BAB 1
“Di mana ini? Siapa aku?”
Henry terbangun di tempat yang tidak dia kenal. Bahkan, lingkungan tempat tinggalnya bukanlah alam manusia.
Di manakah dia berada?
***
Kisah ini berawal dari kisah hidup seorang pemuda yang bernama Henry Lee Weyong. Pemuda berusia dua puluh lima tahun yang sudah berhasil menyandang gelar professor. Wajahnya yang tampan namun selalu ditutupi oleh kaca mata yang tebal. Walaupun memiliki wajah yang tampan, namun postur tubuhnya bukanlah tipe ideal. Dia terlihat tinggi dan juga kurus tanpa otot yang terlihat seksi. Itu juga yang membuat penampilannya sangat tidak digemari di kalangan para wanita.
Dia juga salah seorang yang sedikit berbicara. Orang-orang yang mengenal dirinya selalu tidak memahami jalan pikiran yang ada di dalam otak Henry.
“Bagai mana perasaan anda setelah menyandang gelar professor termuda?” tanya seorang perempuan yang sedang mewawancarai Henry.
Semua wartawan langsung ingin mewawancarai Henry. Sesaat setelah dia mendapatkan penghargaan atas penemuannya. Di usia Henry yang masih sangat muda, dia bisa menemukan sebuah penemuan yang secara ilmu kedokteran tidak mungkin terjadi. Tetapi, karena sikap Henry yang sangat pendiam. Dia tidak mau diwawancarai oleh orang banyak. Akhirnya dia memilih satu orang perempuan yang dia anggap berpenampilan sangat cantik dan menawan.
“Prof Henry? Mengapa anda tidak menjawabnya?” tanya perempuan itu lagi.
Henry memang cenderung tidak menjawab pertanyaan dari orang yang belum menyebutkan namanya. Walau orang itu sangat sopan dalam bertanya. Tetapi ada satu sikap dari perempuan itu yang sangat tidak Henry suka, dia sangat tidak sabaran dan seperti ingin langsung pergi dari ruangan ini. Walau dia berusaha sebisa mungkin tidak memperlihatkannya di depan Henry.
Henry tetap diam dalam seribu bahasa, walau perempuan itu tetap bertanya terus dengan pertanyaan yang berbeda. Bahkan, ada pertanyaan yang diulang kembali oleh perempuan itu. Dia pun menjadi sangat geram karena sikap Henry yang tidak juga menjawab pertanyaannya.
“Dasar professor sombong… ayo buat apa kita lama lama di sini. Aku sudah enggak tahan sama baunya! Sumpah bau banget di sini.” Perempuan itu akhirnya mengeluarkan sikap arogannya.
Dia meminta orang yang membawa kamera yang dari tadi berada di belakangnya, untuk pergi meninggalkan aku sendiri di ruangan ini. Dengan perasaan kesal, mereka berdua pergi meninggalkan Henry. Ini bukan pertama kalinya Henry diperlakukan seperti ini oleh orang lain. Terutama oleh para perempuan cantik. Entah bau apa yang mereka cium saat di dekat Henry, sehingga perempuan cantik yang Henry coba dekati, selalu merasakan aroma tidak sedap yang keluar dari tubuh Henry.
Padahal, Henry sendiri adalah orang yang sangat suka menjaga kebersihan. Di laboratoriumnya, dia juga selalu menjaga kebersihan tempat dan penemuan penemuannya. Tetapi entah kenapa, perempuan yang Henry anggap sangat cantik dan menarik selalu menjauhi Henry dengan alasan mencium bau tidak sedap dari tubuhnya.
Sedangkan orang-orang yang Henry anggap biasa-biasa saja, tidak mau berteman bahkan bertemu dengan Henry. Mereka selalu menganggap Henry itu aneh, membosankan dan tidak bisa dimengerti jalan pikirannya. Mereka juga pernah beranggapan bahwa Hendry keturunan alien yang tidak mengerti bahasa manusia. Sehingga, mereka lebih memilih untuk menjauhi Henry daripada berada di dekatnya. Padahal Henry hanya manusia biasa. Dia hanya sedikit pendiam dan mempunyai otak yang berpikir lebih cepat daripada umumnya.
Henry juga suka merasa dirinya bisa membaca pikiran orang lain. Bahkan bukan hanya manusia yang bisa Henry dengar suaranya. Dia juga bisa berbicara dengan hewan dan juga tumbuhan. Dia juga merasa bingung dengan kemampuan yang dia miliki. Dia juga tidak mengetahui asal kemampuan yang dia miliki itu. Karena memang Henry dari kecil hanya tinggal di panti asuhan. Bahkan saat usianya tujuh tahun, panti tempat tinggalnya tiba-tiba saja kebakar. Semua ibu asuh dan penjaganya meninggal saat itu. Hanya tinggal puing puing bangunan yang hancur. Beberapa temannya ada yang selamat bersama dirinya. Dan teman-temannya itu sudah diadopsi semua. Sedangkan Henry, tidak satu pun dari orang tua angkat yang datang ke sana mau mengangkat Henry sebagai anak. Sampai ada seorang ilmuwan tua yang mau mengambil dia. Djuangi Kevin itu adalah nama ilmuwan yang mengambil Henry. Tetapi Kevin tidak mau menjadikan Henry sebagai anak angkatnya. Dia hanya menginginkan Henry sebagai pembantu dia saat sedang melakukan percobaan.
“Kamu mau ikut dengan saya atau mau tinggal di sini sendirian?” tanya Kevin kepada Henry.
Henry tidak menjawab. Karena Henry sangat pendiam. Dia tidak akan berbicara, jika hal itu dia anggap tidak perlu untuk dikatakan. Ekspresi wajah Henry juga sangat datar. Tidak terlihat sedih di sana. Tidak juga terlihat kesal di wajah Henry. Apa lagi wajah senang. Wajah itu sudah lama tidak pernah terlihat lagi di wajah Henry.
“Saya tidak punya waktu banyak. Jika kamu mau ikut, ayo masuk ke dalam mobil. Tetapi jika saya sudah menyalakan mobil kamu tidak ada di dalam mobil. Saya akan pergi meninggalkanmu sendiri di sini,” kata Kevin dengan sangat dinginnya.
Tanpa kata-kata lagi, Kevin pun pergi menuju mobilnya. Tanpa melihat lagi ke belakang, Kevin pun masuk ke dalam mobil. Dan berniat akan menyalakan kendaraannya itu.
“Sial, di mana kunci mobilnya?” geram Kevin sambil mencari ke seluruh bagian di tubuhnya dan di mobilnya.
Henry yang melihat kunci mobilnya berada tidak jauh dari tempat dia berdiri, ragu untuk mengambilnya. Dia juga tidak mau memberitahukan tentang kunci yang tidak sengaja terjatuh dari kantong celananya.
Lama Kevin mencari keberadaan kunci tersebut. Dan Henry pun terus berpikir apa yang dikatakan Kevin tadi. Apakah ini memang sebuah petunjuk, bahwa Henry harus ikut bersama Kevin. Ataukah memang Kevin sengaja menjatuhkan kunci tersebut.
Setelah berpikir panjang, Henry pun memutuskan untuk mengambil kunci tersebut dan masuk ke dalam mobil Kevin.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Kevin dengan sangat kesal karena kehilangan kuncinya.
Henry tetap tidak menjawab.
“Jadi kamu memutuskan untuk ikut denganku?” nada suara Kevin masih tetap tinggi dan ditambah dengan senyuman sinisnya.
Henry tetap diam tanpa membalas, walau itu hanya sebuah anggukan atau gelengan kepala.
“Hei kamu bisu?!” Kevin tambah kesal dengan tingkah Henry.
Suara yang terdengar di dalam mobil, hanya terdengar suara cacian Kevin saja. Dan Henry masih tetap terdiam membisu. Padahal sesungguhnya, dia tidak bisu.
“Terserah kamu, kalau mau ikut ya ikut saja. Tapi jangan harap aku akan menganggap kamu sebagai anak angkatku. Aku hanya membawa kamu sebagai pembantu,” kata Kevin kesal.
“Sekarang kamu carikan kunci mobilku, segera!” teriak Kevin tambah kesal dengan sikap Henry.
Henry pun tanpa ekspresi menyerahkan kunci mobilnya. Wajah Kevin semakin terlihat kesal. Urat urat di wajah tuanya juga mulai terlihat, karena kesal dengan tingkah Henry. Dia tidak tertawa di dalam hatinya, tidak juga merasa takut dengan amarah yang dilihatkan oleh Kevin. Dia hanya terdiam tanpa maksud apa pun dalam hatinya.
“Huff… oke, terserah kamu mau berbuat apa. Asalkan kamu selalu menuruti semua perkataanku. Aku akan membiarkan kamu tinggal di rumahku.
Maka Sejak itulah, Henry tinggal bersama Kevin. Henry pun mulai mengenal berbagai macam percobaan. Dia bisa mempelajari semuanya, walau hanya melihatnya saja. Dia tidak pernah disekolahkan oleh ilmuwan itu. Dia hanya duduk dan membersihkan laboratorium setelah Kevin selesai dengan percobaannya. Tetapi karena Henry diberikan otak yang sangat luar biasa oleh Tuhan. Dia bisa mempelajari segala sesuatu dengan sangat cepat.
Waktu pun berlalu, tahun pun ikut berganti. Henry masih suka sekali memperhatikan Kevin yang sibuk dengan berbagai eksperimennya. Kevin diusianya yang cukup tua, tidak mempunyai seorang pun keluarga di sekitarnya. Dia pernah menikah. Tetapi, saat Kevin berusia tiga puluh lima tahun, istrinya meninggal karena sebuah kecelakaan. Kevin dan istrinya juga tidak dikarunia seorang anak pun.
Hingga suatu saat, Kevin melihat bakat terpendam yang dimiliki oleh Henry. Walau dia tidak sekolah, tetapi dia bisa mempelajari sesuatu yang sangat sulit untuk dipelajari untuk anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Kevin pun menguji Henry untuk melakukan sebuah eksperimen. Kelvin selalu saja mengalami kegagalan saat melakukan eksperimen tersebut. Tetapi tidak begitu dengan Henry yang masih berumur sepuluh tahun. Dia langsung bisa menyelesaikan ekperimen yang sudah berulang-ulang dilakukan oleh Kevin.
Kevin yang terkejut dengan kejeniusan Henry, terus menyuruh Henry untuk melakukan semua percobaan-percobaan gagalnya. Dan Henry dapat melakukannya dengan sangat mudah. Akhirnya, Kevin pun mau membiarkan Henry berada di sampingnya saat dia melakukan ekperimen. Bahkan, Henry pun diajarkan hitungan-hitungan yang sulit untuk anak seusia dia. Tetapi, Henry bisa mengikutinya dengan sangat mudah.
“Hai, Bro. Kamu lagi ngelamunin apa?” tanya seorang laki-laki yang sepertinya sangat dekat dengan Henry.
Henry pun terbangun dari lamunannya tentang masa kecilnya yang suram. Bahkan bisa dikatakan sampai sekarang hidupnya juga masih suram.
“Aku lagi berpikir Roy,” kata Henry.
Roy adalah satu satunya teman yang dianggap oleh Henry. Dia hanya mau berbicara banyak hanya dengan Roy. Jika dengan orang lain, dia pasti berbicara seperlunya. Bahkan, dia lebih memilih untuk diam.
“Mikirin apa lagi sih profesorku yang satu ini,” kata Roy.
“Aku berpikir tentang diriku yang bisa menghilang dari dunia ini untuk selamanya.” Henry mengatakannya tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.
“Maksudnya, bunuh diri? Mati?” Roy terlihat kaget mendengar temannya yang baru mendapat gelar professor, memilih untuk mengakhirkan hidupnya.
“Mati sih tidak. Tapi aku berpikir bagai mana caranya aku bisa pergi ke dunia yang lain,” kata Henry.
“Dunia apa maksudnya? Masa lalu? Masa depan? Kamu kan sudah menciptakan mesin waktu dua tahun lalu. Kenapa enggak pakai itu aja,” kata Roy.
“Huff… Bukan itu. Tetapi dunia yang belum pernah aku datangi.” Henry membayangkan sebuah dunia yang tidak pernah terbayang oleh dirinya selama ini.
“Dunia apa?” tanya Roy bingung.
“Entahlah, mungkin dunia yang selama ini ada tapi tidak terlihat.”
“Seperti apa?”
“Aku sendiri sedang memikirkannya.”
“Kenapa tiba-tiba kamu memikirkan tentang itu?”
“Aku mulai bosan dengan kehidupan seperti ini,” keluh Henry.
“Kamu sih terlalu pintar dan terlalu jauh berpikirnya. Kamu seharusnya berpikir sesuai dengan usia kamu aja,” kata Roy sambil meletakan tangannya di bahu Henry.
Henry langsung melihat ke arah Roy. Dia sangat tidak senang, jika ada seseorang yang menyentuh dirinya.
“Oke oke, kamu kapan sih bisa jadi manusia normal.” Roy kembali menepuk bahu Henry dan langsung berlari tidak ingin kena marah oleh Henry.
Bahkan, teman dekat Henry pun selalu menganggap dia bukan manusia normal. Padahal, Henry menginginkan kehidupan normal layaknya orang lain.
Andai dia bisa terlahir kembali menjadi orang yang baru. Mungkinkah dia akan berubah menjadi manusia yang normal seperti yang selama ini dianggap oleh orang-orang.