Moyline adalah seorang peri yang terlahir dari bunga yang berwarna putih. Sedangkan, Jenihelt adalah peri yang terlahir dari bunga yang berwarna hitam. Mereka berdua terlahir dengan wajah yang sama, senyum yang sama dan sama-sama memancarkan cahaya peri. Semua peri yang terlahir dari bunga misterius dan memancarkan cahaya peri, maka dia akan menjadi Ratu dunia peri selanjutnya.
Kisah hidup Moyline tidak sesuai dengan yang dia harapkan. Semua peri selalu mengatakan bahwa dia adalah calon Ratu yang gagal. Dari kecil Moyline selalu diberi julukan sebagai calon Ratu yang tidak bisa apa-apa. Dia selalu dikatakan sebagai pembuat masalah. Padahal Moyline hanya dimanfaatkan oleh Jenihelt sebagai pelindungnya saat dia sedang melakukan keusilan. Sehingga, para peri selalu beranggapan Moyline sebagai calon Ratu yang gagal, usil dan jahat.
Kini, Moyline dan Jenihelt sudah beranjak remaja. Tetapi, sikap Jenihelt tetap tidak bisa dirubah. Moyline tidak kuat menghadapi perlakuan Jenihelt selama ini terhadap dirinya. Dan dia juga tidak sanggup menahan olokan dan hinaan yang keluar dari mulut semua peri. Bahkan para pelayan kerajaan juga enggan melayani Moyline. Di dunia ini, hanya Ratu saja yang sangat baik terhadapnya. Tetapi, usia Ratu tidak lama lagi. Dia tidak bisa membayangkan, bagaimana nasib dia setelah Ratu tidak ada lagi di dunia ini.
“Apa yang sedang kamu lamunkan putriku,” sapa Ratu kepada Moyline yang sedang melamun menatapi gumpalan awan yang gelap.
“Ibunda, apakah yang ada di bawah awan ini?” tanya Moyline saat melihat jauh ke bawah.
Di luar pagar tembok istana Ratu peri ini, kita hanya bisa melihat gumpalan-gumpalan awan. Saat sinar matahari menyinari dunia peri, maka gumpalan awan ini akan berwarna putih bercahaya. Tetapi jika cahaya matahari menjauh dan menghilang di sisi bumi satunya lagi, maka warna awan ini akan berwarna hitam ke abu abuan. Namun, jika bulan berada di depan matahari maka awan akan terlihat sangat gelap seperti sekarang ini.
“Dunia di bawah ini adalah dunia yang tidak akan pernah kamu lihat, jadi kamu tidak perlu tahu,” kata sang Ratu.
“Kenapa begitu Ibunda?” tanya Moyline penasaran.
“Kalau Ratu peri tidak akan pernah datang ke bawah sana. Hanya peri-peri yang diberikan tugas saja turun ke bawah sana,” jelas Ratu.
“Udah kamu tidak perlu tahu tentang apa yang ada di bawah. Nanti saat kamu sudah menjadi Ratu, kamu akan diberitahu apa yang ada di bawah sana,” kata Ratu.
“Mengapa tidak boleh tahu sekarang ibunda? Dari kecil, jika Lin menanyakan dunia bawah sana, ibunda selalu saja menghindar.” Moyline terlihat tidak senang.
“Nanti aka nada masanya kamu tahu tentang dunia bawah sana.”
“Tapi kata semua peri, aku tidak akan mungkin menjadi Ratu. Jadi aku tidak akan tahu dunia bawah dong, Bun?” tanya Moyline dengan nada merajuk.
“Kata siapa kamu enggak akan jadi Ratu? Ibunda sangat yakin, kamu yang akan menjadi Ratu selanjutnya.” Ratu membelai lembut muka Moyline, agar dia tidak lagi cemberut.
“Lin kan hanya calon Ratu gagal. Semua tidak akan ada yang mendukung Lin. Cuma bunda aja yang ada di sisi Lin.” Moyline terlihat sangat sedih.
“Bukan kita yang menentukan semuanya. Biarkan takdir yang menjawab semuanya. Dan ibunda juga sangat yakin, walau pun kamu bukan seorang Ratu yang terpilih. Kamu pasti akan tahu, apa yang ada di dunia bawah sana. Kamu harus sabar ya,” kata Ratu.
Moyline hanya bisa mengangguk, tidak bisa membantah perkataan ibunya lagi.
“Kalau begitu tersenyum dong,” pinta Ratu.
Dengan berat hati, Moyline memaksakan diri untuk tersenyum. Ratu yang mengetahui perasaan putrinya yang masih sangat sedih, akhirnya menarik tubuh Moyline ke dalam pelukannya. Moyline pun langsung membalas pelukan ibundanya. Air matanya pun tidak lagi bisa Moyline bendung.
Di saat Ratu masih memeluk Moyline. Tiba-tiba saja, ada seorang pengawal yang datang mendekati salah satu dayang Ratu. Kemudian, dayang itu pun mendekati ke tempat Ratu dan Moyline berada.
“Maaf Yang Mulia, Tuan Zeamies dari klan Queb sedang menunggu anda di Aula,” kata dayang tersebut.
Ratu pun melepas pelukan Moyline dan menghapus air matanya yang masih terus mengalir.
“Ibunda tahu kamu sangat sedih. Tapi ibunda juga yakin, Lin adalah peri yang sangat kuat, bahkan lebih kuat dari Jen,” kata Ratu memberi semangat kepada Moyline.
“Iya ibunda,” kata Moyline.
“Kalau begitu, sekarang ibunda mau menemui tuan Zeamies dulu ya?”
“Iya ibunda.”
Ratu dan semua dayangnya akhirnya pergi meninggalkan Moyline sendiri di sini. Walau pun Moyline adalah calon Ratu, tetapi tidak ada satu pun dayang yang mau berada di samping Moyline. Karena semua dayang yang berada di samping Moyline selalu dikerjai oleh Jenihelt. Tetapi mereka selalu beranggapan, jika itu adalah ulah Moyline. Maka sejak Moyline berusia lima belas tahun sampai sekarang, dia hanya seorang diri.
Moyline kembali memandangi awan-awan yang masih berwarna hitam gelap. Pikirannya terbang entah kemana. Rasa gundah di dalam hatinya, membuat dia tidak bisa berpikir dengan jernih.
“Apakah aku loncat saja ke bawah sana untuk mengetahui dunia sana,” kata Moyline.
Tetapi dia berpikir kembali. Apa yang akan terjadi kepada Ibundanya, jika dia melakukan itu. Semua peri yang selama ini beranggapan jelek tentang dirinya, pasti akan semakin menganggap Moyline jelek. Dia pun mengurungi niatnya itu.
“Andai saja aku bisa pergi ke bawah sana. Andai saja aku terlahir di dunia sana, pasti aku akan merasa sangat bahagia,” kata Moyline sambil menatapi awan awan yang sedikit demi sedikit berubah warna menjadi terang kembali.
***
Sedangkan di dunia manusia, ada juga orang lain yang berpikiran sama dengan Moyline. Seorang pemuda yang dari tadi masih memperhatikan langit yang gelap gulita karena sedang terjadi gerhana matahari total.
“Hai Prof, kamu mau mata kamu sakit? Melihat gerhana matahari total tanpa kacamata. Kalau mata kamu buta bagaimana?” Roy yang sadar dengan sikap cuek Henry langsung memarahinya.
Roy pun langsung memakaikan Henry sebuah kacamata khusus untuk melihat gerhana matahari total. Henry masih tetap terdiam melihat langit tanpa mempedulikan kehadiran Roy.
“Kamu sudah bosan hidup?” tanya Roy kesal.
“Kalau bisa mati sekarang mungkin itu lebih baik,” kata Henry.
“Kamu sudah gila? Kalau melihat gerhana seperti itu bukannya mati, tapi kamu cuma bakalan jadi buta,” hardik Roy.
“Huff… aku sudah tidak punya tujuan hidup, buat apa juga aku bisa melihat,” keluh Henry.
“Kamu emangnya tidak mau bermain-main dengan para wanita di malam hari.” Roy memancing Henry untuk mengingatkan masih banyak kenikmatan yang bisa nikmati.
“Buat apa bermain sama mereka, tetapi mereka tidak mengetahui dengan siapa mereka bermain.” Henry tidak terpengaruh dengan rayuan Roy.
“Trus apa yang bisa membuat kamu semangat lagi?” tanya Roy.
“Aku hanya ingin merasakan hidup di dunia yang lain. Aku sudah bosan berada di dunia manusia ini,” kata Henry sambil masih tetap melihat langit dengan tatapan kosong.
“Trus kali ini kamu mau menemukan apa lagi?” tanya Roy.
“Entahlah, aku belum punya ide. Aku hanya ingin segera pergi dari dunia ini.” Henry terdengar sangat putus asa.
“Kamu enggak bakal bunuh diri kan?” Roy mulai merasa khawatir dengan temannya itu.
“Tentu saja tidak. Itu adalah pilihan terbodoh, dan pasti akan menjadi pilihan terakhirku,” kata Henry.
“Huff… syukur deh.”
Di saat Henry sedang melamun sambil menatap bulan yang sedikit demi sedikit bergeser dari posisinya. Tiba-tiba ada sebuah bintang jatuh yang berwarna merah. Bintang itu bergerak dengan sangat cepat. Dan tiba-tiba bintang itu meledak di tengah-tengah langit, sehingga membuat lubang besar di langit. Henry seperti melihat sesuatu di dalam lubang langit yang sempat terlihat. Namun lubang itu hanya terbuka dalam sekejap mata.
“Kamu lihat itu Roy?!” Henry sangat terkejut dengan apa yang baru saja dia lihat.
“Lihat matahari? Ya tentu saja,” kata Roy.
“Bukan. Tadi ada bintang yang meledak dan membuat langit seperti berlubang,” kata Henry.
“Mana mana? Di mana?” Roy mencari ke sana ke sini. Namun dia tidak bisa melihat apa-apa.
“Itu tadi di sana.” Henry menunjukan ke tempat langit tadi berlubang.
“Enggak ada apa-apa di sana,” kata Roy sambil menyeringitkan matanya agar lebih jelas melihatnya. Tetapi, tetap saja dia tidak bisa melihat apa-apa.
“Kamu benaran tidak melihat bintang jatuh tadi?” tanya Henry tidak percaya.
Roy hanya menggelengkan kepalanya.
“Aneh. Padahal ledakannya begitu besar, mengapa kamu tidak bisa melihatnya ya?” Henry merasa kebingungan, mengapa hanya dia saja yang dapat melihatnya.
“Mungkin kamu hanya berhalusinasi saja. Kamu kan sudah tiga malam tidak bisa tidur,” kata Roy.
“Mmmmm… mungkin kali ya?!”
“Bukan mungkin. Tapi itu pasti!”
Roy terlihat geram dengan sikap cuek temannya itu. Henry memang tidak pernah mempedulikan kesehatannya. Tetapi yang membuat Roy sangat heran, mengapa Henry tidak pernah sakit. Sedangkan dia yang mengikuti gaya hidup Henry, selalu saja tidak kuat. Bahkan sering kali dia bolak balik keluar dari rumah sakit.
“Kalau kamu masih menganggap aku teman, cobalah untuk istirahat kali ini,” kata Roy sambil menarik tubuh Henry menuju tempat tidurnya.
“Emangnya kalau tidur, semua masalahku benar-benar akan selesai,” kata Henry mencoba membatah Roy.
“Sttt… berisik. Apa perlu, aku beri kamu obat tidur yang sangat keras,” kata Roy kesal.
“Mmmm….” Henry seperti sedang memikirkan ucapan Roy.
“Sudah, jangan konyol. Cepatan tidur.”
Roy langsung menahan Henry untuk mengatakan hal yang tidak-tidak. Dia juga langsung membuat Henry dikurung dalam selimut. Roy juga menutup rapat gorden kamar Henry, agar cahaya matahari yang sudah mulai menyinari bumi, tidak masuk ke dalam kamar. Dan tidak lama setelah itu Roy pun keluar meninggalkan Henry sendiri di kamarnya.
Henry masih belum merasa mengantuk. Dia pandangi langit kamar yang gelap. Pikirannya sangat kosong, namun tetap susah untuk tidur. Tetapi akhirnya dia putuskan untuk memejamkan matanya, dan berusaha untuk tidur.
Baru saja Henry memejamkan matanya, tiba-tiba dia mendengar suara perempuan yang sedang memohon sesuatu.
“Andai saja aku bisa pergi ke bawah sana. Andai saja aku terlahir di dunia sana, pasti aku akan merasa sangat bahagia.”
Henry mendengar jelas suara perempuan itu. Tetapi Henry tidak melihat sosoknya. Henry hanya mendengar suaranya, juga suara isak tangisnya.
“Siapa itu?” tanya Henry.
Tetapi Henry tidak melihat apa-apa. Matanya masih terpejam, tetapi dia yakin bahwa dia belum tertidur. Dia masih dalam keadaan setengah tertidur saat mendengar suara perempuan itu. Namun, matanya terasa sangat berat untuk dibuka. Henry melihat dirinya yang sedang berdiri seorang diri di dalam kegelapan yang nyata. Alas tempat dia berpinjak pun tidak terlihat. Langit dan batas ruangan, juga tidak terlihat. Dia seperti sedang berada di ruang hampa yang gelap.
Di manakah ini?