Gerry terus saja memikirkan bagaimana keadaan Devina setelah apa yang dia lakukan tadi pagi. Walau Devina mengatakan bahwa dia sudah memaafkannya tapi tetap saja Gerry merasa ada yang mengganjal dalam dirinya tentang semua ini
Seperti saat ini, jam sudah menunjukan waktu makan siang tapi hingga saat ini bekalnya belum juga di antar oleh Devina.
"Apa dia tidak membawakan bekal untukku?" gumam Gerry.
Dia terus saja memikirkan Devina hingga membuatnya merasa tidak nyaman dengan semua ini. Setelah terus memikirkan Devina, akhirnya Gerry memilih untuk datang menghampiri wanita itu di pantry.
Benar dugaannya bahwa saat ini wanita itu sedang menyantap menu makan siangnya. Bahkan itu terlihat jelas bahwa ada kotak bekal satu lagi di dekatnya dan Gerry meyakini jika itu bekal miliknya.
"Apa itu bekal milikku?"
Uhuk!
Devina tersedak karena merasa kaget saat mendengar suara Gerry yang tiba-tiba saja berada di belakangnya. Melihat Devina yang tersedak seperti itu membuat Gerry langsung menghampiri wanita itu dan memberinya satu gelas air minum yang berada di dekatnya.
Karena merasa bahwa dia membutuhkannya Devina langsung menerima gelas berisikan air minum yang Gerry berikan padanya.
"Seharusnya jika makan lebih hati-hati lagi. Kamu sampai tersedak seperti ini." ujar Gerry yang merasa khawatir dengan keadaan Devina.
"Ada apa bapak berada di sini?" tanya Devina to the point karena dia tidak ingin berlama-lama bersama pria ini. Dia tidak ingin menjadi bahan pembicaraan banyak orang apalagi dengan Gerry yang berani mendatangi ke pantry seperti ini. Sungguh, Devina benar-benar takut jika ada orang yang melihat ini semua dan akan menjadi bahan pembicaraan panjang.
"Ah, itu aku hanya ingin bertanya apakah ada bukan makan siang untukku? tidak ada ya sudah. Apa uangnya kurang? biar aku berikan lagi." Gerry bersiap untuk mengeluarkan dompetnya dan memberikan uang pada Devina karena dia pikir uang yang diberikan pada Devina sudah habis dan tidak cukup untuk membeli bahan makanan.
"Ini, dan uangnya masih cukup." jawab Devina yang sama sekali tidak melihat ke arahnya Gerry. Dia mendorong dengan perlahan kotak bekal milik Gerry dan memberikannya pada pria itu.
Melihat Devina yang tidak ingin melihat ke arahnya membuat Gery merasa sangat bersalah. Dia benar-benar merasa bersalah pada Devina atas apa yang telah dilakukan tadi.
"Terima kasih,"
"Sama-sama pak," jawab Devina yang langsung meninggalkan pria itu karena dia sudah selesai dengan kegiatannya.
Saat Gerry melihat Devina yang ingin pergi meninggalkannya membuat diri langsung mengatakan permintaan maafnya.
"Maaf Devina, aku benar-benar tidak bermaksud melakukan hal itu padamu. Hanya saja aku memang tidak bisa menahan diriku untuk berada di dekatmu. Entah kau percaya atau tidak, tapi yang pasti aku benar-benar merasakan kenyamanan saat bersamamu."
"Tolong jangan katakan hal itu padaku lagi pak. Aku sudah mengatakan pada anda bahwa aku sudah memaafkan anda jangan pernah mendekatiku lagi. Jika anda menginginkan bekal dariku aku akan tetap memasaknya untuk Anda tapi jangan pernah menghampiriku secara langsung seperti ini. Tolong, aku mohon dengan sangat jangan pernah menyakiti hati kakakku. Aku dan dia, kami saudara kandung dan saudara jadi aku tidak ingin melihatnya merasakan kesakitan. Aku tidak ingin dia merasa kecewa denganku karena berpikir bahwa aku merebut apa yang di milikinya karena sejak kecil pun aku tidak pernah ingin merebut apa yang menjadi miliknya. Jadi saya mohon tolong jaga jarak." ucap Devina tanpa melihat ke arah Gerry sedikitpun.
Dia pergi meninggalkan pria itu begitu saja yang telah memegang kotak bekal yang berisikan makan siang miliknya. Gerry menghela nafasnya yang terasa berat seolah sedang menghimpit dadanya saat ini.
Entah mengapa rasanya sakit ketika mendengar Devina yang menurunnya untuk tidak lagi mendekati wanita itu. Padahal yang sesungguhnya Gerry benar-benar sangat ingin menjadi dekat dengannya dan menjalani hubungan mereka mungkin karena dia tetap yakin bahwa ada yang tertinggal dalam dirinya.
Karena Devina yang sudah pergi meninggalkan yang lebih dulu, akhirnya Gerry memilih untuk kembali ke ruangan kerjanya. Tepat saat dia membuka pintu ruangan kerjanya dia melihat bahwa di sana sudah ada Lavina dan juga ibunya.
"Mama, Lavina?"
"Kenapa kamu terlihat sangat terkejut sekali ketika melihat mama di sini Gerry?" tanya mamanya ketika melihat sang anak yang terlihat terkejut akan kedatangannya ke perusahaan bersama dengan Lavina.
Lavina sendiri lebih fokus pada kotak bekal yang ada di tangan Gerry saat ini. Dia orang catering yang dikatakan kemarin.
Begitu juga dengan mamanya, dia juga menatap pada kotak bekal yang ada di tangan putranya saat ini.
"Apa itu Gerry?" tanya mamanya ketika melihat putranya yang membawa kotak bekal di tangannya.
"Bakal makan siang. Ada apa mama dan Lavina datang ke sini?" tanya Gerry tanpa memperdulikan kedua wanita itu lagi karena dia lebih fokus pada menu makan siangnya kali ini yang berisikan sayur capcai dan ayam goreng Jawa. Dari aromanya saja Gerry sudah bisa mencium bahwa itu sangat enak sekali.
Bahkan kali ini Lavina menambahkan puding di kotak yang satunya lagi.
Melihat isi bekal Gerry membuat Lavina seperti pernah melihatnya dan dari aromanya Lavina seperti mengenal siapa yang memasaknya.
Tapi dia buru-buru menggelengkan kepalanya dan membuang jauh-jauh pemikirannya itu karena tidak mungkin jika Devina yang memasaknya. Mengingat Devina, dia jadi penasaran dengan kehidupan adik kandungnya itu.
"Mama sudah memutuskan bahwa kalian akan bertunangan Minggu ini dan mama sudah menyiapkan semuanya bersama Lavina. Kamu hanya harus-"
"Ya, lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan. Jika menang bertunangan ya terserah lakukan saja." jawab Gerry tanpa melihat ke arah kedua wanita yang berada di dekatnya saat ini.
"Tapi sayang-"
"Aku sudah menuruti apa yang kalian inginkan. Kalian yang merencanakan pertunangan ini dan aku sudah menyetujuinya lalu apa lagi? jika memang tidak ada kepentingan lain lagi silakan keluar dan biarkan aku makan dengan tenang." ucap Gerry dengan nada yang halus tapi terdapat makna pengusiran di sana.
Dia benar-benar ingin menikmati makan siangnya tanpa harus di ganggu oleh siapapun termasuk mamanya dan juga Lavina.
"Tapi Gerry, kamu dan Lavina harus fitting baju yang akan kalian gunakan nanti." ucap mamanya lagi yang tidak ingin membuat acara yang sudah di susunnya berantakan.
"Ma, plis. Berhenti mengatur Gerry lagi dan jika kalian ingin pertunangan ini tetap terjadi, maka tinggalkan Gerry sekarang dan Gerry tidak akan lari jika kalian memang takut akan hal itu. Katakan saja kapan dan di mana acara pertunangannya karena Gerry akan datang ke sana. Jangan lupa, pastikan bahwa tidak ada media yang meliput ini semua."
"Tapi sayang, aku sudah menghubungi managerku untuk memberitahukan pada media bahwa kita akan bertunangan nanti dan media harus tau bahwa aku akan-"
"Iya atau tidak! keputusan ada di tangan kamu Lavina. Jika tetap menginginkan pertunangan ini terjadi maka turuti saja apa yang aku katakan!" putus Gerry.