BAB 19 KMJN

2373 Words

Ruang kerja Aginos selalu sunyi di malam hari. Hanya suara jam dinding yang berdetak lambat, dan aroma rokok mahal bercampur bourbon memenuhi udara. Lampu di sudut ruangan temaram, memantulkan bayangan tubuhnya di balik kursi kulit hitam yang berputar menghadap jendela besar. Di atas meja, ponsel hitam yang tadi disita dari Hazel tergeletak, layarnya mati. Aginos menatap benda itu lama — seolah sepotong logam kecil itu bisa menjelaskan segalanya tentang dirinya sendiri. Ia menekan ujung jarinya di layar, layar menyala sesaat — memperlihatkan cuplikan video yang belum sempat Hazel tutup ketika ia datang. Satu detik saja cukup untuk membuat rahangnya mengeras. Ia menutup layar, menarik napas panjang, lalu tertawa kecil — getir. “Marco…,” gumamnya. “Kau benar-benar tidak tahu kapan haru

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD