6. The Night King

1967 Words
Matthew berdiri di atas balkon bangunan yang berfungsi sebagai perpustakaan pada lantai kedua dan lantai pertama, sedangkan ruang bawah tanah terdapat gudang untuk menyimpan botol-botol anggurnya. Ia lalu memandangi Rosa yang sedang sibuk bercengkrama dengan salah satu penjaga kebun. Musim semi membuat tanaman dan bunga-bunga sedang mekar-mekarnya. "Tuan, ada kiriman surat dari pelayan yang menerimanya," kata salah satu pelayan yang datang setelah menerima telepon. Maklum saja, kediaman Carosta memiliki pekarangan yang luas dan terdiri atas beberapa bangunan yang terpisah satu sama lain. Matthew menarik napas sejenak. "Suruh letakkan di ruangan kerjaku," ujarnya lalu mengalihkan pandangannya dari bawah. Ia kemudian meninggalkan balkon tersebut menuju gudang penyimpanan botol anggurnya.  Sebuah botol berisi anggur merah kemudian diambil oleh Matthew. "Sajikan ini bersama makan siangku. Pastikan hidangannya pas dengan cita rasa anggur ini," ujarnya memberi botol anggur tersebut kepada pelayan untuk kemudian dibawa kepada kepala koki agar menghidangkan makanan yang sesuai. Matthew lalu bergerak menuju ruangan kerjanya. Ia hari ini memutuskan tidak pergi ke perusahaan, karena malam nanti memiliki penerbangan untuk menuju Inggris demi kepentingan bisnis. Pria itu mengecek beberapa dokumen yang perlu dipelajarinya sebagai perjanjian kerja yang akan dirinya tandatangani untuk sebuah mega proyek. Namun amplop putih tersegel yang diduganya sebagai surat yang dikirim tadi, menarik perhatiannya. Matthew meraih amplop tersebut dan tidak menemukan nama pengirim, kecuali nama penerima yang merupakan miliknya sendiri, Matthew Carosta. Namun ketika Matthew mulai membuka dan membaca surat tersebut, matanya terbelalak sambil menggertakkan rahangnya. Bukan hanya surat yang ada dalam amplop tersebut, tetapi juga sebuah foto. 'Jangan bercanda Matt, hentikan perjodohan Rosa dengan Paul Venomicia. Ini membuatku berada dalam ambang batas.' Matthew menggeram sambil meremas surat singkat, namun bernada ancaman tersebut. Tanpa nama pengirim, ia sudah mengetahui siapa yang menulis surat tersebut. Ia lalu beralih menatap foto Rosa dan Paul yang terlihat berada di sebuah kelab malam. Mata Matthew melirik jam dinding dalam ruangan kerjanya. Ia bangkit dari kursi kerjanya menuju ruang makan yang memiliki kurang lebih dua puluh kursi di depan sebuah meja yang panjang.  "Panggil Rosa ke sini," ujar Matthew setelah duduk bagian tengah dan melirik hidangan yang telah disajikan, lengkap dengan botol wine yang dipilihnya tadi. Tidak butuh waktu lama, hingga Rosa datang ke ruang makan dengan penampilan rapi yang membuat Matthew mengernyitkan dahi. "Kau mau ke mana?" tanya Matthew ketika Rosa baru saja duduk di sebelah kirinya. Ia memandang saksama penampilan wanita itu. "Oh itu, aku ingin menghadiri salah satu festival pemain piano di Time Square setelah makan siang ini," balas Rosa menjelaskan. Matthew menarik napas sejenak. "Tidak boleh." Mata Rosa terbelalak mendengarnya. "Apa?"  "Aku telah mengatakannya kepadamu kemarin dan kau bilang tidak masalah," tukas Rosa keberatan atas larangan kakak laki-lakinya itu. Matthew mengatupkan rahangnya sambil memandang tajam ke arah Rosa. "Habiskan makan siangmu," ujarnya tanpa menghiraukan ucapan perempuan itu. Rosa juga tidak dapat berkata apapun lagi, karena dirinya sadar bahwa ucapan Matthew adalah perintah mutlak baginya. Ia telah mencoba beberapa kali membantah pria tersebut dan berakhirnya dengan tidak baik. Entah Matthew akan sengaja memasukkan obat tidur ke minuman atau makanannya atau malah mengurungnya di dalam kamar. "Antar Rosa kembali ke kamarnya," ujar Matthew kepada seorang pelayan wanita. Rosa yang telah menghabiskan makanan penutupnya hanya memandang kesal ke arah pria itu. Ia tidak berkata apapun ketika tangannya sudah dituntun oleh pelayan. Suara ponsel Matthew yang berdering kemudian membuat langkah Rosa yang kembali ke kamarnya menjadi melambat. "Aku akan berangkat ke Inggris sesuai jadwal." "Ya sore ini menuju bandara. Siapkan kamar terbaik pada hotel itu." Samar-samar Rosa bisa mendengar ucapan Matthew yang sepertinya melakukan panggilan telepon. Ia menyungging senyum tipis, menyadari bahwa pria itu akan meninggalkan Amerika Serikat. Ia merasa sepertinya memiliki kesempatan, meski tidak akan sempat datang ke festival piano, setidaknya bermain piano untuk para pengunjung Restoran Welts. Kamar yang berada di lantai kedua dan menghadap ke jalur gerbang utama membuat Rosa untuk bisa memantau pergerakan mobil yang akan mengantar Matthew pergi. Rosa menarik napas dalam dengan duduk di depan jendela sambil meraih ponselnya. Jarinya yang tanpa sengaja menekan nama kontak Paul membuatnya terkejut. Sialnya lagi pria itu menjawab panggilan tidak sengaja dari Rosa, menjadikan wanita itu memekik pelan. "Halo?" Ragu-ragu Rosa mulai menempelkan ponsel pada telinganya. "Ya?" "Ada apa kau meneleponku?" Pertanyaan Paul membuat Rosa memaksa otaknya agar mencari alasan yang logis. "Ehmm, itu … boarding pass, apakah kau ingin melihatnya?" Rosa menggigit bibir bawahnya, menyadari bahwa balasannya terdengar konyol, seolah Paul belum pernah melihat boarding pass sebelumnya. "Baiklah. Di mana kau ingin bertemu?" Rosa berpikir sejenak. Ia tentu sadar bahwa sulit baginya meninggalkan rumah tanpa sama sekali ketahuan oleh Matthew melalui laporan para pengawal. "Restoran Welts?" "Okay. Kita makan malam bersama di sana." Raut wajah Rosa menjadi semringah begitu mendengar hal tersebut. Entah mengapa ia merasa bahagia mendengar ajakannya yang diterima oleh Paul, padahal komunikasi keduanya hanya lah kecerobohan jari-jari tangannya. Rosa segera bangkit dari tempat duduknya, kemudian menuju ke ruangan lebih kecil yang masih berada dalam ruangan kamarnya. Sebuah ruang yang dijadikannya sebagai lemari untuk menampung seluruh koleksi  baju, sepatu dan tas miliknya. Rosa sendiri tidak terlalu mengingat pasti darimana dirinya mendapatkan barang-barang penunjang penampilan yang seluruhnya merupakan barang brand ternama. Setelah mendapatkan pakaian, tas berisi boarding pass dan sepatu, Rosa mengeluarkannya dan menaruhnya di atas tempat tidurnya. "Kenapa aku seolah ingin tampil menawan di hadapan pria tersebut?" gumam Rosa pelan. Namun badannya tersentak ketika mendengar suara ketukan pintu. Rosa dengan sigap naik ke atas tempat tidur, lalu menyembunyikan barang-barang tersebut bersama dirinya di dalam selimut. Ia berbaring dengan posisi membelakangi dari arah pintu. Tidak perlu ditanya lagi siapa yang akhirnya menerobos masuk ke dalam kamar Rosa. Ia adalah Matthew yang telah memakai setelan kerja yang rapi. Tidak sendirian, dirinya bersama dengan seorang pengawal wanita. "Sepertinya dia tertidur Tuan," ujar pengawal tersebut. Matthew menarik napas sejenak. Ia berpikir bahwa Rosa mungkin marah dan kesal dengannya, sehingga perempuan itu memutuskan melampiaskan emosinya dengan tidur. "Selama aku di London, awasi dia dengan baik. Laporkan semua kegiatan Rosa dan … jangan biarkan dia bertemu dengan orang asing, terutama seorang pria." "Baiklah Tuan." "Aku harus berangkat sekarang. Cukup berjaga di luar kamarnya." Suara derap sepatu Matthew membuat Rosa kembali membuka matanya. Setelah dua menit berlalu, ia akhirnya bangkit dan terduduk.  Rosa merasa sedikit penasaran dengan kalimat terakhir Matthew yang seolah mencegahnya bertemu dengan seorang pria. Namun melirik jam dinding yang sudah menunjukkan hampir pukul enam sore membuat dirinya bangkit dan segera menuju kamar mandi. Rosa memilih penampilan yang kasual dan santai. Ia juga memakai rok motif bunga yang berada di atas tumit. Agar mudah bergerak, ia juga memakai sepatu sneakers daripada sepatu hak tinggi. Setelah jam telah menunjukkan pukul tujuh lewat beberapa menit, Rosa segera keluar dari kamar. Ia merasa sangat yakin bahwa Matthew telah meninggalkan kediaman mereka. "Nona." Mata Rosa menangkap sosok wanita berbadan tegap yang menghampirinya. Ia telah menduga bahwa wanita itu mungkin pengawal baru yang dipekerjakan oleh Matthew untuk mengawasinya. "Aku ingin ke Restoran Welts untuk melakukan pertunjukkan piano. Matthew selalu mengizinkanku tentang hal itu." "Baiklah, tetapi aku harus menemani dan menjaga Nona." Rosa mengulas senyum sambil mengangguk singkat. "Lalu siapa namamu?" "Venus." Alis Rosa terangkat begitu mendengar nama yang terdengar familier, namun aneh baginya. "Venus? Mars … nama planet?" Venus tersenyum singkat. "Ini permintaan Tuan Matthew dan agar Nona mudah mengingatnya." Rosa hanya mengangguk sebagai tanda tidak masalah. Ia kemudian mulai berjalan menuju pintu utama. Venus pun menghubungi salah satu sopir agar menyiapkan mobil. Mobil berjenis Mercedes Benz C-Class Maybach kemudian melaju pelan ke hadapan di mana Rosa dan Venus kini berdiri. Kedua lalu masuk setelah sopir membukakan pintu.  Setelah sampai di depan Restoran Welts, Rosa memakai topeng yang diraihnya dalam tas sebelum keluar. Ia berjalan memasuki restoran dengan mata melirik mencari sosok Paul, namun belum menemukan pria tersebut.  Rosa pun berpikir bahwa mungkin Paul belum sampai. Ia pun memutuskan bermain piano terlebih dahulu untuk membunuh waktu. Mengingat rembulan yang bersinar dalam perjalanannya menuju restoran membuatnya memainkan lagu berjudul The Night King. Sebuah instrumental dari serial televisi.  Suara yang menyiratkan misteri dan kegelapan membuat beberapa pengunjung restoran mengalihkan pandangannya sejenak dari hidangan yang dipesannya ke arah Rosa yang bermain piano. Lagu yang dimulai dengan pelan dan hati-hati, lalu berubah menjadi intens dan ketika berakhir, wanita itu mendapat tepuk tangan yang meriah. Rosa berpaling ingin menatap pengunjung, namun suara letupan kecil kemudian terdengar disertai suara teriakan pengunjung. "Ah bom!" ''Cepat panggil polisi!'' ''Tolong!" Pandangan Rosa kini diselimuti oleh asap. Namun tangannya segera ditarik oleh Venus untuk keluar dari restoran. Ia lalu dituntun masuk segera ke dalam mobil. "Tunggulah di sini, aku harus mengabari agen pengawal yang lain," ujar Venus dengan terburu-buru. Ia baru saja bekerja untuk keluarga Carosta, jadi masih gugup dengan insiden yang terjadi. Bbrrrmm. Namun setelah Venus berbalik badan dan berjalan beberapa langkah, tiba-tiba mobil sedan mewah di mana Rosa telah duduk di dalam, tiba-tiba melaju dengan cepat. Venus yang mendengar suara gas yang keras, lalu berbalik badan kembali dan melihat sebuah sosok tergeletak. Matanya membulat menyadari bahwa sosok itu adalah sopir yang mengantar mereka tadi. "Nona Rosa!" teriak Venus selagi masih bisa memandang mobil yang terus bergerak pergi. Namun dari arah belakang tiba-tiba dua buah mobil lain yang melaju dengan kecepatan tinggi juga. Membuat Venus semakin bingung dan terkejut. Ia pun tidak punya pilihan lain, selain menghubungi Matthew sekarang. ♤♤♤ Rosa membelakakan matanya begitu mobil bergerak dengan cepat. Ia melirik ke arah depan dan menyadari bahwa pria yang memakai topi dan masker bukanlah sosok sopir yang mengantarnya tadi. "Siapa kau?" tanya Rosa berseru keras dengan raut wajah yang sudah ketakutan. Namun pria itu hanya meliriknya dari spion depan tanpa berbicara apapun. Rosa yang ketakutan dan gugup kemudian mencoba mencari ponselnya. Namun naas, karena terburu-buru keluar dari restoran membuatnya melupakan tasnya yang terletak di atas meja kecil samping piano. Rosa mulai menutup mulutnya dengan mata berkaca, karena mobil semakin melaju dengan cepat. Berbagai pikiran gila mulai merasukinya  mulai dari rencana mencekik pria itu dari belakang atau membuka pintu mobil dengan paksa, lalu melompat keluar. Tetapi sepertinya kedua pilihan tersebut malah bisa membuatnya terbunuh dengan cepat.  Entah dirinya akan mati dalam kecelakaan atau tertabrak kendaraan lain. Ketika Rosa memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa ketakutannya, tiba-tiba tubuhnya tersentak dari arah depan dengan cukup keras. Mata Rosa terbuka dan melihat mobil bagian depan rinsek, karena menabrak mobil lain yang sepertinya sengaja berhenti di depan mobilnya. Ia melirik pria yang sebagai sopir telah tak sadarkan diri setelah kepalanya membentuk kemudi mobil, bahkan tetesan darah mulai merembes. "Rosa!" Perhatian Rosa teralihkan ketika menyadari pintu belakang dibuka. Ia kini bisa melihat sosok Paul mengulurkan tangan kepadanya untuk keluar dari mobil. Tanpa menunggu waktu Rosa segera meraih tangan tersebut. Ia lalu dirangkul oleh pria itu menuju mobil yang berada persis di belakang mobil yang ditumpanginya tadi. "Hikss … hiks … sstshh," tangis Rosa begitu telah duduk di atas mobil.  Paul terdiam sejenak. Ia lalu memeluk wanita itu. "Tenanglah, kau sudah selamat." Meski berada dalam keterkejutan luar biasa, tetapi Rosa mencoba menyadarkan dirinya. Ia melepas pelukan Paul dan menatap lekat pria itu. "Bagaimana kau bisa berada di sana tadi?" Paul tersenyum miring. "Aku terlambat datang, karena sebuah rapat. Lalu ketika sampai kulihat kepulan asap dalam restoran, aku mengira itu kebakaran, namun pengawalku menyadari bahwa itu adalah bom asap. Kemudian aku heran dengan seorang pria yang bersandar di samping kiri sebuah mobil sedan seperti kehilangan kesadarannya. Ketika kau masuk ke dalam mobil tersebut dan sesaat setelahnya mobil melaju dengan cepat, kuasumsikan bahwa kau kemungkinan berada dalam bahaya dalam mobil itu." Rosa mendengar penuturan Paul dengan saksama. "Apa? Lalu siapa pria itu?" tanyanya penasaran akan menoleh menatap mobil di mana pria yang membawanya tadi masih berada di sana. Namun wajahnya ditahan oleh tangan Paul. "Jika kau melihatnya, maka itu akan menjadi trauma tersendiri," ujar Paul membuat Rosa bisa memandang jelas kedua bola mata pria itu. Rosa mengangguk pelan. "Seharusnya aku mendengar perkataan Matt yang melarangku pergi ke mana pun." Alis Paul terangkat mendengarnya. "Apa?" Rosa mengalihkan pandangannya dengan menunduk. "Matt bahkan telah menyinggung tentang sosok asing seorang pria," katanya seolah sibuk dengan pikirannya sendiri. Paul menatap saksama wajah penyesalan Rosa. Ia seketika bisa merasakan bahwa wanita itu ataupun Matthew juga memiliki musuh tersendiri. "Apa kau ingin kuantar pulang?" tanya Paul pelan. Rosa mendongak menatap pria itu. "Matt sedang berada di Inggris. Pastinya aman jika aku hanya di rumah," balasnya, lalu menarik napas panjang. Paul berpikir sejenak setelah mendengar keberadaan Matthew yang tidak berada di kota ini. "Apakah kau ingin ikut malam ini bersamaku?" Pertanyaan Paul sontak membuat Rosa terkejut. Ia bahkan telah terperangah menatap pria itu dan anehnya, kepalanya malah mengangguk pelan menyetujuinya. ♡♡♡
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD