tujuh Hati Abang Cuma Buat Lo

952 Words
Entah kenapa, menyaksikan Seruni yang datang dibonceng tukang ojek online dengan sedikit senyum menghias birainya, membuat Zam yang kala itu sudah duduk di belakang konter memandangi saudari tirinya dengan curiga. Diliriknya jam dinding yang berada di sisi kanan dinding ruko, jam setengah sepuluh. Apakah gerangan yang telah terjadi? Sesuatu yang baik sedang terjadikah, hingga mampu menerbitkan senyum yang jarang-jarang ditemukan di wajah cantik Seruni? "Assalamualaikum." Seruni menyapa pendek usai mendorong pintu kaca agar terbuka. Sarah dan Zam menjawab bersamaan. Keduanya memandangi sang pengantin baru yang kini mendekat lalu mencium punggung tangan sang kakak tanpa ragu. "Eh, girang. Yang begini ini biasanya abis dapet jatah tadi malem, kan? Gue bilang juga apa, nikah itu enak, Neng. Kalo capek, ada yang mijet ama ngelonin." Seruni menggeleng-gelengkan kepala tapi tidak mau repot merespon lebih banyak, entah itu berupa penyangkalan bahwa tidak ada yang terjadi kecuali fakta bahwa tadi malam berlalu dengan Jingga menghabiskan masakan sederhana buatannya, dan pagi tadi, pria itu tidak menolak kopi hangat yang telah dia buat. Walau saat memasak sarapan berupa nasi goreng, ponsel Jingga berdering dan ia berlalu secepat kilat, membuat Seruni kemudian segera mematikan api kompor lalu memandangi hasil karya setengah jadinya dengan perasaan linglung. Gue masak banyak dan dia pergi gitu aja. Mau nyuruh gue jadi gemuk, Ga? "Gue masak nasi goreng banyak tadi, makan ya." Pada akhirnya Seruni bergegas menuju dapur, mengambil piring dan sendok tidak peduli dua manusia yang masih memandangi dirinya pagi itu belum mengalihkan pandang ke objek lain. "Kalian udah baikan?" Zam bertanya tatkala Seruni sudah di hadapan pria itu. Seruni mengajak pria itu makan di ruang belakang sementara Sarah terpaksa menunggu giliran berikutnya. Ada seorang konsumen yang datang dengan membawa sekitar dua puluh lima paket berisi buku. "Nggak berantem, kok. Tapi nggak banyak ngomong juga." Seruni memperhatikan Zam makan. Di rumah ibunya, pria itu kadang pulang saat hari sudah amat larut. Walau ruko KiKi tutup menjelang Magrib, para pegawai kadang harus mengantar paket hingga malam dan meskipun dia adalah pemilik ekspedisi ini, Zam tidak ragu turun tangan mengantarkan paket hingga ke tangan para konsumen mereka. "Lo beneran dicuekin ama dia? Tapi kenapa senyum-senyum dari tadi, kalian 'itu'...?" Wajah Zam tampak tegang, paduan dari penasaran dan jijik karena harus mengucapkan kata haram itu dari bibirnya. Tapi membayangkan Seruni disetubuhi oleh suaminya sendiri entah kenapa malah membuat darah Zam mendidih. Ia setuju adiknya menikah dengan pria itu karena Jingga berjanji tidak akan menyentuhnya, tapi ternyata, melihat adiknya diperlakukan seolah-olah debu jalan, membuatnya ingin murka juga. "Itu apa? Pikirannya udah ke mana-mana, ih. Mana mau dia ama gue, Bang. Dibanding Uci yang lo tau sendiri gimana penampilannya, gue kalahlah. Manusia normal mana pun bakal milih dia yang orang bilang bibit unggul. Toh, udah bertahun-tahun Aga sama dia, sampe sekarang masih awet. Susunya cocok, tau." "Mata dia buta kalo gitu." Zam mendengkus tidak setuju. Dipandanginya Seruni yang hari itu mengenakan jilbab berwana dusty pink dan gamis cantik berbahan sifon warna hitam dengan motif bordiran bunga di lengan dan sekitar lutut, Zam merasa, dibandingkan Lusiana, Seruni yang lemah lembut akan membuat siapa saja mudah jatuh cinta. Pembawaannya yang jarang bicara dan kadang sedikit gugup, selalu menjadikan alasan bagi Zam bahwa dia tidak boleh meninggalkan wanita muda itu, walau tahu, berkali-kali Seruni bilang dia mampu. "Ajarin gue nyetir mobil ya, Bang. Sekali-sekali mau ikut ngirim paketan. Naik motor kantor susah banget. Lo tahu, berapa kali gue nabrak pagar sama nyemplung ke got gara-gara bablas muter gas. Ngapa sih, naik matik gitu amat? Untung gigi gue nggak patah, lucu kan, ompong pas nyambut konsumen." Zam menaikkan alis, "Lo gak perlu nganter-nganter paket. Sudah ada Jo ama Haris dan emang tugas mereka. Lo tu wakil bos, kerjanya duduk doang, ama ngelobi toko-toko. Gue udah punya program baru selain jemput paket. Toko mana yang tembus kirim sebulan lima ratus paket dapet hadiah. Rencananya gue mau kerjasama ama temen gue biar bisa jadi ekpedisi ofisial." "Jangan terlalu capek." Seruni mengingatkan karena tahu, jika Zam terlalu bersemangat, dia akan lupa diri, "lo kudu nyari pacar. Duit udah banyak, tinggal cari yang mau dinafkahi, Bang." Zam menggeleng, "Gue nafkahin lo sama mama udah lebih dari cukup." Kemudian Zam memutuskan untuk melanjutkan makan tanpa suara, membiarkan Seruni yang kini memandanginya dalam diam, berpikir, apakah benar dirinya adalah salah satu alasan pria itu enggan menjalin hubungan dengan satu wanita pun sejak bertahun-tahun lalu. "Diam di sini, di kamar Abang. Bapak gak bakal pukul lo. Habis dia pergi, baru pulang. Ini ada duit dua ratus, lo bawa ibu ke puskes atau dokter. Kalau kurang, telepon, nanti gue ke sana." Dia tidak tahu, mengapa pria itu begitu baik kepadanya, mengapa tidak terbersit rasa marah kala tahu bahwa ibunya diduakan atau kenapa anak dari istri pertama harus datang mengemis bahkan bersujud di kaki ayah kandungnya sendiri agar pria itu mau pulang sekadar menjenguk ibu dari anaknya sendiri. Yang dia ingat, Zam yang kala itu berusia dua puluh satu, tidak pernah membiarkannya sendirian lagi. Walau ia hampir kehilangan Seruni di hari ia mendaftar menjadi pegawai di perusahan kilang minyak paling top di ibukota. "Perusahaan segede itu ga bakal rugi kehilangan gue, tapi gue bakal merasa amat bersalah kalau harus kehilangan adik kayak lo, Ni. Lo lebih berharga dari rupiah dan minyak. Lo adek gue dan itu nggak ternilai harganya. Hiduplah buat gue, buat diri lo, walau fakta bahwa ibu lo pergi bikin lo mau ikut nyusul beliau." "Nafkahin istri itu jauh lebih banyak manfaat daripada nafkahin gue. Gue dah punya laki dan..." "Laki lo nggak cinta, dia nikahin lo cuma karena nggak mau emaknya kumat lagi." Zam memotong, "dan gue nggak mau, nyakitin wanita mana pun cuma karena nggak ada perasaan, karena hati gue cuma buat mama dan lo..." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD