Sudah cukup lama, aku hanya berbaring seperti ini. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak menggerakkan tubuh ini. Sesuai dengan instruksi dari tabib, jika aku ingin segera sembuh, maka aku harus membuat tubuh ini istirahat total. Tabib pun saat ini sedang memeriksa kembali diriku. Sesuatu yang dia kerjakan selama dua hari sekali. “Kondisi putri sudah hampir pulih. Semua saraf saraf yang terputus juga sudah mulai membaik,” kata Tabib itu sambil memeriksa pergelangan tanganku. “Berati, aku sudah bisa gerak lagi ya?” Aku sangat senang mendengar kabar itu. “Belum, putri. Dua hari lagi baru semua totok di tubuh putri hamba lepas,” jawabnya dengan sangat sopan dan lembut. “Hufff... ternyata harus menunggu dua hari lagi,” keluhku. “Sabar ya, putri.” Tabib itu terus memberi aku semangat. Aku

