BAB 11

1868 Words
Di samping pohon raksasa itu, tiba-tiba muncul sebuah pintu. Pohon itu mengatakan, bahwa itu adalah ruangan rahasiaku. Apakah benar benar aman aku masuk ke dalam sana? “Kalau rahasia, apakah cuma aku saja yang tahu?” tanyaku kepada pohon itu. Tetapi pohon itu tidak menjawabnya. Setelah mataku terfokus kepada pintu itu, tiba-tiba saja keberadaan pohon itu seperti tidak lagi ada di sini. Dia seperti pohon tua yang biasa. Tinggi, kokoh dan tentu saja tidak bisa berbicara. Aku pun memberanikan diri untuk membuka pintu aneh itu. Aku tidak ada pilihan lain. Aku juga penasaran dengan ruangan rahasia yang dimaksud pohon ini. Aku pun memutar knop kunci yang ada di pintu itu. Dan tiba-tiba, aku kembali melihat cahaya yang cukup terang dari dalam pintu itu.  Aku merasakan suasana yang berbeda antara di dalam pintu itu dengan di luar sini. Di dalam sana terasa lebih hangat dari pada di sini. Dan juga cahaya di dalam sana, juga lebih terang dari pada cahaya yang ada di sekitar pohon dengan daun daunnya yang sangat lebat. “Ini...” Saat aku melangkah masuk ke dalam pintu itu, aku langsung mengenali tempat ini. “Ternyata di sini ruangan yang aku cari cari itu?” kataku sambil melihat kagum dengan tempat yang aku temui. “Dapur yang indah dan lengkap. Dari alat alat modern, alat masak kuno dan alat masak yang bentuknya aneh, ada di sini.” Aku melihat dapur yang sangat luas ini. Dapurnya lebih luas dari pada dapur yang ada di rumahku. Selain alat alatnya lengkap, bahan bahan untuk di masak juga lengkap. “Aku tidak menyangka, ternyata di sini ada tempat seperti ini,” kataku. Selain, aku terkejut dan kagum dengan tempat ini. Aku juga merasa tempat ini sangat aneh. Dan mengapa pohon itu mengatakan, jika dapur ini merupakan tempat rahasiaku. “Aku pikir tempat rahasia itu apa?” Aku sedikit kecewa, tetapi tetap senang. Bagaimana pun, ini adalah tempat utama dalam hidupku. Tepatnya, tempat istimewa kedua setelah laboraturium milikku.  Selain suka meneliti sesuatu, aku juga punya hobi memasak.  Bagaimana tidak?  Selama aku tinggal dengan Ayah Kevin, beliau hanya sibuk dengan dunianya saja. Aku yang tinggal hanya berdua dengan dirinya. Di saat Ayah Kevin sedang asyik dengan penelitiannya, dia suka lupa memberikan aku makan. Untung saja, selama di panti aku suka ikutan orang orang yang bertugas di dapur. Aku suka memasak makanan yang sedang ingin aku makan. Jadi, memasak bukanlah hal yang aneh lagi buatku.  “Bagaimana caranya pohon itu bisa tahu kalau aku sedang mencari ruangan ini ya? Padahal, aku kan enggak memanggil nama dia,” gumamku sambil berpikir apa yang sudah aku lakukan tadi, sehingga pohon itu tahu tentang tempat ini. “Putri Moyline?” Tiba-tiba, aku mendengar seseorang memanggilku dari belakang. “Si... siapa?” Aku langsung menoleh karena terkejut. “Saya putri. Kihi...” perempuan itu mengenalkan dirinya. Siapa dia? Ingin rasanya aku bertanya tentang dirinya. Tetapi, dia sepertinya mengenal diriku. Bahkan, dia juga bisa mengetahui ruangan rahasia ini.  “Kenapa putri udah ada di sini? Ini kan masih sangat pagi,” kata Kihi. “Mmmm... aku lagi pengen jalan jalan pagi aja.” Aku mencari alasan yang sedikit masuk akal. “Emangnya, putri pagi ini enggak lelah?” tanya Kihi. “Lelah kenapa?” Aku tidak mengerti dengan pertanyaan Kihi itu. “Uhi bilang, kemarin ada orang orang suku Freasy yang datang nemuin Ratu.” Kihi terlihat ragu untuk menceritakannya. “Lalu... apa hubungannya suku Freasy itu dengan tubuhku?” tanyaku penasaran. “Mmmm... sebenarnya, aku tidak boleh menceritakannya ke putri.” Kihi sepertinya tidak berani menceritakan sesuatu yang suku Freasy itu lakukan terhadap tubuhku. “Enggak papa. Di sini kan tempat rahasia aku,” kataku. “Mmmm... memang tidak ada ada yang datang ke tempat ini selain aku dan putri. Tapi, ini bukanlah tempat rahasia. Siapa aja, bisa datang ke tempat ini secara tiba-tiba,” kata Kihi. “Kok gitu?! Kata Pak pohon, tempat ini tempat rahasia aku?” Aku tidak senang mendengar tempat rahasia tetapi bisa dimasuki oleh sembarang orang. “Pak pohon? Siapa?” tanya Kihi bingung. “Ups.” Aku langsung menutup mulutku dengan kedua tangan. Bagaimana bisa, aku kelepasan bicara seperti ini. Pohon itu bilang, tidak ada yang bisa berbicara dengan dirinya. Aku tidak mungkin memberitahukan, jika aku bisa berbicara dengan pohon raksasa itu. “Bukan apa apa. Mending, sekarang kamu ceritain tentang suku Freasy itu,” kataku. “Mmmm... sebenarnya aku tidak tahu persis apa yang sudah mereka lakukan. Uhi dan Merku hanya disuruh meletakan obat tidur di minuman putri. Setelah itu, suku Freasy melakukan sesuatu yang mengerikan terhadap tubuh putri yang tidak sadarkan diri,” jelas Kihi. “Tubuh aku diapain aja?” Aku semakin penasaran. “A... aku enggak ta... tahu persis, putri.” Kihi seperti orang yang ketakutan. “Udah kamu tenang aja. Kata kamu kan, enggak ada yang suka datang ke tempat ini.” Aku mencoba mengurangi rasa takut Kihi. Sebenarnya, aku masih sangat penasaran tentang yang dilakukan suku Freasy terhadap diriku. Apa yang mereka inginkan pada diriku ini. Mengapa Kihi mengatakan tubuhku akan merasakan lemas setelah itu. “Mmmm... apa suku Freasy sering melakukan hai ini sebelumnya?” tanyaku pada Kihi lagi. “Sebenarnya, bukan cuma suku Freasy yang melakukan itu. Semua suku alam peri setiap dua tahun sekali selalu bergantian melakukan sesuatu terhadap tubuh putri,” jelas Kihi. “Semua suku?” Aku jadi penasaran suku apa aja itu. “Apa... Ratu juga tahu tentang ini?” Aku mencoba menanyakan sesuatu yang harusnya tidak aku tanyakan. Ratu sangat baik kepada diriku. Dia tidak menginginkan Jenihelt melukai tubuhku dengan kekuatannya. Mana mungkin, Rata mengizinkan semua suku itu melakukan hal yang membuat tubuhku lelah seperti itu. “Mmmmm... Ratu tahu, putri.” Kihi menjawabnya dengan ragu. “Kamu serius? Ratu juga tahu tentang itu?” Aku tidak percaya dengan yang baru saja aku dengar. Kihi mengangguk dengan sangat yakin. “Ratu mengizinkan mereka melakukan hal itu?” tanyaku lagi. Kihi hanya menjawabnya dengan anggukan. “Tapi... tapi... dia...” Aku tidak bisa berkata apa apa.  Perempuan yang baru saja aku kenal dan memberikan kehangatan seorang ibu, ternyata dia tega melakukan hal itu di belakangku. Aku tidak mau mempercayai yang dikatakan Kihi ini. Ratu itu adalah sosok ibu yang sangat sayang kepada anaknya. Walau aku baru mengenalnya beberapa jam, namun aku bisa merasakan hal itu. “Tapi... Ratu enggak pernah mau melihat semua suku itu melakukan sesuatu terhadap putri.” Kihi tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuat aku merasa sedikit tenang. “Apakah semua perempuan memang selalu punya dua sisi yang bertolak belakang seperti itu?” gumamku kesal. “Maksud putri apa? Bukannya, putri juga perempuan?” tanya Kihi bingung. “Kalau aku... ya perempuan yang istimewa,” kataku dengan bangga. “Ya tentu saja. Putri Moyline dan Putri Jenihelt memang calon ratu yang sangat istimewa.” Kihi membenarkan ucapan yang asal aku ucapkan itu. “Jadi... Ratu juga menyuruh semua suku itu melakukan hal yang sama terhadap Jenihelt?” Aku jadi teringat dengan perempuan yang satu itu. “Ya tentu saja, enggak. Mereka hanya melakukan hal itu terhadap tubuh putri Moyline,” jawab Kihi. “Apa?! Kenapa?” Aku tidak percaya. Ternyata, Ratu hanya melakukannya terhadap diriku. “Aku enggak tahu persisnya, putri. Uhi dan Merki yang tahu lebih jelas,” kata Kihi. “Iya. Tapi... mereka pasti tidak mau menceritakannya.” Aku sangat yakin itu. “Ya... karena mereka sudah bersumpah kepada Ratu untuk tidak mengatakannya,” jelas Kihi. “Kalau kamu?” tanyaku. “Aku tidak ikut bersumpah kepada Ratu. Tetapi... “ Kihi tidak langsung melanjutkan perkataannya. “Tapi kenapa?” Aku heran dengan sikap Kihi. “Harusnya, aku juga enggak boleh cerita ini ke putri. Uhi sudah melarang aku.” Kihi sepertinya sangat takut dengan Uhi. Padahal, Uhi yang aku kenal tidak terlihat kejam sama sekali. Kenapa Kihi harus takut ketahuan oleh Uhi? “Udah... tenang aja. Pagi ini aku enggak melihat siapa siapa di istana.” Aku mencoba membuat Kihi tenang. “Tapi... kenapa semua orang pagi ini tidak ada yang terlihat di mana mana ya?” tanyaku bingung.    “Ya tentu saja. Mereka kan diberi obat tidur semua,” kata Kihi. “Obat tidur?”  Siapa yang memberikan obat tidur? Mengapa? “Putri pasti penasaran siapa yang memberikan obat tidur itu?” tebak Kihi. “Iya... pastilah,” jawabku. “Kalau semua dikasih obat tidur? Kenapa kamu sudah bangun?” Aku tiba-tiba merasa ada sesuatu yang aneh di sini. “A... aku dari se... malam ada di sini. A... ku berniat untuk menyiapkan bahan bahan yang segar buat putri hari ini.” Kihi seperti menyembunyikan sesuatu. “Kamu enggak bohong kan?” tanyaku. “Eng... enggak put... putri.” Kini terlihat sangat kaku. “Trus... dari mana kamu tahu kalau semua orang dikasih obat tidur?” tanyaku lagi. “Mmmm... emang setiap suku alam itu datang selalu seperti ini, putri.” Kihi terlihat sedikit tenang. “Termasuk Jenihelt?” Aku penasaran. Entah kenapa. Aku merasa, Kihi seperti sedang dibawah perintah seseorang. Dan orang itu sepertinya sedang mengawasi kami dari tadi. Karena, aku melihat Kihi melihat ke kanan dan ke kiri. Seperti melihat sesuatu yang sedang memperhatikan gerak geriknya. “Iya... termasuk Jenihelt. Dia juga dibuat tidur sama Uhi dan Merku,” jawab Kihi. “Lalu Uhi dan Merku sendiri?” Aku penasaran dengan dua orang itu. “Me... mereka juga meminum obat tidur, setelah yakin semuanya sudah tidak sadarkan diri.” Kihi menjawabnya dengan menundukan kepalanya. Sepertinya dia sudah membocorkan rahasia yang selama ini tidak boleh dikasih tahu. Kihi terlihat seperti orang yang sangat bersalah. Entah, perasaan itu ditujukan untuk siapa? Untuk diriku? Atau untuk Uhi dan Merku? “Ma... maaf ya putri.” Akhirnya, kata itu keluar juga dari mulut Kihi. “Maaf kenapa?” Aku melihat wajah Kihi terlihat begitu pucat. “Maaf... aku enggak bisa jadi teman yang jujur buat putri,” katanya sambil mengalirkan air mata. “Kamu kenapa?” Aku bingung melihat perempuan ini tiba-tiba menangis di depanku. “Aku merasa sangat bersalah kepada putri. Sebenarnya, kemarin aku ingin memberitahukan kepada putri tentang sesuatu yang akan terjadi. Tetapi, uhi dan Merku selalu mengamati semua gerakan ku,” kata Kihi. “Mmmm... trus, sekarang apa masih ada yang kamu sembunyikan dari aku?” Aku mencoba memancing Kihi untuk berbicara jujur. “Aku... aku...” “Glegerrr....” Belum saja, Kihi mengatakan sesuatu. Tiba-tiba saja, petir berbunyi dengan sangat kencang. Padahal, pagi ini tidak ada angin dan juga tidak ada awan gelap. Di tambah lagi, sinar matahari juga baru saja menyinari dunia ini saat petir itu menggelegar. Aku yakin, itu bukanlah petir biasa. Apa petir itu Jenihelt yang membuatnya? Tetapi, aku tidak berani sembarangan menuduh itu adalah ulah Jenihelt. Ratu pernah mengatakan, kami adalah saudara kembar yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Jadi, tidak mungkin Jenihelt akan berbuat jahat kepada diriku.  Sekarang, aku semakin bingung, siapa yang harus aku percaya saat ini? Apakah aku harus percaya dengan Ratu? Apakah aku harus percaya kepada Jenihelt yang dingin terhadap diriku? Apalagi Kihi, dia juga terlihat seperti masih menyembunyikan sesuatu. Apa aku bisa percaya dengan semua yang dia katakan? Walau, dia sudah mengatakan maaf tadi. Tetapi, aku masih merasa sikap Kihi sangat aneh. Kini, aku terjebak di dunia yang aneh dengan banyak orang yang mencurigakan. Siapa yang harus aku percaya di dunia ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD