BAB 15

1934 Words
“Huff... kenyang nya,” kataku sambil mengusap perutku yang sangat penuh. Aku tidak menyangka bisa menghabiskan semua makanan yang ada di meja. Padahal, aku niatnya hanya akan memakan sekedar untuk mengganjal perut saja. Namun, ternyata tidak tersisa sedikit pun makanan. Setelah aku menenangkan diri yang masih dalam keadaan kekenyangan. Tiba-tiba, aku baru tersadar dengan obat tidur yang dimasukan ke dalam makanan. Aku memperhatikan diriku sendiri, melihat reaksi yang mungkin terjadi setelah aku memakan semua makanan ini. “Tidak terjadi apa apa,” kataku bingung. Aku masih sadar. Bahkan, aku masih kuat untuk berdiri dan berjalan. Apa aku memang sudah salah sangka kepada Uhi dan Merku? Apa sebenarnya Kihi yang berkata bohong? Aku sebenarnya juga tidak mengenal Kihi. Mengapa aku bisa percaya dengan semua ucapannya itu? Aku pun memilih untuk keluar ke beranda kamar ini. Aku tidak mau terus berpikiran yang tidak tidak. Aku baru saja sampai di tempat ini. Tidak ada satu pun orang yang aku kenal di sini. Aku juga tidak bisa langsung mempercayai atau pun menyalahkan semuanya yang belum jelas. Tetapi satu yang pasti, semalam itu memang sesuatu yang dikatakan Kihi memang terjadi. Merku pun mengatakan hal yang sama, walau tidak memiliki maksud yang sama dengan yang Kihi sampaikan. “Huff... dunia yang aneh dan indah ini, ternyata punya banyak rahasia di dalamnya,” gumamku sambil memperhatikan pemandangan halaman istana yang sangat indah dan hijau. Istana ini memang sangat luas dan indah. Tetapi, di sekeliling istana ini ada sebuah tembok yang sangat besar. Sayang, aku tidak bisa melihat sesuatu yang ada di balik tembok besar itu. Mencari tahu semua isi istana ini saja, aku akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Apalagi, kalai aku sampai harus mencari tahu tentang dunia yang ada di balik pagar itu. “Apa mungkin aku sampai keluar sana?” Aku memikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi. “Kamu mau kemana?” Tiba-tiba ada suara dari dalam kamar. Aku langsung melihat ke arah belakang. Namun, aku tidak melihat ada siapa pun di sana. Aku pun membuka pintu yang menghubungi beranda ini dengan kamar. Jantungku mulai berdetak sangat cepat. Karena, aku tidak melihat bayangan apa apa berada di sana. “Siapa itu?” Aku memberanikan diri untuk menanyakannya. Namun, kali ini tidak ada yang menjawab pertanyaanku itu. Sunyi, sepi. Dan memang tidak ada apa apa di dalam kamar. “Siapa itu?” Aku bertanya dengan pertanyaan yang sama. Aku hanya merasakan angin yang berhembus dari luar. Karena, jendela kamar yang tadi aku buka belum ditutup kembali. Suasana kamar menjadi sangat mencekam. Apakah itu adalah makhluk astral? Apa di sini ada makhluk seperti itu? Bulu kudukku mulai berdiri. Memikirkannya saja, sudah membuat aku ketakutan. Karena aku begitu takut berada di kamar ini sendirian. Aku pun memutuskan untuk berjalan jalan di luar kamar. Uhi dan Merku juga tidak ada di sini. Sehingga, mereka tidak bisa melarang diriku untuk keluar dari kamar ini. Aku juga merasa tubuhku tidak ada pengaruh obat tidur sama sekali. Aku juga masih kuat untuk berkeliling istana ini dari lantai atas sampai mengitari semua halaman istana yang sangat luas itu. Rasa penasaranku sangat besar dengan semua rahasia yang ada di sini. Bahkan, rahasia tentang aku ada di sini juga masih harus aku cari tahu. “Mmmm... ke atas atau ke bawah ya?” Aku berhenti di depan anak tangga. Kamar aku memang berada di lantai dasar. Sebenarnya, ini bukan kamar awalku. Di mana, ada tempat tidur yang dari air itu. Entah mengapa Ratu dan dua pengawal itu tidak membawa aku ke kamar itu. Karena aku teringat tentang kamar tersebut, aku pun memutuskan untuk melihat kondisi kamarku. “Mmmm... kalau tidak salah, ada di lantai tiga,” kataku sambil menaiki setiap anak tangga ini. Tidak ada yang aneh dengan bangunan istana ini. Hampir setiap bangunannya seperti istana zaman dahulu. Namun bedanya, ini masih sangat bersih dan kokoh. Di setiap dinding, ada juga beberapa benda kecil yang berbentuk seperti patung. Patung patung ini sangat aneh bentuknya. Mereka tidak sama dengan wajah peri yang tinggal di sini. Patung itu juga di letakkan di bagian bagian tertentu di bagian tangga ini. Entah untuk tujuan apa, semua patung itu. Ataukah memang hanya untuk hiasan belaka. “Oke... yang mana kamarnya ya?” Aku mencoba mengingat ingat saat Uhi dan Merku mengajak aku pergi dari sana. Namun, aku sedikit mendapatkan sebuah petunjuk. Ada sebuah kamar yang di bagian ujung terlihat sangat kacau. Suasana kamar itu berbeda dengan kamar lainnya. Aku pun penasaran dan langsung menuju kamar tersebut. Bisa terlihat kamar ini sangat hancur dengan beberapa bagian dindingnya yang hancur. Namun, pintu kamar itu masih tertutup rapih. Walau, warna pintu itu pun seperti habis terbakar sesuatu. Seharusnya, pintu itu sudah tidak bisa terpasang pada tempatnya. Karena bentuknya sudah sangat tidak karuan. Namun, pintu itu tetap dipaksa untuk menutupi kamar itu. Aku pun memberanikan diri untuk memindahkan pintu itu. Cara membukanya tidak lagi seperti membuka pintu kamar biasa. Aku harus mengangkat pintu hancur itu. Namun tetap terasa sangat berat untuk dipindahkan. Apalagi, aku sekarang berada di dalam tubuh seorang perempuan. Tenagaku tidak sekuat sewaktu aku menjadi seorang lelaki. “Siapa yang sudah membuat pintu berat seperti ini jadi tidak karuan bentuknya?” tanyaku pada angin. Karena di sini memang tidak ada siapa siapa. Aku lebih tercengang begitu melihat isi kamarnya. Bagian dalam sini lebih kacau dari pada bagian luar. Semua benda yang di dalam sini sudah tidak ada lagi yang berbentuk utuh. Semuanya hancur dan juga ada karena terbakar. Ada juga genangan air yang memenuhi ruangan ini. Seperti ada badai yang sangat besar yang menghancurkan kamarku ini. Namun anehnya, jika ini memang badai yang besar, mengapa yang hancur hanya ruangan ini saja. Kamar sebelah tidak terkena imbasnya. Dinding dinding yang hancur juga hanya bagian dalam saja. Bagian yang sampai hancur ke bagian luar, hanya bagian yang di samping pintu masuk tadi saja. “Ada apa sebenarnya ini?” tanyaku sambil melihat semua kekacauan yang ada. Aku berjalan dengan sangat hati hati. Sebenarnya, aku merasa sedikit ragu untuk masuk ke sini. Aku merasa lantainya ini menjadi sangat rapuh, dan bisa saja roboh saat aku injak. Namun, semoga saja tidak seperti itu. “Mengapa kamarku bisa sampai hancur begini?” Aku heran dengan kekuatan yang bisa menghancurkan semua ini. Aku jadi teringat dengan suara perang yang terdengar saat aku keluar dari kamar ini. Di dalam sini tinggal Ratu dan juga Jenihelt. Apa semua ini memang kerjaan mereka? Aku baru sadar, mengapa Uhi dan Merku takut dengan Jenihelt. Dan mengapa Uhi juga mengatakan bahwa aku pasti akan mengalami mimpi buruk karena serangan yang dilakukan Jenihelt. Mungkin, ini masuk dari semua itu. Jujur, aku memang merasa sedikit takut. Tetapi, ada juga perasaan penasaran dengan kekuatan yang mereka miliki. Apakah memang begitu hebatnya kekuatan Ratu dan Jenihelt itu? “Pantas aja Pak pohon roh bilang, aku pasti menginginkan kekuatan ini,” gumamku. “Ya... kamu manggil aku?” “Hah...” Aku langsung meloncat terkejut, karena tiba-tiba batang pohon yang ada di pojok ruangan ini bersuara. Tidak lama, batang pohon itu mengeluarkan bentuk mukanya. Lengkap dengan mata dan mulutnya. Bentuknya sama seperti yang ada di pohon raksasa di halaman istana. “Ka... kamu... kenapa bisa ada di sini?” tanyaku bingung. “Ya ini kan juga bagian dari tubuhku,” jawab pohon itu sambil menggerakkan rantingnya. Aku ingat, di setiap ruangan ini memang ada batang pohon yang menembus dinding. Hampir di setiap pojok ruangan ada pohon ini. Itu artinya, dia juga bisa membaca pikiran aku kalau aku memanggil namanya. “Ya... itu benar sekali. Aku bisa membaca pikiran kamu kalau kamu memanggil namaku,” kata pohon itu tiba-tiba. “Tapi... aku kan enggak sengaja manggil kamu. Ke... kenapa kamu harus muncul di sini?” tanyaku. “Ya gitu. Mau sengaja atau enggak sengaja. Kalau kamu lagi dekat sama aku dan memanggil namaku, aku pasti akan muncul.” Pohon itu menjelaskan keberadaan dirinya di sini. “Mmmm... jadi yang tadi ada di kamar, itu juga kamu?” tanyaku mengingat suara yang aku dengar tadi. “Tadi? Emang kamu memanggil aku juga?” Pohon itu kenapa tidak ingat dengan kejadian yang baru saja terjadi. “Manggil enggak ya?” Aku mengingat ingat kembali saat suara itu muncul. Tetapi, seingat ku aku tidak memanggil pohon tua ini. “Enak aja kamu panggil aku pohon tua?” Pohon itu terdengar tidak senang. “Kok kamu bisa dengar? Aku kan enggak manggil kamu?” tanyaku heran. “Iya... tapi kamu menyentuh tubuhku,” kata pohon itu. “Mana... mana...” Aku melihat tanganku tidak menyentuh apa pun di sini. “Tuh... kaki...” pohon itu menggerakkan tubuhnya yang tidak sengaja terinjak oleh diriku. “Oh... maaf...” Aku langsung memindahkan kakiku dari batang yang ada di lantai. Karena kamar yang sangat berantakan ini, aku tidak bisa melihat dengan jelas mana yang batang pohon itu atau bekas kursi dan meja yang berserakan di mana mana. “Tubuh kamu juga ikutan terkelupas. Kamu enggak sakit?” tanyaku yang melihat beberapa pohon yang hancur. “Hufff... sudah biasa. Jika para peri sedang bertengkar seperti ini, mereka tidak akan memikirkan keberadaan diriku,” keluh sang pohon. “Mmmm... kenapa kamu harus ada di setiap ruangan di istana ini?” tanyaku lagi. “Karena tugas aku memang untuk mempermudah semua urusan para peri,” jawabnya dengan sangat berat. “Kayaknya kamu lelah ya?” Aku jadi merasa kasihan kepada pohon ini. “Enggak juga. Aku tidak perlu sampai menampakkan diri seperti ini untuk membantu mereka. Ranting ranting ku bisa mengerjakannya sendiri. Karena memang semua bagian tubuhku ini seperti anak anakku yang selalu membantu diriku,” jawabnya dengan sangat bangga akan dirinya sendiri. “Jadi... kamu memunculkan diri hanya di depanku?” Aku bertanya karena ingin memastikannya. “Ya karena, emang hanya kamu yang bisa berbicara dengan diriku,” jawabnya. “Oooo...” Aku jadi sedikit tersanjung, karena mempunyai kelebihan dari yang lain. “Jadi... kamu manggil aku karena ingin merapihkan kamar kamu ini?” pohon ini tiba-tiba bertanya. “Mmmm... enggak juga sih,” jawabku. Karena memang sesungguhnya, aku tidak ada niat untuk memanggil dirinya. “Huff... syukur deh. Kalau aku harus merapihkan ruangan ini, aku perlu kekuatan tujuh elemen dasar peri. Aku tidak bisa melakukannya tanpa bantuan dari peri itu sendiri,” katanya merasa lega. “Emangnya aku enggak bisa?” aku menanyakan sesuatu yang sudah jelas. “Kalau kamu punya tujuh elemen itu dalam tubuh kamu, mungkin kamu bisa membantu aku,” kata si pohon dengan tatapan meremehkan. “Apa untungnya punya kekuatan seperti itu?” Aku merasa kekuatan seperti itu tidak ada gunanya. “Ya banyak. Hidup kamu bisa lebih mudah dengan bantuan diriku,” jawab sang pohon. “Aku masih punya tangan dan kaki. Apa lagi, aku masih punya otak. Buat apa kekuatan?” Aku tidak mau kalah dengan argumen pohon itu. “Emangnya kamu bisa menghancurkan tempat ini seperti yang dilakukan Ratu dan Jenihelt?” tantang sang pohon. “Tentu saja... itu sangat mudah. Gunakan aja bahan kimia, pasti bisa meledak.” Aku sudah sering kali melakukannya di laboratorium Kevin. “Ya udah, coba sekarang.” Pohon itu ingin aku melakukannya sekarang. “Ya aku harus buat semua bahan bahannya dulu,” kataku. “Berarti enggak bisa langsung dikerjakan sekarang?” Pohon ini seperti ingin sekali membuat aku kesal. “Walau perlu proses, tetapi hasilnya tetap sama. Liat aja nanti,” kataku tidak mau kalah. “Putri... putri Moyline....” Aku mendengar suara orang yang berteriak memanggil diriku. Aku melihat ke arah pohon itu. Tiba-tiba, wajah yang tadi ada di sana sudah menghilang. Dia memang tidak mau memperlihatkan wajahnya di depan peri peri lain. Apakah itu artinya, semua peri itu bisa saja melihat wajah itu? Namun, memang sang pohonnya yang tidak mau. Ada apa sebenarnya ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD