Henry POV
Aku tidak percaya dengan yang baru saja aku dengar. Apalagi sebenarnya, aku sendiri belum percaya bahwa aku adalah seorang perempuan. Jika aku benar berada di dalam tubuh seorang perempuan, maka kemungkinan aku hamil itu bisa saja.
“Tidak?! Aku hamil....” Aku berteriak histeris.
Membayangkannya saja sudah membuat aku ketakutan. Apalagi, jika itu benar terjadi. Aku tidak mau hal itu sampai terjadi.
“Apa?!” Uhi dan Merki ikut terkejut mendengar aku teriak.
“Putri hamil sama siapa?” tanya Uhi panik.
“Kapan? Siapa? Di mana?” Merki juga ikut berpikiran sama dengan Uhi.
“Aaaaaa....” Aku semakin tidak sanggup untuk mendengarnya.
“Ada apa ini?” Tiba-tiba seseorang masuk ke ruangan ini.
Dia juga terkejut karena mendengar suara teriakan diriku.
“Ratu... ratu... gawat?” Uhi dan Merki berlari ke sisi orang yang baru saja masuk.
“Ada apa ini?” Ratu mengulangi pertanyaan yang sama.
“Ratu... Putri...” Uhi tidak sanggup menceritakannya kepada sang Ratu.
“Kenapa sama putri, Uhi?” Ratu tidak sabaran mendengar apa yang sedang terjadi.
“Putri... putri... hamil, Ratu,” jawab Uhi.
“Apa?!” Ratu pun terkejut mendengarnya.
“Iya Ratu. Tadi putri bilang sendiri.” Merki menguatkan perkataan Uhi.
“Hahahahaha... kalian bisa aja kalau becanda.” Ratu bukannya marah, melainkan tertawa.
“Ke... kenapa Ratu tertawa?” Uhi dan Merki menanyakannya secara bersamaan.
“Ya karena itu enggak mungkin...” kata Ratu.
Aku yang juga mendengar perkataan Ratu, jadi ikut terbangun dari rasa terpuruk. Aku senang saat Ratu mengatakan, bahwa aku tidak mungkin hamil. Itu terdengar seperti udara yang menyejukan hati.
“Kok enggak mungkin? Bukannya, semua ratu peri bisa melahirkan?” tanya Uhi.
“Memang benar. Jika dia Ratu peri yang sempurna,” jawab Ratu.
“Jadi maksud Ratu, putri Moyline bukan Ratu yang sempurna?” tanya Merki.
“Bukan hanya Moyline. Jenihelt juga sama. Mereka belum menemukan jati diri kesempurnaan mereka. Karena itu, mereka masih belum sempurna untuk menjadi seorang Ratu,” jelas Sang Ratu.
“Tapi... apa aku bisa menjadi sempurna?” Aku memberanikan diri untuk menanyakannya.
“Ya, tentu saja sayang,” jawab Ratu sambil membelai lembut rambutku.
“Jadi... aku bisa hamil?” Aku tidak percaya, aku mengatakan hal itu.
“Kamu pengen banget hamil ya?” kata Ratu sambil tertawa.
“Malah enggak mau....” Aku merinding membayangkannya.
“Tapi kalau waktunya sudah tiba, kamu enggak bisa mengelak nya,” kata Ratu.
“Tapi....” Ingin sekali, aku membantahnya.
“Tenang saja. Bunda rasa, itu masih sangat lama.” Ratu memberikan aku sedikit rasa ketenangan.
“Tapi Ratu... bukannya umur ratu tinggal sebentar lagi?” Merki terlihat sangat cemas.
“Itu menurut ramalan kan? Tapi ternyata, ada beberapa Ratu yang masih hidup lebih lama. Walau, dia sudah tidak menjadi Ratu lagi,” elak sang Ratu.
“Mmmmm....” Uhi sepertinya juga ingin mengatakan sesuatu.
“Tenang saja, umur yang dimaksud itu adalah masa jabatan sebagai Ratu. Tetapi, kalau dilihat kondisi sekarang, sepertinya masa saya untuk tetap menjadi Ratu masih lama.” Sang Ratu berusaha menenangkan kedua pengawal yang sama sama merasa cemas.
“Emang umur Ratu sampai kapan?” tanyaku penasaran.
“Tidak sampai lima tahun lagi, sayang. Bunda sangat berharap saat itu, kalian sudah siap untuk menjadi Ratu,” jawab Ratu.
“Aku enggak usah jadi Ratu enggak papa,” kataku.
Aku memang tidak ada niat sama sekali untuk menjadi Ratu dunia peri. Aku sendiri masih belum tahu, bagaimana aku bisa ada di sini. Jika memang aku harus hidup di sini dalam waktu yang lama, maka aku ingin hidup dengan tenang saja. Aku tidak mau direpotkan untuk menjadi seorang Ratu.
“Bukan kamu yang menentukannya. Alam yang akan menjawab, siapa Ratu selanjutnya,” kata Ratu.
“Tapi, kalau aku mengalah enggak bisa, Bun?” tanyaku.
“Ya enggak bisa. Bunda juga sama seperti kamu. Dulu Bunda juga tidak mau menjadi Ratu. Hanya karena Bunda lahir dari bunga spesial, sehingga Bunda harus menjalani semua kehidupan ini bertahun tahun.” Ratu sepertinya juga tidak senang dengan dengan jabatan yang dia sedang emban saat ini.
“Kenapa harus Ratu, Bun? Kenapa enggak Raja?” Aku penasaran, mengapa bukan laki-laki yang memimpin dunia ini.
“Kalau saja ada laki-laki yang keluar dari bunga itu, mungkin dia yang akan menjadi pemimpin selanjutnya,” jelas Ratu.
“Jadi... enggak ada laki-laki yang keluar dari bunga itu, Bun?” tanyaku lagi.
“Enggak ada. Dari dulu sampai sekarang, hanya perempuan yang keluar dari bunga spesial itu.” Ratu menjelaskannya tanpa rasa curiga.
Untung saja, Ratu tidak menanyakan mengapa aku bertanya tentang itu. Sejarah dunia peri yang semua orang di sini pasti mengetahuinya. Uhi dan Merki saja, sepertinya mengetahui akan hal itu.
“Itu baskom apa?” tanya Ratu yang baru melihat keberadaan baskom itu di atas meja.
“Si Jenihelt tadi, Bun...”
“Apa?! Jenihelt ke sini lagi?! Dia berusaha melukaimu lagi?” Ratu langsung memotong ucapanku.
“Enggak ada, Bun. Tadi dia cuma...” Aku ingin memperlihatkan jarinya yang dilukai oleh Jenihelt tadi.
Tetapi, aku tidak menemukan bekas luka itu ada di tanganku. Aku melihat kedua tanganku secara bergantian. Aku mencoba mencari cari belas luka tadi. Namun, aku tetap tidak menemukannya. Luka itu seperti tidak pernah ada di tanganku.
Sang Ratu yang penasaran dengan isi baskom itu pun mendekatinya. Setelah Ratu melihat isinya, beliau sempat menyipitkan matanya. Ratu seperti tidak percaya dengan yang dilihatnya. Terlihat juga wajah terkejut Ratu sama seperti wajah Jenihelt tadi.
“Mengapa bunga putihnya berubah?” pertanyaan Ratu sama seperti yang dikatakan Jenihelt tadi.
“Moyline... coba kamu ke sini.” Ratu memerintahkan diriku untuk mendekati dirinya.
Begitu aku sudah ada di sampingnya, Sang Ratu langsung menarik tanganku. Beliau mencari sesuatu di tanganku itu. Karena Ratu tidak menemukannya, kemudian beliau mengambil tanganku yang satunya lagi. Ratu sepertinya tidak juga menemukan yang dicarinya di sana.
“Tadi Jenihelt melukai jari kamu?” tanya Ratu.
“Iya.” Aku menjawabnya sambil mengangguk pelan.
“Lalu bekas lukanya kamu obatin?” tanya Ratu lagi.
“Enggak Ratu. Lukanya hilang sendiri.” Aku mencoba mencari lagi bekas luka itu.
“Kamu yakin, kamu enggak menyentuh serbuk emas ini?” Ratu ingin memastikannya.
Aku pun menggelengkan kepalaku.
“Waaa... selamat ya sayang. Ternyata, kamu sudah bisa memunculkan kemampuan penyembuhan yang ada di tubuhmu.” Ratu terlihat senang saat mengetahui aku bisa menyembuhkan tubuh ini dengan sendiri.
“Maksud Bunda?” Aku tidak paham dengan kemampuan yang dimaksud oleh Ratu.
“Selama ini, Bunda bingung kenapa kamu tidak juga menunjukan kemampuan kamu. Ternyata, sekarang waktu itu akhirnya muncul juga,” kata Ratu sangat senang.
“Apa itu ada pengaruhnya dengan warna bunga yang berubah, Ratu?” tanya Uhi yang juga ikutan memperhatikan bunga di dalam baskom.
“Bisa jadi,” jawab Ratu.
“Berarti, Putri Moyline udah tambah dewasa ya, Ratu?” Merki juga ikut penasaran.
“Bisa jadi.” Ratu menjawab dengan cara yang sama dengan menjawab pertanyaan Uhi.
“Bunda... kenapa cuma jawab seperti itu?” Aku tidak puas dengan jawaban yang diberikan Ratu.
“Ya, trus mau jawab apa lagi dong? Bunda sendiri belum tahu pasti jawabannya,” kata Ratu.
“Ya apa aja. Biar aku juga bisa jelasin ke Jenihelt,” kataku.
“Emang ada apa dengan Jenihelt?” Ratu tiba-tiba terkejut saat aku menyebut nama Jenihelt.
“Dia sepertinya kesal banget saat melihat warna bungaku berubah,” jelasku.
“Oooo... begitu.” Ratu tiba-tiba menjadi tidak serius saat aku mengatakan itu.
“Bunda....” Aku berharap jawaban yang akurat dari mulut Ratu. Namun, nyatanya Ratu tidak juga menjawabnya.
“Iya sayang. Bilang aja ke Jeni, kamu udah tambah dewasa,” kata Ratu.
“Dewasa gimana?” Aku ingin jawaban yang lebih detail.
“Ya buktinya, kamu udah mikirin mau punya anak kan tadi,” goda Ratu.
“Bunda....”
Uhi dan Merki yang mendengar ucapan Ratu jadi ikut tertawa.
Semua ini gara-gara hamil. Aku sampai kapan pun, tidak mau sampai hamil. Lagi pula untuk hamil, aku juga harus berhubungan dengan suamiku dulu. Aku tidak mungkin mempunyai seorang suami. Aku sendiri seorang laki-laki. Itu tidak akan mungkin terjadi.
Tiba-tiba, Ratu mengetukkan tongkatnya ke baskom itu. Sampai bunga yang dari tadi tidak berubah di dalam air, kini berubah menjadi sebuah lingkaran yang setengah berwarna hitam dan setengahnya lagi berwarna putih.
“Untunglah...” gumam Ratu saat melihat perubahan air tersebut.
“Kenapa Ratu?” tanya Uhi dan Merki berbarengan.
Mereka sering banget melakukan hal yang berbarengan seperti itu.
“Untung saja, Moyline dan Jenihelt masih tetap membutuhkan satu dengan yang lain,” kata Ratu.
“Apa karena gambar ini ya, Ratu?” tanya Uhi yang paham dengan pantulan gambar yang ada di dalam baskom.
“Iya... betul sekali. Selama warna hitam dan putih ini masih saling menyatu seperti ini. Itu artinya kalian berdua tidak bisa dipisahkan,” kata Ratu sambil melihat ke arahku.
“Jadi, Bunda harap kamu sama Jenihelt selalu akur ya,” lanjut sang Ratu.
“Kalau Jenihelt dulu yang buat keributan gimana, Bun?” tanyaku.
“Ya kamu harus sabar seperti biasa,” kata Ratu.
“Tapi kan aku enggak selamanya bisa sabar dengan sikapnya Jenihelt.” Aku yang baru beberapa jam saja mengenal Jenihelt, sudah tidak tahan melihat sifatnya yang sangat pemarah.
“Ya kalau enggak, gimana caranya supaya Jenihelt bisa bersikap baik kepada kamu,” kata Ratu.
“Caranya?” Aku minta sebuah saran dari Ratu.
“Kalian kan saudara kembar. Kalian pasti tahu apa yang membuat kalian senang satu dengan yang lainnya,” jawab Ratu.
“Emangnya, kami benar benar saudara kembar ya?” Aku masih tidak mau mempercayainya.
“Ya tentu saja. Waktu kalian lahir, kalian tidak ada bedanya sama sekali. Semakin besar aja, kalian terlihat sedikit berbeda,” jelas Sang Ratu.
“Apa bunda punya foto kami waktu kecil?” tanyaku.
“Foto?” Ratu sepertinya baru mendengar tentang kata itu.
“Mungkin maksud putri lukisan kali ya?” tanya Uhi.
“I... iya. Lukisan,” kataku.
“Oooo... dari kecil sampai sekarang, kalian tidak pernah mau duduk bersama. Jadi, kalian enggak pernah punya lukisan kalian berdua,” kata Ratu.
Jadi, apa yang bisa membuktikan kalau kami memang saudara kembar. Aku sendiri tidak melihat kesamaan di wajah kami.
“Tapi, kalau kamu mau dilukis barengan sama Jenihelt bisa bunda usahakan,” kata Ratu.
Sepertinya ide Ratu boleh dicoba. Aku mau melihat dari mata pelukis itu, apakah kami mempunyai wajah yang sama atau tidak. Aku mau memastikan, jika yang dikatakan Ratu dan Jenihelt memang benar.
Di saat aku sedang memikirkan tentang aku dan Jenihelt, tiba-tiba aku melihat sebuah bayangan berada di balik pintu kamar ini. Ratu dan kedua pengawal ini tidak ada yang menyadarinya. Mereka masih sibuk membicarakan tentang penampakan yang terlihat di dalam baskom.
Siapakah yang ada di balik pintu itu?
Apa yang sedang dia cari di sini?
Apakah itu Jenihelt atau bukan?