Jam dinding telah menunjukkan pukul tujuh malam. Paul mengambil langkah terakhir sebelum meninggalkan apartemennya. Ia menyemprotkan parfum Annick Goutal Eau d’Hadrien pada area leher, pergelangan tangan hingga long coat yang dipakainya. Komposisi parfum membuat udara yang berada pada tempat Paul berada, bisa tercium aroma dari campuran lemon Sisilia, anggur dan cemara.
Aroma maskulin membungkus tubuh Paul yang sudah mengendarai mobil Bugatti Divo menuju kediaman Carosta yang tidak kalah mewah dari mansion milik Elena ataupun Hazel. Begitu sampai di sana, pihak keamanan memeriksa terlebih dahulu, sebelum melaporkan kepada pengawal yang telah berjaga tepat pada pintu bangunan utama mansion.
Paul keluar dengan begitu gagah dari mobilnya. Ia sedikit terkejut melihat pintu terbuka dan menampilkan Matthew yang keluar dengan Rosa mengikut di belakang pria tersebut.
"Paul Venomicia," sapa Matthew langsung mengulurkan tangan dan menatap mata Paul.
Paul tersenyum sekilas. Ia menjabat tangan Matthew. "Senang bertemu denganmu, Tuan Carosta."
Matthew tertawa pelan. Namun baik Paul dan Rosa bisa merasakan bahwa itu adalah tawa yang sedikit dipaksakan. "Ayolah, anggota keluarga Venomicia memanggilku Tuan? Aku hanya anak dari seorang mafia."
Paul melepas tangannya. "Tapi bagaimanapun aku datang untuk menjemput Rosa, adikmu." Ia sejenak melirik Rosa yang melangkah maju, agar bisa sejajar dengan Matthew.
Matthew sekali lagi tertawa. Namun kali ini suara tawa keras, tanpa keterpaksaan. Spontan begitu saja. "Kuharap kencan kalian lancar," ujarnya sambil menoleh menatap Rosa.
Paul tersenyum lebar. "Tenang saja, aku akan menjaganya dengan baik." Ia kemudian mengulurkan tangan kepada putri Carosta tersebut.
Rosa menerima uluran tangan Paul dengan sedikit grogi, karena Matthew tidak berhenti memandang mereka. Namun ia tetap mencoba menggenggam tangan Paul yang kini menuntunnya masuk ke mobil.
"Lain kali jika kita bertemu, kuharap aku bisa mendengar hal-hal tentang bisnis darimu," ujar Matthew yang tentu telah mendengar bagaimana kelihaian Paul dalam berbisnis, utamanya bernegosiasi.
Paul mengangguk singkat. "Tentu saja. Aku juga akan senang mendengar kisah tentangmu dan Rosa selama berada di Meksiko."
Tepat setelah Paul menyebut Negara Meksiko, raut wajah Matthew yang awalnya semringah, mendadak berubah menjadi tegang dengan mata sedikit membulat.
Akhirnya Paul masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kediaman Carosta dengan Rosa yang duduk di sampingnya. Ia melirik beberapa kali wanita di sampingnya itu melalui ekor matanya. Bisa dilihatnya bagaimana raut wajah semringah Rosa yang menatap keluar jendela. Seolah jalan-jalan pada malam hari sudah lama tidak pernah dirasakan wanita itu.
Pada mulanya Rosa bahagia bisa merasakan angin malam yang bukan rute dari rumah ke Restoran Welts seperti malam-malam terdahulu, tetapi matanya terbelalak begitu melihat mobil berhenti di depan sebuah kelab malam.
Rosa tidak berharap bahwa dirinya akan mengalami kencan romantis malam ini dengan Paul. Bagaimanapun ia sadar bahwa pria itu punya tujuan untuk bertemu dengannya. Sedangkan dirinya sendiri hanya ingin sedikit memghirup udara malam dengan bebas.
"Lihatlah di belakang," ujar Paul membuat Rosa akan berbalik badan, namun ia segera mencegatnya dengan geram. "Lewat spion!"
Rosa sedikit tersentak, karena Paul menahan bahunya agar tidak berbalik badan. Namun ia menuruti perkataan pria itu. Dan dirinya bisa melihat sebuah mobil sedan dengan kaca jendela yang terbuka tampak terparkir pada seberang jalan. Matanya bisa menangkap sosok pria yang memakai pakaian serba hitam, lengkap dengan kacamata hitam, tengah melihat ke arahnya. Lebih tepatnya ke arah mobil Paul.
Rosa menghela napas singkat. "Itu pasti suruhan Matthew. Dia benar-benar tidak memberiku ruang untuk bergerak."
Mendengar nada putus asa Rosa hanya membuat Paul tersenyum tipis. Ia kemudian kembali menjalankan mobilnya menuju area parkiran dan segera keluar. Kakinya berjalan ke arah pintu mobil sebelah Rosa, lalu membukakannya.
Paul mengulurkan tangannya, meminta Rosa keluar bersamanya. Ia sedikit menundukkan badannya. "Ayo."
Pada awalnya Rosa merasa ragu, karena ia tahu bahwa Paul akan membawanya masuk ke dalam kelab malam. Tetapi ia juga akan merasa percuma apabila hanya duduk di mobil pada area parkir. Akhirnya tangannya meraih tangan pria tersebut.
Kelab malam yang tergolong kelas menengah dipilih dengan sengaja oleh Paul. Pria itu menggenggam tangan Rosa masuk ke tempat hiburan malam tersebut.
♤♤♤
Suara riuh pengunjung kelab malam serta suara musik langsung menggema. Rosa yang baru merasakan keramaian seperti itu merasa kepalanya langsung pusing. Matanya memandang lampu berwarna-warni yang berputar serta lampu sorot yang selalu berubah arah.
Paul tanpa ragu membawa Rosa menuju bartender dan menyodorkan wanita itu segelas koktail. "Minumlah."
Rosa menarik napas. Ia menatap sejenak gelas berisi koktail tersebut. "Apa tujuanmu membawaku ke sini? Kupikir kau mau bertanya sesuatu?" Ia kemudian bertambah jengkel, melihat mata Paul tidak menatap ke arahnya. Melainkan seolah memandang ke arah belakang dirinya.
"Mereka bahkan mengikuti masuk sampai di sini," gumam Paul yang masih bisa didengar oleh Rosa.
Namun baru saja Rosa akan berbalik badan, tetapi Paul kembali menahan tubuh wanita itu. Bukan sekadar menahan, salah satu tangannya juga memeluk punggung Rosa. "Kita hanya sementara di sini. Aku akan membuat kita hilang dalam keramaian ini," bisiknya tepat pada telinga putri Carosta tersebut.
Rosa menegak salivanya sambil merasakan tubuhnya sedikit merinding, merasakan bagaimana embusan napas Paul menerpa daun telinganya.
"Jadi sekarang minum ini dulu."
Rosa meraih gelas koktail itu, lalu mulai meminumnya. Namun setelah lidahnya mencicipi minuman beralkohol dengan perisa buah tersebut, ia memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya. Hidungnya bahkan berkerut, merasakan rasa asam, sedikit pahit, juga ada manisnya.
Paul mengulas senyum sekilas melihat raut wajah Rosa tersebut. Ia sendiri menegak segelas wiski dan ketika melihat Rosa sudah meletakkan gelasnya di atas meja bartender, tangannya segera menarik wanita itu menuju lantai dansa.
"Diamlah sebentar di sini," ujar Paul sambil merapatkan tubuhnya pada tubuh Rosa. Meski suara musik berjenis EDM terus menggema, namun matanya lah yang menari-nari, memperhatikan sekitar kelab malam. Ia bisa melihat orang yang sedari tadi yang mengikutinya dengan Rosa, semakin mendekatkan diri.
Kepala Paul mengangguk pelan begitu melihat kemunculan Marco di antara kerumunan orang-orang.
Tidak sampai tiga menit, listrik padam. Paul lalu mengeluarkan sebuah kacamata khusus dari saku coat miliknya dan memakainya, tetapi yang membuatnya terkejut bukan karena keriuhan pengunjung lain yang terkejut dengan kegelapan yang meliputi seluruh sudut kelab. Melainkan kedua belah tangan yang kini memeluknya erat dan ia tahu bahwa itu adalah Rosa.
"Tenanglah, ayo kita pergi dari sini," ujar Paul meraih tangan Rosa yang masih melingkar di tubuhnya dan menariknya menuju pintu belakang.
Sampai pada area belakang kelab malam. Keadaan masih sepi. Paul bisa melihat Marco berdiri di depan sebuah mobil berjenis SUV telah menunggunya dan Rosa.
Paul melepas kacamata khusus yang bisa melihat dalam keadaan gelap, lalu melemparkan kunci mobil Bugatti Divo miliknya kepada Marco.
"Mereka mengawasinya bukan?" ujar Paul merujuk kepada pegawal yang ia minta untuk mengawasi orang suruhan tadi. Ia lalu menuntun Rosa untuk masuk ke mobil SUV tersebut.
Marco mengangguk pelan. Ia memang telah merencanakan ini dengan Paul sebelumnya, karena mengetahui bahwa Matthew pasti akan menyuruh seseorang mengawasi Paul dan Rosa.
"Kelabui mereka. Kau bisa mengelilingi New York sampai bosan," ujar Paul terkekeh kecil sebelum masuk ke dalam mobil.
Marco hanya membalas dengan senyuman lebar. Ia telah menyiapkan jaket panjang bertudung dan seorang peraga wanita yang juga memakai penutup kepala dan kacamata hitam untuk berpura-pura sebagai Paul dan Rosa. Lagipula dirinya yakin bahwa orang yang mengawasi kedua orang tersebut hanya akan memandang dari kejauhan. Jika pun tidak berhasil atau ketahuan, maka tidak masalah. Paul dan Rosa kini telah meninggalkan area kelab malam.
"Kau sungguh merencanakan ini?" tanya Rosa ketika mobil kembali melaju. Ia bahkan menoleh, menatap lekat pria di sebelahnya itu.
"Ya, kau kira aku tidak tahu tentang bagaimana Matthew akan mengawasi kita," jawab Paul tetap fokus menatap ke depan untuk menyetir.
"Daripada kencan, ini lebih mirip dengan aksi kabur," balas Rosa merasa tubuhnya sedikit lelah berpindah dari satu mobil ke mobil lainnya dalam waktu singkat.
Paul tertawa pelan. "Kita memang tidak berkencan bukan?" ujarnya lalu menoleh sekilas menatap wanita di sebelahnya. "Meskipun kau tadi memelukku dengan erat."
Mata Rosa membola mendengarnya. "Itu hanya spontan. Seharusnya kau memberitahuku bahwa akan mematikan aliran listrik."
Paul menepikan mobilnya dan berhenti. Ia lalu mengubah posisi tubuhnya menjadi menyamping, agar bisa memandang Rosa lebih jelas. "Aku masih ingin tahu, apakah kau benar-benar tidak mengingat tentang kejadian enam bulan yang lalu?"
"Kita akan membahas di sini?"
Paul menyungging senyum tipis. "Kau punya sesuatu untuk diceritakan?"
Rosa berpikir sejenak. "Entahlah, aku tidak tahu apakah ini berguna atau tidak. Tetapi … aku menemukan boarding pass atas namaku dari penerbangan Mexicali ke Los Angeles dan … itu terjadi enam bulan yang lalu."
Mata Paul mengerjap sekilas. Ia seolah mendapat angin segar bahwa Rosa benar-benar mungkin berada pada lokasi pembunuhan. "Kau ingin ke tempat mana untuk membicarakannya?"
Senyum Rosa mengembang mendengar pertanyaan tersebut. "Tempat yang ramai, terbuka dan menyenangkan."
♤♤♤
Mata Rosa terbelalak begitu Paul benar-benar membawa ke sebuah tempat yang ramai, terbuka dan menyenangkan. Padahal dirinya hanya asal bicara saja.
Sebuah festival tahunan untuk warga negara keturunan Tiongkok membuat salah satu jalanan menjadi ramai oleh hiasan serba merah serta lampu-lampu lampion yang tergantung.
Rosa tidak dapat menyembunyikan raut wajah bahagianya. Ia baru pertama kali mendatangi festival seperti sekarang. "Bagaimana kau tahu tempat ini?"
Paul mengangkat bahu acuh tak acuh. "Aku membaca spanduk yang terdapat di pinggir jalan," jawabnya jujur.
Tangan Paul kembali menggenggam tangan Rosa dan membawa wanita itu ke salah satu kedai yang ada dalam area festival.
"Di mana kau menemukan boarding pass tersebut?" tanya Paul langsung. Duduk berdampingan dengan Rosa.
"Salah satu tasku. Aku berniat mengganti tas yang akan kupakai."
"Kau membawanya?"
Rosa menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak mengeluarkan boarding pass itu dari tas."
Paul menarik napas sejenak. "Baiklah. Lain kali kau harus membawanya?"
"Lain kali? Maksudmu kau ingin kembali bertemu?"
Paul meletakkan tangan di atas meja. Ia memicingkan kepalanya sedikit ke samping sambil bertopang dagu. "Kurasa kau juga akan senang bukan bisa leluasa menikmati malam seperti sekarang, tanpa pengintaian dari Matthew." Ia memprovokasi Rosa dengan keinginan wanita itu.
Rosa menjadi terdiam. Ia mengakui bahwa kabur dari orang suruhan Matthew dan dibawa ke festival seperti sekarang membuatnya senang dan merasa bebas. Sebuah pengalaman pertama baginya, namun ia sedikit ragu, jika terus bertemu dengan Paul maka mungkin dirinya bisa menghadirkan sesuatu dalam dirinya, misalnya perasaan terhadap pria tersebut.
Mata Rosa lalu menangkap hal lain yang lebih menarik perhatiannya, daripada isi pikirannya saat ini. Yaitu gulali yang mengembang dan dijual di depan kedai tempatnya duduk sekarang. Ia telah begitu lama tidak mencicipi panganan yang terbuat dari pintalan gula yang dibakar tersebut.
"Baiklah. Kau atur saja. Aku ingin menikmati malam ini dulu," ujar Rosa bangkit dari tempat duduknya, lalu menuju penjual gulali.
Paul sedikit tercengang melihat tindakan wanita itu. Entah mengapa ia merasa Rosa lebih polos dan kekanak-kanakan dari apa yang dipikirkannya. Padahal wanita itu satu tahun lebih tua dari Clara.
Namun tanpa sadar Paul tersenyum tipis begitu Rosa berhasil.mendapatkan gulali berwarna merah jambu tersebut dan kini tersenyum lebar sambil berjalan kembali ke arahnya.
Puas menikmati beberapa jajanan khas Bangsa Tiongkok membuat Rosa dan Paul kini berdiri melihat pertunjukkan sebuah pentas drama yang ditayangkan dalam layar besar dengan sebuah animasi seperti lukisan yang menyerupai gambar.
"Seorang siluman naga berwujud seorang pria jatuh cinta kepada manusia yang merupakan seorang perempuan. Namun rasa cinta itu membunuh manusia tersebut."
"Ratusan tahun, manusia itu kembali bereinkarnasi menjadi perempuan lainnya. Takdir kembali mempertemukan antara siluman naga dengan perempuan itu."
"Tetapi kali ini sang siluman naga malah menjodohkan perempuan itu dengan pria lain yang telah dikenalnya sebagai pria yang baik."
"Ternyata perempuan itu menolak pria tersebut dan kembali jatuh cinta kepada sang siluman naga. Sayangnya siluman naga memilih terbang kembali ke langit demi menyelamatkan perempuan itu."
"Dan perempuan itu mati dalam penantian menunggu siluman naga datang kepadanya kembali."
Narasi yang diceritakan dalam Bahasa Inggris membuat Rosa cukup terhanyut. Kisah tragis, penuh pengorbanan membuatnya takjub. Namun ketika menoleh melihat reaksi Paul, pria tersebut malah merenung. Lebih tepatnya mulai fokus melihat permainan erhu, sebuah alat musik tradisional Tiongkok.
Rosa mulai ikut mendengar musik yang dimainkan. Tanpa sadar jarinya seolah mengetuk tuts piano, merasa mengenal nada-nada tersebut.
"Affection touching across time," gumam Rosa yang didengar oleh Paul.
Pria tersebut menoleh dengan dahi mengernyit. "Apa?"
"Itu adalah judul lagu yang dimainkan. Sepertinya aku dulu pernah memainkannya," balas Rosa ikut menoleh, sehingga mata keduanya bertemu.
"Sentuhan kasih sayang melintasi waktu. Bukankah lagunya sangat menggambarkan kisah tadi?" ujar Rosa tersenyum kecil sambil terus menatap Paul yang sudah terdiam.
Paul tentu tahu jelas bahwa Rosa sebagai pianis pasti sering memainkan berbagai lagu, tetapi entah mengapa dirinya menginginkan wanita itu memainkan lagu yang didengarnya tadi dengan sebuah piano. Seperti malam, ketika ia melihat Rosa bagai mawar merah dan sekarang, ia malah melihat wanita itu seperti mawar putih.
♡♡♡