Tiga orang yang ada di depanku hanya terdiam sambil mengantarkan diriku kembali ke kamar. Aku ingin sekali memulai pembicaraan, agar suasananya tidak terlalu dingin seperti ini. Bertahun tahun, aku hidup dalam keadaan semacam ini. Aku tidak mau merasakan hal yang sama di tempat yang baru.
Aku ingin menjadi pribadi yang lain di sini. Aku ingin selamanya hidup dalam hasratku yang aku pendam selama ini. Hidup tanpa emosi dan perasaan, aku sudah tidak mau hidup seperti itu. Aku ingin melepas semua kehidupanku selama ini. Aku ingin merasakan hidup dengan penuh kasih sayang di sini.
Walau, aku sedikit kecewa memiliki Bunda yang melakukan sesuatu di belakang aku. Bahkan, saudara yang merupakan saudara kembarku juga bersikap sangat dingin kepada diriku. Dua orang yang tadinya aku anggap sebagai sahabat, ternyata memiliki kepribadian yang ganda.
Apakah aku akan menghabiskan waktu dengan kehidupan tanpa emosi lagi di sini?
“Tidak....” Aku berteriak membayangkan hal itu kemungkinan terjadi lagi di tempat yang asing ini.
“Ada apa, putri?” Ketiga orang ini serempak langsung melihat ke arah diriku.
“A... aku... membayangkan kalau kalian... kalian...” Aku tidak sanggup mengatakan yang ada di hatiku.
“Kami kenapa, sayang?” tanya Ratu yang heran dengan tingkahku.
“Kalian... kalian berniat untuk membunuh aku.” Akhirnya, kata kata itu lepas juga dari mulutku.
“Membunuh... kamu?!” Ratu terlihat terkejut dengan yang aku katakan.
“Hmmff... hahahahaha....” tiba-tiba saja mereka tertawa secara berbarengan.
“Ke... kenapa?” tanyaku bingung.
“Kamu ini lucu, putri,” kata Ratu sambil mengacak rambutku.
“Iya... Putri ada ada aja.” Uhi ikut menimpal perkataan Ratu.
Muka musam dan kesal di wajahnya tadi, tiba-tiba saja menghilang.
“Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?”
“Deg.”
Aku terkejut dengan pertanyaan Ratu itu. Karena, aku yang kelepasan berbicara. Mau tidak mau, aku harus menyebutkan nama Kihi. Apa yang akan terjadi sama dirinya, jika mereka tahu bahwa aku mengetahui sesuatu yang terjadi tadi malam dari Kihi.
“Mmmmm... tadi... aku seperti membayangkan kalian sedang merencanakan membunuh diriku.” Aku berusaha untuk tidak melibatkan Kihi saat ini.
Bagaimana pun, dia satu satunya orang yang mau berbicara jujur kepada diriku. Walau sebenarnya, Kihi sendiri juga masih menyembunyikan sesuatu.
“Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?” Ratu bertanya kembali.
“Mmmm... habisnya... kalian....” Aku menghentikan sesaat apa yang ingin aku katakan.
Mereka masih menunggu apa yang ingin aku ungkapkan itu. Aku jangan sampai membuat mereka curiga tentang hal ini. Aku ingin, mereka beranggapan bahwa aku tidak tahu apa apa tentang yang mereka lakukan dua tahun sekali terhadap diriku.
“Kenapa, sayang? Kenapa kamu kelihatan ragu seperti itu?” tanya Ratu penasaran.
“Putri, emangnya tahu sesuatu?” pertanyaan Merku memang langsung pada intinya.
Ratu dan Uhi melihat Merku dengan tatapan penuh amarah. Aku tahu persis maksud dari tatapan mereka itu. Jika mereka dapat mengatakannya, maka mereka akan berbicara ‘kenapa kamu harus menanyakan hal itu?’ atau ‘Kamu mau bongkar rahasia selama ini?’. Setidaknya itu yang bisa aku lihat dari mata mereka.
“Mmmm... habisnya kalian kelihatannya marah banget sama aku,” kataku mencoba mengalihkan pikiran mereka.
“Ya gimana enggak marah. Putri pagi pagi udah hilang,” kata Uhi yang kembali terlihat kesal.
“Maksudnya?” Ratu tiba-tiba melihat ke arah Uhi dengan tatapan bingung.
“Mak... maksudnya... nyasar.” Uhi langsung meralat ucapannya tadi.
“Iya. Bukan cuma Uhi dan Merku yang marah terhadap aku. Bunda... bunda juga kelihatan kesal sama aku,” kataku.
“Kata siapa, sayang. Mana bisa bunda marah sama kamu. Kamu kan putri kesayangan bunda,” katanya sambil memeluk diriku.
Hangat dan penuh kasih sayang. Aku masih tidak habis pikir, wanita selembut ini merencanakan hal yang mengerikan selama ini. Aku sangat sedih membayangkannya.
Bagaimana pun juga, aku harus merubah sikap mereka itu kepada diriku. Aku tidak mau perasaan sayang ini hanyalah kedok belaka. Aku ingin memiliki seorang ibu yang benar benar sayang kepada diriku.
“Iya, putri. Kamu enggak usah berpikiran yang enggak enggak. Kami selalu mendukung putri Moyline,” kata Merku.
Aku sudah tidak sabar dengan sikap palsu mereka ini. Dalam sekejap, mereka bisa merubah sikap kesal mereka tadi menjadi orang orang yang sangat peduli dan penuh kasih sayang. Aku harus tetap bersabar dan merubah ini semua. Jika aku mau menjalani hidup yang lebih baik, maka itu yang harus aku lakukan. Sama seperti yang sering Roy katakan. Tetapi, aku tidak mau melakukannya. Karena orang orang sudah terlanjur beranggapan, aku adalah orang yang dingin dan tidak asyik diajak bergaul.
Tetapi lain halnya dengan di sini. Orang orang ini, meski berwajah dua. Namun, mereka menganggap aku sebagai orang yang lembut dan penuh cinta. Hal yang tidak bisa aku lakukan selama ini. Hidup dalam kasih sayang dan cinta.
“Kamu masih memikirkan sesuatu, putri?” tanya Ratu yang menyadari diamnya diriku.
“Enggak bunda. Hanya masih merasa takut saja,” kataku mencoba menutupi perasaanku yang sesungguhnya.
“Kamu enggak usah takut. Bunda selalu ada untuk putri,” kata Ratu sambil membelai lembut pipiku.
Semoga saja itu benar. Semoga saja, Kihi yang salah.
“Ya udah. Putri istirahat aja dulu. Semalam pasti putri tidak istirahat dengan baik,” kata Merku.
“Iya, sayang. Yang dikatakan Merku benar.” Ratu setuju dengan yang dikatakan Merku.
Aku hanya bisa menganggukkan kepala.
“Putri pagi ini mau sarapan apa?” tiba-tiba, Uhi bertanya dengan sangat lembut.
“Apa aja,” jawabku singkat dan datar.
“Ya, udah. Aku sama Merku siapkan sarapan buat putri dulu ya,” kata Uhi.
“Iya, sayang. Bunda juga masih ada yang harus dikerjakan. Kamu istirahat aja dulu ya,” lanjut Ratu.
“Iya, Bunda,” jawabku.
“Kamu tenang aja, nanti siang Bunda akan siapkan pelukis ternama untuk melukis kamu dan Jenihelt,” kata Ratu.
“Waaaa... putri Moyline dan putri Jenihelt mau dilukis bareng ya?” Merku terlihat sangat takjub setelah mendengar rencana Ratu.
“Iya. Putri Moyline ingin dilukis berdua dengan putri Jenihelt,” jelas sang Ratu.
“Waaa... kalau lukisannya dijual, pasti laku banget. Itu kan barang langka,” kata Uhi yang juga terlihat berbinar binar.
“Apaan sih kamu ini. Masak lukisan putri dijual,” kata Ratu.
“Ampun Ratu.” Uhi langsung menundukkan kepalanya, karena sudah berpikiran salah.
“Ya udah, sana kalian siapin sarapan buat putri,” suruh Ratu.
“Iya Ratu.” Setelah mereka pamit, mereka langsung bergerak cepat meninggalkan aku dan juga Ratu.
“Bunda juga pergi ya. Kamu enggak usah mikir yang macam macam. Kamu pikirkan saja tentang masa depan kamu sebagai Ratu,” kata Ratu berusaha menenangkan diriku.
“Tapi...” Aku ingin sekali menolaknya dengan tegas. Aku tidak ada niatan sama sekali untuk menjadi Ratu.
“Kamu dan Jenihelt memang ditakdirkan untuk menjadi Ratu bersama. Bunda tidak setuju untuk memilih Ratu diantara kalian berdua,” lanjut Ratu lagi.
“Iya Ratu.” Kali ini, aku hanya bisa menjawab iya.
Aku belum mengetahui situasi di sini. Aku tidak bisa bertindak dengan gegabah. Bagaimana pun, aku harus menemukan Moyline yang asli. Jika dia memang tidak mau lagi tinggal di sini. Tetapi setidaknya, dia harus mencerita secara detail situasi yang ada saat ini. Agar aku tidak hidup dalam kegelisahan seperti ini.
Ratu sempat mencium keningku, sebelum beliau pergi meninggalkan aku. Walau itu hanya ciuman Bunda untuk anaknya. Tetap saja, aku merasa aneh. Bagaimana pun, ini pertama kalinya seorang perempuan mencium keningku seperti ini. Terutama lagi, dia melakukannya dalam keadaan sadar.
Aku memperhatikan punggung Ratu yang lama lama menghilang dari pandanganku. Wanita yang sangat lembut dan cantik diusianya yang sudah lebih dari seribu tahun.
Aku ingin sekali mempercayai, jika Ratu memanglah bunda yang tulus sayang kepada diriku. Andai, aku bisa mengendalikan perasaan ini dari rasa yang sudah ditanamkan Kihi tadi. Aku tidak boleh begitu mudah percaya dengan siapa pun. Aku harus mencari kebenaran itu sendiri.
***
Mereka benar benar mengurung aku di dalam kamar. Mereka selalu berusaha membuat aku untuk tidur. Aku jadi sedikit takut dengan makanan yang mereka berikan. Mungkin saja, di dalam makanan itu sudah mereka letakan obat tidur.
“Putri. Kenapa makanannya enggak ada yang dimakan?” tanya Merku yang melihat hidangannya masih utuh di atas meja.
“Mungkin, makanannya tidak sesuai dengan selera putri ya?” Uhi ikut bertanya kepada diriku yang enggan menyantap makanan itu.
“Aku belum lapar,” jawabku. Padahal, aku sedang menyembunyikan rasa lapar dan haus.
Waktu kini sudah menunjukkan jam sebelas siang. Namun, aku belum mengisi perutku dengan apa apa. Semoga saja, perutku dapat menahannya sedikit lagi. Setelah aku keluar dari kamar ini, aku akan kembali ke dapur tadi dan memasak makananku sendiri. Membayangkannya saja, sudah membuat air liurku keluar dari mulut ini.
“Ayo lah putri. Anda enggak boleh seperti ini. Semalam tenaga anda pasti sudah terkuras habis. Anda harus segera memulihkan tubuhnya. Agar tidak terjadi apa apa,” kata Uhi memohon dengan sangat sopan.
“Sssttt... kamu bicara apa?” bisik Merku yang memarahi Uhi namun dalam suara yang pelan.
“Emangnya, semalam aku habis ngapain?” Aku mencoba memancing mereka berdua.
“Tuh kan.” Merku terlihat menyalahkan Uhi atas yang dia katakan tadi.
“Mmmmm... semalam kan bulan tidak terlihat karena terhalang. Biasanya, saat seperti itu tenaga kita para peri lebih terkuras dari pada biasanya.” Uhi tetap menutupi sesuatu yang ingin aku ketahui.
“Iya benar, putri. Semalam itu bulan tidak terlihat di dunia peri ini.” Merku ikut membenarkan yang dikatakan Uhi.
“Emang semalam enggak ada bulan ya?” Aku mencoba mengingat ingat saat pagi tadi.
Aku memang tidak memperhatikan dengan jelas keadaan alam pagi ini. Namun, memang aku merasakan suasana yang sangat gelap dan juga dingin. Tetapi, aku tidak melihat keberadaan bulan saat itu. Dan lagi, saat itu sudah cukup pagi untuk melihat bulan. Biasanya, jam segitu bulan hampir tidak dapat terlihat lagi.
“Iya putri. Semalam itu enggak ada bulan. Karena itu, lampu lampu kebanyakan yang dimatiin malam tadi,” jelas Uhi.
Entahlah, itu memang benar. Atau hanya sekedar menutupi kenyataan yang sebenarnya. Aku sulit untuk percaya dengan mereka berdua.
“Makanya, putri harus makan. Kasian tubuh putri,” paksa Merku.
“Mmmm... apakah semua makanan ini sudah dicoba sebelum sampai ke sini?” tanyaku.
“Ya tentu saja. Orang yang memasak makanan ini udah disuruh untuk mencoba makanan makanan ini dulu. Kami selalu memastikan dulu semua makanan sebelum diantarkan ke sini,” jawab Uhi dengan sangat yakin.
“Mmmm... kalau sekarang aku suruh kalian mencoba dulu semua makanan ini, mau?” kataku.
“Tapi...” Uhi sepertinya berat untuk melakukannya.
Semakin jelas, jika di dalam makanan itu memang ada obat tidurnya.
“Bukannya enggak mau, putri. Kami takut enggak sopan aja. Masak makanan buat putri, kita makan dulu.” Merku menolaknya dengan alasan yang masuk akal.
“Kalau aku yang nyuruh, harusnya enggak papa kan?” Aku tetap memaksa mereka untuk mencoba semua makanan itu.
“Mmmm... tapi sendok dan piringnya hanya ada satu.” Merku masih mencoba untuk menolaknya.
“Itu bisa kalian bawain lagi yang baru untuk aku,” kataku.
“Baiklah, kalau putri memaksa.” Merku pun mau melakukan yang aku minta.
Dia pun memasukan semua makanan itu ke dalam piring makannya. Walau dia hanya mengambilnya dalam jumlah yang sangat sedikit. Tetapi tidak terlihat keraguan sama sekali saat dia melakukan itu. Tidak seperti Uhi yang masih terheran melihat Merku.
Kenapa dia bisa setenang itu ya?