Sudah berkali-kali Farrel mengetuk kamarnya tapi Fara masih enggan membukanya. Perempuan itu masih sembunyi di bawah selimut. Enggan keluar. Matanya kian bengkak. Menangis semalaman. Hatinya sakit sekali sejak mengingat rumah ini. Kenapa? Karena ada perempuan lain di sini. Fara terusik tentu saja. Ia pikir, mungkin Farrel tidak akan membawanya ke rumah ini. Tapi ia salah. Sangat-sangat salah. Sementara Farrel perlu masuk ke kamar. Ia ingin mandi tentu saja. Ia harus berangkat ke kantor meski sebetulnya, ia berat hati melakukannya. Ia memang perlu berbicara pada Fara namun istrinya itu masih enggan. Maka setelah berulang kali mengetuk, Fara tak kunjung membukanya, Farrel pasrah. Lelaki itu kembali ke ruang kerjanya lantas duduk menghadap laptop. Ia harusnya sudah punya firasat bukan kala

