BAB 7

1863 Words
Dalam kesendirian Henry yang masih memikirkan tentang perubahan dirinya. Tiba-tiba, perempuan yang membuat keributan pagi ini datang kembali ke kamarnya. Padahal, ini bukan kamar tempat Henry berada tadi. Ini kamar yang Uhi dan Merku tunjukan kepadanya. Ternyata, Jenihelt bisa dengan mudah menemukan kamar baru tempat Henry sembunyi. “Oh kamu...” kata Henry dengan datar. Tentu saja, Jenihelt tidak senang dengan sikap Henry itu. Dia tidak pernah melihat saudara kembarnya memperlakukan dirinya seperti ini. Biasanya, dia selalu takut saat melihat kehadiran Janihelt di sisinya. “Ada apa dengan Moyline hari ini? Dia terlihat sangat tenang.” Hati kecil Jenihelt merasa tidak senang dengan sikap saudaranya itu yang tidak takut, walau apa yang sudah terjadi. “Kamu enggak nanya gimana kabar aku?” tanya Jenihelt. “Buat apa? Buktinya sekarang kamu masih bisa berdiri dan bicara,” jawab Henry dengan sikap acuhnya. “Sebenarnya ada apa dengan kamu? Hari ini, kamu beda banget,” kata Jenihelt heran. Henry melihat Jenihelt dengan tegas. Dia melihat wajah perempuan itu begitu kebingungan dengan sikapnya. Walau Henry sendiri merasa bahwa dia tidak melakukan kesalahan apa pun. Dia biasa melakukan hal itu terhadap orang yang tidak sopan terhadap dirinya. “Beda kenapa?” tanya Henry dengan polosnya. “Kamu enggak takut sama aku?” Jenihelt malah balik bertanya kepada Henry. “Takut? Kenapa?” Henry bingung, apa yang harus membuat dirinya takut kepada perempuan yang ada di depannya. “Moyline yang aku kenal, selalu tertunduk kalau aku datang? Kamu siapa?” Jenihelt merasa orang yang ada di depan dia itu, bukanlah Moyline. “Deg.” Henry terkejut, dirinya langsung ketahuan hanya dalam hitungan jam. “Mmmm... emangnya, a... aku enggak boleh... berubah.” Henry mencoba mencari alasan. Hal yang tidak bisa dia lakukan adalah berbohong. Namun kali ini, dia berada dalam posisi di mana dia tidak bisa berkata jujur. Henry sendiri tidak paham apa yang sedang terjadi pada dirinya. Jika dia salah berbicara, maka dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya. Henry tidak mau hanya akan mati konyol di tempat ini. Padahal, banyak yang ingin dia cari tahu tentang tempat ajaib ini. “Apa yang membuat kamu begitu percaya diri? Dasar Yugle.” Nada suara Jenihelt terdengar sangat kasar. “Kamu kan tahu nama aku Moyline. Kenapa kamu malah panggil aku Yugle?” tanya Henry polos. “Hahahaha... Aku sudah pintar menjawab ya.” Di dalam tawa Jenihelt tetap terdengar suara tidak senang. “Sebenarnya, apa yang membuat kamu benci banget sama aku?” tanya Henry lagi. “Karena aku punya saudara kembar seorang Yugle. Itu yang membuat aku sangat kesal sama kamu,” jawab Jenihelt. “Kenapa kamu kesal sama aku. Harusnya, kamu kesal sama kembaranmu itu.” Henry tidak tahu apa yang sudah dia katakan. “Maksud kamu apa?!” Jenihelt yang sangat jelas mendengar ucapan Henry semakin bingung dengan saudaranya itu. “Kenapa kamu harus ke sini?” Henry mengulanginya lagi. “Kamu ini gimana sih. Ya kamu itu kembaran aku. Ya kamu itu orang yang sangat aku benci. Ya kamu itu si Yugle.” Jenihelt tidak henti hentinya menyalahkan Henry. “Aku kembaran dia?” Henry tidak mengerti dengan ucapan Jenihelt. Bagaimana mungkin dia itu kembarannya. Henry yang ingin memastikan perkataan Jenihelt, langsung pergi ke depan cermin. Dia ingin melihat, bagian mana yang membuat dirinya mirip dengan Jenihelt. Henry memperhatikan dengan seksama wajahnya yang terpantul di dalam cermin. Jenihelt pun mendekati dirinya, sehingga mereka bisa melihat wajah mereka berdampingan di sana. “Tidak mirip...” gumam Henry. “Apa?! Sekarang kamu tidak mengakui, kalau kita tidak mirip,” hardik Jenihelt. “Memang enggak mirip.” Henry tetap yakin, bahwa wajah dia tidak mirip dengan wajah Jenihelt. Henry hanya melihat wajah yang sudah bertahun tahun dia lihat. Hanya saja, wajahnya kini lebih mulus tanpa ada kumis dan juga jenggot. Henry terus membandingkan wajah dia dengan wajah Jenihelt. Tidak ada kemiripan sama sekali. Dia semakin bingung, mengapa perempuan itu mengatakan jika mereka adalah saudara kembar. “Apanya yang enggak mirip. Mata, hidung, bibir, muka, semuanya sama persis. Bahkan orang orang sulit membedakan kita, kalau kita pakai baju sama. Untung saja, hobi kita dan cara berpakaian kita tidak sama,” jelas Jenihelt. Henry masih tidak percaya dengan yang Jenihelt katakan. Dia lebih percaya dengan yang dia lihat dengan matanya sendiri. Henry juga tidak percaya yang dikatakan Jenihelt itu bohong atau benar. Dia harus memastikannya lebih jauh lagi. “Kalau kamu enggak percaya, kita bisa uji dengan serbuk emas,” kata Jenihelt. “Serbuk emas?” Henry mendengar sesuatu yang aneh lagi. Jenihelt tiba-tiba pergi ke suatu tempat. Dia sepertinya sangat mengenal tempat ini. Dia pergi ke tempat tanaman merambat yang ada di setiap kamar. Dia mengusap salah satu dari ranting tersebut, kemudian dari batangnya tiba-tiba keluar. Seperti sebuah laci yang muncul secara ajaib tubuh sebuah pohon. Dari dalam laci itu, Jenihelt mengambil sebuah kantung kecil yang terbuat dari daun. Namun, daun daun itu seperti dijahit menjadi sebuah kantong tempat meletakan uang koin. “Apa itu?” tanya Henry melihat benda aneh itu di tangan Jenihelt. “Serbuk emas punya sendiri aja enggak kenal.” Jenihelt memandang Henry dengan sebelah matanya. Kemudian, Jenihelt menggerakan tangannya ke sembarang arah. Dia seperti sedang menyentuh angin yang ada di sekitarnya. Dan tidak lama setelah itu, ada sebuah baskom yang terbang ke atas meja. Baskom itu mendarat dengan mulus di sana.  Henry yang kembali terkejut dengan yang lihat, langsung berlari ke tempat baskom itu berada. Di dalamnya, sudah ada air bersih yang mengisi setengah baskom tersebut. Henry mengingat kejadian saat sang Ratu juga memberikannya air minum. Kejadian saat ini juga sama seperti tadi. “Bagaimana mereka melakukan itu?” gumam Henry heran. Jenihelt berjalan mendekati Henry yang masih larut dalam kebingungannya. Lagi lagi tatapan mata Jenihelt seperti melihat hina terdapat Henry. Sangat terlihat, sikap Jenihelt yang sangat sombong dan angkuh. Dia seperti orang yang menguasai segalanya. Terutama, dia sangat berkuasa atas diri saudarinya itu. “Sini tangan kamu,” suruh Jenihelt dengan sangat kasar. “Buat apa?” tanya Henry bingung. “Enggak usah banyak tanya. Kamu lihat aja sendiri, kalau kita memang saudara kembar,” kata Jenihelt. Henry pun mengikuti apa yang disuruh oleh Jenihelt. Dia mau melihat bagaimana cara perempuan itu menunjukan, kalau mereka memang saudara kembar. Karena, sebenarnya Henry sendiri juga ingin memastikan dirinya sendiri. Jenihelt menarik tangan Henry dengan sangat kasar, lalu dia menyilet jari Henry dengan menggunakan sebuah daun yang tiba-tiba terbang ke telapak tangan Jenihelt. Kemudian, dia juga melakukan hal yang sama terhadap jarinya sendiri. Sehingga, darah mereka menetes di dalam baskom air itu.  “Aaauuu...” Henry merintih karena rasa perih yang dia rasakan. “Dasar cengeng,” ejek Jenihelt yang tidak merasakan sakit sama sekali. Padahal, luka di jarinya masih terbuka. Walau tidak begitu dalam dan lebar, tetap saja rasa perih karena terkena silet itu masih tetap terasa. Setelah, darah Jenihelt dan darah Henry menyatu di dalam air. Tiba-tiba Jenihelt mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong itu. Kemudian, dia menaburkan serbuk yang memang berwarna keemasan. Seketika, air di baskom itu menjadi bercahaya. Tidak lama, dari dalam cahaya itu muncul dua buah bunga yang berbeda warna, namun bentuknya sama. “Waaa... sihir... keren...” guman Henry kagum. “Kamu bisa lihat kan, kita berasal dari bunga yang sama. Itu artinya, kita kembar.” Jenihelt juga terlihat bangga dengan dirinya sendiri yang berhasil melakukan sihir itu. “Emangnya, dengan muncul dua bunga yang sama bisa menunjukkan kalau kita kembar.” Henry masih tidak mau mempercayai, bahwa mereka kembar. “Dasar... coba kamu lihat baik baik. Jika bunga kita saja sama, pastilah wajah kita juga sama.” Jenihelt tetap pada pendirian, jika mereka memang saudara kembar. “Tapi...” Tiba-tiba, Jenihelt terlihat terkejut seperti baru menyadari sesuatu. “Ada apa?” tanya Henry yang ikut bingung dengan keterkejutan Jenihelt. “Ke... kenapa warna... bunga kamu enggak putih semua?” Jenihelt terlihat kaku. “Putih semua kok...” kata Henry yang memperhatikan warna kelopak bunga yang ada di dalam baskom. Satunya berwarna hitam dan yang satunya berwarna putih. “Tapi... itu... di tengahnya... ada warna merahnya.” Jenihelt menunjuk ke arah banga yang berwarna putih. “Ya wajar aja. Ada beberapa bunga yang pucuk bunganya berwarna seperti itu.” Henry yang biasa menemukan jenis bunga seperti itu, tidak merasa heran sama sekali. “Ta... tapi... seharusnya bunga itu enggak ada warna sama sekali. Sama seperti bunga punyaku, hitam semua,” kata Jenihelt. Henry membandingkan dua bunga itu. Memang benar, bunga hitam itu seperti bunga yang tidak sempurna. Dia hanya memiliki satu warna dan gelap. Sedangkan bunga warna putih itu, terlihat sama seperti bunga pada umumnya. Cantik dan memikat. “Hahahaha... itu berarti membuktikan, kalau kita bukan saudara kembar,” kata Henry sambil tertawa puas. “Eng... enggak mungkin! Kita kembar,” teriak Jenihelt. “Buktinya sekarang bungaku ada warnanya. Hahahaha....” Henry terlihat sangat senang. “Ta... tapi...” Jenihelt masih tidak percaya dengan yang dia lihat. Jenihelt yang masih dalam keadaan tidak tenang, pergi meninggalkan Henry sendiri di kamar. Untungnya, Jenihelt tidak melakukan hal yang brutal seperti yang sebelumnya dia lakukan. Sepertinya, perempuan itu sangat tertekan dengan perubahan yang terjadi pada diri saudara kembarnya. Jenihelt juga membanting pintu kamar Henry, saat dia keluar. “Kenapa lagi sih tuh anak,” gumam Henry yang bingung melihat Jenihelt marah marah terus. “Emang apanya yang salah sama bunga ini?” tanyanya sambil mencari kesalahan dari bunga putih yang ada di dalam baskom. “Putri... putri... anda tidak apa apa.” Uhi dan Merki masuk ke kamar dengan sangat panik. “Enggak papa,” jawab Henry dengan santai. “Tapi tadi, Jenihelt keluar dengan marah marah,” kata Uhi. “Iya... kami pikir, anda terluka.” Merki juga terlihat sama paniknya dengan Uhi. “Enggak papa. Kalian lihat sendiri kan,” kata Henry sambil berdiri dan berputar di depan Uhi dan Merki. “Hufff... untung lah.” Uhi terlihat sangat lega karena melihat aku tidak apa apa. “Tapi... kenapa Jenihelt marah marah terus sih hari ini?” tanya Merki bingung. “Enggak tahu. Lagi dapat kali,” jawab Henry. “Dapat? Apa itu?” tanya Uhi. “Datang bulan...” jelas Henry dengan singkat. “Apaan lagi itu?” tanya Merki yang sama sama terlihat bingung. Mereka berdua perempuan. Tetapi, mengapa mereka tidak mengetahui tentang datang bulan? “Emangnya, kalian enggak pernah berdarah setiap sebulan sekali?” tanya Henry. Uhi dan Merki saling pandang padangan satu dengan lainnya. Kemudian, mereka serempak menggelengkan kepalanya. “Kalau kalian enggak pernah datang bulan, berarti kalian enggak bisa hamil dong?” Henry mau memastikannya lebih jelas. “Emang kaum peri enggak ada yang melahirkan,” kata Uhi. “Peri?” Henry terkejut mendengarnya. “Iya... kita para peri enggak akan pernah melahirkan,” lanjut Uhi. “Eh bisa.” Tiba-tiba Merki membantah perkataan Uhi. “Maksud kamu apa sih. Enggak bisa...” Uhi tidak mau kalah dengan Merki. “Kamu lupa... Ratu kita kan melahirkan,” bisik Merki. Entah mengapa, itu terdengar seperti sebuah rahasia. Mengapa seorang peri yang melahirkan, harus dirahasiakan? “Oh iya... Ratu peri bisa melahirkan,” kata Uhi. “Berarti?” Henry tidak berani mengatakan apa yang ada di benaknya. “Iya... putri Moyline dan putri Jenihelt bisa punya anak,” kata Merki. “Apa?!” Aku bisa melahirkan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD