rosa terdiam sejenak.  "Aku mendapati rekaman dirimu berada di sebuah rumah makan," lanjut Paul menatap lekat mata Rosa. "Aku tidak tahu." Paul berdecak. "Jangan main-main denganku." Rosa menarik napasnya. "Aku benar-benar tidak tahu. Bukan, lebih tepatnya tidak ingat." Dahi Paul mengernyit mendengar pernyataan Rosa. "Apa maksudmu?" "Aku mengalami kecelakaan tiga bulan yang lalu dan melupakan beberapa ingatan dari masa laluku," balas Rosa pelan. Paul tampak meragukan hal itu. Ia bahkan telah menyipitkan matanya seolah tidak percaya bahwa Rosa mengalami lupa ingatan. Ia bangkit dari kursinya, lalu berdiri di sebelah Rosa yang masih duduk. Rosa harus mendongak ke atas untuk bisa memandang Paul. Namun tiba-tiba tangannya ditarik sehingga tubuhnya otomatis berdiri, tetapi karena tarikan tersebut cukup keras membuat tubuhnya menempel pada tubuh pria tersebut. Ketika ia coba mundur, sebuah tangan menahan pinggangnya. "Sudah kubilang agar tidak bermain denganku," ujar Paul nyaris berbisik. Wajahnya begitu dekat dengan wajah Rosa. Ia kini menatap tajam wanita itu, meminta sebuah kebenaran mutlak. Rosa menegak salivanya. Ia memejamkan mata sekilas sambil mengambil napas. "Aku bersumpah bahwa yang kukatakan itu kenyataan." Paul mengendorkan tangannya pada pinggang Rosa. Anehnya ia bisa melihat wajah wanita itu yang tenang, tanpa gugup takut ketahuan berbohong. "Lalu alasanmu menerima kencan buta ini?" tanya Paul kini beralih ke motif Rosa. "Untuk lepas dari cengkraman Matthew." ♡♡♡
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD