BAB 12

1844 Words
Setelah aku berbicara dengan Kihi, aku jadi kehilangan napsu untuk membuat sarapan. Aku tidak menyangka, Ratu yang kemarin sangat baik terhadap diriku ternyata tega melakukan hal seperti itu di belakangku. Apa yang telah mereka lakukan terhadap diriku? Aku memang seorang peneliti. Tetapi, aku tidak melakukan sesuatu terhadap makhluk hidup. Aku hanya melakukannya terhadap mayat atau bangkai yang masih utuh. Aku tidak pernah mengira, aku akan jadi bahan percobaan seperti ini. “Putri... putri dari mana aja?” tanya Merku yang terlihat panik mencari diriku. “Aku habis jalan jalan pagi,” kataku tetap tenang. Aku pura-pura tidak mengetahui apa pun. Walau sebenarnya, aku sangat ingin menanyakan semua itu kepada dirinya. Tetapi aku yakin, jika dalam kondisi seperti ini aku bertanya kepada Merku. Maka, aku tidak dapat menentukan mana yang benar atau pun salah. Aku tidak mengenal mereka. Sehingga, aku tidak bisa membedakan mana yang jujur atau berbohong. Walau aku sedikit bisa membaca gaya bicara orang. Namun kini yang aku hadapi adalah peri. Apakah bisa disamakan dengan manusia? “Pu... putri tumben bangun lebih cepat?” Merku memperlihatkan sedikit celah dari perbuatan yang diceritakan Kihi tadi. “Enggak tahu, aku malah sepertinya tidak bisa tidur dari semalam,” kataku. Aku ingin lihat, bagaimana reaksi Merku. “Eng... enggak tidur? Benarkah?” Dia sepertinya tidak percaya jika aku tidak tidur semalam. “Iya... aku merasa tubuhku agak aneh dari semalam.” Aku terus memancing reaksi Merku. “Ta... tapi....” “Merku... putri... syukurlah putri sudah ketemu.” Belum saja Merku mengatakan sesuatu, tiba-tiba saja Uhi berlari mendekati kami. “Emang kata siapa aku hilang. Aku cuma mau jalan jalan aja,” kataku pada Uhi yang juga terlihat sama paniknya dengan Merku. “Hi... Putri....” Merku terlihat tidak sabaran memberitahukan keadaanku kepada Uhi. Tetapi, Uhi seperti menahan Merku untuk tidak melakukannya. “Putri... ayo kita kembali ke kamar.” Uhi mengajak aku untuk kembali ke kamar. “Untuk apa? Aku kan masih pengen jalan jalan keliling istana,” kataku. “Jangan putri. Hari ini putri masih harus di kamar dulu,” kata Uhi. Dia tidak kasar, tetapi dia terlihat sangat memaksa. Uhi dan Merku menuntunku pelan menuju kamar aku itu. Aku sangat berat melangkahkan kaki ini. Padahal, aku tidak mau terkurung lagi di dalam kamar. Aku memang masih ingin mencari tempat tempat rahasia yang ada di sini. Apa lagi, aku masih merasa curiga dengan sikap semua penghuninya. Dan kenapa setiap dua tahun sekali para suku suku itu harus datang ke sini. Sedangkan, semua orang yang ada di sini juga harus dibuat tertidur. Ada apa sebenarnya ini? “Mmmmm... kenapa aku harus di kamar lagi hari ini?” tanyaku. Mereka berdua hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaan. Tiba-tiba, aku pun menghentikan langkah kakiku ini. Mereka berdua pun juga menghentikan langkahnya. “Kalau kalian enggak mau kasih tahu, aku enggak bakalan mau dikurung lagi di dalam kamar,” ancamku. “Putri. Anda tidak boleh keras kepala seperti ini,” kata Uhi dengan tegas. “Kalau aku enggak mau, kenapa?” Aku juga membalasnya dengan tatapan sinis. “Putri. Tolong, jangan sampai yang mulia Ratu tahu kalau putri tidak di kamar,” kata Merku yang lebih tenang dari pada Uhi. “Emangnya kenapa? Biarkan saja, Ratu tahu tentang ini.” Aku tetap besi keras tidak mau menuruti keinginan mereka. “Ada apa sih dengan putri hari ini? Selama ini putri tidak pernah keras kepala seperti ini.” Uhi mulai terlihat tidak senang dengan sikapku. “Emangnya, aku mau kalian perlakukan seperti ini terus?” Aku tidak lagi bisa menahan perasaan emosiku ini. “Ma... maksud putri?” Mereka berdua menanyakan hal yang sama dalam waktu berbarengan. “Ya gitu. Aku enggak mau kalian kurung lagi di kamar,” kataku mencoba menahan diri untuk tidak mengatakan sesuatu yang aku dengar dari Kihi. “Untuk hari ini aja putri. Selanjutnya, putri bebas mau melakukan apa saja,” paksa Uhi. “Ayolah putri. Biasanya, putri selalu mau nurut aja sama kami.” Merki lebih terlihat curiga dengan sikapku dari pada marah marah, seperti yang dilakukan Uhi. “Kamu ngapain sih sabar banget sama putri payah ini,” kata Uhi kesal. “Ssttt... kamu enggak boleh gitu. Dia kan calon Ratu kita juga.” Merku meminta Uhi untuk menahan emosinya. “Apaan sih. Aku udah enggak sabar tahu. Capek...” keluh Uhi. “Trus kamu mau nyerah aja. Kamu lebih milih Jenihelt yang jadi Ratu?” bisik Merku tetapi tetap bisa aku dengar. “Ya enggak juga. Tapi sampai kapan kita seperti ini. Malah, pagi ini dia pake hilang lagi.” Uhi melihat diriku dengan tatapan sangat kesal. “Sabar sabar,” kata Merku. Aku tidak paham dengan yang terjadi di depan diriku ini. Kenapa Uhi bisa sangat marah dengan hilangnya aku pagi ini. Sebenarnya, apa yang sudah ditugaskan Ratu kepada mereka berdua. Jika dilihat dari tingkahnya, mereka tidak terlihat seperti orang jahat. Mereka hanya seperti orang yang sedang menjalani tugas yang sangat berat buat mereka. “Eeee... kenapa kalian....” Aku ingin sekali bertanya secara terang terangan kepada mereka. Tetapi aku ragu. Bagaimana pun, nama Kihi akan terbawa jika aku menanyakan hal ini. Aku sudah berjanji pada Kihi, agar tidak memberitahukan kepada siapa pun kalau aku mengetahui hal ini dari dirinya. “Kalian sedang apa di sini?” Tiba-tiba saja, orang yang tidak mau aku lihat muncul di sini. “Yang mulia Ratu....” Merku dan Uhi langsung menunduk hormat kepada perempuan itu. “Kenapa kalian membawa putri keluar pagi pagi seperti ini?” tanya Ratu. Sepertinya, mereka belum melaporkan tentang hilangnya aku kepada sang Ratu. Uhi dan Merku juga tidak langsung menjawab pertanyaan Ratu. Mereka tentu tidak mau melihat Ratu lebih marah dari ini. Karenanya, mereka lebih memilih untuk berdiam diri. “Mmmmm... Putri....” Uhi terlihat akan mengatakan kebenarannya. “Aku nyasar Bunda. Aku mau balik ke kamar, tapi malah nyasar ke mana tahu.” Aku langsung memotong penuturan Uhi. Aku merasa kasihan melihat mereka yang terlihat sangat ketakutan. Aku yang tidak tahu bagaimana wajah Ratu saat murka, namun aku juga tidak mau melihat hal itu di pagi hari seperti ini. Terlalu banyak emosi yang sudah aku tahan dari tadi. Aku tidak mau menambah hariku ini semakin suram. “Nyasar?! Hahahaha.... kamu bisa aja. Sampe nyasar seperti itu,” kata Ratu sambil tertawa. Dia menganggap aku sedang bercanda saat ini. Padahal, aku memang benar tersesat dalam mencari semua orang yang ada di istana ini. Namun, aku jadi tahu beberapa tempat di istana ini karena hal itu. “Kamu kayak orang yang baru tinggal di sini kemarin aja, sampai ke sasar,” lanjut Ratu. “Deg.” Jantungku seakan berhenti saat mendengar yang Ratu katakan. “Mmmm... soalnya tadi pagi istana terlihat gelap banget, Bun. Jadi, aku tidak bisa melihat jelas,” kataku mengatakan yang aku alami tadi pagi. Dan itu memang benar. Hampir semua kamar di istana ini, lampunya tidak menyala. Penerangannya juga seperti disengaja untuk diredupkan dan sangat dingin. “Memangnya, tadi kamu bangun jam berapa?” Ratu malah balik bertanya tentang kapan aku terbangun. “Mmmm... sepertinya jam empat.” Aku mencoba mengingat waktu saat aku terjaga tadi. Aku tidak sempat melihat jam pagi tadi. Aku hanya ingin buru-buru untuk keluar dari kamar itu. Karena memang, aku menghindari Uhi dan Merku tadi pagi. “Apa?! Jam empat?” Ratu terkejut saat mendengar jawabanku. Ratu juga melihat ke arah Uhi dan Merku. Mereka pun langsung menunduk saat mereka menyadari Ratu sedang menatapnya dengan tajam. “Iya, Bun. Aku sepertinya tidak bisa tidur nyenyak tadi malam,” kataku lagi. “Tidak tidur nyenyak?! Bagaimana bisa?” Ratu terlihat tambah kesal dengan Uhi dan Merku. “Iya. Makanya, aku merasa bosan di kamar, Bun.” Aku mencoba membuat Ratu tidak terlalu marah. Walau, aku tahu itu tidak akan berpengaruh. “Tapi... kamu enggak kenapa kenapa bangun sepagi itu?” tanya Ratu terlihat sedikit khawatir. “Enggak papa kok, Bun. Aku hanya merasa sedikit lemas,” jawabku. “Serius? Kamu enggak kenapa kenapa?” Ratu ingin lebih yakin dengan keadaan diriku. “Enggak papa, Bun.” Aku berusaha menyakinkan hati sang Ratu. “Syukurlah kalau kamu enggak papa. Padahal, sebelumnya kamu sempat tidak sadarkan diri selama seharian.” Ratu melihat tenang begitu mengetahui diriku baik baik saja. Sebenarnya ada apa ini? Sebenarnya Ratu berniat jahat atau tidak terhadap diriku? Tetapi, mengapa dia malah terlihat senang saat mengetahui aku dalam keadaan sehat? Pikiranku tidak bisa mencernanya dengan sehat. Aku sempat berpikir, bahwa Ratu hanya berakting baik lagi di depanku. Sama seperti yang dia lakukan sebelumnya. Tetapi, aku tidak mau percaya begitu saja dengan sikap baiknya. “Kamu lagi mikirin apa, sayang?” tanya Ratu yang menyadari aku terus menatap dirinya dengan serius. “Mmmm... enggak ada. Aku lagi mikirin anak Ratu aja,” kataku. “Maksud kamu Jenihelt?” tanya Ratu. “Mmmm... emangnya anak Ratu siapa saja?” Aku balik bertanya. Tiba-tiba aku merasa suasana di sekitarku menjadi lebih suram dari sebelumnya. Uhi dan Merki melihat diriku dengan matanya yang terkejut. Ratu juga sama seperti kedua pengawal ini. “Emangnya pertanyaan aku salah?” Aku melihat ketiga orang yang menatapku ini dengan bergantian. “Putri... harusnya kamu....” Uhi seperti masih sangat kesal dengan sikapku. “Sudah, Uhi. Moyline enggak salah.” Ratu menarik napasnya yang terlihat sangat berat. “Tapi Ratu...” Uhi tidak senang Ratu membiarkan sikap aku begitu saja. “Seperti yang sudah kamu tahu, saya punya empat orang anak. Tetapi yang diakui oleh kerajaan hanya dua orang saja. Yaitu kamu dan Jenihelt,” jelas Ratu. “Tapi...” “Putri... sebaiknya putri istirahat dulu saja. Aku merasa ada yang salah dengan otak putri pagi ini.” Merku langsung menghentikan rasa ingin tahuku tentang anak yang dimaksud Ratu. Ratu terlihat sangat sedih saat aku menyinggung tentang anak anaknya itu. Sebenarnya, apa yang salah dengan anak anak sang Ratu. Sehingga, Ratu dan kedua orang ini tidak menginginkan aku mendengar sesuatu yang berhubungan dengan mereka. “Apa anak anak Ratu itu benar benar tidak boleh berhubungan dengan dunia luar?” Ingin sekali aku menanyakan hal itu. Tetapi, situasi saat ini tidak memungkinkan. Jika aku melakukan itu, maka aku seperti menyiram bensin di atas bara api. Suasana pagi ini sudah cukup tegang saat aku menghilang tadi pagi. Walau aku sangat penasaran, tetapi aku tidak bisa menanyakan hal itu sekarang. Apakah anak anak Ratu itu adalah kunci dari ini semua? Di mana aku bisa mencari mereka? Apakah Ratu menyembunyikan mereka di dalam istana atau di luar? “Dalam istana saja sudah membuat aku pusing. Apa lagi kalau aku harus mencarinya sampai keluar istana,” gumamku pelan. “Apa yang mau putri cari?” ternyata Merku mendengar yang aku katakan. “Enggak ada. Cuma ada yang membuat aku penasaran,” jawabku. “Mmmm... ternyata putri orangnya penasaran juga ya,” kata Merku. Orang yang dari tadi mulai menaruh rasa curiga memang hanya Merku. Tetapi, dia masih terlihat tenang dengan perubahan diriku ini. Semoga saja, dia tidak akan bertanya lebih jauh lagi. Orang yang tenang biasanya lebih menakutkan dari pada orang yang suka marah marah. Mereka suka melakukan sesuatu yang tiba-tiba dan tidak terduga. Karenanya, aku lebih merasa Merku itu lebih menakutkan dari pada Uhi.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD