Dua : Sulfur dan Sate

1532 Words
Seruni yang berusia enam belas, sering sekali bolos sekolah. Sekalinya datang, pekerjaan utamanya adalah berkelahi dan bertengkar dengan Jingga yang doyan duduk di bangku gadis itu. Alasannya jelas, teman sebangku Seruni yang cantik jelita, Lusiana adalah incaran Jingga sejak lama.  "Pergi deh, Ga. Gue mau duduk." Marah Seruni yang tampak letih usai pelajaran olah raga. Keringat meleleh di leher dan pelipis, sesekali bahkan menetes dari ujung anak rambut yang sewaktu melihatnya membuat Jingga menyipit. Terutama, ketika Seruni menggunakan punggung tangan kirinya yang jelek dan korengan untuk menyeka keringat tersebut. "Idih, lo jorok banget, jijik gue liatnya. Berobat, kek. Kudisan kayak gitu, kasian kan Uci punya temen sebangku jorok." Seruni menelan ludah, kemudian ia memperhatikan Jingga mulai menarik tisu yang terdapat di atas meja, milik Lusiana lalu menggunakan benda tersebut untuk mengusap meja Seruni yang nyata-nyata sedang ia ambil alih.  "Pantes gue gatel-gatel gimana gitu tiap duduk di sini." Siapa yang tidak murka? Maka sedetik kemudian, setelah mendengar kalimat tersebut, tubuh bocah tampan berusia tujuh belas itu terlempar bersama bangku kayu yang ia duduki. Seruni menarik kasar tubuhnya hingga Jingga terjungkal dan hal yang kemudian bocah itu lakukan adalah menunjuk-nunjuk wajah Seruni lalu siap memulai perang, sementara Lusiana segera bangkit dan menarik lengan Jingga agar menjauh. "Udah, Ga. Udah jangan berantem. Ini memang tempat duduknya Uni. Kamu balik ke bangkumu, bentar lagi Pak Jamal masuk, nanti kita semua kena marah." Kemarahan Jingga yang seragam putihnya jadi kotor mendadak menguap. Sebelum ia bergerak menuju tempat duduknya sendiri yang jelas-jelas berada di depan Seruni, ia melirik kejam pada gadis malang yang kini sibuk menarik bangkunya sendiri. "Harusnya lo nggak usah masuk lagi. Biar gue bisa duduk di sana. Oh iya, bilang ama gue kalo ga bisa beli sabun sulfur, ntar gue beliin, dijamin koreng lo sembuh." Jingga terkekeh lalu bergerak menarik bangku miliknya sendiri. Ia sempat melempar kedipan genit pada Lusiana yang tersipu malu, pura-pura melihat ke arah pintu padahal Seruni tahu, seperti dirinya sendiri saat ini yang hatinya berbunga karena di balik kalimat sarkas yang Jingga barusan ucapkan, dia telah berniat membelikan gadis itu sabun sulfur untuk mengobati luka-luka di tangannya, dan dia tahu, Jingga tidak pernah hanya berjanji. Dalam satu atau dua hari, bahkan siang ini, usai pulang sekolah, benda itu akan mampir, entah dalam tasnya atau ke tangannya sendiri. Di balik mulut ketus dan menyebalkan itu tersimpan satu rasa peduli yang tidak pernah alpa memercikkan getar-getar haru dan sayang yang semakin menumpuk kala dia memandangi punggung Jingga yang duduk tepat di depan mejanya sendiri. Meski kemudian, Seruni paham, Lusiana, sahabatnya sendiri adalah wanita yang paling Jingga inginkan lebih dari apapun. Pulang sekolah adalah hal yang paling Seruni suka. Dia akan berjalan beriringan, bersama Jingga menuju rumah. Biasanya, Jingga berjalan di depan sementara gadis kurus itu memerhatikan pujaan hatinya sesekali menendang kerikil jalanan, entahlah, apakah dia sedang menganggap kerikil-kerikil tersebut sebagai bola yang sesekali dia lontar-lontarkan dengan kaki kanannya bak pemain sepak bola profesional atau menggunakan benda itu untuk melempar tikus atau benda apa saja yang mengganggu pemandangan matanya.  Jahil nggak ketulungan, pikir Seruni. "Lo nggak ada kerjaan ngekorin gue mulu, Ni? Ntar dikira orang kita pacaran." Jingga terkekeh dari depan, seraya mengusap puncak kepala yang berponi gorden, potongan rambut paling terkenal kala itu.  "Mending pulang bareng Uci, sayang rumahnya jauh dan dia bilang, nggak mau dianter pake angkot. Lucu, ya. Gue mau aja bonceng pake sepeda dari belakang, tapi ntar dia malu." Jingga terus saja mengoceh panjang lebar, membahas bagaimana saat ini ia akan belajar giat, hingga bukan hanya sepeda yang akan dia gunakan untuk menjemput Lusiana, melainkan juga helikopter atau bahkan pesawat pribadi sekali pun. Sementara, Seruni yang berada di belakang, hanya memandangi bocah itu seraya memegang plastik hitam berisi sabun sulfur yang ia terima dari Jingga tidak lama usai mereka bertemu dengan sebuat toko kelontong.  Meski dia tidak mendapat sebuah boncengan mesra di belakang sepeda, atau tidak pernah masuk dalam daftar mimpi-mimpi indah bocah itu untuk masa depannya yang jelas-jelas terang-benderang,  sabun sulfur tanda perhatian seorang sahabat yang tidak pernah mau mengakuinya berarti lebih dari semua itu.  Ya, bagi si kurus kering dan korengan itu, sabun sulfur berharga lima ribu pemberian Jingga adalah harta paling berharga yang membuat Seruni harus berhemat ketika menggunakannya dan harus memotong benda tersebut menjadi beberapa bagian agar tidak cepat habis, tidak peduli, aromanya yang kurang sedap mengganggu indera penciumannya.  *** "Lu anak setan, ngapain datang-datang ke sini, hah? Udah gua bilang jangan datang-datang lagi. Mak lu kualat, nekat minta cerai... lu juga, najis haram jadah..." "Pak, tolong Ibu. Bapak pulang sebentar, Ibu sakit, nyari-nyari Bapak. Uni janji nggak bakal nakal, nggak bakal melawan. Ibu sakit, Pak. Udah muntah darah. Tolong bawa Ibu ke rumah sakit...." "Alaah, setan lu semua, giliran mau mati, nyusahin gue." "Bapak, tolong Ibu..." Bapak pada akhirnya tidak pernah datang menyelamatkan ibu dan hal terakhir yang Seruni ingat kala memohon pada pria itu tanpa henti adalah pukulan kepala tali pinggang yang terbuat dari besi, berkali-kali di sekujur tubuhnya, hingga ia pingsan tak sadarkan diri, di depan pekarangan rumah istri baru sang ayah yang berteriak marah pada anggota keluarganya yang baru tersebut. "Jangan ada yang nolong dia. Biar dia mati dimakan anjing." Seruni bergerak gelisah di atas tempat tidur. Lehernya seperti dicekik dan dengan kalut diremasnya sprai. Keringat bercucuran membasahi pelipis dan ia berusaha menghirup udara banyak-banyak kala merasa jalan napasnya terganjal sesuatu. "Bapak, jangan. Uni minta ampun." "Kenapa lo nggak mati-mati, sih?" Tidak ada udara yang berhasil ia hirup, kini kakinya berontak dan menghantam kasur. Jilbab yang masih menutupi puncak kepalanya melorot dan erangan putus asa lolos dari kerongkongannya. Kelopak bunga mawar merah berbau harum berceceran hingga ke lantai, bawah tempat tidur dan dua detik kemudian, mata Seruni berhasil terbuka.  Ia terduduk dan megap-megap memenuhi kerongkongannya dengan udara hingga rasanya amat sakit, membuatnya menyentuh leher dan mengingat lagi kejadian mengerikan bertahun-tahun lalu, kala bapak mencekik lehernya tanpa ampun, dengan harapan batang lehernya patah dan ia lekas mati.  Seruni memejamkan mata, menata kembali pernapasannya, masih sambil memegang leher. Sudah delapan tahun telah lewat, tapi, perasaan itu selalu sama, membuatnya amat ketakutan dan tidak bisa tidur lagi. Badannya bahkan masih menggigil, seolah tangan bapak yang besar, liat dan berotot masih berada di lehernya.  Ia masih bisa mengingat mata pria itu menyipit penuh kebencian kala ia memohon agar ibunya diselamatkan. Bunuh Uni, Pak. Tapi selamatkan Ibu. Ambil nyawa Uni, lemparkan tubuh Uni  ke jalan tapi jangan tinggalkan Ibu. Bapak suaminya, bapak pemilik tulang rusuk Ibu... Dengkur lembut terdengar dan Seruni menyadari bahwa ia tidak sendirian dalam kamar itu. Lampu utama kamar memang telah dimatikan, tapi lampu tidur di sebelah tempat tidur masih menyala. Ia bisa melihat bahwa Jingga tidur di sofa panjang seberang tempat tidurnya, berselimutkan sarung yang Seruni ingat dipakai pria itu untuk salat Magrib. Tapi kemudian, mengingat bahwa sebelum ini pria itu telah meninggalkan kamar untuk seseorang yang amat berarti, membuat perasaan mengharu biru yang sempat menguasai diri Seruni mendadak lenyap, berganti dengan ngilu-ngilu tak nyaman serupa dengan rasa perih ditolak oleh ayah kandungnya sendiri. Perlahan, tanpa menimbulkan suara, Seruni bangkit dan mengendap-endap menjauhi tempat tidur. Langkahnya tertahan ketika matanya menangkap sebuah kotak kecil dalam kantung yang berada dekat lemari seberang kamar mandi. Jingga membelikannya satu porsi sate ayam yang kemudian dibiarkan begitu saja di sana. Dia mungkin terlalu malas untuk membangunkan Seruni dan lebih memilih tidur.  Butuh beberapa detik bagi Seruni untuk menarik satu tusuk sate, membuang isinya dalam kantong dan membawa lidi bekas ke dalam kamar mandi. Dia bersyukur Jingga tertidur begitu lelap. Entah apa yang dia lakukan hingga tidak sadar bahwa barusan istrinya berteriak dalam tidur. Tapi, bagi Seruni, hal tersebut bukanlah masalah. Ia malah senang pria itu tenggelam dalam mimpi amat indah setelah menghabiskan malam bersama sang kekasih, karena dengan begitu, dia tidak akan tahu apa yang akan Seruni lakukan lewat tengah malam, dalam kamar mandi bermodalkan sebuah tusuk sate bekas. Jingga tidak perlu tahu.  Seruni hanya butuh beberapa detik untuk mengenyahkan nyeri-nyeri yang menghantui dirinya selama bertahun-tahun dan membekas sepanjang hidupnya. Satu-satunya cara agar ia bisa tetap sadar dan percaya bahwa nyawanya masih ada di dunia ini. Ketika pintu kamar mandi tertutup, Seruni menghabiskan sepuluh detik untuk mengambil sabun dan mencuci batang sate lalu mengambil posisi duduk di atas toilet yang tertutup.  Dia menarik napas panjang sebelum mulai menyibak ujung gamis yang tergerai hingga lantai, hingga paha kanannya terlihat. Beberapa bekas luka tampak di sana dan jejak kebiruan bekas benturan yang dia sengaja ketika menubruk ujung tempat tidur masih kentara.  Lalu Seruni memejamkan mata dan menikmati apa yang dia perbuat kala ujung tajam tusuk sate mulai menancap  di paha yang dia tahu, tidak akan pernah dilihat dan disentuh oleh pria yang tidak pernah mencintainya sama sekali. "Simpan saja semuanya buat suamimu nanti, Uni." Seruni menggigit bibir dan mulai menusuk lagi hingga tiga kali. Lukanya hanya sedikit, tidak akan berdarah seperti kala ia menyayat bagian itu dengan ujung pisau cutter yang tertinggal di ruko tempat ia bekerja. Tapi, luka itu cukup membantunya tetap sadar dan ia tidak akan terlelap lagi sampai pagi. Ia akan menikmati luka ini, ia akan menikmati air mata yang jatuh karena air mata itu tidak akan luruh jika dirinya tidak ia sakiti.  Lo nggak bakal bisa buat gue nangis, Ga. Mo lo sakiti kayak apa, gue bakal terus kuat.   Gue kuat. Cam kan itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD