Bab 11. Pertunangan

1160 Words
Hari ini adalah hari dimana sepasang kekasih itu akan bertunangan dan hari ini juga untuk pertama kalinya Devina tampil ke publik sebagai adiknya Lavina. Entah apa yang akan terjadi nantinya yang pasti Devina hanya bisa pasrah mengikuti apa yang kakaknya katakan bahwa dia tidak boleh mengatakan apapun yang tidak harus dikatakannya. Saat masuk ke tempat acara ini, merasa bingung dan canggung dengan apa yang akan dilakukan di tempat seperti ini karena ini pertama kalinya dia hadir ke tempat acara mewah dan itu acara pertunangan kakaknya sendiri. Dia memakai gaun yang sudah dikirimkan oleh orang-orangnya Lavina dan bahkan dia hanya memakai make up ala kadarnya yang dia miliki tapi itu semua tidak bisa menyembunyikan kecantikan yang dimiliki Devina. "Aku merasa gugup, aku harus pergi ke toilet sebentar." ucapnya yang tiba-tiba di serang rasa gugup. Dia pergi ke toilet tanpa menyadari bahwa sejak pertama kali dia masuk ke tempat acara tersebut sudah ada seseorang yang memantaunya dari layar monitor. Ya, itu Gerry dan dia langsung bergegas untuk menghampiri wanita itu ketika melihat bahwa Devina sudah datang ke tempat acara pertunangannya bersama Lavina. Gerry menunggu Devina sampai wanita itu selesai dan keluar dari toilet. Tepat saat Devina keluar dari toilet Gerry langsung menariknya untuk kembali memasuki toilet dan mengunci pintunya. Betapa kagetnya Devina ketika dia dipaksa lagi masuk ke dalam toilet dan mulutnya dibungkam oleh Gerry. Devina menatap penuh dengan kekagetan ketika melihat Gerry yang melakukan hal ini padanya. "Aku akan melepaskan tanganku jika kamu berjanji bahwa kamu tidak akan berteriak atau meminta tolong pada siapapun. Aku tidak akan pernah menyakitimu, aku berjanji Devina." anggukan kepala Devina menjadi jawaban bagi Gerry dan perlahan tangan pria itu lepas dari bibir Devina. "Tenang Devina, aku tidak akan melakukan hal apapun, aku janji. Aku hanya ingin bicara dengan kamu saja" ucap Gerry dengan lembut agar Devina merasa bahwa dia tidak terancam ketika bersamanya seperti ini. "A-apa yang ingin anda bicarakan pak? tolong segera bicara dengan lepaskan aku. Aku tidak ingin ada orang yang mengetahui bahwa kita berada di sini. Tolong pak, aku mohon." pinta Devina pada Gerry karena jujur, dia benar-benar takut jika ada yang melihat keadaan mereka saat ini. "Dengarkan aku, aku benar-benar mengatakan ini untuk yang terakhir kalinya Devina. Tolong, tolong mengerti keadaanku saat ini. Aku tidak mencintai Lavina sama sekali dan aku mencintaimu. Aku mencintai dirimu Devina, jadi tolong pertimbangan ini semua. Jika kamu mengatakan siap untuk hidup bersamaku maka aku akan membawamu pergi jauh dari sini. Kita akan pergi jauh dari kota ini meninggalkan Lavina, mengertilah Devina bawa aku tidak bisa menikahi Lavina tanpa cinta. Aku mohon mengerti perasaanku saat ini. Posisiku benar-benar terjepit dan aku harap kamu mengerti." jelas Gerry. Dia bahkan sampai memohon pada Devina dan ini adalah pertama kalinya Gerry memohon pada seorang wanita dan itu adalah Devina sendiri. Tapi sayang, Devina tetap menggelengkan kepalanya karena dia tidak ingin bisa merusak kebahagiaan kakaknya. "Tidak bisa, aku tidak bisa melakukan hal ini. Terlebih anda mencintaiku atau tidak aku tetap tidak bisa melakukannya.Aku tetap tidak bisa pak." "Tapi kenapa? berikan aku alasan kenapa kamu menolakku. Berikan aku alasan atas semua ini Devina." pinta Gerry dengan mengguncang tubuh wanita itu. "Aku membutuhkan alasan apapun untuk mengatakan semua ini pak. Anda akan bertunangan dengan kak Lavina, jadi aku hanya bisa mengatakan selamat untuk itu. Selebihnya semoga kalian selalu berbahagia." Devina hendak meninggalkan Gerry namun tangannya kembali di tarik oleh pria itu dan tanpa permisi Gerry mencium bibir Devina dengan lembut untuk menunjukan pada wanita itu bahwa dia benar-benar sangat mencintainya. Ciuman mereka benar-benar sangat lembut karena dari gerakan bibir yang Gerry lakukan itu benar-benar sangat lembut dan tidak menuntut sama sekali. Bahkan dia kini memejamkan matanya untuk meresapi apa yang mereka lakukan saat ini. Tubuh keduanya menempel dengan sempurna karena tangan Gerry yang menarik pinggul wanita itu untuk semakin mendekat padanya. Sedangkan Devina sendiri, dia berusaha untuk menahan dirinya agar tidak terbuai dengan perlakuan Gerry sampai saat nafasnya hampir habis, Devina memukul d**a Gerry agar pria itu melepaskan ciuman mereka. "Devina, look at me please..." pinta Gerry dengan lembut. Kedua tangannya membelai wajah cantik Devina dan menatapnya penuh cinta. Gerry benar-benar berharap bahwa Devina bisa merasakan ketulusan cinta yang dimilikinya. "Devina, tolong lihat aku sebentar saja," punya Gerry dengan memohon pada Devina untuk melihat ke arahnya. "Apa lagi pak? tolong mengertilah posisiku saat ini. Jika anda ingin membatalkan pertunangan anda dengan kakakku tolong lakukan itu dengan wanita lain tapi tidak dengan diriku. Aku dan kakakku sejak kecil hubungan kami tidak sedekat itu jadi aku mohon jangan lagi merusak hubungan yang tidak dekat itu. Jika memang Anda tidak mencintainya tolong katakan hal itu padanya dan batalkan semua ini tapi bukan dengan aku. Sejahat apapun dia, dia tetap kakakku dan kami bersaudara. Aku kita akan pernah menyakiti hatinya walau dia sering menyakiti hatiku." terlihat Devina menarik nafasnya dalam-dalam sebelum dia kembali mengatakan hal yang ingin dikatakannya lagi. "Jika anda mengatakan bahwa ini untuk terakhir kalinya anda meminta, maka aku juga akan mengatakan hal ini untuk yang terakhir kalinya bahwa aku tidak akan pernah menerima apapun dari anda dan besok saya akan mengantarkan surat pengunduran diri saya." putus Devina karena dia sudah kau pikirkan semua ini mata-mata bahwa dia akan pergi meninggalkan perusahaan Gerry karena dia tidak ingin terlibat masalah apapun dengan pria itu dan juga kakaknya. Mendengar penuturan Devina membuat Gery cukup terkejut karena dia tidak percaya bahwa Devina akan pergi meninggalkan perusahaan dan demi kakaknya. "Lalu bagaimana dengan aku Devina?" ketika wanita itu tidak pergi meninggalkannya. "Jalani saja hidup Anda seperti sebelum kita saling mengenal dan tolong, jangan pernah mengingat apapun lagi yang telah terjadi di antara kita karena demi Allah saya sudah ikhlas pak, walaupun jika suatu saat nanti saja akan menjadi wanita yang paling hina di bumi ini." ucap Devina yang meninggalkan Gerry begitu saja tanpa ingin mendengar apapun lagi yang pria itu katakan. Jujur, di dalam hatinya yang paling dalam dia juga memiliki setitik perasaan terhadap pria itu, tapi dia tidak mungkin melakukannya karena memang dia tidak bisa melakukan semua itu demi kakaknya. Devina harus bisa melakukan semua ini demi kakaknya dan dia akan pergi setelah pernikahan kakaknya dan Gerry. "Dari mana saja kamu?" tanya Lavina yang menarik tangan adiknya ketika dia mencari wanita itu sejak tadi. "Kakak," kaget Devina ketika melihat kakaknya di sini. Dia takut jika kakaknya ini mengetahui bahwa dia sedang bersama Gerry tadi di dalam toilet. Melihat adiknya yang terlihat gugup dan ketakutan seperti itu membuat Lavina semakin curiga. "Apa yang kamu sembunyikan?" tanya Lavina yang penasaran apa yang telah terjadi dengan adiknya ini. "Ti-tidak ada apapun yang terjadi. Hanya saja aku memang baru dari toilet karena merasa penampilanku sedikit berantakan, jadi aku merapikannya." Lavina meneliti penampilan adiknya dari atas sampai bawah dan dia melihat bahwa penampilan Devina sudah rapi. "Bagus, kau harus ingat bahwa kau tidak boleh berbicara apapun yang tidak penting!" titah Lavina dan Devina hanya bisa menganggukkan kepalanya saja. Sedangkan Gerry yang melihat itu semua hanya bisa menghela nafasnya saja ketika melihat perbandingan sifat keduanya. "Hal itulah yang membuat aku jatuh cinta padamu Devina,"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD