Di dalam kegelapan yang nyata ini. Henry mencoba untuk melangkahkan kakinya. Walau, dia sendiri tidak tahu kemana langkah kaki ini melangkah.
“Hik… hik… hik…” Tiba-tiba Henry mendengar suara tangisan perempuan.
“Siapa itu?!” teriak Henry sambil terus mencari asal suara tangis itu.
Suara tangis itu tetap terdengar. Bahkan, semakin lama semakin jelas. Sampai, tiba-tiba ada setitik cahaya yang datang menghampiri Henry. Kemudian, benda yang bercahaya itu berhenti di bahu kanan Henry. Dia pun mengambilnya dengan berlahan dan meletakkannya di telapak tangan Henry. Agar, Henry bisa melihatnya lebih jelas.
“Siapa kamu?” tanya Henry. Namun, ternyata suaranya tidak dapat keluar dari mulutnya.
Henry mencoba berkali-kali untuk bersuara, namun usahanya percuma saja. Dia pun memutuskan untuk memperhatikan benda asing yang ada di tangannya sekarang.
Seorang gadis cantik berambut panjang. Dia juga memiliki sayap dan juga bercahaya.
“Kamu seorang peri?” tanya Henry. Walau dia tahu, jika suaranya tidak akan ada yang mendengarnya.
Henry mendekati peri kecil itu ke wajahnya. Dan seketika, tangisan peri itu pun berhenti. Dia pun melihat ke arah Henry. Di saat mata peri kecil itu dan Henry saling bertemu. Tiba-tiba saja, cahaya yang menyilaukan terpancar dari segala arah. Sampai semua benda-benda tidak lagi dapat terlihat.
Saat, Henry membuka matanya dan mulai bisa melihat semuanya. Dia tersadar, bahwa dia tidak lagi berada di kamarnya. Semua benda benda yang ada di sini, terasa asing baginya.
Yang pertama kali dia sadari adalah warna kamarnya yang jauh berbeda dengan kamarnya saat ini. Suasana kamar ini sangat bertolak belakang dengan suasana kamarnya selama ini. Tercium juga wewangian bunga yang lembut. Ini sudah pasti bukan kamarnya. Walau kesunyian dan kegelapan masih terasa sama di sini.
Henry pun mulai bangun dari tempat tidurnya yang lembut. Dan saat di turun dari sana, dia baru sadar bahwa tadi dia tidur di atas air yang tenang. Dan yang lebih membuatnya bingung, mengapa tubuhnya tidak basah sama sekali. Padahal, dia tidur di atas air. Bahkan, air itu seperti kasur yang sangat lembut. Tidak terasa busa atau pun per di sana. Hanya terasa sedikit sejuk, namun membuat tubuh nyaman tertidur di atasnya.
“Ini di mana?” tanyanya sambil melihat sekitarnya.
Tetapi lagi-lagi Henry terkejut saat dia mendengar suaranya sendiri.
“Ehemm… Halo… halo…” Henry mencoba membenarkan pita suaranya.
Dia tidak merasakan ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. Sehingga membuat suaranya berubah seperti ini. Suaranya tidak lagi berat seperti biasa. Bahkan, bisa dibilang seperti suara perempuan.
“Kenapa suaraku?” dia memegangi lehernya yang tidak sakit dan serak. Tetapi, tetap tidak merubah suaranya menjadi seperti semula.
Kemudian, Henry mencari sesuatu yang bisa dia minum. Dia berkeliling di dalam kamar yang asing ini. Benda-benda yang ada di sini juga terlihat unik dan aneh. Walaupun, sebagian besar dia tahu kegunaan alat-alat itu. Di kamar ini juga terlihat sebuah bunga yang sebelumnya tidak pernah dia lihat. Bahkan, di ruang professor Kevin yang rata-rata barangnya aneh aneh. Dia tidak pernah menemuinya di sana.
Bunga itu juga memancarkan cahaya yang aneh. Seperti cahaya yang dikeluarkan dari sebuah senter. Namun, cahayanya sedikit redup. Bunga itu juga tidak mengeluarkan aroma wangi. Namun tetap saja, Henry mencium aroma wangi di kamar ini. Tetapi dia tidak menemukan asal wanginya dari mana.
Ruangan ini sebagian besar tertata seperti layaknya kamar biasa. Hanya saja, barang-barangnya dalam bentuk yang asing. Hanya satu yang dari tadi tidak dia temui. Botol air dan gelas, dia tidak menemuinya di setiap sudut ruangan ini.
Sebenarnya, dia dari tadi cukup penasaran dengan adanya pohon serta daunnya yang lebat berada di pojok ruangan ini. Dan pohon itu, seperti menembus dinding kamar ini. Henry tidak melihat pangkal dan juga ujung pohon itu. Dia hanya melihat beberapa ranting dan juga beberapa bagian dari tubuh tumbuhan itu. Apakah ini termasuk tumbuhan merambat?
Kemudian dengan ragu dia pun menghampiri pohon itu. Dia pun menyentuh salah satu daunnya yang selebar telapak tangan itu. Saat dia sentuh, tiba-tiba saja daun itu bergerak sendiri. Seolah menyambut tangannya Henry. Dia pun langsung menarik tangannya, karena terkejut.
“Aneh. Ini tumbuhan atau hewan? Mengapa dia bersikap seperti si Boy.” Henry jadi teringat dengan kucingnya yang belang tiga. Termasuk kucing yang jarang, berjenis kelamin laki-laki tetapi mempunyai tiga warna di tubuhnya. Keseringan, yang memiliki tiga warna adalah kucing perempuan.
“Ini tumbuhan apa ya?” kata Henry.
Timbul keinginan dia untuk meneliti tumbuhan yang baru dia temui itu. Namun, ketika dia hendak memegang salah satu rantingnya. Tiba-tiba saja, ada yang mengetuk pintu kamarnya.
“Tok… tok…” Pintu itu kembali diketuk olehnya.
Henry tidak pernah sebelumnya mempersilahkan orang untuk masuk ke kamarnya. Jika itu Roy, dia pasti akan langsung membuka pintu itu. Tanpa harus dipersilahkan masuk terlebih dahulu oleh Henry.
Apalagi sekarang. Dia sendiri tidak mengetahui keberadaan dirinya. Dan siapa yang ada di balik pintu itu, dia pun tidak mengetahui. Untuk apa dia mempersilahkan orang asing masuk ke kamarnya. Apalagi untuk membukakan pintunya.
Ternyata, tanpa dipersilahkan oleh Henry. Pintu kamarnya terbuka begitu saja.
“Hai, selamat pagi,” sapa seorang perempuan yang muncul dari balik pintu.
“Pagi…” jawab Henry.
“Gimana tidurmu? Nyenyak?” Perempuan itu terus masuk ke dalam tanpa permisi terlebih dahulu.
Tentu saja, Henry tidak menjawab pertanyaan orang itu. Dia tidak pernah mau meladeni seseorang yang tidak mempunyai sopan santun terhadap dirinya. Walau pun, dia sering kali melakukan hal itu kepada orang lain.
Di saat perempuan itu sibuk berbicara sendiri. Henry pun sibuk melihat barang barang yang unik dan aneh, yang berada di kamar ini. Sampai, dia terpaku di sebuah cermin yang berwarna keemasan. Namun, tetap bisa memantulkan bayangan wajahnya.
Henry memegangi dagu, pipi dan hidungnya, sambil melihat bayangan di cermin itu.
“Tampan. Seperti biasa,” katanya sambil terus memandangi wajahnya sendiri.
Henry memang mempunyai kebiasaan mengagumi wajahnya yang tampan. Namun dia sering kecewa, mengapa tidak ada satu orang perempuan pun yang bisa jatuh cinta terhadap ketampanan dirinya.
Saat, Henry sedang menikmati keindahan wajahnya yang menurut dia semakin tampan. Tiba-tiba, perempuan yang kehadirannya tidak Henry anggap tadi, dia menarik rambut Henry secara kasar.
“Kamu! Bisa bisanya kamu tidak mendengarkan diriku yang sedang berbicara kepadamu!” Perempuan itu terlihat sangat murka.
Sampai, sesuatu yang aneh terjadi. Rambut yang ditarik kasar oleh perempuan itu, tiba-tiba membuat rambut Henry tergerai dengan sangat indahnya. Dia tidak menyadari rambut panjangnya, karena dari tadi rambutnya terikat dengan rapih.
Namun, begitu rambut itu terlepas. Henry baru tahu bahwa rambutnya sangat panjang dan indah. Layaknya, rambut yang dimiliki oleh seorang perempuan.
“Aawww…” Henry berteriak kesakitan.
Henry mencoba menarik rambutnya sendiri, seperti yang dilakukan oleh perempuan tadi. Dia berpikir bahwa itu adalah rambut palsu. Namun, rambutnya tidak bisa lepas dari kepalanya. Dan menempel dengan sangat kuat. Bahkan, seperti rambut asli.
“Apa ini?” Dia kebingungan dengan dirinya sendiri.
Wajah yang tadi dia lihat sangat tampan. Tiba-tiba berubah menjadi sangat cantik. Dia pun baru menyadari, bahwa wajah yang dari tadi sentuh terasa lebih mulus dari sebelumnya.
“Hei Kamu! Kamu masih juga tidak mendengarkan aku?!” Kali ini perempuan itu mendorong tubuh Henry hingga terjatuh.
“Maksud kamu apa? Hah!” Henry pun murka terhadap perempuan yang dari tadi marah marah tidak jelas terhadap dirinya.
Dia juga membalas mendorong tubuh perempuan itu. Sebelumnya, dia tidak pernah memperlakukan perempuan seperti ini. Tetapi, dia sangat terganggu dengan kehadiran perempuan ini. Di saat dia sedang kebingungan dengan perubahan wajahnya. Perempuan ini malah ikut membuat dia menjadi pusing.
“Oooo… sekarang kamu sudah berani ya?” Tatapan mata perempuan itu terlihat semakin kesal.
Henry pun terkejut melihatnya.
Bukan karena takut karena tatapan mata itu. Melainkan, wajah perempuan itu yang membuat dia terkejut. Wajah yang pernah dia lihat sebelumnya.
“Kamu? Ternyata itu kamu?” tanya Henry sambil berjalan mendekati perempuan itu.
Henry pun memegangi wajah perempuan itu. Dan memperhatikannya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Kamu cantik kalau enggak nangis,” kata Henry sambil mengagumi kecantikan perempuan itu.
“Maksud kamu apa? Kapan aku menangis?” Dia langsung menepis tangan Henry yang memegangi wajahnya dengan lembut.
Dia tidak terima dengan yang dikatakan oleh Henry.
Tetapi Henry sangat mengingat wajah cantik itu. Dia adalah perempuan kecil yang muncul di mimpinya tadi. Perempuan yang menangis, kemudian terbang ke atas telapak tangannya. Dia melihat wajah mungil itu dari dekat. Karena itu, dia masih mengingat dengan jelas wajah itu.
“Waaa… sekarang tubuh kamu juga enggak mungil seperti tadi ya?” Kali ini Henry mengambil tangan perempuan itu. Dan memutar tubuhnya, layaknya orang yang sedang berdansa.
Perempuan itu tambah kesal dengan sikap Henry. Dia pun menepis tangan Henry dengan sangat kasar.
“Maksud kamu apa? Kamu udah mulai berani menghina aku ya?!” Perempuan itu terlihat kesal dengan apa yang Henry lakukan terhadap dirinya.
“Salah aku apa?” tanya Henry bingung. Padahal, dia tidak pernah merasa berbuat salah terhadap perempuan ini.
Hati Henry merasa iba saja, karena teringat perempuan ini menangis di dalam mimpinya. Jadi, Henry ingin sekali menyentuh perempuan cantik yang berdiri di depannya.
Namun, Henry bingung. Mengapa perempuan itu terus-terusan marah kepada dirinya.
“Kamu kenapa?” tanya Henry. Karena, dia merasa ada yang aneh pada diri perempuan itu.
“Kamu yang kenapa?” balas perempuan itu sambil mendorong tubuh Henry dengan kasar. Sehingga, tubuhnya terjatuh ke lantai.
Dia pun bingung, mengapa tubuhnya bisa dengan mudahnya didorong oleh perempuan itu. Walau pun tubuhnya tidak berotot, tetapi dia bukanlah laki-laki selemah itu.
Kemudian, Henry memegangi bagian tubuhnya yang didorong oleh perempuan itu. Sakit, padahal dia yakin perempuan itu hanya mendorongnya. Namun, kenapa tubuhnya bisa merasakan sakit sekali karenanya.
Tiba-tiba, ada sesuatu yang membuat Henry lebih terkejut. Sewaktu dia menyentuh bagian bahunya yang sakit. Tanpa sengaja dia memegang sesuatu yang lain yang ada di tubuhnya. Dia merasakan sebuah gundukan daging kenyal yang berada di bagian dadanya. Henry pun melihat tubuhnya dengan tegas.
“A… apa ini?!” Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Dia pun memastikannya. Dengan mencengkram bagian payudaranya dengan sangat kencang.
“Aaaaawwww…” Henry teriak kesakitan, karena ulahnya sendiri.
Kemudian, dia melihat sesuatu yang selama ini tidak dia miliki dengan jelas. Dia intip tubuhnya sendiri dari balik baju yang dia kenakan.
“I… ini asli…” katanya sambil terus memperhatikan tubuhnya sendiri.
“A… apa yang terjadi?” tanyanya kebingungan dengan yang sedang terjadi.
Kemudian, Henry langsung bangun dan berlari ke depan cermin. Di sana dia melihat wajah dia sendiri dengan rambut panjang tergerai.
Dia juga memperhatikan seluruh tubuhnya yang terpantul di cermin.
Barulah dia sadari, wajahnya memang miliknya. Namun, tubuhnya bukanlah miliknya.
Ada apa ini?
Mengapa ini bisa terjadi?
Di manakah dia sekarang?