BAB 5

1554 Words
Henry terdiam di depan cermin. Dia melihat tubuhnya yang bukan lagi sama seperti bentuk tubuhnya yang dulu. "Bagaimana ini bisa?" tanyanya sambil memperhatikan dirinya sendiri. Henry memang seorang ilmuwan. Dia juga sudah menemukan sebuah formula yang hanya dia dan temannya yang tahu. Formula itu juga hanya dia sendiri yang mengkonsumsinya. Itu pun untuk kepentingan dia dengan lawan jenisnya. "Aku baru tahu, kalau ada formula seperti ini. Sepertinya seru juga," katanya bangga melihat tubuh laki-lakinya berubah menjadi tubuh perempuan. Henry belum berhasil menemukan formula dimana wajahnya tidak berubah, tetapi struktur tubuhnya berubah. Dia berpikir, formula yang digunakan di tubuhnya ini adalah formula yang sangat kompleks. Keren keren. Dia masih merasa bingung dan juga bangga dengan seseorang yang telah merubah dia. Henry sangat ingin menemui orang yang telah menculiknya dan merubah tubuhnya menjadi seorang wanita. "Hei kamu. Beraninya kamu tidak memperhatikan diriku," teriak seorang perempuan yang dari tadi ada di belakang Henry. Dia lupa, bahwa ada seseorang yang sedang marah terhadap dirinya. Tetapi tetap saja, Henry sangat malas meladeni perempuan yang cerewet seperti dia. Namun, dia penasaran dengan wajah perempuan yang pernah dia lihat di dalam mimpinya itu. Belum sempat Henry menanyakan perihal diri perempuan itu. Tiba-tiba, dia sudah tersungkur di lantai. Tenaga perempuan ini sangatlah kuat. Atau karena sekarang tubuhnya seorang perempuan, sehingga dia jadi lemah? Setelah menarik dan melempar tubuh Henry dengan sangat keras, tiba-tiba tubuh perempuan itu seperti terbang dan menindih tubuh Henry. Entah kemana tenaganya pergi. Henry tidak bisa bergerak karena ulah perempuan itu. Walau dia sadar, tubuh laki-lakinya juga lemah. Tetapi, setidaknya untuk menghadapi tenaga seorang perempuan dia masih bisa. Namun kali ini, dia merasa tubuhnya semakin lemah. Di saat, Henry berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman perempuan ini. Tiba-tiba, dari telapak tangan dia mengeluarkan sebuah cahaya. Seperti sebuah petir dalam bentuk banyak di genggamannya. Namun, dalam ukuran yang kecil. "Waaaa." kata itu yang keluar dari mulut Henry. Antara takut dan kagum bercampur dengan hati Henry. Dia takut, jika petir itu akan menghancurkan tubuhnya berkeping-keping. Namun, di sini lain dia juga merasa kagum. Bagaimana bisa seorang perempuan seperti ini memegang banyak petir di tangannya dengan sangat mudahnya. "Waaaa?!" Perempuan itu tambah kesal dengan ekspresi dari wajah Henry. "Jadi, sekarang kamu udah enggak takut lagi sama ini?!" teriak perempuan itu. Dan cahaya di telapak tangannya semakin membesar. Perempuan itu terlihat sangat marah. Sedangkan Henry masih tidak mengerti, mengapa perempuan ini marah terhadap dirinya. Bukannya, seharusnya yang marah di sini adalah dia. Henry yang diculik dan dirubah menjadi tubuh wanita. Sekarang, dia juga yang kena marah oleh orang yang tidak dikenal olehnya. "Jenihelt!" Tiba-tiba pintu kamar Henry terbuka dengan keras. Tidak lama setelah seseorang masuk ke ruangan ini, dan mengayunkan tongkat yang ada di tangannya. Tiba-tiba saja, cahaya yang ada di tangan perempuan ini menghilang. Dan tubuhnya juga melayang jauh dari atas tubuh Henry. "Cepat kalian tolong Moyline. Dan bawa dia pergi dari sini," titah wanita cantik dengan rambut panjang berwarna putih itu. Maka dua orang yang berada di belakangnya langsung terbang dan mengangkat tubuh Henry. Dia semakin bingung dengan tempat dia berada saat ini. Mengapa semua orang bisa terbang, walau mereka tidak memiliki sayap. "Mau kalian bawa aku kemana?" Tanya Henry panik. "Tolong tenang putri," kata salah satunya. Di saat, Henry dan dua orang ini keluar dari kamar itu. Tiba-tiba saja, pintu kamarnya tertutup sendiri dengan sangat keras. Sama seperti saat pintu ini terbuka. "Duar...." "Duar...." Terdengar suara ribut dari dalam sana. Henry tidak mengerti dari mana asalnya suara itu. Dan bagaimana bisa ada suara seperti itu keluar dari dalam kamar. Apakah mereka sedang bermain petasan di dalam kamar? Itu yang ada di otak Henry. Kedua orang yang ada di dalam sana adalah perempuan. Bahkan, kedua orang yang sedang membawanya juga perempuan. Ada apa ini? Apakah di sini hanya ada perempuan? Apakah yang menculik diriku juga seorang perempuan? Aku punya salah apa dengan makhluk yang bernama perempuan itu? Henry mulai berpikir yang macam-macam. Karena semakin dia menjauh dari kamarnya tadi, pemandangan yang dia lihat semakin aneh. Dia merasa berada di sebuah kastil yang besar. Tetapi, ini di mana? Bangunan kastil ini sangat aneh. Hampir tidak ada di zaman modern ini, ada bentuk kastil seperti ini. Ini seperti sebuah kastil pada zaman dahulu. Namun, tumbuhan tumbuhan yang ada di sekitarnya juga aneh-aneh. Henry belum pernah melihat berbagai macam tumbuhan itu. Dan yang lebih membuat matanya terpaku adalah sebuah pohon besar yang berada di tengah kastil. Daunnya yang lebat dan juga benang-benang bercahaya juga menggantung dari pohon tersebut. Di tambahkan, akar-akarnya juga menjalar tembus ke dalam setiap ruangan yang ada di kastil ini. "Apa tumbuhan itu yang tadi juga ada di kamar?" Tanya Henry. "Maksud anda apa, Putri?" pengawal ini terlihat bingung dengan pertanyaan Henry. "Kenapa kalian dari tadi manggil saya Putri sih?" Tanya Henry lagi. "Anda kenapa Putri? Apakah cahaya dari putri Jenihelt sudah mengenai tubuh anda?" Pengawal ini malah balik bertanya kepada Henry. "Sebenarnya, kalian tahu enggak sih siapa saya?" Tanya Henry kesal. Mereka mengangguk berbarengan. "Anda tuan Putri Moyline," jawab mereka kompak. “Moyline?" Henry mengulang nama yang mereka sebutkan. "Iya." Siapa orang yang disebut oleh mereka? Apakah wajah Moyline dengan wajahku sama? Mengapa mereka menganggap aku Moyline? Apakah orang yang menculik diriku sengaja merubah diriku sebagai Moyline? Atau bisa jadi Moyline itu yang jadi pelakunya? Pikiran Henry tambah kacau karenanya. Bahkan, dia juga sempat berpikir formula yang ada di tubuhnya bersifat permanen. Itu artinya, kecil kemungkinannya dia bisa merubah diri menjadi laki-laki lagi. Dia menjadi sedikit khawatir. Namun, di satu sisi dia juga senang dia bisa menjadi orang lain. Dia sudah bosan dengan kehidupan dia sebagai lelaki yang tidak punya jati diri. Sendirian di dunia ini, tanpa keluarga dan juga kekasih. Tetapi, sepertinya keadaan di sini sedikit berbeda. Aku di sini adalah seorang putri? Hatinya tertawa geli saat menyadari kenyataan yang ada. Putri. Kenapa sekarang putri jadi senyum senyum sendiri? kedua orang ini saling melempar pandangan. Henry tidak mengetahui dia akan di bawa ke mana. Namun, dia merasa bahagia dengan kehidupan barunya. Meski, dia harus menjadi seorang wanita. Apa lagi dia mengetahui, bahwa di sini banyak sekali keajaiban keajaiban yang belum dia temui selama ini. Di sini adalah surga tempat dia melakukan eksperimen-eksperimen yang lebih aneh lagi. Karena, dia menemukan banyak hal yang baru di sini. Henry tidak bisa menahan rasa senangnya. Padahal, sesuatu yang lebih buruk sedang menanti di depannya. *** "Tuan putri. Silahkan anda tunggu di sini dulu." Kedua pengawal ini mengantarkan Henry ke sebuah kamar yang sangat luas. Lebih luas dari kamarnya tadi. Bahkan, di sini lebih indah dari pada tempat pertama kali dia bangun. Nuansa kamar ini, hampir sama dengan nuansa kamar biasa. Ranjangnya juga sama seperti ranjang selama ini dia tiduri. "Tidak seperti ranjang tadi?" gumamnya. "Ya tentu saja. Di istana ini yang menggunakan ranjang air hanya anda, Putri Moyline," kata salah satu pengawal itu. "Apa maksudnya?" Henry terlihat bingung, mengapa dia didiskriminasikan. "Soalnya...." "Stttt...." Belum sempat dia menjelaskan, orang yang di sebelahnya langsung melarang dia bercerita. "Kenapa?" Dia sendiri bingung, mengapa temannya melarang untuk bercerita. "Kamu enggak merasa heran dengan putri Moyline?" tanyanya sambil memperhatikan tubuh Henry dari atas sampai bawah. "Enggak ada." Dia pun melakukan hal yang sama dengan temannya tadi. "Coba kita lihat. Apa ada bagian tubuhnya yang udah kena serangan putri Jenihelt?" Kini dia berjalan berkeliling memutar tubuhnya Henry. "Enggak ada." Mereka mengatakannya dengan serempak. "Lalu?" pengawal yang mengenakan seragam merah kuning itu masih bingung, mengapa temannya curiga terhadap Henry. "Kamu enggak aneh? Dari tadi putri Moyline seperti orang lain. Dia terlihat seperti baru pertama kali ada di sini," kata pengawal satunya lagi Yang menggunakan seragam ungu hitam Ternyata, dia memang sangat peka. Henry pun juga terkejut dengan pengawal yang mengetahui bahwa dia memang bukanlah putrinya. "Berarti mereka bukan komplotan penculik diriku," bisik Henry dengan sangat pelan. Dia berharap, kedua orang yang sedang berunding itu tidak mendengarnya. "Putri? Apakah putri kenal siapa kami?" Tiba-tiba, salah satu dari mereka menanyakan sesuatu yang tidak mungkin diketahui oleh Henry. Namun, dia juga tidak mau membocorkan rahasia ini begitu saja. Dia merasa belum melakukan sesuatu yang menarik di sini. Dia tidak mau kembali ke tempatnya semula, sebelum melakukan sesuatu di sini. Kemudian, dia berusaha menebak dari pakaian yang mereka kenakan. "Kamu merku dan kamu uhi," tebak Henry. "Tuh kan, dia tahu." Pengawal tersebut membenarkan jawaban Henry. "Waaaa...." Dia merasa bangga tebakan ngasalnya itu benar. "Kenapa putri?" tanya merki. "Ahhh enggak kenapa kenapa," jawab Henry sambil menahan tawanya. "Anda hari ini memang terlihat sangat aneh." Uhi tetap pada pendiriannya, bahwa orang yang ada di depannya bukanlah putri yang selama ini dia kenal. Tetapi, Henry tidak mempedulikan kecurigaan Uhi. Dia sangat yakin, dia bisa langsung beradaptasi dengan cepat di sini. Tempat ini mudah sekali ditebak olehnya. Henry yakin, lambat laun Uhi pasti tidak bisa membedakan mana putri aslinya atau putri palsunya. "Aku akan senang tinggal di sini," kata Henry dengan hati yang berbunga-bunga. Dia menemukan tempat yang bagus buat bahan eksperimennya. Dia menemukan tempat tinggal yang dipenuhi oleh para perempuan. Makhluk yang selama ini tidak mau berada di dekat dirinya. Namun, kini dia bisa dua puluh empat jam bersama perempuan. Bahkan, itu bukan hanya satu atau dua orang. Akan banyak perempuan yang ada di sekitarnya. Karena, dia sendiri juga perempuan. "Hahahahaha...." Henry tidak bisa lagi menahan tawanya. Sedangkan, dia orang yang ada di belakangnya sangat heran dengan tingkah Henry. Tingkah yang sangat bertolak belakang dengan tuan putrinya. Akankah kehidupan Henry di sini memang seindah yang dia bayangkan? 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD