"Kudengar Paul Venomicia datang ke Restoran Welts. Bukankah kau mundur dari kencan buta waktu itu?" Suara bariton seorang laki-laki terdengar.
Rosa yang sedang menikmati sarapan di meja makan hanya bisa terdiam. Matanya kini bisa memandang kedatangan Matthew yang telah memakai setelan kerja.
"Dia membatalkan kencannya yang sebelumnya," balas Rosa dengan tenang.
Matthew menyeringai sekilas. Ia mengangkat sebelah tangan untuk memberi isyarat kepada pelayan agar membuatkannya kopi. Ia lalu duduk di depan Rosa.
"Jadi bagaimana menurutmu Paul itu?" tanya Matthew menatap dalam Rosa.
"Dia baik."
Matthew mencebik. "Ayolah Rosa, kau tahu pasti bahwa Paul adalah CEO Red Venom. Tentunya kekuasaan dan kekayaan berada digenggamannya. Kau pikir dia baik seperti pria yang ada dalam film?"
Rosan meneguk salivanya perlahan. Masih hangat dalam ingatan ketika pertemuannya dengan Paul pada sebuah restoran apung yang berada di atas Sungai Hudson. Apalagi pria tersebut bertanya tentang keberadaannya enam bulan yang lalu.
"Baiklah. Paul adalah pria yang berbahaya," balas Rosa sambil menghela napas. "Sama sepertimu."
Alis Matthew terangkat. Kopi kemudian dihidangkan oleh pelayan di atas meja. "Apa maksudmu Rosa?"
"Aku tahu bahwa aku mengalami kecelakaan tiga bulan yang lalu dan menghapus beberapa memori dalam kepalaku. Tetapi bukankah keterlaluan jika kau terus melarangku keluar dari rumah," ujar Rosa menyampaikan apa yang telah menjadi beban pikirannya setelah tersadar di rumah sakit, tiga bulan yang lalu.
Matthew menjadi terdiam. "Aku melakukannya demi kebaikanmu. Kau tahu jelas bahwa musuh Ayah masih mengincar kita."
"Ayolah Matt, ini Amerika. Bukan Meksiko," balas Rosa merasa bosan dengan alasan yang selalu dilontarkan oleh Matthew kepadanya, apabila bertanya tentang bagaimana kebebasannya yang dikekang oleh pria tersebut.
Tangan Matthew terulur meraih cangkir dan mulai menyesap kopinya. "Suatu saat kau akan mengerti," ujarnya lalu bangkit berdiri untuk bersiap ke perusahaan. Namun ketika berjalan melewati Rosa yang masih duduk, ia berhenti. "Kau bisa kembali fokus bermain piano dan … mencoba mengenal lebih dalam Paul kurasa tidak masalah."
Rosa memejamkan matanya sekilas. Setelah kepergian Matthew, ia juga ikut beranjak dari ruang makan menuju kamar tidurnya. Ingin mengenyahkan rasa bosannya, ia memutuskan duduk di depan piano yang terdapat dalam kamarnya yang luas, bahkan memiliki ruang tamu pribadi, lengkap dengan kamar mandi tersendiri juga.
Jari-jari Rosa mulai menekan tuts piano. Memainkan salah satu lagu yang lewat nadanya saja sudah menyayat hati. Lagu sadness and sorrow menggema dalam ruangan tersebut. Bagi siapapun yang mendengarnya mungkin akan langsung menjadi sentimental.
Tiga puluh menit bermain piano membuat Rosa jemarinya lelah dan beralih meraih ponsel yang tergeletak di atas meja samping ranjang.
Namun mata Rosa terbelalak begitu membaca, panggilan tidak terjawab atas nama Paul Venom. Ia mengernyitkan dahi, membaca kembali nama kontak yang ia berikan untuk nomor Paul yang jika diartikan maka menjadi racun Paul.
Rosa dan Paul memang bertukar kontak setelah pertemuan di restoran apung. Sebenarnya Paul yang memaksa, agar bisa menjalin komunikasi dengan Rosa terkait kasus pembunuhan ibunya.
Untuk beberapa saat Rosa hanya terus memandangi nama kontak Paul. Ia penasaran sekaligus bingung untuk membalas panggilan tidak terjawab itu. Jika dikatakan sebagai ketidaksengajaan, maka juga tidak, sebab terdapat tiga panggilan yang masuk secara berturut-turut. Namun tentunya ia juga merasa sedikit sungkan menghubungi kembali pria itu.
Belum sempat Rosa memikirkan langkah yang perlu diambilnya, mendadak ponselnya kembali berdering dan itu adalah dari Paul!
"Halo?" angkat Rosa dengan nada waswas.
"Kau ada acara malam ini?"
Mata Rosa membola mendengar pertanyaan Paul yang tanpa basa-basi. Ia berdehem sebentar, sebelum menjawabnya.
"Tidak, ada apa?"
"Baiklah, aku akan menjemputmu malam ini."
Rosa kembali terkejut. Ia berpikir bahwa Paul meneleponnya untuk mengobroll atau bertanya tentang kejadian enam bulan lalu, tetapi nyatanya pria itu malah mengajaknya keluar.
"Maksudmu kau akan datang langsung ke sini? Rumah ini?" tanya Rosa memperjelas. Ia bahkan sedikit meninggikan suaranya.
"Ya, aku sudah menghubungi Matthew yang kuketahui sebagai walimu dan dia mengizinkan."
Rosa semakin tidak percaya bahwa Paul akan seberani itu. Ia tidak berpikir bahwa Paul adalah pria penakut yang bersembunyi dari pengawasan Matthew, tetapi bukankah terlalu dini bagian keduanya untuk berkomunikasi satu sama lain?
"Matt berkata mengizinkan?" ulang Rosa merasa masih belum percaya bahwa Matthew akan semudah itu mengizinkannya pergi dari rumah. Bahkan ia perlu menyakinkan Matthew, sebelum berangkat ke Restoran Welts sebagai pianis. Itu pun harus memakai topeng dan nama samaran serta mendapat pengawasan dari pengawal.
"Hm," jawab singkat Paul.
Bibir Rosa spontan tersenyum. Ia tidak menyangka bahwa usulan Camilia--mantan sekretaris Carosta--ayahnya akan bisa membuatnya bebas keluar dari rumah.
"Baiklah, aku mengerti," balas Rosa masih tersenyum.
♤♤♤
Pada ruangan rapat Marco menatap lekat ke arah Paul yang baru saja selesai mengadakan rapat yang membahas sebuah proyek besar yang akan dikerjakan di Negara Bagian Arizona, tepatnya pada Kota Phoenix yang berada begitu dekat dengan perbatasan Amerika-Meksiko.
"Kau sungguh berencana menikahinya?" tanya Marco bisa membaca jelas niat ajakan kencan Paul yang bukan untuk bersenang-senang.
Paul melirik Marco sekilas, lalu memasukkan ponselnya ke saku dalam jas yang dipakainya. "Aku perlu mencari tahu tentang kebenaran kematian Julia. Seperti kau katakan bahwa Rosa memang pernah mengalami kecelakaan dan mengalami cedera pada kepalanya."
Paul kembali mengingat ucapan Marco yang telah menyelidiki soal kecelakaan yang disampaikan oleh Rosa kepadanya. Dan ternyata wanita itu benar, ia bahkan telah melihat rekam medik yang didapatkan oleh Marco dan menyatakan bahwa ingatan Rosa sedikit kabur tentang beberapa hal.
"Tapi apakah itu perlu sampai jenjang pernikahan?" tanya Marco belum mengerti apakah tujuan Paul bertemu Rosa akan sampai pada ikatan suci keduanya.
Paul tersenyum miring. "Seperti yang dikatakan Rosa bahwa Matthew seolah membatas wanita itu keluar secara bebas. Dan kurasa akan sulit mendapatkan informasi jika hanya meminta Rosa bertemu. Lagipula kita tidak tahu kapan Rosa akan kembali mengingat kejadian tersebut."
Hal yang menjadikan Paul antusias adalah pernyataan dokter yang telah merawat Rosa dan menyatakan bahwa ingatan wanita itu akan kembali suatu saat dan dirinya hanya perlu menunggu pada waktu itu. Masalahnya adalah Matthew yang selalu mengawasi Rosa, tanpa memberi ruang bagi wanita itu bergerak bebas bertemu orang lain.
"Aku hanya tidak menyangka bahwa kau benar-benar menghubungi Matthew untuk meminta izin untuk bertemu dengan Rosa," ujar Marco baru melihat sikap Paul yang biasanya cenderung lebih memaksa tanpa mau tunduk pada siapapun, kecuali Grace.
Paul tersenyum tipis sekilas. "Kurasa Elena memiliki peran dalam hal ini. Dia berkata bahwa dia lah yang berbicara dengan Matthew secara langsung untuk rencana kencan buta ini."
Kepala Marco mengangguk reflek membenarkan. Ia telah menyelidiki bagaimana karakter Matthew dan menemukan bahwa pria tersebut bahkan rela menentang Carosta yang pada waktu itu memiliki kekuasaan dan kekayaan yang berlimpah. Artinya Matthew bukan pria yang tunduk dan menerima sesuatu tanpa adanya kompensasi yang sepadan, tetapi apakah yang ditawarkan oleh Elena?
Paul bangkit dari kursi. "Aku ingin menuju Restoran Quiro."
Alis Marco terangkat mendengar tujuan Paul. "Makan siang?"
Paul mengangguk pelan. "Ya, kebetulan Hazel dan Clara mengajakku. Ikutlah, katanya ini hari ulang tahun pendiri Quiro, yaitu Alex."
Marco terdiam sejenak sambil berpikir. "Apakah itu tidak akan mengganggumu?"
Paul mendengus pelan. "Kau seperti orang asing saja. Aku bahkan lebih banyak menghabiskan masa remajaku denganmu dibanding temanku. Ayo kita berangkat sekarang." Ia lalu mengendikkan kepala sebagai tanda agar Marco beranjak dari tempat duduknya.
Marco tersenyum lebar. Ia sebenarnya memiliki agenda lain, kenapa harus pergi ke Restoran Quiro, padahal dirinya bisa saja makan siang di tempat lain yang lebih sesuai seleranya.
Sebuah mobil berjenis SUV dengan merek Rolls-Royce Cullinan, berhenti di parkiran Restoran Quiro. Marco keluar dari pintu pengemudi yang disusul oleh Paul di sebelahnya. Ketika keduanya sudah masuk ke Quiro yang tutup untuk umum, mata Paul langsung menangkap Clara yang sedang menyuapi Rachel.
"Biarkanlah Rachel memegang sendok sendiri," ujar Paul telah berada di samping meja yang ditempati oleh Clara.
Wanita itu mendongak sambil tersenyum. "Tidak bisa, Rachel masih berantakan kalau makan … Eh, Kapan sampainya?"
"Baru saja. Mana Hazel?" tanya Paul tidak melihat sosok pria tersebut.
"Oh membeli kue untuk Alex," jawab Clara dengan nada berbisik, takut didengar oleh Alex. "Amanda berkata kepada Alex bahwa Hazel tidak bisa hadir, karena harus menghadiri rapat. Padahal ada rencana dibalik itu."
Paul hanya tersenyum mendengar trik yang selalu digunakan untuk memberi kejutan ulang tahun. Ia pun teringat bahwa dirinya datang bersama Marco, namun ketika berbalik badan untuk melihat pria tersebut, ia tidak menemukan sosok Marco.
Ternyata Marco telah berada di lantai dua dan berbicara dengan Amanda. Lebih tepatnya sedikit memaksa wanita itu.
"Untuk apa kau ingin bicara?" tanya Amanda dengan nada sarkastik.
"Aku tahu ini mungkin terlambat, tetapi aku ingin meminta maaf atas apa yang telah kulakukan," balas Marco menatap lekat mata Amanda yang masih memandang tajam ke arahnya.
Marco tentu merasa bersalah tentang hubungan yang dulu dijalaninya untuk mengorek informasi tentang Clara dari Amanda. Namun sekarang pria tersebut malah menyesal.
"Itu sudah berlalu beberapa tahun," ujar Amanda berniat beranjak pergi, namun tangannya dicegat oleh Marco.
"Aku ingin memperbaiki segalanya dan agar menerimaku kembali," balas Marco membuat mata Amanda terbelalak sejenak.
♤♤♤
Acara ulang tahun Alex berlangsung dengan sukacita. Clara dan Hazel begitu menikmati hidangan khusus yang dibuat oleh pemilik Quiro tersebut.
"Kurasa kau perlu segera mencari pendamping hidup. Wanita itu akan selalu menyeretmu ke dapur setelah kalian menikah," ujar Clara setelah melontarkan pujian atas cita rasa masakah Alex.
Hazel tertawa pelan. "Benar, jangan jadikan lidahku sebagai pencicipmu terus."
Paul hanya tersenyum melihat interaksi tersebut. Namun dahinya mengernyit begitu tidak sengaja memandang Marco yang malah terdiam sambil melirik ke arah lain, yaitu kepada sahabat Clara.
"Terima kasih telah datang," ujar Alex mengulurkan tangan kepada Paul.
Paul menjabat sambil menarik tubuh Alex, lalu menepuk punggung pria itu. "Terima kasih atas hidangannya dan kuharap apa yang dikatakan Clara tadi akan segera terwujud."
Alex tertawa keras mendengarnya. "Tetapi kurasa aku belum siap seperti itu," ujarnya melirik ke arah Hazel dan Clara yang sibuk mengurus Rachel yang sibuk memakan cream dari kue ulang tahun miliknya.
"Baby stop. Kau sudah terlalu makan banyak krim, nanti giginya bolong," ujar Clara yang masih dapat didengar oleh Paul.
Rachel yang masih duduk kemudian dipasangkan sepatu oleh Hazel yang berlutut di depan anak perempuannya itu.
Paul tersenyum lebar dan entah mengapa memunculkan hasrat dalam hatinya, bahwa sebuah pernikahan bisa semanis itu. Apalagi dengan hadirnya seorang anak.
"Clara … Hazel, aku pamit pergi dulu," ujar Paul mendekati pasangan itu.
Clara dan Hazel menatap Paul sambil mengangguk pelan.
"Paul perlu menjemput seseorang."
Suara Marco yang kini berdiri di samping Paul membuat mata Clara membola.
"Seorang wanita?"
Marco mengangguk. "Mereka akan berkencan malam ini." Lagi-lagi ucapan pria tersebut membuat Clara terkejut. Bahkan Hazel ikut memasang raut wajah yang sama dengan istrinya.
"Ini kencan yang diatur oleh Elena. Kupikir Grace juga akan bahagia mendengarnya bukan?" balas Paul sambil mengulas senyum tipis.
Kepala Clara segera mengangguk. "Semoga lancar, sehingga Nenek bisa segera melihatmu di pelaminan."
Paul terkekeh pelan. Ia kemudian memeluk Clara dan Hazel sekilas. Tidak lupa mengecup pipi Rachel yang memancarkan semburat merah.
Setelah sampai di mobil, Paul menoleh memandang Marco sambil menarik napas. "Kau membuat hariku akan merepotkan."
Marco belum menyalakan mesin mobil. Sebaliknya ia malah terkekeh. "Maksudmu Clara akan bercerita pada Nyonya Grace soal kencanmu?"
Paul mengangguk dengan cepat. "Dan Grace akan mulai bertanya mengenai pertemuanku dengan Rosa nanti."
"Jika kau benar-benar ingin menikahi Rosa, maka mau tidak mau kau akan membutuhkan bantuan Elena melalui Nyonya Grace," ujar Marco membuat Paul terdiam sebentar.
"Benar. Sekarang kita ke apartemen dulu. Aku perlu berganti pakaian sebelum menjemput Rosa sendiri," balas Paul berusaha berfokus pada tujuan kali ini.
♡♡♡