BAB 10

2013 Words
Aku cukup tertarik dengan keberadaan pohon yang sangat misterius ini. Pohon besar yang mengeluarkan berbagai aroma. Aku tergoda dengan penampilannya. Bahkan aku merasa, pohon itu memanggil diriku untuk mendekati dirinya. “Hai Moyline...” pohon itu menyapa diriku. “Ka... kamu bisa bicara?” Aku terkejut mendengar sebuah pohon yang bisa berbicara. “Kamu bisa mendengar suara aku?” Pohon itu malah balik bertanya kepada diriku. “Bukannya, tadi kamu yang nyapa aku? Kenapa sekarang, kamu malah balik bertanya kepadaku?” tanyaku kepada pohon raksasa itu. “Aku memang biasa menyapa kamu. Tapi selama ini, kamu tidak pernah mendengar suara aku,” kata pohon itu. “La... lalu... kenapa sekarang aku bisa mendengar kamu?” tanya aku heran. “Lah, aku juga tidak tahu.” Pohon ini terlihat sangat tua, tetapi juga terlihat seperti tidak mengetahui semua hal di dunia peri ini. Tiba-tiba saja dahan pohon itu bergerak layaknya sebuah tangan. Pohon itu menyentuh kepalaku. Dahannya itu seolah olah sedang membelai rambut panjang ku. Tiba-tiba, sebuah cahaya terpancar dari pohon itu. “Aku memang tidak mengetahui penyebab perubah yang terjadi pada dirimu. Tapi, aku bertugas memenuhui semua kebutuhan dari peri peri di dunia ini.” Pohon itu terdengar seperti seorang ibu yang sangat menyayangi diriku. “Kebutuhan? Kalau aku minta...” “Tapi aku enggak bisa memberikan kamu kekuatan seperti Jenihelt ya.” Pohon itu langsung memotong apa yang mau aku sampaikan. “Siapa juga yang mau kekuatan seperti Jenihelt,” kataku. “Emangnya, kamu enggak mau bisa menguasai semua kekuatan alam di dunia ini?” tanya pohon itu heran. “Buat apa?” Aku merasa itu tidak ada gunanya. “Mmmm... bukannya dulu kamu sangat ingin punya kekuatan seperti Jenihelt?” tanya pohon itu heran. “Ka... kata siapa?” Aku tidak mau langsung ketahuan jati diriku yang sebenarnya. “Ya kata aku. Dulu, kamu sering banget menangis di bawah sini,” kata pohon tua itu. “Nangis?” Aku tidak tahu, ternyata wanita yang bernama Moyline itu sangat lemah. “Iya. Kamu pasti akan menangis di sini setelah dikerjai oleh Jenihelt,” lanjut sang pohon. “Kok pak pohon tahu kalau Jenihelt mengerjai diriku?” tanyaku penasaran. “Kan kamu sendiri yang bilang waktu nangis.” Pohon itu menjelaskan keadaan Moyline waktu itu. Semoga saja, pohon ini tidak menaruh curiga terhadap diriku. Aku ingin sekali mencari tahu tentang diri Moyline ini. Tetapi, jika aku semakin banyak bertanya. Maka bisa saja dia mulai mencurigai bahwa aku bukanlah Moyline. “Jadi... setiap aku berbicara di sini, kamu selalu mendengar diriku,” kataku. “Bukan cuma kamu. Aku bisa mendengar semua suara peri di dunia ini,” katanya dengan bangga. “Waaaa... hebat dong.” Aku kagum dengan kekuatan yang dimiliki pohon ini. “Tapi... kalau peri itu sedang berada dekat dengan tubuh aku saja, aku baru bisa mendengar suara mereka.” Suara sang pohon itu sedikit berkurang. “Jadi... kalau begitu enggak semua dong yang bisa kamu dengar,” kataku. “Ya... kadang memang seperti itu,” jawabnya. “Mmmm... padahal aku pengen banget tahu kenapa Jenihelt sangat marah sama aku.” Aku penasaran dengan sikap dingin Jenihelt. “Mmmmm....” Pohon itu sepertinya tidak bisa menjawabnya. “Oh ya? Apa semua peri bisa berbicara seperti ini sama kamu?” tanyaku. “Ya enggak bisa. Hanya ratu peri saja yang bisa bicara dengan aku,” jawab pohon itu. “Jadi... Sang Ratu bisa?” Ternyata Ratu memang punya keistimewaan sendiri. “Iya, bisa. Tapi sebelum kalian lahir,” kata si pohon. “Kok gitu?” Berarti, kemungkinan untuk aku berbicara dengan pohon ini akan hilang juga. Bagaimana caranya aku mengetahui tentang dunia peri ini lagi, jika aku tidak bisa berbicara dengan pohon ini. “Ya begitu. Kekuatan Bunda Ratu sedikit demi sedikit akan menghilang, sampai Ratu yang menggantikannya sudah siap untuk memimpin dunia peri,” kata Sang Pohon. “Berarti, selama kekuatan Ratu masih maksimal. Kemungkinan akan digantinya Ratu itu masih lama ya?” Aku berharap, aku tidak akan segera dinaubatkan sebagai Ratu dunia peri ini. “Ya tentu saja.”  Dari cara pohon itu menjawab, sepertinya kekuatan Bunda Ratu belum berkurang. Pasti hanya pendengaran Bunda Ratu terhadap pohon ini saja yang menghilang. “Mmmm... apakah Jenihelt bisa berbicara dengan kamu?” Aku penasaran dengan perempuan yang satu itu. “Kayaknya tidak. Soalnya, setiap aku menyapa dia. Jenihelt tidak pernah menjawabnya.” Pohon itu seperti sedang mengingat ingat tingkah Jenihelt selama ini. “Jadi hanya aku yang bisa berbicara sama kamu?” Aku jadi merasa punya sesuatu kelebihan. “Mmmm... tapi kamu juga yang enggak bisa menggunakan kekuatan di tubuhku,” kata si pohon. “Kok...” Aku tidak paham kekuatan yang dimaksud pohon itu. “Ya... karena kamu enggak punya salah satu kekuatan elemen dasar,” jelas sang pohon. “Kalau Jenihelt?” kenapa aku selalu ingin tahu tentang perempuan itu. “Ya... punya semuanya. Kamu kan tahu itu,” katanya. Aduh. Apakah kali ini, aku ketahuan olehnya? “Kamu lagi sakit ya?” tiba-tiba pohon itu bertanya kepada diriku. “Eng... enggak.” Aku tidak mau dia mengetahui kebenaran tentang diriku. Aku tidak tahu, apa yang akan dia lakukan terhadap diriku. Saat dia tahu, aku bukanlah peri yang selama ini tinggal di sini.  “Aku dengar Jenihelt menyerang kamu? Apakah kamu terluka karena serangan itu?” tanya pohon itu. “Mmmmm... aku tidak ingat,” jawabku. Apakah aku harus pura-pura lupa ingatan. Agar pohon ini tidak curiga. Tapi, apakah dia bisa mendengar suara hati? “Mmmm... pak pohon. Apakah kamu bisa mendengar suara hati seseorang?” Aku memberanikan untuk menanyakannya. “Kadang aku bisa melakukannya,” jawabnya. “Ka... kapan?” Aku jadi ragu untuk memulai rencanaku. Bagaimana kalau dia langsung mengetahui rencanaku itu? “Kalau orang itu memanggil namaku dulu, aku baru bisa mendengar suara hatinya.” “Ooooo....” Aku sedikit merasa lega setelah pohon itu menjelaskannya.  “Emangnya kenapa?” tanya pohon itu. “Ya... kan kata kamu tadi, kamu bisa mendengar semua suara di dunia peri ini.” Aku mengulang ucapannya tadi. “Maksudnya itu yang jelas terdengar atau hanya suara hati?” lanjutku. “Oooo...”  “Mmmm... kamu enggak curiga terhadap diriku kan?” Aku mencoba memberanikan diri untuk memastikannya. “Curiga kenapa?” pohon itu malah balik bertanya. “Itu... aku jadi banyak tanya sama kamu, enggak papa kan?” tanyaku. “Ya wajar. Kamu kan baru bisa berbicara sama aku,” jawab sang pohon. “Oooo iya...” Aku lupa, bahwa Moyline dulu tidak bisa berbicara dengan pohon ini. “Kamu aneh ya. Kamu seperti peri baru aja,” kata pohon itu. “Bu... bukan begitu. Aku kan cuma kaget aja bisa bicara sama pohon seperti sekarang.” Aku mencoba menutupinya. “Mmmm...” Aku ingin menanyakan tentang semua peri yang aku lihat kemarin. Tetapi, aku tidak berani menanyakannya. “Ada apa?” Pohon itu menyadari tentang kegelisahan diriku. “Mmmm... orang orang yang minta tolong sama kamu itu, rata rata punya kekuatan ya? Dan yang mereka minta apa?” tanyaku. “Bukan rata rata. Tapi emang semuanya punya kekuatan. Hanya Yugle aja yang enggak bisa menggunakan kekuatan dari diriku ini,” jelas si pohon. Aku pernah mendengar nama itu dari Jenihelt. Dan dia juga memanggil aku dengan sebutan itu. Berarti itu adalah makhluk yang sangat terkenal di dunia peri. Jika aku menanyakannya, maka dia akan semakin curiga terhadap diriku. “Mmmm... berarti kamu enggak pernah nolong aku sama sekali?” tanyaku. “Apa?!” Dia terlihat marah dengan pertanyaan aku itu. “Kamu emangnya enggak ngerasa udah aku tolong?” tanya sang pohon. “To... tolong apa? Bukannya tadi kamu sendiri yang bilang, kamu tidak akan menolong orang yang enggak punya kekuatan.” Aku mencoba memutar balik keadaan. “Iya... kalau itu berhubungan dengan material dasar dari alam, aku enggak bisa membantu kamu,” kata pohon itu. “Tuh kan. Kamu bilang sendiri kan.” Aku menyalahkan pohon itu yang tidak pernah menolong aku sebelumnya. “Tapi, aku kan bantu kamu dalam menyiapkan ruangan rahasia buat kamu,” bantah sang pohon. “Ruang rahasia?” tanyaku penasaran. Apakah memang ada yang seperti itu? “Iya... ruang tempat kamu menghabiskan waktu sendiri,” lanjutnya. “Oooo... pantas aja kamu enggak pernah mengucapkan terima kasih padaku. Jadi selama ini, kamu enggak pernah menganggap itu bantuan dari aku?” Pohon itu terdengar tidak senang. Walau pohon itu terlihat sangat tua dan rapuh. Tetapi, sikap yang ditunjukan oleh dirinya masih seperti anak kecil yang baru beranjak dewasa. “Ihhh... udah tua masih suka ngambek,” godaku. “Siapa yang ngambek. Kesal aja,” katanya. “Ya, apa bedanya.”  “Lagian siapa juga yang udah tua. Umurku kan sama seperti umur Ratu peri,” katanya. “Ya itu udah tua berarti. Ratu peri kan udah sering ganti. Berarti umur kamu pasti udah lama.” Aku mengingatkan tentang usia Ratu yang juga sudah sangat tua. “Umur pohon energi roh seperti kami, mempunyai usia empat ribu lima ratus tahun. Jadi, kami bisa bertemu dengan empat generasi Ratu peri,” jelasnya. “Tuh kan, udah tua,” ejekku. “Aku baru berusia seribu tahun tahu.” Dia tidak terima dikatakan sudah tua. “Seribu tahun itu udah tua.” Aku tidak mau kalah dengan pohon itu. “Ya enggak lah. Ini baru masuk tahapan pertama kedewasaan aku. Ya bisa dibilang, baru beranjak remaja,” jelasnya. “Ah masak.” Aku tidak percaya, seribu tahun dia katakan baru remaja. “Ya udah. Aku enggak bakalan nolong kamu lagi kalau kayak gitu,” katanya kesal. “Jangan dong. Aku kan enggak punya siapa siapa selain kamu pohon roh yang baik.” Aku membelai pokok pohonnya yang kekar. “Kamu mau tau tentang Jenihelt ya?” Tiba-tiba, pohon itu bisa membaca apa yang aku inginkan. Padahal, aku tidak mengatakannya. “Ups. Aku menyebut nama pohon itu ya tadi,” gumamku. “Telat. Aku udah baca pikiranmu tadi,” katanya. “Ka... kamu bisa baca pikiran seterusnya?” Aku jadi takut untuk mendekati pohon ini. “Mmmm... sayangnya, satu kali memanggil namaku ya satu kali juga aku bisa membaca pikiran kamu,” katanya. “Hufff... syukurlah.” Aku harus lebih hati hati, saat berdekatan dengan pohon ini. “Jadi kamu mau mendekatiku, karena mau mengetahui tentang Jenihelt ya?” tebak sang pohon. “Ya enggak juga.”  “Jangan bohong.” Dia yang sudah mengetahui keinginanku, tidak bisa lagi aku tutup tutupi. “Ya mau bagaimana lagi? Aku penasaran tentang Jenihelt, karena dia bersikap seperti itu,” kataku. “Kalian kan kembar. Kalian sebenarnya bisa saling menghidupkan kontak batinnya,” katanya. “Kontak batin?” Aku tidak paham dengan maksudnya. “Iya... kalian harusnya bisa saling mengetahui satu dengan yang lainnya.” Pohon itu sepertinya mengetahui sesuatu tentang kami. Namun, sepertinya dia tidak mau menceritakannya lebih detail. Seperti ada sesuatu yang menahan dirinya untuk bercerita tentang aku dan Jenihelt. “Tapi sepertinya, Jenihelt sangat tidak suka dengan diriku,” kataku. “Enggak usah berpikiran seperti itu. Pada dasarnya, semua calon peri mempunyai hati yang baik. Kamu enggak usah berpikiran terlalu jauh,” jelas sang pohon. “Mmmm... jadi....” Aku tidak berani melanjutkannya. “Jadi apa?” tanyanya. “Kamu masih mau membantu aku kan ya?” tanyaku. “Mmmm... gimana ya?” Ternyata, dia masih kesal terhadap diriku. “Ayolah pohon yang baik,” bujuk ku. “Kok kamu enggak mau memanggil namaku dengan lengkap?” Dia menyadarinya. “Ya... aku enggak mau kamu membaca pikiranku seperti tadi,” gumamku pelan. “Tapi walau aku bisa membaca pikiranmu. Aku yakin, kamu tidak akan berpikiran yang jahat.” Pohon itu sepertinya sangat mengenal Moyline. “Ya udah. Kamu pergi sana ke ruang rahasia kamu.” Tiba-tiba, pohon itu menunjukkan sebuah dahan yang aneh. Aku pun menarik dahan tersebut, sesuai dengan instruksinya. Setelah aku menyentuh dahan aneh itu. Tiba-tiba muncuk sebuah cahaya. Dari balik cahaya itu, muncul sebuah pintu yang berdiri tegak. Padahal, tidak terdapat dinding di sekeliling pintu itu. “Ini....” Aku ragu untuk membukanya. “Masuk aja sana,” suruh pohon raksasa itu.   Ruangan apa yang dimaksud sama pohon ini? Apakah benar benar aman jika aku masuk ke dalam sana?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD